Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Sahabat


__ADS_3

"Ryu, kenapa aku harus bertahan di sini? Aku tak nyaman," keluh Aisyah saat menelpon kekasihnya di malam hari.


"Tetaplah di sana, mungkin Tuan Park memiliki rencana lain. Kamu tenang ya, Tuan Park adalah orang baik," Ryu mencoba menghibur Aisyah, karena sejak tadi gadis itu terus mengatakan ingin kembali ke apartemen, karena tak nyaman berada di rumah Tuan Park.


"Aku merasa menjadi simpanan Tuan Park," Aisyah masih saja mengeluh, belum dua puluh empat jam gadis itu berada di rumah mewah tersebut, tapi seperti ingin melarikan diri.


"Jangan bilang seperti itu, kalau Tuan Park mendengarnya dia pasti akan marah padamu," sahut Ryu tak suka dengan ucapan Aisyah.


"Sekarang tidurlah, sudah malam. Aku tak mau kamu sakit, aku juga mau tidur. Besok harus latihan lebih awal, karena tertinggal dengan yang lain," titah Ryu.


"Maafkan aku, semua itu karena aku. Baiklah aku juga mau tidur," sahut Aisyah, dia merasa tak enak dengan Ryu karena penculikan dirinya Ryu harus berlatih lebih keras lagi.


"Tak perlu minta maaf sayang. Selamat malam dan selamat tidur," Ryu mengakhiri panggilannya, dia sebenarnya belum mengantuk hanya saja tak ingin mendengar Aisyah mengeluh tinggal di rumah Tuan Park, sebab menurutnya saat ini gadis itu lebih aman di sana.


Aisyah menurut, dia pun langsung memejamkan mata setelah telepon dari Ryu terputus, tapi tanpa dia sadari Tuan Park mendengar semua percakapan Aisyah dengan Ryu. Lelaki setengah baya itu sama sekali tidak marah atau tersinggung, dia justru tersenyum mendengar semuanya.


"Akan ada saatnya nanti kamu mengetahui semuanya Aisyah," gumamnya.


Pagi hari Aisyah terbangun lebih awal, tapi dia bingung harus melakukan apa. Untuk turun ke lantai bawah rasanya dia malas, sekaligus tak enak karena dia tamu di rumah ini, tapi jika dia berada di dalam kamar juga tak lebih tak enak lagi.


"Nona, pakailah ini sebelum sarapan. Itu perintah Tuan Park." Bibi Cha masuk ke dalam kamar Aisyah dengan membawa paper bag berisi pakaian untuk Aisyah.


"Kenapa begitu Bi?" Aisyah makin merasa aneh, pikirannya dipenuhi oleh hal negatif.


"Saya tidak tahu Nona, tapi sepertinya ada seseorang yang akan bertemu dengan Nona pagi ini," jawab Bibi Cha kurang yakin.

__ADS_1


Aisyah teringat akan ucapan Tuan Park kemarin, jika ada seseorang yang akan bertemu dengannya, tapi siapa? Ah dia merasa takut akan situasi ini. Muncul berbagai macam pertanyaan negatif dari dalam pikirannya.


"Anda tak perlu khawatir Nona, Tuan Park bukan orang jahat yang tega menyakiti anak gadis, apalagi beliau pernah memiliki seorang gadis seperti anda," Bibi Cha seakan mengerti dengan kegelisahan Aisyah.


Gadis itu hanya mengangguk dengan senyum dipaksakan, dia tak menyangka jika Bibi Cha mengetahui apa yang ada dalam pikirannya. "Baiklah Bi, aku akan bersiap lebih dahulu." Aisyah meninggalkan papaer bag tersebut di atas tempat tidur tanpa membukanya terlebih dahulu.


Tak berapa lama Aisyah sudah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kimono. Dia memilih untuk mengunci pintu kamar, karena takut Bibi Cha masuk tanpa permisi seperti tadi. Entahlah orang di rumah ini seringkali masuk ke kamar tanpa permisi, seperti Bibi Cha.


