Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Sebuah Foto


__ADS_3

Tak butuh waktu lama Art itu pun sudah berada di rumah Tuan Park kembali. Wanita setengah baya itu terlihat sedang menangis, sambil memohon ampun pada anak buah Tuan Park. Akan tetapi anak buah Tuan Park membiarkan wanita paruh baya itu dan tak menggubrisnya.


"Baiklah Tuan, saya akan segera membawanya ke sana." Anak buah Tuan park menutup teleponnya lalu menghampiri wanita itu.


"Daimlah dan ikuti perintah ku! Jika tidak kami tak segan menyakitimu lebih dari ini!" Salah satu anak buah Tuan Park menarik wanita itu supaya mengikutinya. Entah lelki berbaju hitam itu akan membawa wanita tersebut kemana.


Selama dalam perjalanan, art tersebut di tutup kedua matanya dengan kain hitam, hingga dia tak mengetahui kemana mereka akan pergi. Wanita itu hanya diam dan menuruti perintah anak buah Tuan Park, sejujurnya dia takut terjadi sesuatu pada dirinya sendiri.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di sebuah gedung bertingkat yang terlihat sudah kumuh, seperti tak berpenghuni. Akan tetapi saat pintu masuk terbuka, kesan kumuh dan tak berpenghuni itu pun hilang seketika, sebab di dalam gedung itu terdapat ruangan yang cukup mewah dengan segala isinya yang tak kalah mewah juga.


"Ah In, sekarang katakan yang sejujurnya pada ku dan kau akan selamat, keluargamu juga akan aman. Dan satu lagi aku akan memberimu keamanan seumur hidup," ucap Tuan Park yang kini sedang duduk di sebuah sofa.


Ah In yang penutup matanya sudah dibuka itu sama sekali tak berani menatap majikannya tersebut. Dia hanya menundukkan kepala dan terdengar isak tangis dari mulutnya. Nyalinya menciut saat menghadapi Tuan Park, apalagi lelaki itu dalam keadaan marah. Dia sudah bisa membayangkan seperti apa seramnya seorang Tuan Park saat ini.


"Ah In, katakan sejujurnya. Atau anak cucumu akan kami habisi saat ini juga!" ancam Tuan Park akhirnya, sebab Ah In tak mau membuka suara.


"Maafkan saya Tuan, jangan sakiti mereka! Saya akan mengatakan yang sebenarnya." Ah In akhirnya memberanikan diri menatap Tuan Park, dia terpaksa harus menceritakan semuanya demi keluarganya.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


"Sayang, maafkan aku. Aku pulang telat dan kamu malah seperti ini." Ryu menatap wajah sayu istrinya yang kini sudah membuka mata dari beberapa menit yang lalu.


Aisyah menggeleng, "Aku tidak apa-apa Ryu, aku baik-baik saja kok." Dia pun tersenyum menatap suaminya.

__ADS_1


"Diamana Bibi Ah In? Aku takut dia kenapa-napa, Paman Park pasti tak akan membiarkannya bebas, tapi aku tak mau Paman menyakiti wanita itu." Aisyah justru mengkhawatirkan art yang sudah meracuni makanannya.


"Dia jahat sayang, dia hampir saja membu nuh mu. Kenapa kau masih mengkhawatirkan wanita jahat itu?" Ryu tak mentangka jika istrinya justru memikirkan seseorang yang menyakitinya, bukan mengkhawatirkan dirinya sendiri.


Aisyah menggeleng, "Kasihan dia sayang, aku tak tega melihatnya celaka. Selama ini dia begitu baik pada ku," ucapnya.


Ryu menghela napas, "Aku yakin Paman tak akan setega itu menyakiti Bibi In, mungkin beliau akan menyerahkan Bibi ke petugas berwajib. Kau tak perlu khawatir akan hal itu ya, sekarang yang terpenting kesehatanmu," tuturnya.


Lebih baik Ryu mengalah, yang terpenting Aisyah mau mendengarkan ucapannya supaya istrinya itu lekas sembuh dan segera diperbolehkan untuk pulang. Dia tak mau terlalu lama di rumah sakit, menurutnya sangat tak nyaman berada di tempat ini.


Tak berapa lama teman-teman Ryu datang menjenguk Aisyah. Tak luput Iren pun ikut bersama mereka, gadis itu sudah menganggap Aisyah seperti sahabatnya sendiri, hingga saat mendengar kabar Aisyah masuk rumah sakit dia pun segera datang, tepat saat keempat sahabat Ryu juga akan mengunjungi Aisyah.


