
Aisyah sama sekali tidak tahu suaminya itu akan membawanya kemana, sebab sejak tadi Ryu sama sekali tak memberi jawaban yang benar. Akhirnya Aisyah hanya bisa pasrah mengikuti kemanapun lelaki tampan itu membawanya, meski dengan sejuta pertanyaan di kepalanya. Tak lama mobil yang Ryu kendarai berhenti di depan pagar sebuah rumah mewah. Sesaat setelah pagar terbuka, Ryu pun kembali melajukan mobilnya.
"Rumah siapa?" tanya Aisyah saat mobil itu berhenti. Dia melihat sekeliling, halaman yang cukup luas tetapi belum terisi apapun, hanya ada beberapa pot besar yang masih kosong.
"Ayo masuk, nanti kamu akan tahu ini rumah siapa." Ryu membuka pintu mobil untuk istrinya, lalu menggandeng tangan wanita tercintanya itu untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
Saat pintu utama terbuka, mereka disambut dengan luasnya ruangan yang masih kosong, belum terisi apapun. Hanya ada lampu yang menerangi ruangan itu. Aisyah tersenyum, dia menebak, jika itu adalah rumah Ryu yang akan mereka tempati di masa depan.
"Nanti kamu yang isi, aku enggak tahu mau diisi seperti apa," celetuk Ryu.
"Siap bos! Aku sih seneng kalau di suruh ngisi, asalkan modal dari kamu." Aisyah tersenyum menatap suaminya.
"Tentu saja, kamu boleh pilih sesukanya." Ryu membalas senyuman istrinya, lalu dia memeluk pinggang permata hatinya itu. "Kita lanjutkan nanti kelilingnya, ada hal penting yang ingin aku tunjukkan padamu. Sebentar, aku kunci dulu pintunya." Dia pun bergegas mengunci pintu utama.
Aisyah sama sekali tak mengerti kenapa Ryu harus mengunci pintu? Padahal di luar ada satpam yang menjaga rumah ini. Mungkin Ryu hanya waspada saja.
"Ayo kita ke atas. Kamar utama ada di lantai dua." Ryu kembali memeluk pinggang Aisyah. Perlahan membawa istrinya itu untuk menjadi anak tangga.
"Aku sengaja membuat tangga di depan ruang keluarga, supaya ruang pribadi kita makin private, hanya orang terdekat saja yang tahu," ucap Ryu menjelaskan.
"Di lantai dua ini ada tiga kamar, satu ruang kerja dan ada ruang untuk gym, tapi kita akan melihatnya nanti. Sekarang kita masuk ke kamar utama dulu." Ryu terus menuntun istrinya hingga sampaikan di depan pintu kamar. Dia pun membuka kamar tersebut dan mempersilahkan sang istri untuk masuk.
"Kamu menyiapkan semua ini?" Aisyah terkejut melihat isi di dalam kamar itu. Sekeliling kamar tersebut ditaburi oleh kelopak mawar merah, hingga wangi mawar memenuhi kamar tersebut. Tak lupa, di atas kasur terdapat kelopak mawar berbentuk hati.
Ryu memeluk istrinya dari belakang, "Aku ingin mengukir sejarah di kamar kita ini. Aku ingin mengingat momen berharga itu setiap saat, jadi aku ingin kita memulai semuanya di sini," ucapnya.
Aisyah tersenyum malu, bahkan dia merasa pipinya memanas dan mungkin sudah memerah seperti kepiting rebus. Tak menyangka suaminya akan melakukan hal itu. Bahagia sekali, sebab dia tak pernah mendapatkan sebuah surprise melebihi hal ini, bahkan saat mereka pacaran, Ryu jarang sekali memberinya surprise meskipun dia sedang ulang tahun.
"Aku tak ingin menunggu malam, kamu siap, kan kalau kita melakukannya sekarang?" Ryu butuh persetujuan dari istrinya, dia tak ingin bertindak lebih jika istrinya tak menginginkan hal itu.
Aisyah mengangguk, "Apapaun yang ku miliki adalah milikmu, kapan pun kamu mau, kamu boleh melakukannya, tak mungkin aku melarang atau menolak hal yang sudah menjadi milik mu," ucapnya.
Ryu memutar tubuh Aisyah, dia tersenyum sambil menatap dalam kedua bola mata istrinya, "Terima kasih sayang, dan maaf jika aku terkesan buru-buru," ucapnya.
Aisyah menggeleng, "Sudah satu minggu kamu menahannya, tidak bisa dibilang buru-buru," sahutnya.
