Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Sambutan Untuk Ryu


__ADS_3

Sora berjalan dengan anggun memasuki sebuah hotel dimana Aisyah dan Ryu menginap. Dia memang datang seorang diri, tetapi dia akan melakukan rencananya bersama teman-temannya yang mengidolakan Ryu. Dia sudah menyusun rencana secara matang, bahkan sudah membawa media untuk menyempurnakan rencananya tersebut.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya teman Sora saat gadis itu berada di resto hotel menemui temannya yang sudah berkumpul.


"Bagaimana jika Ryuga sudah pergi, kau itu," ucap yang lainnya.


Sora tersenyum, dia duduk di sebuah kursi yang masih kosong. "Kalian tenang saja, aku yakin Ryu masih di sini. Ibuku bilang mereka akan pergi siang hari, sudah janjian dengannya."


"Memang kau tahu dimana kamarnya?" tanya yang lain.


"Aku memang tidak tahu, tapi aku yakin kita akan bisa menemukannya." Sora begitu percaya diri, jika dia akan berhasil dengan rencananya kali ini.


"Kau seyakin itu?" tanya temannya.


"Buktikan jika memang kau sudah seyakin itu," ucap yang lain.


"Baiklah, ayo siapa yang mau ikut dengan ku satu atau dua orang saja, yang lain tunggu di sini." Sora dan dua temannya meninggalkan resto tersebut menuju loby hotel.


"Apa yang akan kau lakukan Sora?" tanya temannya.


"Lihat saja nanti," jawab Sora.


Mereka bertiga menuju ke meja resepsionis, dan langsung disambut oleh dia resepsionis wanita. "Ada yang bisa kami bantu, nona?" tanya salah satu resepsionis tersebut.


"Saya sudah janjian dengan saudara sepupu, dia menginap di sini, tetapi dia sengaja tidak mau memberi tahu dimana kamarnya. Dia bilang aku harus mencarinya sendiri, bisakah anda memberitahu diamana kamar sepupu saya?" Sora mulai menjalankan rencanya.


"Kalau boleh tahu, siapa nama sepupu anda?" tanya salah satu resepsionis.


"Hansen, itu nama sepupu saya. Di kamar mana dia menginap?" Sora memang mengenal manager Ryu, dia sangat yakin jika Ryu tak menggunakan namanya saat memesan kamar hotel. Lebih baik dia menanyakan kamar Hansen, karena dia memang mengenal lelaki itu.


Resepsionis itu pun mencari daftar nama yang disebut oleh Sora. Tak berapa lama dia sudah mendaptkan nomor kamar tersebut. "Tuan Hansen, berada di kamar nomor 354, di lantai 20. Anda bisa langsung ke sana," ucap resepsionis tersebut.


Sora tersenyum miring, dia sangat yakin jika rencananya akan berhasil. "Ayo kita kesana."


Tiga gadis itu pun meninggalkan meja resepsionis tanpa mengucapkan terima kasih. Bahkan Sora terlihat menyombongkan dirinya, sebab dia begitu yakin jika hari ini adalah hari keberuntungannya. Mereka bertiga mulai menaiki lift menuju lantai 20. Tak berapa lama mereka pun sudah sampai di lantai tersebut.


"Itu dia kamarnya." Sora menunjuk sebuah kamar yang terletak tak jauh dari dia berdiri. "Kalian tunggu disini dulu, nanti aku kabari lagi."


Sora pun menuju kamar tersebut masih dengan senyum yang sama. Dia mengetuk pintu kamar hotel tersebut dengan perasaan bahagia. Tak lama pintu terbuka dan nampak lah seorang lelaki berusia hampir empat puluhan tahunan berdiri di depan pintu, terlihat heran akan kedatangan seorang gadis yang tak asing baginya.


"Hal apa yang membuatmu datang dan mengganggu tidurku sepagi ini?" tanya Hansen.


"Hay Hansen, kau tega membiarkan wanita cantik ini berdiri di depan pintu?" Sora tak menjawab pertanyaan Hansen, dia justru bertanya balik.


"Masuklah, apa yang kau inginkan?" Hansen menutup pintu kamar hotelnya, dan memeprsilakan Sora untuk masuk.


Sora duduk di sebelah Hansen, dia bahkan memeluk lengan lelaki itu. "Apa kamu tak menginginkan ku lagi?" ucapnya.


"Aku tahu, kau menginginkan sesuatu, kan? Katakan saja, tapi seperti biasa setiap satu jawaban satu bayaran untuk ku." Hansen tersenyum miring, dia memang lelaki seperti itu, sering menggunakan wanita untuk memuaskan keinginannya.


