
"Anak itu keras kepala sekali! Sudah ku bilang diam saja di rumah, malah cari ma*ti." Tuan Park mengumpat setelah membaca pesan dari Ryu.
Dia yang pagi itu sedang meeting penting harus terganggu karena pesan dari Ryu, akhirnya dia mempersingkat pertemuannya dengan klien dan berjanji akan membuat jadwal pertemuan kembali. Untung saja kliennya tak keberatan dengan hal itu.
"Pengawal siapkan mobil!" perintahnya pada sang pengawal.
"Kau juga ikut dengan ku, bawa semua berkas yang kau dapatkan kemarin!" titahnya pada sang sekretaris yang terlihat masih muda.
"Siap Tuan, berkasnya semua sudah siap." Lapor sekretaris itu.
"Bagus! Kita jalan sekarang!" Tuan Park melangkah lebih dahulu di susuk sekretarisnya dan juga dia bodyguard yang selalu mengikuti kemana pun dia pergi.
"Anak itu benar-benar tak percaya pada ku! Dia datang mengantarkan nyawa." Ucap Tuan Park saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Tuan Park terlihat begitu tenang dengan masalah ini. Padahal, dalam hatinya dia juga merasa gundah dan resah, dia juga tak mau gadis itu terluka sedikit pun. Dia juga kesal dengan Ryu, karena tak mau menurut, justru menyerahkan diri pada Ayahnya.
Tak butuh waktu lama, Tuan Park dan rombongan tiba di sebuah perusahaan yang lumayan besar, tapi tak sebesar perusahaan miliknya itu. Meraka segera masuk dan naik ke lantai atas, dimana letak ruang pimpinan berada. Sungguh mudah baginya masuk ke perusahaan itu, karena bukan kali ini saja dia masuk dan tentunya karyawan di perusahaan itu sudah mengenalnya.
"Buka pintunya! Atau saya yang akan membuka sendiri." Titah Tuan Park pada seorang sekretaris wanita yang duduk di depan ruang pimpinan.
"Baik Tuan, silahkan masuk." Sekretaris wanita itu tentu tak bisa menolak permintaan Tuan Park yang terlihat dingin dan kejam tersebut.
"Apa yang kau lakukan anak bodoh?" tanya Tuan Park saat masuk ke dalam ruang tersebut.
"Kau? Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan putraku, kau tak perlu ikut campur lagi!" Tuan Kim murka melihat Tuan Park berdiri di depan pintu masuk.
Ryu, menoleh ke arah belakang punggungnya, dia tak menyangka jika Tuan Park akan datang menyelamatkannya di saat genting seperti ini. Hampir saja dia melakukan sebuah kebodohan dengan menandatangani surat perjanjian yang sangat merugikan dirinya itu.
__ADS_1
"Aku tak pernah ikut campur urusan mu. Tapi kau yang mengusik ketenangan ku!" tuding Tuan Park, tak terima jika dituduh ikut campur urusan Tuan Kim.
"Lalu apa namanya jika tidak ikut campur, jika datang di saat aku tak memiliki urusan dengan mu?" Tuan Kim geram, sebab dia melihat putranya tak jadi menandatangani berkas tersebut dan itu akan sangat berbahaya baginya.
"Kau baca ini." Tuan Park melempar berkas yang baru dia terima dari sekretarisnya ke hadapan Tuan Kim.
Tuan Kim membaca berkas tersebut, rahangnya mengeras saat membaca berkas itu, dia melempar berkas tersebut ke atas meja, "Kau sampai sejauh itu hanya untuk membela putra ku? Jangan bilang jika dia adalah putramu bersama wanita gila itu!" tuduh nya yang sangat tidak masuk akal.
Tuan Park sama sekali tak tersinggung mendengar tuduhan yang di tujukan padanya, "Aku bukan dirimu," ucapnya santai.
"Aku melakukan ini juga bukan untuk putramu semata, dia hanya alasan ke seribu. Aku hanya kasihan dengan gadis malang itu, dan aku melakukannya karena dia," lanjutnya.