Ryu terkekeh, dia teringat akan hari itu saat malam pertama mereka, sekarang dia yakin kejadian malam itu tak akan terulang lagi, meskipun saat ini masih pagi hari. Dia tak ingin usahanya gagal karena telah melakukan banyak hal. Salah satunya, dia meliburkan pegawai yang masih bekerja di sana, dia juga sudah mempersiapkan semua itu semalaman.
"Apa kamu masih bersedia memakai pakaian yang aku berikan waktu itu?" tanya Ryu, dia takut Aisyah menolaknya.
Kedua pipi Aisyah bersemu, "Apapun untukmu, sayang," jawabnya sambil menunduk.
Ryu megecup kening istrinya, "Ayo ikut," ajaknya.
Mereka berdua masuk ke dalam walk in closet, diaman ruangan itu sudah terisi beberapa lemari pakaian. Ryu membuka slaah satu lemari tersebut, ternyata sudah ada beberapa pakaian milik pemuda itu dan juga milik Aisyah.
"Sayang, kamu boleh memilihnya sendiri." Ryu menunjukkan beberapa gaun malam yang akan istrinya pakai pagi ini. Ya, ini masih sangat pagi dan Ryu sudah tak sabar melakukannya.
Aisyah menggeleng, "Untuk yang pertama kalinya, kamu yang harus memilih. Lain kali aku akan memilih sendiri," tolaknya. Dia sebenarnya malu melihat pakain malam yang tak layak disebut pakaian tersebut, karena semua bahan dari pakaian itu hanya kain tipis yang smaa sekali tak bisa menghalangi penampakan warna kulit.
Ryu tersenyum, "Baiklah, kau tak boleh menyesal jika aku yang memilihnya," ucapnya.
Ryu pun memilih salah satu diantara beberapa pakaian itu. Dia tersenyum saat mendapatkan sebuah pakaian berwarna merah menyala, dia pun mengambilnya. Pakaian itu terlihat paling parah diantara yang lain, jika yang lain masih ada kain yang menutupi kulit lain hal dengan yang berwarna merah tersebut, sebab itu hanya berbentuk seperti tali atau pita kecil yang menutupi sebagian kecil dari tubuh siapa pun yang mengenalannya. Bahkan tak bisa dikatakan sebagai pakaian.
__ADS_1
Aisyah mengerjapkan mata saat melihat pakaian itu, dengan berat hati dia menerimanya. Dia yakin kedua pipinya sudah memerah karena malu, apalagi saat melihat tatapan mesum suaminya.
"Aku akan memakainya untukmu," ucapnya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Aku akan menunggumu di kamar." Ryu tersenyum melihat istrinya yang salah tingkah. Dia tak sabar ingin melihat bagaimana Aisyah memakai pakaian itu, sebab dia tak pernah melihat istrinya memakai pakaian minim.
Aisyah memandang pakaian yang ada di tangannya, tak yakin jika akan memakai pakaian yang sangat minim bahan itu. Dia hanya bisa menghela nafas, lalu mengganti satu persatu pakaiannya dengan pakaian itu. Dia merinding saat melihat dirinya sendiri di dalam pantulan cermin.
"Malu banget, apa harus gini ya?" gumamnya.
Aisyah menghela napas panjang, "Bismillahirrahmanirrahim, ini semua untuk membahagiakan suami," ucapnya.
Saat ingin keluar dari kamar mandi dia merasa tak yakin, apalagi ini pengalaman pertamanya, meski Ryu pernah beberapa kali melihat sebagian tubuhnya yang selalu tertutup. "Ada jubah mandi enggak ya?" dia melihat sekeliling dan tak menemukan apapun di sana.
"Mungkin di luar ada." Dia bergegas keluar menuju walk in closet. Setelah mencari dia pun menemukan sesuatu yang dia cari.
"Nah, seperti ini kan lebih baik. Setidaknya aku lebih percaya diri sebelum Ryu melihatnya." Dengan langkah yakin, dia pun keluar dari walk in closet menuju kamarnya.
Dia terkejut, saat melihat kamar itu sedikit gelap. Penerangan matahari dari luar sama sekali tak menembus ruangan tersebut, padahal hampir sebagian kamar itu terdiri dari jendela kaca. Ternyata saat dia melihat ke arah jendela kaca, tirai tebal menutup jendela tersebut. Ditambah hawa panas yang tiba-tiba berubah mendung, membuat suasana kamar makin temaram.
