
Malam minggu yang biasanya Aisyah lalui dengan bergadang bersama Ryu, kini gadis itu akan memberikan kejutan pada kekasihnya yang akan konser malam ini. Berbekal dia tiket yang salah satunya dia dapatkan dari Eun Ji untuk sang Papa. Untung saja Eun Ji mau memberikan tiket itu padanya, tentu saja dengan berbagai macam bujukan.
"Baiklah, aku akan datang malam ke dua, asalkan kau menanggung jatah makan ku selama satu minggu full," syarat dari Eun Ji untuk melepaskan satu tiket miliknya. Tentu saja Aisyah menyetujui hal itu, jatah makan satu minggu gadis itu memang tak sebanding dengan jatah makan Eun Ji satu minggu, akan tetapi tak masalah untuk Aisyah asalkan dia bisa duduk di depan panggung dengan Papanya, sebab ini kesempatan langka.
"Papa baru pertama kali nonton kaya gini, waktu muda pun tak pernah," ujar Papa saat mereka sudah berada di depan panggung tapi Ryu dan teman-temannya belum masuk karena acara belum dimulai.
"Anggap saja ini healing langka yang jarang ada. Aku rasa ini juga kali pertama dan terakhir Papa nonton konser," sahut Aisyah, dia merasa Papanya akan bosan duduk melihat penampilan boyband kesayangannya selama kurang lebih dua jam.
"Kenapa begitu? Lain kain Papa bisa nemenin kamu lagi," Papa seakan tak setuju dengan ucapan Aisyah.
"Aku yakin Papa tak akan menyukai ini. Mungkin membosankan untuk Papa, tapi buat kami para fans tentu sangat luar biasa." Aisyah tersenyum saat mengatakan hal itu.
"Sepertinya sudah mulai Pa, aku tak sabar buat kejutan untuk Ryu," Aisyah membayangkan bagaimana rekasi Ryu saat melihatnya nanti, dia yakin Ryu akan melihat ke arahnya karena pemuda itu yang membeli tiket untuknya, tentu dia tahu dimana posisi duduk Aisyah seharusnya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
"Bagaimana Lee?" tanya Ryu sebelum mereka berangkat ke gedung tempat konser mereka diadakan.
Lee menggelengkan kepala, "Keksihku tidak berhasil membawa Aisyah. Kau harus semangat mesti dia tidak datang sekarang, masih ada lain kali. Ingat jangan buat Tuan Cho murka lagi." Lee menpuk pundak Ryu yang tampak muram.
Ryu mendengus, "Kalau saja bukan Tuan Park, sudah habis dia," ucapnya kesal, karena Tuan Park rencananya gagal.
"Sudah, sebetar lagi kita berangkat. Kosongkan pikiranmu, sekarang fokuslah ke acara kita hari ini." Lee kembali menyemangati Ryu.
Ryu menghela nafas panjang lalu mengangguk. Sore itu dia berangkat ke gedung tempat diadakan konser dengan perasaan sedikit kecewa karena tak berhasil membawa kekasihnya menonton konser mereka. Padahal Aisyah sudah menantikan itu sejak dulu, itulah alasan yang membuat Ryu kecewa.
__ADS_1
Mereka harus melakukan gladi bersih terlebih dahulu sebelum benar-benar menampilkan penampilan terbaik mereka. Banyak diantara fans yang sudah hadir memenuhi gedung tersebut, meski konser akan di mulai dalam waktu beberapa jam lagi. Para fans itu terlihat tak kenal lelah menunggu idola mereka tampil.
"Kau tahu, salah satu perbuatan nekat mu mengakhiri hidup ternyata membawa berkah buat kita." Sam merangkul pundak Ryu setelah mereka selesai gladiresik. Alasan Sam mengatakan hal itu sebab ketenaran mereka makin menjadi setelah berita tentang Ryu terus beredar.
Ryu tersenyum miring, "Itu memang settingan," bisiknya.
"Niat awal ku hanya main-main, ternyata membawa banyak berkah, terutama kehadiran Aisyah yang sudah ku nanti sejak dulu. Dan itu di luar skenario," lanjutnya.
Sam terbahak, dia tahu pasti seperti apa rencana Ryu, karena dia juga ada dibalik rencana pemuda itu. Hanya Sam yang mengetahui rencana tak masuk akal Ryu tersebut. "Tapi tujuan awal mu sama sekali tak tercapai, kan?" sanggahnya.
Ryu menghela nafas lalu mengangguk, "Tapi tak masalah, setidaknya saat ini lebih baik dari tujuan awal ku melakukan hal itu," ucapnya.
