
Ryu terkekeh, "Ucapanku bener, kan?" Dia melepas ikat rambut Aisyah, membuat Rambut gadis itu tergerai indah.
Aisyah tak menjawab, dia sengaja tak ingin melanjutkan pembahasan masalah buka membuka. Terlalu malu jika hal tersebut dibahas, meskipun ucapan Ryu memang benar adanya.Bukankah lebih baik tak dibicarakan tapi langsung dipraktikkan, bukan?
"Rambutmu indah, apa kamu melakukan perawatan pada rambut ini?" Ryu mengelus rambut panjang Aisyah yang terlihat sangat indah.
"Tentu saja dong, tapi aku rawat biasa aja sih, enggak pernah ke salon," jawab Aisyah.
"Berarti ini asli ya. Aku suka seperti ini, warna natural." Ryu masih mengusap rambut panjang Aisyah sambil sesekali mencium aroma rambut tersebut.
"Ryu, apa sih itu? Aku penasaran." Aisyah sejak tadi ingin sekali melihat isi paperbag yang diberikan Ryu, tetapi suaminya itu malah menyembunyikan paperbag tersebut.
"Sesuatu, nanti buka di kamar mandi. Kamu ganti pakai ini ya." Ryu menyerahkan kembali paperbag tersebut.
"Apa sih bikin aku penasaran saja?" tanya Aisyah sambil menerima paperbag tersebut, saat akan melihat isinya Ryu langsung menutup paperbag tersebut.
"Buka di kamar mandi," ucap Ryu.
"Baiklah, aku ke kamar mandi dulu." Aisyah turun dari ranjang menuju kamar mandi.
Dia tak sabar ingin melihat apa isi paperbag tersebut. Sesampainya di kamar mandi, dia langsung membukanya, kedua bola matanya menatap benda yang ada di dalam paperbag tersebut tanpa berkedip. Dia syok melihat isi paperbag itu. Sebuah pakaian tidur malam yang sama sekali tidak layak disebut pakaian, sebab pakaian itu terbuat dari kain satin tipis dan amat sangat transparan, bahkan jika dia memakainya sama saja seperti tak memakai apapun.
"Ryu tak sepolos itu ternyata, ah dia pasti mencari informasi dari teman-temannya," gumam Aisyah.
"Malu sekali ya, kalau harus pakai ini, tapi kalau tidak, Ryu pasti akan marah dan aku enggak akan buat dia marah di malam pertama kita." Aisyah menatap pakaian tersebut tanpa berkedip.
Aisyah membersihkan tubuhnya lebih dahulu. Mencuci kaki, menggosok gigi lalu mencuci muka dengan sabun cuci muka miliknya. Dia ingin tampil segar di depan suaminya. Selesai membersihkan diri, dia pun mulai melepas pakaiannya satu persatu dan akan menggantinya dengan pakaian dinas malam tersebut.
__ADS_1
Di dalam kamar, Ryu tak sabar menunggu istrinya itu keluar dari kamar mandi. Dia ingin melihat Aisyah memakai pakaian yang sengaja dia beli beberapa waktu lalu. Ah, membayangkan saja membuat dia senyum-senyum tak jelas, apalagi jika melihat langsung, mungkin dia tak bisa berkata-kata atau parahnya malah pingsan.
Terdengar pintu kamar mandi terbuka, Ryu kembali ke posisi semula sambil berpura-pura bermain ponsel. Dia ingin melihat sejauh mana keberanian Aisyah memperlihatkan tubuh indahnya yang sama sekali belum pernah dia lihat.
"Ryu, maafkan aku," lirih Aisyah, membuat Ryu seketika langsung menatap ke arah sang istri.
Ryu terkejut melihat Aisyah belum mengganti pakaiannya, ada rasa kecewa melihat istrinya itu tak mau memenuhi permintaannya. "Kenapa?" tanyanya datar.
"Maafkan aku, aku enggak bisa pakai ini, karena ...." Aisyah tak melanjutkan ucapannya karena Ryu menyela lebih dahulu.
"Tak masalah," sahut Ryu tanpa mau menatap istrinya.
"Aku janji akan memakai ini satu minggu ke depan, karena aku datang bulan. Maaf, ya." Aisyah meletakkan paperbag itu di atas nakas, lalu dia mencari sesuatu di laci lemari dan kembali masuk ke dalam kamar mandi.
Ryu menghela napas panjang, "Huh, gagal total," ucapnya frustasi.