"Kali ini aku akan melayani mu sampai kau bosan, jika kau memberitahu apa yang aku inginkan," sahut Sora.


"Terlihat sangat menggiurkan, katakan saja." Hansen menatao Sora penuh minat.


"Aku ingin bertemu dengan Ryu dan istrinya, biarkan kami mengobrol di cafe. Hanya itu keinginan ku," jawab Sora.


Hansen terbahak. "Sayangnya kau terlambat Sora, mereka sudah kembali petang tadi."


Sora langsung melepaskan pelukannya, dia mendengus mentap Hansen yang sedang terbahak. "Kau pasti bohong, kan? Apa buktinya jika mereka sudah pergi?" ternyata dia tak percaya akan ucapan Hansen.

__ADS_1


Hansen menunjukan sebuah tiket pesawat Ryu dan Aisyah yang ada di ponselnya. "Lihatlah, mereka akan terbang pukul sembilan nanti."


Sora mendengus kesal, dia pun beranjak dari duduknya berniat untuk keluar kamar hotel tersebut. Akan tetapi Hansen menahan tangannya hingga dia terjatuh dipangkuan lelaki itu. Sora berontak dia tak mau bertahan di tempat ini.


"Mau kemana?" tanya Hansen.


"Aku mau menyusul Ryu, cepat lepaskan!" Sora berusaha melepaskan diri dari dekapan Hansen, tetapi sama sekali tak mampu.


"Aku tak akan melepaskanmu hari ini, Sora. Kau sudah berjanji akan menemaniku seharian ini, kan?" ucap Hansen.


"Tapi aku tak berhasil mendapatkan apa yang aku mau, jadi semua itu batal." Sora masih berusaha melepaskan diri dari Hansen.


"Aku tak peduli, karena aku sudah memberikan sebuah jawaban untukmu. Bahkan aku memebritahu sampai sedetail mungkin." Hansen mulai melakukan apapun yang dia mau pada Sora. "Tenang saja, aku akan membayar mu, tetapi jika kau memaksa pergi, kau yang harus membayar ku."


Sora berdecak, dia tak mungkin mengeluarkan uang sepeserpun untuk Hansen. Akhirnya dia mengikuti permainan lelaki itu meski kesal karena rencananya gagal total, tetapi tak masalah dia juga mendapatkan uang dan kenikmatan tentunya. Meskipun harus mendapatkan amukan dari teman-temannya karena tak berhasil membawa Ryu.


,


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


"Hansen memberitahu kalau dia sedang bersama Sora saat ini," ucap Ryu saat mereka sudah berada di dalam pesawat.


"Apa yang mereka lakukan? Apa Sora menemui Hansen dengan tujuan untuk menemui mu?" tanya Aisyah, dia memang tak mengetahui rencana suaminya dengan Hansen.


"Ya seperti itulah. Terkadang aku khawatir dengan Hansen, dia bisa saja membocorkan rahasia ku, apalagi jika sudah menyangkut tentang wanita," jawab Ryu. Dia memang tak begitu percaya dengan Hansen, tetapi pemuda itu tak pernah sekalipun berkhianat dengannya.


"Apa Hansen seperti itu? Kenapa kau tak menasehatinya, jika yang dia lakukan tak baik." Aisyah memang tak mengetahui kehidupan Hansen, yang dia tahu manager suaminya itu sangat profesional.


"Aku tak bisa melarang seseorang untuk melakukan apapun, apalagi menasehatinya. Kamu kan tahu sendiri, bagaimana kehidupan di dunia, ku." Ryu menatap istrinya.


"Iya, aku mengerti. Hanya saja aku takut, Ryu. Apa yang Hansen lakukan sesuatu hal yang dilarang, dan kita mengetahui perbuatannya tetapi kita diam saja. Sama saja kita mendukung apa yang dia lakukan." Aisyah menatap suaminya.


"Kau memang harus melakukan itu. Aku tak mau kita mendapatkan peringatan karena memelihara seseorang seperti Hansen." Entah kenapa Aisyah merasa kesal saat mengetahui seperti apa kehidupan Hansen sebenarnya.


Perjalanan kali ini terasa sangat lama menurut Aisyah, sebab dia sudah tak sabar ingin beristirahat di rumah. Beberapa hari ini kegiatannya sangat melelahkan. Berpindah-pindah negara satu ke negara lain, belum waktu yang mereka habiskan untuk berkeliling.


