
"Ibu, kau pesan makanan apa sih ini? Tak enak sama sekali, aku jadi tak berselera untuk memakannya." Sora kembali bertingkah setelah melihat semua makanan yang tersaji.
"Itu makanan khas negara Aisyah, coba cicipi dulu, enak lho," jawab Bibi Mey.
"Tak sudi aku memakan makanan gadis kampung itu, nanti aku tertular kampungan nya!" Sora baru saja akan beranjak dari tempat duduknya, tetapi suara sang ayah membuatnya mengurungkan niat.
"Ayah tak pernah mengajarimu seperti itu Sora! Tetap duduk dan makan, atau uang jajan kamu ayah tahan selama satu bulan!" Ancam Ayahnya.
Sora berdecak, dia takut dengan ancaman ayahnya. Akhirnya dia pun kembali duduk dengan tenang meski hatinya bergemuruh seakan ingin memangsa Aisyah yang ada di hadapannya, karena gadis itulah dia mendapatkan ancaman dari ayahnya.
"Makanan ini sungguh enak sekali, aku belum pernah memakannya." Ayumi sangat menikmati makanan tersebut, dia mengakui memang makanan itu enak meski terlihat sederhana.
Sora menatap tak suka adiknya, "Benar juga yang dia katakan, enak sih. Tapi aku tak sudi mengakuinya," ucapnya dalam hati.
Selesai makan, Ryu dan Aisyah berpamitan untuk kembali ke hotel. Sora masih terlihat sama, dia tak suka dengan Aisyah, tetapi saat menatap Ryu, dia terlihat manis, berharap Ryu melirik nya, tetapi sayang sekali Ryu sama sekali tak melihat ke arahnya. Lelaki itu masih kesal dengan sepupunya tersebut, apalagi sikap Sora yang terlihat tak menyukai Aisyah sepanjang mereka ada di sana.
"Maafkan sikap Sora yang ketus padamu ya," ucap Ryu ketika mereka sudah kembali ke hotel.
Aisyah mengangguk lalu tersenyum, "Tak masalah, aku tidak berharap semua orang menyukaiku. Adakalanya seseorang juga tak menyukaiku. Tapi sepertinya Sora memiliki alasan tersendiri hingga bersikap seperti itu," jawabnya.
"Maksud kamu alasan apa?" Ryu sudah terbiasa dengan sikap Sora membuatnya tak mengerti dengan apa yang dimaksud istrinya.
"Cemburu mungkin." Aisyah tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya menatap sang suami.
"Apa iya? Mana mungkin Sora cemburu dengan mu, kami bersaudara, tak mungkin, kan dia menyukai ku?" Ternyata Ryu tak sepeka itu untuk menyadari perasaan seseorang padanya.
__ADS_1
"Itu cuma kemungkinan, belum tentu benar jika sih. Mungkin dia belum bisa menerima orang baru," sahut Aisyah. Dia tak mau memperpanjang masalah ini, sebab dia pun merasa cemburu tadi saat Sora memeluk suaminya itu, tetapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja.
"Aku mandi dulu ya, gerah banget seharian di luar rumah." Aisyah bergegas masuk ke dalam kamar mandi, mengakhiri obrolan mereka tentang Sora.
Ryu mengangguk, dia pun merasa lelah. Membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk sambil menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang menuju rumah sakit, dimana ibunya berada. Jujur, dia masih merindukan ibunya itu, dan besok berencana untuk kembali ke rumah sakit lagi.
Aisyah baru saja keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono. Dia menggelengkan kepala saat melihat suaminya sudah tertidur pulas, padahal baru beberapa menit dia tinggal. Tanpa membangunkan Ryu, dia pun langsung berganti pakaian.
"Kamu terlihat sangat capek, aku tidak tega membangunkanmu." Aisyah menatap lekat wajah suaminya yang sedang tertidur.
"Maafkan aku ya, selalu merepotkan mu," gumamnya lagi.
Bukannya membangunkan suaminya itu, Aisyah justru ikut berbaring di samping Ryu dan memeluknya. Ryu sama sekali tak merespon saat Aisyah memeluk tubuhnya, mungkin karena lelaki itu sudah damai dalam mimpinya. Hingga pagi menjelang, Ryu terbangun lebih dahulu saat mendengar alarm dari ponsel istrinya. Melihat ke arah samping, ternyata Aisyah tidur dengan memeluk tubuhnya.
