Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Komitmen


__ADS_3

"Kalian kan beda ayah dan ibu," ujar Ryu, dia masih tak mengerti ucapan Aisyah.


Aisyah mengangguk, "iya emang bener kami beda ayah dan ibu, tapi waktu bayi aku menyusu sama Mama, mungkin Agam juga menyusu dengan ibuku. Nah karena itu kami menjadi saudara, namanya saudara persusuan. Kami tidak boleh menikah, karena di dalam tubuhku juga mengalir darah Mama," jelasnya.


Ryu mengangguk, "Iya aku ngerti. Maafkan aku ya, kamu jadi gini." Dia kembali memeriksa bibir Aisyah, tetapi gadis itu menepis tangannya.


"Jangan! Ini sakit." Aisyah memegang bibir bawahnya yang terasa perih, dia menatap Ryu tak suka. Tiba-tiba ponsel Aisyah berbunyi, dia pun meraih ponsel tersebut, tertera nama Agam di sana.


"Siapa?" tanya Ryu.


"Agam," jawab Aisyah sambil menekan tombol hijau di ponselnya.


Belum juga dia mendengar ucapan Agam di seberang sana, Ryu sudah merebut ponselnya. "Aisyah, kamu baik-baik saja, kan? Aku tiba-tiba khawatir sama kamu, kayaknya kekasihmu itu sejak tadi memperhatikan kita, takutnya dia marah atau cemburu sama kamu dan berbuat yang tidak seharusnya." Terdengar suara Agam di seberang sana yang memang mengkhawatirkan Aisyah.


"Aisyah selalu aman bersama ku, apa urusanmu hingga mengkhawatirkan kekasihku?" ucap Ryu tak suka dengan kekhawatiran Agam. Dia menggunakan bahasa Aisyah yang memang sudah dia pelajari sejak menajdi kekasih gadis itu.


"Oh, yasudah." Agam menutup panggilannya dengan perasaan kesal, entah apa yang membuatnya kesal. Tetapi yang jelas hal yang membuat dia paling kesal karena kekasihnya yang menerima panggilan itu, bukan Aisyah.


"Ternyata sama saja, tengah malam gini masih sama cowok." Agam melempar ponselnya ke atas tempat tidur. Dia sengaja menelepon Aisyah tengah malam, karena dia yakin kekasihnya sudah pergi di jam kunti seperti itu. Ternyata dia salah, kekasih gadis itu masih bersama Aisyah.


Terdengar nada pesan masuk dari ponselnya, dia pun langsung membuka ponsel tersebut dan ternyata dari Aisyah. "Aku minta maaf, tadi hapenya di minta sama Ryu, aku enggak mau buat dia curiga," seperti itu isi pesan dari Aisyah, tetapi dia hanya membalas singkat pesan tersebut.


Sedangkan di kamar hotel yang ditempati Aisyah, Ryu mengembalikan ponsel gadis itu. "Dia khawatir sama kamu, kayaknya dia suka sama kamu," ucapnya.


"Mau dia suka atau cinta, kami tetap enggak bisa bersama Ryu. Kamu jangan cemburu seperti itu, dia saudara ku." Aisyah menerima ponsel tersebut dan langsung mengirim pesan pada Agam, setelah pesan terkirim dia tak lagi menghiraukan ponselnya.


"Aku mau ke kamar mandi, kamu kembalilah, istirahat, ini sudah larut malam." Aisyah meninggalkan Ryu yang masih setia duduk di atas ranjang menatap keeprgiannya.

__ADS_1


Ryu menghela nafas, dia tak suka Aisyah berhubungan dengan Agam, meskipun status mereka adalah saudara, karena yang mengetahui status tersebut hanya Aisyah. Sedangkan Agam sama sekali tak mengetahui, dan dia menganggap Aisyah gadis pada umumnya. Menurut Ryu, Agam menyukai Aisyah, itulah yang membuatnya tak suka.


Ryu akhirnya pergi ke kamarnya sendiri. Perutnya terasa lapar karena sejak sore tadi dia belum makan, saat akan konser dan ditawari untuk makan dia menolaknya. Untung saja dia sempat minta dibelikan makanan oleh staffnya, tetapi dia tak ingin makan sendiri. Dia ingin makan malam bersama Aisyah, sebab dia yakin gadis itupun belum makan malam.


"Makanlah, kamu pasti belum makan, kan?" Ryu memberikan sepiring nasi beserta lauk pada Aisyah.


"Masih marah?" tanyanya saat Aisyah hanya diam saja setelah menerima piring darinya.


"Aku enggak marah, cuma kesel aja sama kamu. Udah bibirku sakit, hatiku juga sakit, ditambah kamu gitu sama Agam. Dia itu saudara ku Ryu, saudara. Kamu enggak usah cemburu sama dia." Aisyah mentap Ryu penuh kekesalan.