"Apa yang terjadi dengan mu? Aku sangat khawatir saat mendengar kamu masuk rumah sakit." Iren langsung menghpiri brangkar Aisyah, membuat Ryu mundur.


"Baik kok sampai sini? Aku sama sekali tak percaya itu." Iren menatap Aisyah seolah-olah sedang kesal dengan perempuan itu.


"Ceritanya panjang, tapi aku juga belum terlalu mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya," jawab Aisyah apa adanya, karena memang dia tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dia juga merasa semuanya belum pasti.


"Baiklah, yang terpenting sekarang kamu baik-baik saja." Iren menggenggam salah satu tangan Aisyah yang terbebas dari selang infus.


Mereka melanjutkan obrolan, hingga malam hampir larut. Mereka tanpa sadar sudah melewati batas penjengukan, untung saja ada seorang petugas keamanan yang memperingati mereka. Setelah itu mereka pun berpamitan, dan Iren berjanji akan datang kembali esok setelah bekerja.


Malam makin larut, tapi Aisyah sama sekali belum bisa memejamkan mata. Rasa kantuk itu hilang karena obrolan panjangnya dengan Iren yang ngalor ngidul tidak jelas ditambah kerondoman sahabat-sahabat Ryu. Akhirnya Aisyah memilih membuka ponsel, dia yakin Mamanya sudah menghubungi dirinya, sebab jika dia sedang dalam keadaan tidak baik atau kurang enak badan, wanita yang telah membesarkannya itu pasti tahu. Dan benar saja, sang mama mengkhawatirkan keadaanya, tetapi dia sama sekali tak memberitahu yang sesungguhnya.

__ADS_1


Setelah membalas pesan dari sang mama yang dia yakini sudah tidur, dia pun membuka sosial media, berharap matanya bisa terpejam saat membaca sesuatu dari sana. Akan tetapi dia terkejut bukan main saat membaca salah satu portal berita online.


"Sayang! Coba lihat ini sebentar." Aisyah membangunkan Ryu yang sudah terpejam lebih dahulu, lelaki itu sepertinya sedang kecapean.


"Hm apa? Kenapa kamu belum tidur?" Ryu membuka mata perlahan, dia terlihat sangat kelelahan, tetapi tetap menghampiri istrinya.


"Cepetan! Ini gawat Ryu! Kenapa bisa sih? Ah kita harus pulang sekarang, aku bel siap Ryu!" ujar Aisyah khawatir.


Ryu mengernyitkan dahi, dia sama sekali tak mengerti dengan apa yang istrinya itu bicarakan. Tapi dia bisa melihat jelas wajah kekhawatiran istrinya. "Ada apa sayang?" tanyanya.


Aisyah memberikan ponselnya, "Coba kamu baca, kenapa mereka bisa tahu?" tanyanya.


Ryu pun membaca tulisan besar di layar ponsel Aisyah. "RYUGA DIKABARKAN MEMILIKI KEKASIH YANG SAAT INI SEDANG DIRAWAT DI SEBUAH RUMAH SAKIT". Awalnya dia hanya mengernyitkan dahi saat mmebaca judul artikel itu, tetapi saat melihat sebuah foto di sana dia terkejut bukan main. Sebuah foto dirinya yang sedang mengantar keempat sahabatnya keluar kamar Aisyah, dan disebelah foto itu terdapat foto Aisyah yang sedang berbaring di brangkar.


"Ini siapa yang mengambil gambar? Disini tidak ada CCTV, kan? Apa mungkin perawat?" tanya Ryu entah pada siapa karena jika bertanya pada Aisyah, istrinya itu sudah pasti tidak akan mengetahui jawabannya.


"Sepertinya memang ini saatnya mereka semua tahu tentang kita, sayang. Aku sama sekali tak keberatan jika semua fans ku tahu kamu adalah istriku, sepertinya itu akan lebih baik, bukan?" Ryu menatap istrinya yang sepertinya tak sependapat dengannya.


Aisyah menggeleng, "Aku akan sulit untuk kuliah, Ryu. Padahal sebentar lagi kuliahku selesai," ucapnya.


"Tak masalah, kamu masih bisa kuliah seperti biasa. Tenanglah." Ryu mengusap puncak kepala istrinya untuk menentukan wanita itu.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜

__ADS_1


__ADS_2