"Sayang, kita mau ke apartemen atau ke rumah Tuan Park?" Ryu tentu harus menanyakan hal itu lebih dahulu, sebab Aisyah sudah berjanji akan tinggal di rumah Tuan Park.


"Pulang ke apartemen aja. Kita harus mengemasi barang kalau akan pindah, bukan? Nantilah, akun juga belum siap tinggal disana," jawab Aisyah. Dia tak mau menatap Ryu saat berbicara, justru menatap jalanan yang mereka lewati, sebab saat ini keduanya sudah berada di dalam taksi.


"Baiklah, kita pulang ke apartemen." Ryu menatap istrinya yang terlihat berbeda, entah apa yang dipikirkan Aisyah.


Ryu menyentuh tangan istrinya, lalu menggenggam tangan itu. Aisyah bergemung, dia tetap dalam posisi yang sama, menghadap ke jendela. Bahkan tak merespon saat suaminya menggenggam tangannya erat, tetapi dia juga tak menolak.


"Maafkan aku sayang. Kamu masih marah soal Hansen?" tanya Ryu, meski dia tahu jawabnnya.


"Aku sudah memaafkanmu, tetapi aku masih khawatir. Apa lebih baik kau mengganti Hansen saja?" Aisyah mulai mau menatap suaminya.


Ryu menggeleng, "Aku tak bisa, sayang. Sulit mencari seseorang seperti dia. Aku akan sedikit menasehatinya," jawabnya.


"Baiklah, sebenarnya aku ingin menawarkan diri menjadi manager mu atau asisten pribadimu, tapi jika kamu tetap mempertahankan Hansen tak masalah," ujar Aisyah.


"Aku tak akan membiarkan mu melakukan itu. Menjadi manager ku sangat sulit, aku tak mau istriku kesulitan. Aku ingin kamu duduk manis di rumah, biarkan aku yang bekerja untuk kita." Ryu menggam erat kedua tangan istrinya, berharap Aisyah lebih tenang. Dia tak mau pernikahannya yang baru beberapa hari sudah diterjang masalah, apalagi itu berasal dari luar.


"Tapi aku masih harus kuliah, tak mungkin duduk manis saja," sahut Aisyah.


"Kecuali iru sayang, pendidikan sangat penting dan aku tak akan melarang istriku untuk belajar. Tetapi untuk bekerja, saat ini aku belum mengijinkan," jawab Ryu.


Aisyah mengangguk, "Aku juga tak akan bekerja selama masih kuliah, terlalu sulit. Apalagi aku sudah sering bolos kuliah, harus mengejar banyak pelajaran," ucapnya.

__ADS_1


"Maafkan aku." Ryu kembali meminta maaf, entah apa yang membuatnya meminta maaf kali ini.


"Kamu tidak salah kok, tak perlu meminta maaf. Aku justru yang minta maaf, karena sudah membuatmu khawatir." Aisyah tersenyum menatap suaminya, dia bahkan mengusap pipi Ryu perlahan.


"Jangan lakukan itu di sini, nanti saja di rumah." Ryu mengedipkan sebelah matanya menggoda Aisyah.


"Apaan sih? Kau itu." Aisyah pun melepaskan tangannya dari pipi Ryu, dia tahu Ryu sedang berusaha mengembalikan suasana yang sejak tadi terlihat kaku. Dia pun tak tahan jika terus seprti ini.


Tak lama mereka pun sampai di apartemen. Keduanya berjalan secara bergantian, tak ingin membuat semua orang curiga jika mereka berjalan secara bersamaan. Semua barang dan koper mereka, sudah dibawakan oleh bodyguard Ryu yang sudah menyambut mereka di lobby.


"Selamat datang pengantin baru!" Ucapan itu terdengar saat pertama kali Ryu masuk ke dalam apartemen, dia melihat sekeliling ternyata semua temannya ada di sana. Bahkan apartemennya dihias sedemikian rupa.


"Mana istrimu?" tanya Sam saat melihat Ryu datang seorang diri.


"Kau itu tak tahu saja Sam, mereka backstreet dengan semua orang. Ya seprti itulah," bukan Ryu yang menjawab melainkan Lee.


"Kalian tahu darimana aku pulang hari ini?" Ryu mengabaikan pertanyaan Sam, dia langsung duduk di sofa karena lelah.


"Pertanyaan yang tak perlu di jawab," ucap Ye Jun, karena dia tahu betul jika Ryu sudah mengetahui siapa yang memberitahu mereka.


"Tapi terima kasih, kalian luar biasa. Sebagai gantinya aku akan mentraktir kalian makan selama satu minggu," ujar Ryu.


