Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Ajari Aku


__ADS_3

Ryu menjemput Aisyah untuk datang ke rumah Tuan Park. Awalnya gadis itu menolak, dia tak ingin bertemu dengan Tuan Park. Setelah Ryu membujuk dan merayu gadis itu, akhirnya kekasihnya tersebut mau datang ke rumah Tuan Park bersama dirinya.


Mereka berdua sudah sampai di rumah mewah milik Tuan Park. Keduanya langsung di suruh masuk ke ruang kerja pemilik rumah itu, sebab Tuan Park ingin segera melurusakan sesuatu yang membuat Aisyah risau.


"Aisyah, kamu itu sudah Paman anggap seperti Yuna, anak ku. Tidak mungkin aku berbuat seperti yang kamu pikirkan," jelas Tuan Park setelah Aisyah dan Ryu duduk berdampingan di sofa yang sama.


"Waktu itu, kamu hanya salah mendengar. Kamu mendengar hanya sebagian, dan itu membuatmu salah paham dengan Paman dan Papa mu," lanjutnya.


Aisyah memberanikan diri menatap Tuan Park, "Apa buktinya jika aku salah dengar? Kalian berdua membahas ku, lalu Papa bilang saat ini bisa bahagia dengan ku sebelum, aku bahagia dengan mu. Itu maksudnya apa Tuan Park? Aku tak tahu apa yang kalian berdua rencakan, yang aku tahu, aku pasti terlibat dalam rencana kalian," ucapnya panjang lebar.


Aisyah tak percaya begitu saja dengan ucapan Tuan Park. Bisa saja lelaki itu mengelabuhi dirinya supaya memuluskan rencana, dan dia tentu tak mau renca itu terus tersusun rapi sesuai keinginan mereka. Aisyah akan melakukan apapun untuk menggagalkan rencana itu.


"Lebih baik aku tak memeiliki seorang ayah daripada dia selalu memberiku luka," lirihnya.


"Aisyah tenanglah, percayalah dengan Paman, jika semua itu tak seperti dugaan mu. Paman akan lakukan apapun asal kau percaya, tetapi untuk mengatakan alasan yang sesungguhnya Paman tidak bisa, kamu bisa tanya sama Papa kamu nanti, karena Paman memang tak berhak untuk itu." Tuan Park terus meyakinkan Aisyah, dia tak mau Aisyah membenci dirinya hanya karena kesalahpahaman. Dia ingin Aisyah kembali seperti beberapa hari yang lalu saat tinggal dengannya.


"Aku tak tahu, apa harus percaya atau tidak." Aisyah menundukkan wajah, tak mau menatap Tuan Park, dia sudah cukup yakin dengan ucapan lelaki itu. Terlihat dari sorot matanya jika Tuan Park tidak berbohong, tetapi dia juga tak mau percaya begitu saja jika belum mendapatkan kepastian.


"Maafkan Paman ya, karena tak bisa mengatakan yang sejujurnya. Masalah ini diluar kendali Paman, Papamu yang sepenuhnya berhak mengatakan yang sebenarnya, bukan Paman." Tuan Park menatap Aisyah dengan mata berkaca-kaca. Dia seperti menemukan kembali putrinya yang hilang, sebab semua gerak gerik dan keberanian Aisyah hampir sama persis seperti almarhum putrinya.

__ADS_1


Aisyah mengangguk, dia tak menyangka hanya karena masalah ini, lelaki di hadapannya bisa berkaca-kaca seperti itu. Tatapannya seakan merindukan seseorang yang amat sangat dicintainya. "Baiklah, aku akan tanyakan pada Papa nanti. Emh, aku akan percaya ucapan Paman jika tak lagi mengirim seorang bodyguard untuk ku. Aku hanya ingin hidup bebas tanpa diawasi siappun," ucapnya.


Ryu terkejut hingga menoleh kearah kekasihnya itu saat mendengar ucapan Aisyah. Gadis itu belum pernah bercerita tentang bodyguard yang dikirim Tuan Park padanya. Akan tetapi dia akan menanyakan hal itu nanti setelH merek keluar dari tempat ini.


"Tapi Paman tak bisa melakukan hal itu, di sini sangat berbahaya. Paman tidak mau terjadi sesuatu dengan mu, Aisyah." Tuan Park menolak mentah-mentah permintaan konyol Aisyah.