Ryu membalas pelukan istrinya, "Aku tetap sabar menunggu, sayang. Tadi aku kira kamu enggak mau pakai itu, sempat kecewa sebelum tahu alasan sesungguhnya. Maafkan aku juga," sahutnya.
Aisyah mengangguk, "Kamu harus membeli benda itu lebih banyak lagi. Setelah selesai datang bulan, aku janji akan memakainya setiap malam," ujar Aisyah membuat Ryu melepas pelukan mereka.
"Aku akan memebelinya untukmu, berapapun dengan model yang bagus-bagus." Ryu mengecup seluruh wajah Aisyah, dan berakhir di mendarat di bibir istrinya itu.
Mereka saling melepas rindu dengan saling menyambut satu sama lain. Bergantian memberikan kenikmatan yang baru mereka rasakan saat ini, meski mereka pernah melakukan hal itu, tetapi tak senikmat saat ini. Bunyi decapan dari keduanya saling bersahutan.
Aisyah mengalungkan kedua tangannya di leher Ryu, sedangkan Ryu memeluk erat pingga istri tercintanya hingga tubuh mereka tak berjarak. Tangan Ryu tak tinggal diam, mulai masuk ke dalam pakian yang dikenakan Aisyah dan menelusuri tubuh indah istrinyan tersebut.
"Sayang, Mama mau ... Aduh, Mama Minta maaf, lupa." Mama langsung menutup pintu kamar setelah tanpa sengaja melihat pemandangan indah di dalam sana. Ya, tadi dia berniat berpamitan pada putrinya untuk ke luar sebentar. Seperti biasanya dia masuk kamar Aisyah tanpa mengetuk pintu, sebab lupa jika putrinya itu sudah menikah.
__ADS_1
Mereka berdua terkejut mendengar ucapan Mama, secara otomatis langsung melepaskan pagutan mereka. "Duh malunya, kenapa aku enggak denger Mama buka pintu?" Aisyah menutup wajahnya dengan kedua tangan, tapi Ryu langsung melepaskan tangan tersebut.
"Mama sudah memaklumi, sayang. Enggak usah ditutup wajahnya, aku mau lagi," ucap Ryu membuat Aisyah tersipu malu.
Aisyah pun menikmati apa yang dilakukan Ryu, dia juga mengikuti meski masih terasa kaku. Saking menikmatinya, tanpa dia sadari salah satu tangan Ryu sudah bertengger indah di dadanya. Mengusap lebut dada tersebut, hingga sedikit meremasnya, dan Aisyah baru tersadar saat dadanya terasa diremas. Aisyah tak mungkin bisa menolaknya, sebab semua yang ada dalam dirinya kini sudah menjadi milik suaminya itu.
"Sayang, bolehkah?" tanya Ryu saat pagutan mereka terlepas.
Tak mungkin Aisyah mengatakan tidak, tetapi jika mengatakan iya pasti sangat memalukan, hingga akhirnya dia mengangguk. "Tapi, aku takut kamu meminta hal lain yang saat ini belum boleh," ucapnya setelah sadar jika permintaan Ryu bisa saja membuat pemuda itu meminta hal lebih lagi.
"Aku tidak akan menyentuhnya sebelum dia mengusir tamunya," sahut Ryu.
Aisyah tersenyum mendengar ucapan Ryu. Menurutnya Ryu menggunakan istilah yang lucu untuk kata berhenti datang bulannya.
Mendapatkan lampu hijau dari istrinya, Ryu langsung menarik blouse yang dikanakan Aisyah ke atas hingga melewati kedua tangan gadis itu. Setelah terlepas sempurna, Aisyah justru menutup dua aset berharganya tersebut.
"Jangan di tutup sayang, aku mau lihat." Ryu menarik tangan istrinya perlahan.
"Malu," sahut Aisyah. "Ini pertama kalinya orang lain melihat benda berharga ini selain diriku," lanjutnya.
Ryu tersenyum, "Aku bersyukur menjadi orang pertama yang melihatnya. Sekarang lepas ya, biar ku manjakan mereka berdua, kamu pasti akan suka." Dia kembali melepas kedua tangan Aisyah yang menghalangi aset berharga tersebut. Aisyah pun pasrah, dia melepas kedua tangannya sambil memejamkan mata, terlalu malu.
"Indah sekali sayang," celetuk Ryu.
Aisyah diam, dia masih memejamkan mata, hingga bibirnya disentuh oleh benda kenyal, otomatis dia pun langsung membuka mata.
"Buka mata kamu sayang, aku ingin kamu melihat bagaimana aku memanjakan mereka," ucap Ryu, dan Aisyah hanya bisa mengangguk pasrah.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