Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Alasan Mama


__ADS_3

"Ma, apa enggak apa-apa kalau aku sama Ryu mau nikah tanpa persetujuan Papa? Ryu tanya gitu terus, dia takut Papa marah," ucap Aisyah.


Saat ini mereka berada di kamar Aisyah, dengan gadis itu tiduran di paha sang Mama sambil bercerita. Dia juga beberapa kali membalas pesan Ryu saat kekasihnya itu mengirim chat. Sedangkan Mama Winda, tak henti-hentinya mengusap puncak kepala putrinya. Mereka berdua sedang mengobati rasa rindu karena bertahun-tahun tak bertemu.


"Enggak lah, meskipun Papa mu wajib datang saat kalian nikah, tapi persetujuan Papa mu sama sekali tak dibutuhkan. Dia sudah lama lepas tanggungjawab pada mu sayang," jawab Mama.


"Maksdnya, Ma?" Aisyah menatap sang Mama yang saat ini sedang menatap tembok dihadapanya.


"Dia memang Papa mu, tapi rasanya tak pantas disebut Papa. Mama kecewa banget sama Papamu itu. Dia beberapa kali datang ke sini untuk meminta persetujuan...." Mama sengaja menggantung ucapannya, dia sedikit bingung apa harus menceritakan semua ini atau tidak? Tetapi jika tak diceritakan Aisyah tak akan tahu seperti apa Papanya itu. Kalau diceritakan gadis itu pasti akan makin membenci Papanya.


"Persetujuan?" Aisyah tak sabar mendengar kelanjutan cerita sang Mama.


"Maaf Mama harus menceritakan ini. Mama hanya ingin kamu tahu, bukan bermaksud lain, karena kamu sudah dewasa." Kali ini Mama menatap Aisyah, dia sudah yakin akan menceritakan semuanya.


"Iya Ma, ceritakan saja." Aisyah mengangguk, dia siap mendengarkan cerita sang Mama.


"Ini salah satu alasan Mama supaya kamu dan Ryu segera menikah," Mama mengheka nafas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya.


"Beberapa kali Papamu datang meminta tanda tangan dari Mama, tetapi Mama selalu menolak, sebab itu akan menyakitimu." Mama mengusap puncak kepala Aisyah sambil menatap sendu putrinya tersebut.


"Papamu minta persetujuan, supaya Mama mengijinkan kamu diangkat anak oleh Tuan Park. Mama tentu tidak mau mengorbankan mu lagi, dulu saat masih bayi kamu sudah menjadi korban, apa sekarang Mama tega melakukan hal yang sama? Tentu saja tidak." Tanpa terasa kedua bola matanya mengeluarkan bulir bening hingga menetes di pipi.


"Sudah Ma, aku enggak mau Mama nangis. Tapi sepertinya lebih baik punya Ayah seperti Tuan Park dari pada Papaku sendiri. Nanti aku akan bicara sama Papa, Ma." Aisyah bangkit dia memeluk tubuh sang Mama yang terlihat rapuh.

__ADS_1


Mama menggeleng, "Tapi alasan Papa kamu tidak masuk akal sayang. Papa kamu cuma ingin kamu mendapatkan harta kekayaan dari Tuan Park, sebab semua harta kekayaan Papa kamu sudah diwariskan sama Agam," lanjutnya.


"Aku enggak peduli harta Ma, selama ini aku hidup tanpa kekayaan saja masih bisa sekolah dan lainnya, yang aku butuhkan cuma Mama." Aisyah ikut menangis, dia tak sanggup melihat wanita yang telah berjuang menghidupi nya sejak bayi itu menangis.


"Iya Mama ngerti, kenapa Mama menolak nya." Mama melepaskan pelukan, dia menatap putrinya dan menghapus air mata di kedua pipi gadis itu.


"Ternyata selama kamu kuliah di sana, dari biaya sekolah, makan dan lainnya, Tuan Park yang membiayainya. Papamu sama sekali tak mengeluarkan uang sepeserpun, itu alasan lain kenapa Papamu melakukan itu." Lanjutnya.


"Sejahat itu Papa ku Ma?" Aisyah tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Baiklah, dia pasti akan menyesal suatu saat nanti Ma. Aku sudah punya keputusan untuk itu." Aisyah menghapus air matanya, dia tak ingin menangis karena Papanya.