Yah, tujuan awal Ryu memang bukan untuk menaikkan popularitas, tetapi dia hanya ingin memberi pelajaran pada Ayahnya supaya tidak mengusiknya lagi, sebab jika Ryu meninggal, harta kekayaan yang dikelola Ayahnya saat ini akan jatuh ke panti asuhan sepenuhnya. Itu salah satu isi dari surat wasiat yang ditulis Ayah dan Ibunya saat mereka masih muda dan belum berselisih. Ternyata tujuan utama itu sama sekali tak tercapai, buktinya sang Ayah masih terus mengusik dirinya bahkan hingga mengorbankan Aisyah.
"Apa kekasihmu tahu akan hal ini?" tanya Sam lagi.
"Soal penculikan kemarin, dia tahu?"
"Dia tahu kalau itu, aku sudah menceritakan semuanya. Untung saja dia mengerti, dan tidak meninggalkan ku. Aku tak sanggup jika dia meninggalkan ku," jawab Ryu, membayangkan jika dia berpisah dengan Aisyah.
"Aku yakin kekasih mu sekarang juga aman, tak mungkin kan Ayahmu mengusik seseorang yang berhubungan baik dengan Tuan Park, kecuali dirimu tentunya," sahut Sam.
Ryu mengangguk, membenarkan ucapan Sam.
Waktu yang ditunggu pun tiba, mereka berlima sudah bersiap untuk bertatap muka dengan fans di atas panggung. Sudah mulai terdengar sorak sorai penonton, membuat kelima pemuda itu makin bersemangat. Mereka akan membawakan lagu kebanggan untuk membuka konser tersebut.
__ADS_1
Sorak sorai penonton makin terdengar saat mereka naik ke panggung dengan penampilan yang sangat menawan. Bebebraoa dari fans meneriaki salah satu dari mereka berlima, membuat mereka kian bersemangat untuk melanjutkan konser tersebut, termasuk Ryu. Pemuda itu sudah sedikit mengikhlaskan keabsenan Aisyah kali ini.
"Yang mana, Nak?" tanya Papa Fadly saat melihat lima pemuda memasuki panggung.
Aisyah tak menjawab, dia terpukau dengan penampilan kekasihnya. Sungguh Ryu terlihat makin gagah dan tampan saat berada di atas panggung, bahkan pesona Ye Jun pun terkalahkan. Mungkin karena Aisyah begitu mencintai pemuda itu saat ini, berbeda dengan dulu yang begitu mengagumi seorang Ye Jun.
"Ryu! I Love you!" teriknya mengikuti penonton lain yang menyatakan cinta pada idola mereka.
Papa tersenyum melihat putrinya begitu bahagia, "Papa tak bisa membuatmu sebahagia ini, Nak. Tapi lelaki lain justru membuatmu sebahagia ini, Papa cemburu sebenarnya," gumamnya terus menatap Aisyah.
"Papa juga bersyukur kamu menemukan seseorang yang sangat mencintai kamu, semoga dia selalu seperti itu dan tak pernah menyakiti mu," lanjutnya.
Aisyah sama sekali tak mendengar gumaman Papanya, sebab dia masih terus fokus pada penampilan Ryu yang saat ini sedang menyapa para fans. Dia berharap Ryu akan menoleh ke arahnya, tetapi sepertinya dia harus bersabar karena saat ini Ryu justru menuju arah berlawan dari tempat duduknya. Hingga kedua bola matanya bertatapan dengan Lee, dan pemuda itu mengedipkan sebelah matanya. Ya, Lee mengetahui rencana Aisyah.
"Pa, itu Ryu, yang rambutnya pirang." Aisyah teringat akan Papanya yang penasaran dengan Ryu.
Papa tersenyum, "Kamu bahagia Nak?" tanyanya.
Aisyah mengangguk, "Iya Pa. Nanti aku kenalkan Papa sama Ryu, tapi kalau udah di apartemen ya, di sini tidak mungkin," ucapnya.
"Iya, sekarang nikmatilah kebahagiaanmu. Sepertinya Ryu sudah melihatmu." Papa menunjuk pemuda yang menatap ke arah mereka dengan senyum mengembang.
"I Love you, Ryuga!" teriak Aisyah dengan senyum terbaiknya.
Ryu tersenyum, hatinya berbunga-bunga melihat sang pujaan hati duduk di kursi yang sudah dia pesan sebelumnya. Tetapi dia merasa janggal dengan seseorang yang duduk di samping Aisyah, dia tak tahu siapa leaki itu. Akan tetapi dia sudah bisa menebak setelah melihat Aisyah berbicara akrab dengan lelaki setengah baya itu.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