Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Kencan Pertama


__ADS_3

"Apa? Kau tidak salah informasi, kan? Tidak mungkin Park Ji-sung semudah itu mengangkat seorang anak! Aku tak percaya, apalagi gadis itu berasal dari negara lain." Tuan Kim melempar berkas yang baru saja dia terima dari anak buahnya. Dia tak percaya begitu saja dengan ucapan Tuan Park beberapa hari yang lalu tentang gadis itu, dia mengira jika Tuan Park hanya mengancamnya saja.


"Maaf Tuan, ada informasi yang tidak tertulis di sana," ucap orang suruhannya itu sedikit takut.


"Apa? Katakan saja cepat!" tak sabar ingin mendengar apa yang didapatkan oleh orang suruhannya itu.


"Tuan Park dan Ayah gadis itu ternyata bersahabat sejak masih kuliah, jadi tidak ada alasan yang lebih kuat selain itu. Tuan muda bahkan bukan alasan utama Tuan Park menyelamatkan gadis itu," jelas orang suruhannya tersebut.


Tuan Kim terdiam, dia teringat akan sesuatu, "Yasudah kau boleh pergi." Dia mengusir orang suruhannya itu dengan mengibaskan tangannya.


"Akhhh! Sialan! Rencana ku gagal total. Aku harus menemukan rencana baru untuk mengelabuhi anak bodoh itu. Aku tak bisa terus seperti ini. Aku ingin semuanya menjadi milikku." Tuan Kim memutar kursi kebesarannya hingga beberapa kali sambil memgang kepalanya.


"Kalau saja Park Ji-sung tak ikut campur, semuanya sudah jadi milikku," ucapnya.


Tuan Kim tak terima akan kekacauan rencananya, akhirnya dia mencari tahu apa hubungan Tuan Park dan juga kekasih Ryu tersebut. Jika tak ada hubungan lebih, dia ingin kembali menggunakan gadis itu dengan cara lebih kejam lagi, tetapi dia salah, ternyata gadis itu benar-benar dilindungi oleh Tuan Park. Tentu saja Tuan Kim tak akan tinggal diam, dia tetap akan berusaha mewujudkan cita-citanya untuk menguasai harta hasil kerja kerasnya bersama Ibu Ryu semasa mereka muda, dan itu semua harus melalui persetujuan Ryu karena Ryu adalah pewaris utama.


Sebuah pesan masuk ke ponselnya, membuat Tuan Kim langsung meraih ponsel mewahnya tersebut.


"Sudah percaya sekarang? Aku bukan kau yang pandai bersandiwara," isi pesan tersebut yang ternyata dari Tuan Park.


"Sialan! Dia bahkan tahu kalau aku mencari informasi gadis itu. Silan! Pasti ada yang berkhianat di sini!" Tuan Kim melempar ponselnya ke sembarang arah, untung saja ponsel itu tak jatuh berkeping-keping.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜

__ADS_1


"Terimakasih kau telah berhasil membujuk putriku, aku harus membalasnya dengan apa? Ini hal yang aku tunggu sejak aku menemukannya kembali." Fadly begitu bahagia mendengar kabar dari Tuan Park, jika Aisyah mau pergi dengannya.


"Tak perlu kau balas dengan apapun, hanya pesanku jaga dia sebaik mungkin, karena aku tak akan segan mengambilnya dari mu jika kau membuatnya terluka. Ya, meski aku tahu kau Ayahnya, tapi aku tak peduli dengan hal itu," jawab Tuan Park.


"Kau itu, aku ini ayahnya tak mungkin menyakiti dia." Fadly tersenyum lalu menepuk pundak sahabatnya itu.


"Bukankah kau sudah menyakitinya selama ini? Itu sudah cukup, jangan kau tambah lagi. Kalian berdua selamat bersenang-senang, Jae akan mengantar kemana pun kalian pergi." Tuan Park tak ingin Aisyah menunggu terlalu lama, karena mereka berdua asik mengobrol.


"Baiklah, terimakasih aku akan pergi dengan putriku." Fadly meninggalkan ruang kerja Tuan Park, menyusul Aisyah yang sudah berada di dalam mobil sejak tadi.


Tuan Park tersenyum, entah apa yang membuat dia tersenyum seperti itu. Sungguh terkihat begitu misterius senyum lelaki itu. Dia seakan menemukan sesuatu yang telah lama hilang.