Aisyah meraih paper bag tersebut, sedikit heran dengan isinya. Sebab di dalam paper bag rersebut berisi sebuah dress panjang, dengan lengan yang panjang pula, seperti bukan produk dari negara ini, justru terlihat seperti produk dari negerinya. Ditambah jilbab yang juga tak mungkin ditemukan di negara ini.


"Ah, tak perlu dipikirkan. Tuan Park bisa melakukan apa saja dalam sekejap sepertinya," gumam Aisyah.


"Tapi, kenapa dia melakukan ini?" wajah Aisyah yang tadinya sumringah kini berubah muram saat mengingat perlakuan Tuan Park padanya yang bukan siapa-siapa, bahkan dia juga baru mengenal lekai itu kemarin.


"Sebentar lagi ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu, semoga kau menyukai kedatangan orang itu," ujar Tuan Park setelah selesai sarapan.


"Bolehkan aku mengetahui siapa dia?" tanya Aisyah yang sangat penasaran dengan orang yang akan bertemu dengan dirinya.


"Nanti kau akan tahu sendiri." Jawab Tuan Park dengan sebuah senyum di bibirnya.


Aisyah terdiam, dia tak nungkin mendapatkan jawaban saat ini, tapi dia sangat penasaran sebenarnya. Ah sudahlah, sebentar lagi juga pasti mengetahuinya.


"Ayo kita tunggu di luar, dia sebentar lagi sampai." Tuan Park mengajak Aisyah keluar dari ruang makan dan gadis itu hanya bisa mengekor tanpa melontarkan protes.


Tak sampai lima menit, orang yang ingin bertemu dengan Aisyah pun muncul. Dia masuk ke dalam rumah itu dengan bibir tersenyum, meskipun dia tahu senyuman itu tak akan mendapatkn balasan dari gadis tersebut.

__ADS_1


Aisyah, terdiam ada rasa bahagia saat melihat siapa yang datang, apalagi keadaanya yang kurang baik akibat penculikan kemarin. Ah rasanya ingin memeluk orang tersebut, tapi sepertinya tak mungkin. Yang membuatnya bingun kenapa orang itu bisa berada di rumah Tuan Park?


"Apakabar Nazwa?" tanya orang tersebut yang tak lain adalah Papanya Aisyah.


"Aku baik seperti yang Papa lihat," jawab Aisyah singkat.


"Syukurlah, Papa bahagia jika kau sehat, dan cantik seperti saat ini." Fadly terus tersenyum saat berbicara dengan putrinya.


"Apa kau tak ingin memeluk ayah mu Aisyah?" tanya Tuan Park, dia sedikit heran dengan hal yang terjadi di hadapannya.


"Dia yang tak pernah menginginkan hal itu Tuan, bukan saya," jawab Aisyah.


Tuan Park rersenyum mendengar jawaban Aisyah, lalu dia menepuk bahu Papa Aisyah dan meninggal kan mereka berdua. Memberi kesempatan pada Fadly dan putrinya untuk berbicara tanpa ada gangguan seperti dirinya.


"Papa sudah mendengar semuanya dari Tuan Park. Dan Papa langsung ke sini setelah mengetahui semuanya, Papa khawatir sama kamu, Nak," ucap Papa menatao Aisyah yang enggan menatapnya.


"Terimakasih karena telah mengkhawatirkan ku, dan terimakasih karena sudah menyempatkan diri datang ke sini, tapi tolong jangan ceritakan hal itu pada Mama, aku tak mau Mama khawatir dan menyuruhku untuk pulang," sahut Aisyah, dia berbicara tanpa menatap Papanya.


"Apa sebenarnya hubungan Papa dengan Tuan Park? Kenapa dia terus menahan ku untuk tetap di sini?" pertanyaan yang sejak awal ingin dia tanyakan akhirnya keluar juga dari mulutnya.


Papa tersenyum, "Dia sahabat Papa waktu kami kuliah di luar negeri. Dia juga sudah membantu Papa menjaga mu di sini. Papa banyak berhutang budi padanya," jawabnya.


Aisyah terkejut mendengar jawaban Papanya, tak menyakna jika Tuan Park adalah sahabat Papanya. Pantas saja lelaki itu begitu baik dengannya, ternyata sudah mengenal Papanya sejak dahulu.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜

__ADS_1


__ADS_2