"Sekarang kau suruh anak buah mu itu melepaskan gadis itu, atau dalam hitungan menit perusahaan ini akan hancur!" ancam Tuan Park.
Tuan Kim tersenyum miring, "Tak semudah itu. Jika aku tak mendapatkan apa yang aku mau, maka putra ku juga tak bisa mendapatkan apa yang dia mau," ucapnya tak gentar dengan ancaman Tuan Park.
"Silahkan hancurkan perusahaan ini, dan mari kita saksikan secara live film yang sangat luar biasa." Tuan Kim kembali menghubungi anak buahnya, dia memerintahkan untuk melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.
"Sungguh? Aku sangat bahagia hari ini Tuan," ucap seseorang di seberang sana sambil tersenyum miring. Dia berjalan masuk ke dalam kamar dimana Aisyah berada.
"Apa yang akan kau lakukan?" teriak Aisyah dari seberang sana.
"Hentikan! Aku akan tanda tangani berkas ini!" teriak Ryu saat melihat Aisyah menjerit. Dia tak sanggup melihat gadis tercintanya menderita.
Tuan Kim tertawa lepas.
"Tuan Park! Apa anda bersekongkol dengan ayahku? Tolong hentikan itu tuan Park!" Ryu kembali menjerit, dia tak percaya saat rekasi Tuan Park hanya menyunggingkan sebuah senyum tipis tanpa menjawab ucapannya.
__ADS_1
"Akhhh!" terdengar teriakan dari dalam ponsel yang masih terhubung dengan orang suruhan Tuan Kim dan jeritan itu berasal dari Aisyah.
Dor
Dor
Dor
Disusul suara tembakan yang bersahutan, hingga panggilan video itu terputus karena sepertinya ponsel orang itu mati akibat sebuah tembakan.
"Kau? Apa yang kau lakukan pada anak buah ku?" Tuan Kim murkan, dia tahu siapa pelaku yang melepaskan timah panas tersebur, sudah pasti anak buah Tuan Park.
Ryu syok mendengar kejadian itu, sungguh dia makin khawatir dengan Aisyah. Tapi dia tak tahu harus berbuat apa? Sebab dia sendiri tak tahu dimana Aisyah disekap.
"Sudah ku bilang, kau tak akan pernah menang melawan ku! Andai kau mau melepaskan gadis itu dengan aman, aku tak akan senenkat itu, dan aku akan membiarkan anak buah mu selamat dan kembali ke pangkuan mu," cibir Tuan Park.
"Dan kau tahu, berkas itu palsu. Tapi aku akan benar-benar menghancurkan perusahaan mu jika kau kembali menganggu gadis itu," ancam tuan Park.
"Anak bodoh, ayo ikut aku kalau kau mau bertemu dengan kekasih mu! Lain kali kau tak perlu menyerahkan diri seperti ini." Tuan Park mengajak Ryu pergi dari ruangan Ayahnya yang kini terlihat sangat syok.
Ryu keluar dari ruangan tersebut lebih dahulu, dia tak sabar ingin segera bertemu dengan Aisyah. Ingin melihat seperti apa kondisi kekasihnya tersebut. Dia mengakui jika tak berguna sama sekali, dia hampir saja melukai gadis itu.
"Sekali lagi ku peringatkan, jangan sentuh gadis itu meski hanya seujung kuku, karena aku akan menghancurkan mu sehancur hancurnya jika kau melakukan itu, karena gadis itu putri ku!" ancam tuan Park.
Tuan Kim makin syok mendengar ucapan musuh bebuyutannya itu, dia tak menyangka jika salah mengambil langkah dan hampir saja menghancurkan dirinya sendiri. Dia tak pernah mencari tahu secara rinci siapa gadis yang dikencani oleh putranya tersebut.
"Sial! Putri dari mana? Dia bahkan berasal dari luar negeri? Tapi tak mungkin si Park menipu ku, dia terlihat serius! Akhh! Gagal semuanya!" teriak Tuan Kim tak terima akan kekalahannya. Apalagi setelah ini dia harus mengurus anak buahnya yang tak becus itu di kantor polisi, dia tak mau anak buahnya membaw adirinya dalam masalah ini.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