
Dua puluh satu tahun lalu, Winda adalah seorang sekretaris dari Fadly. Hubungan mereka memang tak lebih dari sekretaris dan bos, karena keduanya sudah memiliki pasangan masing-masing. Suami Winda bekerja di perusahaan itu juga, sebagai seorang sopir perusahaan. Salah satu alasan kenapa suami Winda tidak mau seluruh karyawan mengetahui hubungan mereka, takut berimbas pada Winda yang memiliki posisi cukup baik di sana.
Suatu hari, suami Winda kecelakaan saat mengantar barang, dan dia diaktakan meninggal di tempat kejadian. Saat itu Winda sedang hamil muda, tentu tak mudah bagi Winda melewati semua itu. Berapa bulan berlalu, kehamilan Winda makin terlihat, hingga seluruh karyawan mengira jika Winda adalah selingkuhan Fadly, dan berita itu pun terdengar hingga telinga istri Fadly, Dewi.
"Mas! Ternyata selama ini kamu bermain belakang dengan sekretaris mu itu? Apa kurang ku Mas? Apa?" Dewi murka setelah mendengar gosip yang tidak benar itu.
"Kamu salah sangka Wi, dia itu sudah punya suami tapi suaminya meninggal. Dia hamil dengan suaminya, bukan dengan ku. Kamu jangan asal nuduh sembarangan tanpa bukti!" Fadly tak terima jika istrinya menuduhkan sesuatu yang tak pernah dia lakukan.
"Omong kosong! Kamu cuma berdalih, biar enggak disalahkan. Buktikan kalau kamu memang tidak selingkuh dengan dia, pecat dia sekarang juga." Dewi tak percaya begitu saja hingga mencetuskan hal yang tak disangka dan sulit dilakukan oleh Fadly.
Fadly terdiam, memecat Winda bukan hal mudah, sebab wanita itu sangat profesional dan cerdik dalam segela hal. Winda juga sering membantu memecahkan masalah di luar tugas seorang sekretaris, tetapi Fadly harus memutuskan salah satunya. Dia tak mungkin jika tak menuruti perintah Dewi, sebab istrinya itu sedang hamil anak mereka yang sudah mereka tunggu bertahun-tahun lamanya.
"Tuh 'kan diam! Sekarang kamu pilih aku atau dia? Kalau kamu pilih aku, pecat dia sekarang juga, tapi kalau kamu pilih dia, ceraikan aku sekarang juga!" Dewi tak sabar mendengar keputusan Fadly,meski berkata seperti itu Dewi tetap berharap suaminya memilih dirinya.
"Baiklah aku akan pecat dia besok, tapi setelah ini kamu jangan tuduh aku macam-macam, karena aku dan dia memang tidak ada hubungan apapun." Akhirnya dengan berat hati Fadly memecat Winda.
Fadly menjelaskan semuanya pada Winda alasan kenapa dia memecat wanita cerdas itu. Dan Winda mengerti, dia menyesal kenapa pernikahannya dengan sang suami tak dipublikasikan di perusahaan dan akhirnya membuat dia susah.
__ADS_1
"Tapi kamu tenang saja Win, saya akan membantu kamu sampai anak mu lahir, karena saya merasa bersalah untuk semua kejadian yang menimpa mu," ujar Fadly sebelum Winda benar-benar meninggalkan perusahaan itu.
"Tidak perlu Pak, nanti istri anda makin curiga. Saya tidak mau terjadi kesalahpahaman lagi dengan Bu Dewi," tolak Winda, dia hanya ingin hidup bebas dari tuduhan tak berbukti itu.
Meski Winda berulang kali menolak, Fadly tetap memaksa dan akhirnya Winda tak bisa berkata-kata lagi kecuali mengiyakan permintaan Fadly. Saat usia kandungan Winda delapan bulan Fadly datang ke rumah Winda. Dia memiliki sedikit masalah, hingga teringat dengan Winda.
"Win, kamu sudah USG? Anak kamu laki-laki apa perempuan?" tanya Fadly setelah mereka saling menanyakan kabar.