"Memang itu yang kami inginkan. Baguslah jika kau menyadarinya," timpal Shin yang sejak tadi terdiam.


Pintu apartemen kembali terbuka. Muncul sosok yang mereka tunggu, siapa lagi jika bukan Aisyah. Gadis itu terlihat ragu saat akan masuk ke dalam apartemen, sebab semua sahabat Ryu berkumpul di sana. Seakan mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh istrinya, Ryu pun menghampiri Aisyah dan mengajaknya untuk masuk.


"Kamu Nyonya di sini, sedangkan mereka hanya tamu tak diundang. Jadi, kamu lebih berhak ada di sini," cetus Ryu membuat sebagian temannya berdecak meski mereka tahu Ryu hanya bercanda.


"Ryu, kamu tidak boleh berbicara seperti itu. Mereka sudah meluangkan waktu untuk menyambut kita." Aisyah menatap Ryu tak suka.


"Suami mu memang tidak tahu diri, Ais," imbuh Lee.


Aisyah tersenyum menatap keempat sahabat suaminya secara bergantian. "Kakak-Kakak terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menyambut kita. Aku akan memasakkan sesuatu untuk kalian semua," ucapnya.


"Tak usah, kamu pasti lelah. Kita bisa membelinya. Lain kali saja kau bisa memasak untuk kami berlima," cegah Sam.


"Baiklah, aku janji jika lain kali kalian datang ke sini lagi, akan memasak untuk kalian." Aisyah tersenyum menatap Sam.


"Sayang, kamu istirahat saja di kamar. Biar aku yang menemani mereka." Ryu tak mau teman-temannya menatap Aisyah berlama-lama, dia tak mau berbagi meski hanya sebuah senyum dari istrinya itu.


"Aku tak enak," bisik Aisyah tepat di depan telinga Ryu.


"Benar apa kata Ryu, kau istirahat saja Ais. Daripada suami mu terserang api cemburu. Kamu tahu seperti apa suami mu, kan?" sindir Lee, dia sangat mengerti akan pikiran Ryu. Apalgi disana ada Ye Jun yang pernah menjadi idola Aisyah. Mungkin hanya dengan dirinya saja Ryu tak cemburu, sebab Aisyah sudah mengenalnya lebih dahulu.


Aisyah mendengus, dia menatap suaminya tersebut. "Baiklah, aku akan ke kamar sendiri. Kamu temani saja mereka." Dia pun beranjak dari duduknya.


"Maaf semuanya, aku masuk dulu ya. Kalian selamat bersenang-senang." Aisyah mengangguk menatap mereka berempat, dia berpamitan untuk pergi ke kamar.


Mereka semua mengangguk dan membalas senyum Aisyah. Hanya Ye Jun yang terlihat cuek bahkan tak menatao ke arah Aisyah. Dia tahu jika Ryu akan cemburu jika dirinya menatap istri sahabatnya itu. Padahal Ye Jun sama sekali tak tertarik dengan Aisyah, dia memiliki kriteria wanita tersendiri, tetapi bukan seperti Aisyah yang terlihat masih terlalu muda untuknya.


Ryu mengikuti istrinya menuju kamar. Dia ingin mengganti pakaian terlebih dahulu sebelum berbicara dengan teman-temannya. Sebenarnya dia juga merasa lelah, tetapi dia tak akan membiarkan semuanya menunggu. Tak masalah, dia masih bisa istirahat nanti.


"Sayang, kamu tak masalah kan jika aku tinggal keluar kamar?" Ryu memeluk istrinya, dia mencium aroma shampoo dari rambut Aisyah. Masih harum meski istrinya tak keramas sejak kemarin.


"Tak apa-apa, akun juga mau istirahat. Tapi aku lapar, boleh kan aku makan dulu?" Aisyah menatap Ryu dari samping.


"Nanti makananya aku bawa ke sini kalau sudah datang. Maaf ya, aku tak mau kamu berlama-lama dengan mereka. Aku enggak mau mereka menatap mu penuh minat. Hanya aku yang boleh menatap mu seperi itu." Ryu merubah posisi tubuh istrinya hingga menghadap ke arahnya. Dia pun memberikan sebuah ciuman sebelum keluar dari kamar tersebut.


Mendapatkan ciuman lembut dari suaminya, rasa kesal yang tadi sempat menghinggap, kini lenyap sudah, berganti dengan rasa bahagia dan penuh cinta. Ryu selalu saja bisa membuatnya kembali tenang dengan caranya sendiri.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2