Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Jangan Datang Kesana!


__ADS_3

"Ma, setelah aku nikah nanti, Mama ikut aku ya," pinta Aisyah. Dia sangat berharap sang Mama ikut dengannya ke negara tetangga.


"Mama di sini aja, kasihan karyawan Mama kalau Mama pergi, sayang." Winda menolaknya, dia hanya tak ingin merepotkan putrinya.


"Kan bisa diserahkan ke siapa gitu, Mama kontrol dari luar. Nanti setahun sekali kita ke sini, atau Mama jual aja, kita pindah ke sana." Aisyah memberi saran.


Mama menggeleng, "Kalau di jual tidak mungkin, sebab kehidupan di sana lebih mahal dan hasil penjualan itu belum tentu bisa bukan usaha baru di sana. Kalau serahkan ke orang mau ke siapa coba? Mama tetap enggak bisa, sayang." Dia mengusap rambut panjang Aisyah yang kini tergerai indah.


"Kamu tidak usah mengkhawatirkan Mama disini, Mama akan baik-baik saja. Percayalah," lanjutnya.


"Aku tetep khawatir sama Mama. Please ya Ma, ikut sama kita. Kalau Mama belum siap sekarang enggak apa-apa. Nanti aku jemput kalau Mama sudah siap." Aisyah kukuh untuk membujuk sang Mama.


"Nanti kalau kamu wisuda Mama akan ke sana, tapi kalau untuk tinggal di sana entahlah, Mama belum tahu," Winda mengalah meskipun dia belum memberi kepastian pada putrinya.


"Mama harus pikirkan lagi, aku maksa Mama untuk tinggal denganku. Kasihan Mama sendirian, pasti kesepian banget." Aisyah memeluk sang Mama, meletakkan kepalanya di bahu wanita itu.


"Iya, Mama akan memikirkan itu nanti," sahut Mama.


"Kamu cerita tentang Agam sama Papa?" tanya Mama.


Aisyah menggeleng, "Enggak Ma, tadinya mau cerita, tapi aku ingat ucapan Ryu. Akhirnya aku enggak jadi ngomong, biarkan aja ya Ma. Mama enggak apa-apa kan kalau Agam belum mengetahu siapa Mama sebenarnya?" jawab Aisyah diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


"Iya, Mama tidak apa-apa. Kalau Agam ditakdirkan untuk mengetahui semuanya suatu saat nanti Mama tidak masalah, asalkan kita tidak memberi tahu dia dengan sengaja. Dia sudah bahagia dengan kehidupannya sekarang. Mama takut Agam tidak mau menerima Mama jika mengetahui semuanya," jawab Mama.


"Iya Ma, aku ngerti kekhawatiran Mama. Aku juga akan menganggap semuanya sama seperti dulu, sebelum aku mengetahui semuanya, karena itu lebih baik untuk saat ini," sahut Aisyah.


"Iya, Mama juga pengennya seperti itu," timpal Mama. Keduanya tersenyum karena telah menemukan kesepakatan yang taka akan menyakitkan bagi mereka berdua.

__ADS_1


"Oh iya, kamu udah cari MUA? Masa mau polosan gitu," tanya Mama.


"Tenang Ma, soal itu. Aku sudah menghubungi seseorang, dia dulu temanku waktu SMP, sekarang jadi perias dia," jawab Aisyah.


"Oh, anak desa sebelah itu? Siapa ya namanya Mama lupa, Ina apa Nina?" tanya Mama.


"Ina Ma, Nina mah karyawan Mama." Aisyah terkekeh mendengar ucapan sang Mama.


"Ya sudah, sekarang tidur. Calon pengantin enggak boleh begadang. Mama juga mau tidur. Mama keluar ya." Mama Winda pun keluar dari kamar Aisyah.


Aisyah tersenyum mentap punggung Mamanya. Akan tetapi dia terlihat sendu saat mengingat sebentar lagi akan meninggalkan sang mama di sini seorang diri. Jika dahulu dia pergi untuk kembali, kini mungkin dia tidak akan kembali, karena mengikuti kemanapun suaminya pergi. Tanpa terasa air matanya menetes, tak sanggup membayangkan semuanya.


"Mama harus ikut aku. Apapun akan aku lakukan untuk membujuk Mama. Aku enggak tega membiarkan wanita hebat itu di sini seorang diri," gumamnya.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


"Kerja dong, kemana lagi Papa kalau enggak kerja?" Fadly menatap Agam penuh selidik.


"Kerja kemana? Aku tadi ke kantor, tapi Papa enggak ada. Terus kerja kemena?" Agam curiga jika Papanya baru saja ke rumah Aisyah dan gadis itu mengadu akan kejadian pagi tadi.