"Dokter bilang laki-laki, Pak. Kalau istri bapak gimana?" Winda menanyakan hal yang sama sebagai bentuk formalitas dan menghargai tamunya.
"Apalagi Dewi sangat sulit untuk hamil lagi, dokter bahkan menyarankan Dewi tak boleh hamil lagi setelah ini, sangat berisiko." Fadly menatap Winda yang terlibat iba mendengar ceritanya. "Win, bagaimana kalau kita tukar anak kita Win. Saya janji akan memberikan kehidupan terbaik untuk anak mu, dan saya juga akan membiayai kehidupan anak ku bersama mu nantinya, please Win, kamu harapan satu-satunya. Saya tidak mau kerja keras saya selama ini terbuang sia-sia." Lanjutnya memohon pada Winda.
"Maaf Pak, saya tidak bisa. Dia anak saya Pak, dan saya tidak akan menyerahkan anak saya pada bapak, tidak akan pernah." Winda tentu menolak mentah-mentah permintaan mantan bosnya itu.
"Kamu bilang almarhum suami mu sudah menyiapkan nama seorang anak perempuan, kan? Itu artinya dia juga ingin anak perempuan Win. Kalau kamu menyetujui permintaan ku, kamu juga mewujudkan keinginan suami mu." Fadly tak kehabisan akal, dia terus membujuk Winda.
Hingga satu bulan kemudian Winda dan Dewi melahirkan secara bersamaan. Winda melahirkan secara normal dan Dewi melahirkan dengan bantuan operasi cesar. Dan benar sana anak Winda laki-laki dan anak Dewi perempuan. Dengan berat hati Winda menyerahkan putranya pada Fadly dan dia menerima seorang bayi cantik yang membuatnya langsung jatuh cinta.
__ADS_1
"Win, saya sudah mengurus surat menyurat Nazwa, di sini tertera saya sebagai ayahnya dan kamu sebagai ibunya. Maafkan saya karena tidak berdiskusi lebih dulu dengan mu, karena Nazwa perempuan jadi saya harus mencantumkan nama saya sendiri sebagai ayahnya." Fadly menyerhakan akta kelahiran Aisyah pada Winda.
"Namanya juga sudah saya buat seperti yang almarhum suamimu inginkan, Aisyah. Tapi saya menambah nama itu, kamu bisa lihat sendiri."
Winda melihat surat akta kelahiran putrinya, dia hanya membaca sekilas lalu meletakkan surat itu lagi. Meski berat karena nama suaminya tak tercantum di akta kelahiran, Winda sadar jika putrinya itu masih membutuhkan papa kandungnya. Dia pun tak bisa berbuat banyak selain menyetujuinya.
"Anak saya bagaimana?" tanyanya.
"Anak mu saya beri nama Agam Maulana Mumtaz. Kamu boleh menjenguknya, tapi bilang dulu dengan saya." Jawab Fadly.
"Dan kamu bisa memulai kehidupan baru di tempat baru, saya memiliki sebuah rumah di kota A, itu sudah atas nama kamu. Saya juga sudah kirim beberapa uang di rekening kamu, bisa kamu gunakan untuk memulai usaha. Saya melakukan semua itu untuk Nazwa, dan sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah membantu saya."
Hari itu kali terakhir sebelum Winda pergi dari ibu kota. Dan setelah itu pertemuannya dengan Fadly tak pernah terjadi lagi hingga Aisyah sekolah menengah pertama, tetapi Fadly terus mengirim uang untuk kebutuhan Aisyah. Dan Winda tak pernah sekalipun menggunakan uang itu hingga sekarang.
Winda juga memutuskan untuk pindah ke tempat yang saat ini dia tempati, dengan menjual rumah pemberian Fadly. Dia hanya tak ingin Fadly mengetahui keberadaannya, karena dia sudah merasakan bahagaia hidup dengan Aisyah yang penurut dan riang. Tetapi takdir berkata lain mereka kembali bertemu setelah sekian lama. Dan Fadly justru memberikan luka pada putrinya yang membuat dia tak menyukai lelaki itu datang ke rumahnya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1