Ryu menghela nafas panjang, "Aku sayang sekali sama kamu, sweetheart. Lelaki mana sih yang tidak cemburu lihat gadis yang dia cintai dekat dengan laki-laki lain, ya meskipun itu saudara. Mungkin aku tak akan seperti itu jika Agam juga tahu kalau kalian bersaudara, tapi dia tidak tahu, kan?" ucapnya.


Ternyata Aisyah masih kesal dengan Ryu yang merebut paksa ponselnya saat Agam menelpon. Apalagi setelah mendnegar ucapan Ryu pada pemuda itu. Entah kenapa dia makin kesal saja, padahal apa yang dilakukan Ryu sudah benar.


"Aku suapin ya, kamu harus makan. Makanan kalau dilihatin aja enggak bakalan habis, dia tidak bisa masuk mulut sendiri." Ryu menyodorkan satu sendok nasi beserta lauk kedepan mulut Aisyah, dan gadis itu menerimanya meski dengan wajah cemberut.


"Aku marah lagi!" Aisyah menatap tak suka pada kekasihnya yang kini sedang tertawa.


"Becanda sayang." Ryu mengusap puncak kepala gadis itu.


Aisyah berdecak, "Aku mau maafin kamu tapi ada syaratnya," ucapnya.


"Apapun syaratnya, aku akan menyetujuinya. Termasuk kalau kamu mau telepon Agam sepuasmu, tapi aku tetap disini sampai kalian selesai berbicara." Ryu menatap kedua bola mata gadis itu yang terlihat sedang berfikir.


"Bukan itu, tapi biarkan aku menginap di kos Nita besok malam. Aku ingin berkumpul dengan mereka bertiga, ini kesempatan langka dan sepertinya tak akan ada kesempatan untuk kita nginep bareng lagi, sebab bulan depan Santi mau nikah." Aisyah menatap Ryu penuh harap.


Ryu menggeleng, membuat Aisyah kembali cemberut. "Boleh, sebenarnya tadi kamu ijin gitu mau aku bolehin, tapi setelah melihat kamu sama Agam, enggak jadi," jawabanya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang." Aisyah memeluk kekasihnya itu, dia bahagia kerana Ryu memberinya ijin.


Aisyah melepaskan pelukannya, lalu merebut piring di tangan Ryu. "Sini, aku mau makan sendiri."


Ryu tersenyum melihat tingkah gadis itu. Kebahagiaan Aisyah memang sesederhana itu, dia bahkan tak pernah meminta sesuatu berlebihan padanya. Jika bukan dia yang berinisiatif memberi sesuatu pada gadis itu, Aisyah tak akan pernah memintanya. Permintaannya selama ini hanya sebatas ingin makan di suatu tempat bersamanya, tak ada hal lain lagi yang dia minta. Bahkan tiket konsernya saja tak pernah meminta padanya, dia yang berinisiatif sendiri.


Malam itu pertemuan mereka terkahir sebelum konser kedua. Sebab pagi buta, Ryu harus mengurus segala hal keperluan konser selanjutnya. Sedangkan Aisyah memilih untuk pergi lebih awal ke tempat NitaNita. Dia ingin menghabiskan waktu dengan kedua sahabatnya sebelum kembali menonton konser Ryu.


"Ais, Lo enggak apa-apa, kan? Gue semalam khawatir banget, mau telepon juga gue takut." Nita menyambut kedatangan sahabatnya dengan sebuah pelukan.


"Tenang aja, gue baik-baik aja, kan? Sehat walafiat, tanpa kekurangan apapun." Aisyah membalas pelukan Nita.


"Ayo masuk, kita tunggu Santi." Nita menarik tangan sahabatnya itu untuk masuk ke dalam kamar kosannya.


"Lho, Santi enggak nginep di sini?" Aisyah heran melihat sahabatnya tak menginap di kos Nita, lalu menginap di mana?


Nita menggeleng, "Udah biasa Ais, Santi kalau ke sini nginepnya di kos pacarnya," jawab Nita.


Aisyah mengangguk, dia tak ingin mengetahui lebih banyak lagi masalah pribadi sahabatnya, jika bukan sahabatnya yang bercerita. Dia pun sering menginap di apartemen Ryu, meskipun mereka tak pernah tidur dalam satu tempat tidur yang sama.


"Santi mau nikah karena dia sudah terlanjur isi. Dia bilang seperti itu sama gue." Ternyata Nita masih melanjutkan pembicaraan tentang Santi. Aisyah hanya diam menyimak, dia bingung harus berkata apa.


"Lo enggak gitu, kan Ais? Gue kecewa kalo Lo juga gitu." Nita menatap sahabatnya penuh tanya.


"Enggak Nit, meskipun gue dulu sering nginep di apartemen Ryu, kita sama sekali tak pernah tidur bersama. Kami punya komitmen untuk tidak melakukan hal itu sebelum menikah." Aisyah menatap Nita, dia ingin meyakinkan sahabatnya itu.


"Syukurlah, gue senang dengernya." Nita tersenyum menatap Aisyah.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2