"Baiklah, aku tak akan percaya dengan anda, jika tak menuruti kemauan ku." Aisyah bersikeras untuk melepaskan bodyguard tersebut, sebab dia merasa tak nyaman. Hidupnya seperti selalu diawasi oleh seseorang.


Tuan Park menghela nafas, "Baiklah, tetapi untuk tempat tinggal, kau harus tetap di sana, jangan pindah lagi. Dan kalian berdua jangan terlalu lama tinggal bersama, takut jika Ryu khilaf dan merayumu," titahnya.


Ryu mendengus tak terima dengan tuduhan Tuan Park, dia ingin sekali berteriak jika Aisyah yang sering membuatnya hampir khilaf melakukan sesuatu yang sangat menyenangkan, tetapi dia tak berani mengatakan hal itu.


Tuan Park hanya bisa menghela nafas mendengar jawaban Aisyah. Jika dia tak bisa mengancam atau memperingati Aisyah, makan dia akan memperingati Ryu yang sudah pasti akan nurut dengan ucapannya, sebab Aisyah taak merasa memiliki hubungan yang menguntungkan dengannya. Berbeda dengan Ryu, pemuda itu memiliki hubungan yang menguntungkan dengannya, tentu dia bisa sedikit menekan pemuda itu.


"Ayo Ryu, kita pulang. Aku sudah tidak punya urusan lagi di sini." Aisyah beranjak dari duduknya, dia masih kesal dengan Tuan Park, hingga tak mau berpamitan secara langsung dengan lelaki paruh baya seperti itu.


Ryu mengangguk, dia lebih dahulu berpamitan dengan Tuan Park. Tak mungkin dia pergi tanpa berpamitan dengan seseorang yang sudah banyak membantunya.


"Dia benar-benar seperti Yuna," gumam Tuan Park setelah Aisyah dan Ryu meninggalkan ruang kerjanya.

__ADS_1


Di sisi lain, Aisyah berpamitan pada Bibi Cha yang sudah banyak membantunya saat dia tinggal di rumah ini. Sebenarnya dia merindukan wanita itu, tetapi dia tak mau berlama-lama di rumah tersebut, tak ingin membuat Tuan Park besar kepala. Akhirnya mereka berdua hanya berbincang singkat dengan saling mengungkapkan kata rindu.


"Kenapa kamu tak pernah bercerita tentang bodyguard itu?" tanya Ryu setelah mereka berada di dalam mobil.


"Aku melupakan hal itu, Ryu. Aku juga tahu setelah kejadian penculikan itu. Kita juga tak banyak menghabiskan waktu untuk bercerita setelah, itu kan? Jadi, aku melupakannya," jawab Aisyah.


"Apa itu rencana Tuan Park, atau Papa kamu?"


"Tuan Park bilang Papa yang menyuruhnya, tapi Papa bilang Tuan Park yang berinisiatif sendiri. Jadi, aku tak tahu harus percaya dengan siapa, makanya aku tak ingin bodyguard lagi. Aku percaya sama Tuhan, jika memang aku akan terluka itu sudah menjadi salah satu takdirku," jawab Aisyah.


Ryu terdiam, mendengar nama Tuhan, dia jadi teringat akan sumpahnya saat Aisyah di culik waktu itu. Tetapi untuk saat ini dia belum siap, sebab harus mempelajari beberapa yang sama sekali tak dimengerti.


"Sweetheart, bisakan mulai sekrang kamu memberitahuku sedikit tentang agama dan Tuhan mu? Aku ingin segera menikahi mu." Ryu menoleh sekilas ke arah samping, dimana kekasihnya itu juga menatap dirinya.


"Aku tidak mau jika alasanmu mengenal Tuhan ku karena diriku. Aku mau kau berinisiatif sendiri tanpa alasan apapun, sebab jika alasanmu adalah aku, maka ketika aku tak lagi dengan mu, kamu pasti akan kembali berpaling." Aisyah memang ingin Ryu seiman dengannya, tapi alasan pemuda itu mengikuti agamanya bukan karena dirinya tapi karena kesadaran dari diri lelaki itu sendiri.


"Tolong ajari aku semua tentang kepercayaan mu, hanya itu saja. Aku hanya ingin mengenal lebih jauh, aku ingin jatuh cinta sesungguhnya bukan karena dirimu," sahut Ryu, membuat Aisyah tersenyum lalu mengangguk.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜

__ADS_1


__ADS_2