"Tumben kamu kaya wartawan gitu? Papa baru dari luar kota, ada rapat mendadak. Apalagi yang mau ditanyakan?" Fadly mennatang, dia tidak takut sama sekali dengan kecurigaan putranya.


"Pa! Bunda itu sedang sakit, harusnya Papa di rumah jagain Bunda! Bukan malah kerja terus pulang sampai larut malam gini!" Agam tersulut emosi, dia tak suka Papanya mengabaikan sang bunda.


"Bunda itu cuma butuh istirahat, Papa enggak mungkin ninggalin pekerjaan gitu aja. Lagian kamu juga di rumah, kan? Atau jangan-jangan kamu keluyuran dan baru saja pulang?" Fadly menyerang balik, dia menatap Agam penuh curiga, sebab bukan sekali dia kali putranya itu keluyuran tidak jelas bahkan pulang hingga lewat tengah malam, tetapi sekali ini dia pulang tengah malam, langsung di introgasi sesukanya.


"Bukan urusan Papa! Aku keluar sampai larut malam itu biasa, berbeda jika itu Papa!" Agam tak suka Papanya justru memojokkan dirinya. Padahal, niat awalanya dia ingin membuat laki-laki itu mengakui kesalahannya.

__ADS_1


"Tentu saja urusan Papa! Kamu anak Papa, jadi semua yang kamu lakukan menjadi urusan Papa." Fadly menatap tajam putranya.


"Semua yang Papa lakukan di luar sana, apalagi kalau sampai nyakitin bunda, itu juga urusanku. Aku tahu apa yang Papa lakukan di luar sana! Jangan sampai aku melihat secara langsung, kalau sampai itu terjadi aku tidak akan segan-segan berbuat hal yang tidak Papa duga." Agam meninggalkan Papanya setelah mengatakan hal itu. Dia sudah mendengarkan semua cerita versi sang Mama dan membuat pemuda itu makin curiga akan gerak gerik sang Papa akhir-akhir ini.


"Apa maksdunya?" Fadly sama sekali tak mengerti dengan apa yang dikatakan Agam, dia merasa Agam menuduh dirinya karena suatu hal, tetapi apa?


Fadly masuk ke dalam kamar. Dia mengabaikan ucapan putranya, sebab dia mengira Agam hanya marah dengannya karena meninggalkan bunda. Agam memang sesayang itu dengan bunda, dia sering berdebat atau berbeda pendapat dengan Papa, hingga membuat mereka jarang sekali akur. Apalagi, Papa yang sering melarang Agam melakukan hobinya, membuat mereka makin tak akur.


"Kok belum tidur bun?" tanya Fadly saat melihat istrinya masih terjaga. Duduk dengan bersandar di kepala ranjang.


"Nungguin Papa pulang, tumben sampai larut malam?" tanya Dewi, dia sama sekali tak curiga dengan suaminya. Tidak seperti Agam yang mencurigainya.


"Biasa bun, panggilan mendadak dari luar kota," jawabnya berbohong.


"Lain kali ajak bunda ke luar kota dong Pa, biar enggak bosen gini di rumah." Dewi menghampiri suaminya yang kini masih berdiri di depan ranjang. Dia melepaskan dasi dan jas lelaki yang sudah menjadi suaminya hampir tiga puluh tahun lamanya itu.


"Iya, nanti kalau ada pekerjaan ke luar kota yang enggak mendadak kaya gini, bunda pasti aku ajak." Fadly tersenyum menatap wanita itu, lalu dia mengecup kening Dewi setelah wanita itu melepaskan jas miliknya.


"Pa, Agam mendengar pertengkaran kita semalam. Akhirnya aku menceritakan semuanya masa lalu kita." Dewi menatap suaminya.


Fadly menghela nafas panjang, "Pantas saja dia curiga tadi," ucapnya dalam hati. "Aku harus lebih waspada kalau begitu," batinnya lagi.


"Harusnya hal itu tidak usah diceritakan, karena Papa memeng tidak ada hubungan lain selain dengan bunda, sejak dahulu hingga sekarang. Jangan bahan itu lagi ya bun, aku enggak mau hubungan kita renggang gara-gara hal itu." Fadly memegang kedua pundak istrinya, sambil menatao wanita itu penuh permohonan.


"Asalkan Papa enggak datang ke tempat wanita itu lagi," sahut Dewi.


Fadly mengangguk, dia memang tak akan ada urusan lagi dengan Winda setelah putrinya menikah. Dia juga sudah berjanji dengan Aisyah, jika tak akan datang ke rumah Winda lagi.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2