Ryu tersenyum saat melihat bidadarinya berjalan ke arah ranjang. Dia menyambut kedatangan istri tercintanya itu dengan duduk di sisi ranjang. Mereka berdua sama-sama mengenakan jubah mandi yang menutup tubuhnya. Entah sejak kapan Ryu mengganti pakaiannya dengan jubah tersebut.
"Sini sayang, duduklah." Ryu menepuk pahanya, supaya Aisyah duduk di pangkuannya.
Aisyah mengangguk, meski dia harus membuang rasa malunya untuk sementara supaya semuanya berjalan tanpa kendala apapun. Dia tak ingin mengecewakan suaminya lagi. Perlahan dia duduk di pangkalan Ryu, mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya itu.
"Aku sudah siap sayang," bisiknya tepat di depan telinga Ryu.
Ryu tersenyum mendengar bisikan istrinya tersebut. Bisikan itu membuat bulu romanya meremang, dan area intinya merespon secara cepat. Bahkan dadanya terasa bergemuruh, tak sabar menerima kenikmatan yang sampai saat ini hanya ada dalam angannya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
Hujan terkadang membawa kebahagiaan seperti yang dirasakan sepasang pengantin yang sedang memadu kasih itu. Akan tetapi tak sedikit yang membawa suka, yang saat ini dirasakan oleh seorang pemuda. Jika tangin sepasang pengantin itu adalah tangis kebahagiaan, berbeda dengan pemuda itu, dia menangis karena duka mendalam. Wanita yang telah melahirkannya dua puluh dua tahun silam itu kini sudah tak ada lagi di dunia ini.
Sam, dia menyesal karena terlambat datang menjenguk ibunya di rumah sakit. Untung saja dia masih bisa mendengar sepatah kata nasehat dari ibu tercinta sebelum wanita itu meninggalkannya. Bersama dua saudaranya, Sam menangis karena kehilangan.
"Kenapa Kakak tak pernah mengatakan penyakit ibu apada ku?" tanya Sam pada kakak perempuannya.
"Ibu melarang ku Sam, ibu tak mau kamu khawatir. Beban pikiran mu terlalu banyak, kau bahkan menjadi tulang punggung keluarga setelah ayah tiada. Ibu tak mau kamu khawatir Sam," jawab sang kakak.
"Harusnya kakak bicara diam-diam denganku. Aku tak berguna Kak, ibu meninggal karena diriku." Sam menyalahkan dirinya sendiri.
"Kak Sam, kau tak boleh menyalahkan dirimu sendiri. Ini sudah takdir kak, pernah bilang padaku jika dia ingin segera menyusul ayah. Dia tidak mau merepotkan kita bertiga." Adik perempuan Sam menunduk, dia sebenarnya tak sanggup mengatakan hal itu.
"Sam, benar kata Sunni, kau tak boleh menyalahkan dirimu sendiri, ini semua takdir Sam." sang kakak memeluk kedua adiknya secara bersamaan.
"Kamu lebih memilih ibu meninggal karena mengakhiri hidupnya atau seperti ini?" tanya sang kakak.
"Kenapa kakak bertanya seperti itu? Aku tak ingin melihat keduanya jika diperbolehkan." Sam tak suka mendengar pertanyaan sang Kakak.
"Ibu pernah over dosis kak, dia mau meminum semua obatnya bersamaan. Untung saja aku dan kakak datang, dan menggagalkan rencana ibu," jawab adiknya.
Sam menggelengkan kepala, dia tak sanggup mendengar penjelasan kedua saudaranya. Dia menyesal karena tak pernah melihat keadaan ibunya selama kurang lebih satu tahun ini, sebab kesibukannya berkeliling dunia.
__ADS_1
"Sekarang ibu sudah bahagia Sam, mari kita antarkan dia ke peristirahatan terakhirnya dengan kedamaian. Aku yakin ibu tak ingin melihat kita bertiga menangis." Kakak perempuannya terlihat lebih tegar, sebab dia mengetahui keseharian ibunya.
Berita kematian ibu Sam sampai ke telinga fansnya di negara itu. Bahkan media luar pun meliput akan kepergian ibu salah satu idol tersebut. Berita itu begitu cepat menyebar, membuat semua sahabat Sam langsung datang ke rumah duka hari itu juga. Minus Ryu yang sampai sore hari tak bisa dihubungi. Tentu saja karena lelaki itu sedang menikmati surga dunia yang membuatnya melupakan segalanya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
Di sebuah kamar yang begitu luas, dia insan terlihat saling menatap satu sama lain dalam posisi berbaring. Wajah keduanya terlihat memancarkan rona kebahagiaan, sebab senyuman itu tak luntur sejak tadi. Mereka baru saja melewati fase menyakitkan tetapi membahagiakan, bahkan sakit itu seakan lenyap setelah kebahgiaan datang.