"Padahal semalam aku tidak mandi, tapi kamu tetap nempel kaya prangko." Ryu tersenyum menatap wajah Aisyah yang masih terlelap. Beberapa saat berlalu dia masih menatap wajah cantik istrinya itu, hingga ponselnya berdering menandakan jika ada telepon masuk.
"Kenapa Yumi? Kau mengganggu ku saja!" ucap Ryu dengan orang diseberang sana.
"Ryu, dengarkan aku dulu sebentar dan maaf mengganggu waktu kalian berdua. Ini penting, kalian bisa lanjut buat keponakan untukku nanti malam, ini sudah pagi saatnya kalian bangun." Ayumi justru mengomeli Ryu balik, dia sampai lupa apa tujuan menelepon sepupunya itu.
"Apa sih? Kamu mau bicara apa? Kalau tak penting aku tutup." Ryu tak sabar ingin mendengar apa yang akan dikatakan Ayumi padanya.
"Ah, sampai lupa! Kak Ryu sih! Denger dulu, jangan di potong!" Ayumi langsung menyetop saat Ryu akan kembali bersuara.
"Semalam aku tak sengaja mendengar Sora menelepon temannya, pagi ini mereka akan menemui mu bersama teman-temannya di hotel. Jadi, cepatlah kalian pergi sebelum Sora datang. Aku sengaja menelpon pagi buta karena aku yakin Sora masih molor. Udah sana lanjutkan buat keponakan untuk ku, aku mau tidur lagi." Ayumi langsung menutup panggilan teleponnya, membuat Ryu berdecak.
__ADS_1
"Apa sih maunya Sora?" Ryu kesal, jika Sora benar-benar melakukan apa yang dikatakan Ayumi tadi, maka statusnya dengan Aisyah pasti akan segera terbongkar, dan dia tak mau secepat itu mereka semua mengetahui statusnya dengan Aisyah. Alasannya demi kebaikan Aisyah tentunya.
"Sayang, bangun yuk. Kita pulang sekarang." Ryu mengusap pipi istrinya, lalu mengecupnya di sana, membuat Aisyah membuka matanya perlahan karena terasa ada yang menyentuh pipinya.
"Kamu sudah bangun? Apa kamu bilang tadi, pulang kamana?" Aisyah meregangkan seluruh otot tubuhnya, lalu dia bangkit dari tidurnya.
Ryu menceritakan apa yang dikatakan oleh Ayumi. "Jadi, sekarang kita harus pergi dari sini sebelum Sora benar-benar datang. Kamu mandilah, aku akan menghubungi manager ku," ucap Ryu.
"Kau sudah sholat?" tanya Aisyah, dia belum beranjak dari duduknya.
"Sudah sayang, tapi aku tak sempat mandi." Ryu memang melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu sebelum membangunkan istrinya itu, seperti kebiasaan Aisyah dulu sebelum mereka menikah.
Matahari belum menampakkan wujudnya, tetapi Aisyah dan Ryu sudah keluar dari hotel. Mereka sengaja menghindar dari Sora dan teman-temannya terlebih dahulu, meskipun saat ini masih belum ada tujuan. Penerbangan paling pagi masih jam sembilan nanti, mereka tentu tak ingin berlama-lama di bandara.
"Ryu, aku rasa Sora juga akan mencari kita di bandara, kalau tak menemukan di hotel," celetuk Aisyah saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Kamu benar sayang, lalu menurut mu bagaimana sekarang?" Ryu sudah tak memiliki ide lain, pikirannya buntu karena semua rencananya gagal akibat ulah Sora.
"Kita tunggu di bandara saja, di ruang tunggu VVIP. Kita bisa sarapan dan menunggu penerbangan tanpa khawatir Sora menemukannya," usul Aisyah.
"Istriku memang cerdas. Baiklah, kita ke bandara saja sekarang. Nanti akan ku kasih pelajaran si Sora itu," sahut Ryu.
"Tak perlu sayang, biarkan saja, nanti dia juga akan lelah sendiri. Kita tak perlu memberi pelajaran atau pembalasan yang sama pada orang yang jahat dengan kita, doakan saja semoga dia berubah menjadi lebih baik," tutur Aisyah, selalu membuat Ryu meleleh dan makin jatuh cinta dengan wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"Kalau saja sedang tidak di mobil, sudah aku kasih hadiah spesial buatmu sayang," bisik Ryu.
__ADS_1
Aisyah terkekeh, dia mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya itu, "Jangan macam-macam di sini ya!" ancamnya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