Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Istana Tuan Park


__ADS_3

Ryu baru saja meninggalkan kediaman Tuan Park dengan hati kesal sekaligus bersyukur. Kesal karena Tuan Park benar-benar memberinya hukuman untuk tidak bertemu dengan Aisyah selama satu minggu, bersyukur karena Aisyah kembali dengan selamat tanpa ada cacat sedikit pun kecuali trauma yang dialami gadis itu.


Sedangkan Aisyah masih tertahan di kediaman Tuan Park. Meski sedikit bingun karena belum mengetahui alasan pasti Tuan Park menahannya, dia tetap melakukan apa yang diperintahkan lelaki paruh baya itu. Dengan diantar salah satu Art di rumah itu, Aisyah memasuki sebuah kamar tamu, dia diberi pakaian ganti yang entah di dapatkan dari mana.


"Bibi Cha, bolehkan aku bertanya sesuatu?" tanya Aisyah pada seorang Art yang sejak tadi membantu dirinya, bahkan menunggu dirinya selesai mandi, entah apa yang dilakukan wanita itu di kamar tersebut selama dia mandi.


"Silahkan nona, tanyakan saja. Jika saya bisa jawab, maka akan saya jawab," jawab Bibi Cha.


"Aku penasaran, pakaian ini milik siapa? Sepertinya pakaian ini tidak baru. Apa milik putri Tuan Park?" sebenarnya Aisyah ingin menanyakan hal lain, tapi urung karena kemungkinan Bibi Cha tak akan bisa menjawab pertanyaannya.


"Betul sekali nona, pakaian ini milik putri Tuan Park, tapi dia sudah tiada," jawab Bibi Cha lirih.


Aisyah menutup mulutnya mendengar jawaban Bibi Cha, dia sama sekali tak bermaksud membuka luka lama yang mungkin belum mengering, "Maafkan aku Bibi, ternyata aku salah bertanya." Aisyah menyesal menanyakan hal itu.


"Tak masalah nona, yang terpenting jangan bahas ini di depan Tuan, kalau bukan Tuan yang membahasnya lebih dahulu," Bibi Cha memperingati.


Tentu Aisyah tak akan membahas hal itu lagi, apalagi di depan Tuan Park. Bahkan bersama Bibi Cha pun dia tak akan menanyakan tentang putri Tuan Park itu, terlalu menyakitkan ditinggal seseorang yang kita cintai.


"Nona mari kita turun. Tuan sudah menunggu anda untuk makan siang." Ujar Bibi Cha.


Aisyah mengangguk, dia mengikuti langkah Bibi Cha menuju ruang makan. Ternyata Tuan Park sudah menunggu dirinya di sana. Senyum mengembang di bibir lelaki itu saat melihat Aisyah masuk ke ruang makan, tentu saja Aisyah membalas senyuman itu.


"Maaf Tuan, menunggu lama," ucap Aisyah sungkan.


"Tak masalah, aku juga baru saja duduk dua menit yang lalu. Sekarang makanlah, pasti kamu lapar." Tuan Park mempersilahkan Aisyah untuk makan.

__ADS_1


"Terimakasih, Tuan." Aisyah mengisi poringnya dengan nasi dan beberapa lauk setelah Bibi Cha mengisi piring Tuan Park.


"Kamu tak perlu khawatir, makanan di sini semuanya halal, dan kau bisa memakannya." Sepertinya Tuan Park mengerti akan kegelisahan Aisyah yang sempat ragu saat akan mengambil lauk daging.


Aisyah tersenyum lalu mengangguk. Mereka berdua makan siang dalam keheningan.


"Aisyah, maukah kamu menemani ku mengobrol?" tanya Tuan Park setelah mereka menyelesaikan makan siangnya. Tuan Park sangat berharap Aisyah tak menolaknya.


Aisyah tersenyum lalu mengangguk, "Tentu saja Tuan," jawabnya.


Tuan Park mengajak Aisyah keluar dari pintu ruang makan menuju samping rumah, dimana terletak kolam renang yang cukup luas dan juga sebuah gazebo di sebelahnya. Tuan Park masuk ke gazebo tersebur di susul oleh Aisyah.


"Aaku seperti berkumpul kembali dengan putriku. Wajah kalian memang tidak mirip, tapi postur tubuh mu sama persis dengan putriku." Tak ada kesedihan yang terlihat dari bola mata Tuan Park, tapi terlihat sebuah kerinduan yang mendalam.