"Apa itu, Nak?" Mama tak ingin Aisyah melakukan hal nekat.


"Baiklah, Mama percaya padamu." Mama kembali memeluk Aisyah untuk menenangkan satu sama lain.


"Mama ingin kamu menikah dengan Ryu supaya dia bisa melindungi mu, karena Mama sama sekali tidak bisa. Mama juga yakin kulaihmu akan tetap berlanjut setelah menikah nanti," ujar Mama.


"Iya Ma, terima kasih ya Ma. Aku bangga punya Mama. Terima kasih Mama sudah merawatku sejak dulu, meskipun aku tidak lahir dari rahim Mama, tapi Mama melebihi ibu kandungku sendiri." Aisyah kembali menangis dalam pelukan sang Mama, dia mengingat semua momen saat masih kecil bersama Mama.


"Kamu anak Mama, sudah seharusnya Mama merawatmu, memberikan mu semua yang Mama bisa." Mama melepas pelukannya, dia tersenyum menatap putrinya itu.


"Sudah ya, enggak usah nangis lagi. Mama yakin kebahagiaan menanti mu di depan sana. Sekarang kamu tidur, sudah larut malam." Mama mengecup kening Aisyah lalu merebahkan diri disusul oleh putrinya. Malam ini mereka akan tidur bersama seperti saat Aisyah masih kecil dulu.

__ADS_1


Di tempat lain, masih dalam satu negara tetapi berbeda kota, sepasang suami istri terlihat sedang tak baik-baik saja. Sang istri menatap penuh curiga pada suaminya. Sedangkan sang suami mencoba membujuk istrinya agar tenang.


"Pa, katakan yang sebenarnya padaku? Aku tahu gadis itu bohong, kan? Tuan Park itu tidak punya putra kandung, putrinya juga sudah meninggal. Lalu dari mana kamu mengenal gadis itu?" tanya Dewi mencerca sang suami.


"Bunda, tenanglah. Yang dikatakan gadis itu benar, Ryu memang putra Tuan Park, tapi putra angkat." Fadly mencoba meyakinkan istrinya itu.


"Sandiwara apa lagi yang mau kamu buat, Pa? Aku sama sekali tak percaya dengan ucapan mu itu." Dewi membuang muka, dia tak mau luluh dengan tatapan suaminya.


"Papa enggak sandiwara Bun, Papa berkata jujur." Fadly masih saja mengelak, dia tak mau rahasianya diketahui oleh sang istri.


"Bulshit dengan kejujuranmu itu." Dewi beranjak dari duduknya, dia membuka laci meja rias, meraih sebuah foto dan melemparnya ke arah sang suami yang kini duduk di atas ranjang.


"Gadis itu anaknya Winda, kan? Ngaku saja Pa! Aku tahu kamu sering datang ke tempat Winda. Ternyata kalian masih berhubungan, dan kamu juga berhubungan dengan anak haram itu!" Dewi naik pitam, maksud hati ingin mendengar kejujuran suaminya, tetapi sang suami justru melontarkan kata pembelaan yang dusta.


"Dia bukan anak haram, Wi!" Fadly juga naik pitam, dia tak terima putrinya dibilang anak haram.


"Lalu apa? Hamil tanpa suami, kalau bukan anak haram, hah! Kamu tidak pernah menikahinya, kan? Kalian melakukan zina, sampai anak itu ada, iya kan?" Dewi semakin murka saat mendengar suaminya membela anak itu.


"Cukup Wi, kita sudah membahas masalah ini dari dulu. Dan kita sudah menyelesaikannya, bukan?" Fadly melembut, dia tahu jika tak mengalah Dewi pasti akan makin murka.


"Tapi kamu ingkar janji Mas! Kamu masih nemuin wanita itu! Bahkan kamu berhubungan dengan anak itu! Aku tidak terima Mas!" Dewi luruh ke lantai, dia tak kuasa menahan bobot tubuhnya hingga terjatuh. Kepalanya seperti berputar dan kegelapan menghampirinya. Dewi tak sadarkan diri.


"Wi, Dewi!" Fadly menghampiri istrinya dan mengangkat tubuh ramping itu ke atas tempat tidur.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2