Fadly mengajak putrinya ke sebuah destinasi wisata yang cukup terkenal di daerah itu. Sebuah taman yang sejuk, berbagai macam tanaman ada di sana. Tak lupa aneka makanan juga tersaji di setiap resto yang ada di daerah itu.


"Terimakasih Pa, meskipun aku selalu menolak kehadiran Papa, tapi Papa sama sekali tak menyerah untuk terus meraih hati ku. Semoga Papa tak akan pernah menyerah dengan ku," Aisyah juga bahagia, tapi dia selalu teringat akan penderitaan Mamanya saat memandang wajah Papanya itu.


"Kamu ini putriku, tak mungkin Papa menyerah untuk mendapatkan hati putriku. Papa minta maaf ya sama kamu, karena selama ini tak bisa jadi Papa yang kamu inginkan." Fadly sadar, jika dia memiliki banyak kesalahan pada putrinya itu.


Aisyah mengangguk, "Aku sudah memaafkan Papa untuk itu, hanya saja aku belum bisa memaafkan Papa yang sudah menyakiti Mama, dan aku minta maaf untuk itu Pa." Kini Aisyah memeberanikan diri untuk menatap Papanya, dan di sana dia melihat senyum sang Papa.


"Maafkan Papa Nak, kau memang tidak mengetahui yang sebenarnya, jadi Papa memaklumi itu," ucapnya dalam hati.


"Papa mengerti Nak, itu urusan Papa sama Mama kamu. Sekarang Papa hanya ingin ada kita berdua di sini, karena ini kencan pertama kita," sahut Fadly.

__ADS_1


Aisyah tersenyum lalu mengangguk, dia juga tak ingin merusak suasana bahagia ini dengan membahas masa lalu, mungkin saat ini dia harus mulai melupakan masa lalunya yang cukup kelam itu. Mengganti semua kenangan kelam itu dengan kenangan indah yang akan dia ciptakan mulai hari ini dengan Papanya.


"Papa bawa banyak oleh-oleh untuk mu, terutama pakaian, karena Papa tahu kamu sulit mendapatkan pakaian yang cocok di sini," ucap Papa saat mereka menikmati makan siang di restoran seafood.


"Terimakasih Pa, tak seharusnya Papa melakukan itu. Pakaian ku sudah cukup banyak di sini," sahut Aisyah, dia benar-benar memberi kesempatan sang Papa untuk membahagiakan dirinya dan melupakan sejenak orang-orang terdekat mereka yang lain.


"Tak apa, Papa kan membelanjakan putri Papa." Fadly tersenyum melihat wajah putrinya, hari ini dia benar-benar bahagia. Akan tetapi dia tak mau terlalu percaya diri untuk bahagia seperti ini seterusnya dengan Aisyah.


"Papa denger kamu sudah punya kekasih? Papa mau kenalan, boleh enggak nih?" tanya Papa menggoda.


Aisyah tersedak mendengar pertanyaan Papanya, dia pun langsung meraih air minum dan menegaknya.


"Maafkan Papa, sayang." Fadly terkejut melihat respon putrinya hingga tersedak seperti itu.


"Tidak aoa-apa Pa, ini sudah lebih baik. Untuk pertanyaan Papa jawabnya, iya. Tapi kalau mau kenalan kayaknya sulit, dia sibuk Pa," jawab Aisyah dengan kedua pipi bersemu.


"Dia sudah bekerja? Atau masih kuliah?" tanya Papa, ingin mengetahui sedikit banyak tentang kekasih putrinya itu.


"Dia idol Pa, hari minggu ini dia ada konser di ibu kota. Harusnya aku nonton, tapi Paman Park, menghukum kami untuk tidak bertemu selama satu minggu. Kayaknya aku enggak bisa nonton," jawab Aisyah dengan wajah sendu.


"Wah! Papa tidak menyangka, putri Papa punya kekasih seorang idola. Bagaimana kalau kita nonton bersama. Paman Park tak akan melarang jika kamu pergi dengan Papa," ide yang sangat cemerlang menurutnya, sebab dia bisa melihat seperti apa lelaki yang sudah mencuri hati putrinya itu.


"Mau banget!" seru Aisyah begitu bahagia.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2