"I love you istriku," ucap Ryu, kedua bola matanya tak lepas dari wajah sang istri.
"Love you more, suamiku," sahut Aisyah.
"Aku tak akan melupakan hari ini, bahkan aku mencacat jam, menit dan detik keberapa saat aku berhasil mendapatkan mu. Hebat kan suami mu ini?" Ryu menaikkan sebelah matanya.
Aisyah mengangguk, "Sangat hebat sekali," ucapnya membalas dengan kedipan sebelah matanya.
"Kau menggoda ku ya? Apa mau lagi? Aku tak masalah jika kamu menginginkannya lagi, aku siap sayang." Ryu mengusap pipi istrinya dengan sebelah tangan, dan tangan yang satunya dia gunakan untuk menyibak selimut yang menutup tubuh istrinya, hingga tubuh itu terekspos jelas tanpa penghalang apapun.
"Ryu! Malu," celetuk Aisyah. Dia kembali menutup tubuh polosnya dengan selimut.
Ryu tersenyum melihat tubuh istrinya yang kini di penuhi lukisan indah hasil karyanya. Sepertinya Aisyah tak menyadari hal itu, mungkin jika istrinya menyadari, dia akan berteriak sekencang mungkin dan menyalahkannya.
"Jangan sekarang ya. Kita harus mandi dan sholat. Lihatlah jam berapa ini?" Aisyah menunjukkan ponselnya pada sang suami.
"Oke, kita mandi. Kamu di sini dulu, aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Ryu beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi tanpa menutup tubuh indahnya.
"Sayang! Kenapa kamu tidak pakai baju?" protes Aisyah, dia malu sendiri melihat tingkah suaminya yang tak memiliki rasa mau sedikitpun itu.
Ryu tak menjawab, dia hanya tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama lelaki itu datang lagi, masih belum mengenakan apapun, membuat Aisyah langsung menutup matanya dengan selimut. Tetapi setelahnya dia terkejut karena selimut itu terbuka lebar, dan tubuhnya terasa melayang di udara.
"Aku bisa sendiri." Aisyah malu karena tubuhnya terlihat jelas di hadapan Ryu tanpa penutup apapun, hingga dia sedikit memberontak ingin terun dari gendongan lelaki itu.
"Kau tak perlu malu-malu seperti itu sayang, aku sudah hafal semuanya. Bahkan aku tahu mana yang lebih besar. Kamu sendiri tidak tahu, kan?" Ryu mengedipkan sebelah matanya.
"Kau itu." Aisyah protes, dan menatap Ryu tajam.
Ryu terkekeh, "Kamu akan melihat buktinya, jika aku sudah menghafal semuanya. Tapi jangan terlejut ya. Sebelum itu, kita mandi dulu. Aku akan memandikan mu." Dia meletakkan tubuh polos istrinya ke dalam bathtub perlahan lalu dia menyusul masuk ke dalam air hangat itu.
Aisyah meringis, dia merasakan perih di area intinya saat terkena air. Padahal tadi dia sudah tak merasakan apapun setelah mendapatkan kenikmatan.
"Sakit ya? Kita mandi dulu, nanti kita obati. Ini tak akan lama, besok juga pasti sudah sembuh." Ryu ingin menyentuh area inti istrinya, tetapi Aisyah menolak.
"Lumayan. Biar aku yang membersihkannys sendiri," sahur Aisyah.
Ryu mengangguk, "Aku tak akan melakukan itu sebelum dia sembuh, kamu pasti kesakitan," ucapnya.
Aisyah tersenyum lalu menggeleng, "Tak masalah jika ingin melakukannya lagi sebelum dia sembuh, karena sepertinya aku pun menginginkannya," ucapnya.
Senyum Ryu makin lebar, tak menyangka jika istrinya akan mengatakan hal itu. "Baiklah, setelah ini aku tak akan membiarkan mu istirahat."
Ryu mengangkat tubuh Aisyah hingga duduk di pangkuannya. Dia pun bebas melakukan apapun yang dia inginkan saat ini, dan Aisyah hanya bisa pasrah karena sudah menyetujui keinginan Ryu.
"Sebentar ya sayang, kita masih memiliki waktu dua jam lebih." Ryu mendongak menatap istrinya sejenak, kemudia melanjutkan aksinya.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