Aisyah tak menyangka jika Tuan Park akan membahas tentang putriny, dia bingung harus menanggapi seperti apa. Takut jika salah bertanya justru akan membuat Tuan Park tersinggung. Akhirnya dia hanya diam dan terus mendengarkan cerita Tuan Park dengan antusias.


"Penyesalan terbesarku, karena dulu tak menyetujui dia mengikuti agama minoritas di sini, yaitu Islam. Alasanku simpel sebenarnya, aku tak mau putriku mendapatkan masalah saat di sekolah, karena dia menjadi seorang minoritas. Tanpa aku ketahui, dia diam-diam mengikuti ajaran Islam satu bulan sebelum dia meninggal secara mendadak." Tuan Park tak melanjutkan kisahnya, dia kini menatap Aisyah penuh senyum.


"Maafkan saya, kau jadi terganggu dengan cerita itu," ucapnya.


"Ah tidak sama sekali, aku justru kagum dengan putri anda. Aku yakin dia sekarang sudah bahagia di sana," sahut Aisyah.


"Iya semoga saja, dia bahagia bersama ibunya yang lebih dulu tiada."


Aisyah terkejut mendengar kenyataan tersebut, ternyata Tuan Park harus kehilangan dia perempuan tercintanya. Pasti sangat berat menjalani kehidupan ini bagi Tuan Park. Dia bersyukur karena masih memiliki Mama yang selalu menyanyanginya.

__ADS_1


"Tuan, bolehkan saya tahu alasan anda menahan ku disini? Maaf, jika pertanyaanku seperti itu." Aisyah langsung mengucapkan maaf, dia merasa pertanyaannya kurang pantas.


Tuan Park tersenyum, "Memang sudah sepatutnya kau bertanya seperti itu. Dan jawabannya tentu demi keamanan mu, karena jika kau tinggal di apartemen Ryu itu sangat tidak aman," jawabnya.


Aisyah menjadi malu sendiri saat mengingat momen kemesraan nya dengan Ryu tadi. Ditambah tatapan Tuan Park yang seakan menggodanya. Dia pun menundukkan kepalanya, karena malu.


"Kalau kau mau tinggalah di sini, supaya rumah ini tidak sepi. Tapi kalau kau tidak mau, aku pun tak akan memaksa," Tuan Park sepertinya mengerti jika Aisyah malu, akhirnya dia mengubah topik pembicaraan.


"Terimakasih atas tawarannya Tuan, tapi sepertinya menolak tawaran itu. Saya terlalu takut tinggal dirumah seluas ini," jawab Aisyah jujur.


"Tidak masalah, tapi sesekali kau mainlah ke sini. Saat libur misalnya, aku akan menunggu kedatangan mu," Tuan Park sama sekali tak tersinggung atas penolakan Aisyah, karena dia memang tak mau memaksa apalagi di pertemuan pertama mereka.


"Akan saya usahakan Tuan," jawab Aisyah.


"Tuan, maaf mengganggu waktu anda." Sekretaris Tuan Park datang dengan membawa buku catatan di tangannya.


"Iya kenapa? Ada pertemuan penting?" tanya Tuan Park tepat sasaran.


"Iya Tuan, setengah jam lagi di perusahaan." Jawab sekretaris itu.


"Baiklah, kau tunggu di mobil. Saya segera ke sana," titah Tuan Park dan sekretaris itu pun langsung berpamitan pergi.


"Aisyah nikmatilah hari mu di sini. Aku harus pergi dulu, dan kau tetaplah di sini hingga beberapa hari ke depan ya, karena akan ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu," ujar Tuan Park.


Aisyah mengernyitkan dahi bingun, tapi dia tetap mengangguk. Menurutnya Tuan Park terlalu misterius hingga dia tak bisa menebaknya sama sekali.

__ADS_1


"Satu lagi, jika kau butuh sesuatu katakan pada Bibi Cha, dia pasti akan membantu. Kau boleh keliling rumah ini dengan Bibi Cha, dia akan menunjukkan seluruh isi rumah ini. Aku pergi ya," pamit Tuan Park seakan dia berpamitan dengan putihnya, karena memang dia sudah menganggap Aisyah seperti putrinya yang sudah meninggal.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2