Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Senjata Api


__ADS_3

Perjalanan yang lumayan melelahkan, apalagi setelah mereka sampai di negara yang ibu Ryu tinggali, keduanya langsung menuju rumah sakit. Ryu menitipkan semua barang miliknya dan Aisyah pada sang manager, supaya membawa semua itu ke hotel yang akan mereka tinggali untuk beberapa hari ke depan. Sesampainya di rumah sakit, Ryu langsung menemui dokter yang menangani sang ibu.


"Dokter, apa yang sebenarnya terjadi pada ibu saya?" tanya Ryu saat bertemu dokter lelaki paruh baya yang sudah dia kenal.


"Kemarin ada seorang wanita yang menemui ibu anda, dia mengatakan jika masih saudara bahkan membawa barang bukti beberapa foto kebersamaan mereka, perawat akhirnya mengijinkan wanita itu untuk menemui ibumu, tetapi ...." Dokter tersebut menggantung kalimatnya membuat Ryu penasaran.


"Tetapi apa dok?" tanya Ryu tak sabaran.


Dokter menghela napas panjang, "Tetapi setelah bertemu dengan wanita itu, ibu mu tak mau makan, dia terus merenung, hingga pagi tadi dia mengamuk. Padahal, ibu mu sudah hampir membaik, dia sering curhat sama perawat, sudah seperti orang normal biasa," lanjutnya.


"Saya mau bertemu ibu sekarang, Dok." Ryu beranjak dari duduknya, tetapi dokter itu mencegah.


"Tunggu dulu, saya belum selesai menjelaskan. Saat ini ibu mu juga sedang istirahat, jadi biarkan dia tidur dulu," cegah dokter tersebut.


"Baiklah, lalu apa yang ingin anda jelaskan?" tanya Ryu.


Aisyah menyadari jika suaminya itu sedang dalam keadaan khawatir, tetapi dia tak bisa berbuat apapun selain menggenggam tangan besar milik suaminya. Berharap dengan seperti itu Ryu akan lebih tenang, dan tidak merasa sendiri karena ada dirinya.


"Ibu mu menyebut nama Yuri terus menerus setelah bertemu wanita itu, mungkin kamu mengenalnya?" tanya dokter tersebut.


Ryu terdiam, dia mengingat siapa teman sang ibu yang bernama Yuri, tetapi dia sama sekali tak mengenal wanita bernama Yuri itu. Dia pun menggelngkan kepala, "Saya sama sekali tak tahu Dok, sepertinya ibu tak memiliki teman bernama Yuri. Sebentar, dia orang asing atau bukan?" jawab Ryu diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


"Kita tanya langsung ke perawat, dia yang lebih tahu, karena kemarin saya cuti." Dokter langsung menelpon perawat yang menangani ibu Ryu, hingga beberapa saat perawat itu pun datang.


"Dia seorang wanita kelas atas, tetapi sepertinya wanita itu blasteran seperti anda," jawab perawat wanita saat Ryu mengajukan pertanyaan yang sama.

__ADS_1


Ryu mengepalkan tangannya, dia sudah tahu siapa yang datang menemui ibunya. Sahabat yang dulu sangat dekat dengan ibunya, bahkan hidupnya berubah karena campur tangan ibunya, hingga akhirnya wanita itulah yang menghancur kehidupannya dan sang ibu. Ya, wanita itu adalah istri Ayahnya saat ini, yang tak lain mantan istri Tuan Park yang berkhianat dengan selingkuh bersama ayahnya. Sangat rumit hubungan mereka, kan? Hehehe


"Tunggu saja balasan ku, suami istri sama saja." Ryu terlihat menahan amarah. Jika saja dia tak berada di rumah sakit saat ini, sudah pasti meja atau tembok akan menjadi sasarannya.


"Sabar sayang," bisik Aisyah. Dia sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan, karena Ryu tak pernah mengajarinya bahasa negara ibunya, yang menurut Aisyah lebih rumit dari bahasa Ryu.


"Sekarang kalian beristirahatlah lebih dahulu, kasihan kekasihmu, sepertinya dia kelelahan, besok kembali lagi ke sini. Saya juga harus pulang," ucap dokter itu, karena Ryu dan Aisyah datang ke rumah sakit saat gelap mulai menyapa.


Ryu mengalah, dia melihat wajah istrinya yang terlihat pucat, mungkin karena perempuan itu sedang datang bulan, "Baiklah terima kasih Dokter, saya akan kembali besok pagi." Akhirnya dia pun berpamitan. Dengan menggunakan taksi, mereka pun pergi menuju hotel.


"Kamu mandi dulu ya, aku akan pesan makanan untuk kita, tapi jangan lama-lama mandinya, kami terlihat sangat pucat." Ryu menatap wajah istrinya, lalu mengecup singkat bibir yang biasanya berwarna merah mudah itu kini terlihat memucat, meski Aisyah sudah memakai pewarna bibir.


Aisyah mengangguk, "Aku tak apa, hanya merasa lemas saja," ucapnya. Setelah iru dia pun bergegas untuk ke kamar mandi. Dia benar-benar sebentar di dalam kamar mandi, karena sudah tak tahan ingin segera berbaring di tempat tidur.


"Baiklah, istriku memang terbaik, mengerti apa yang aku butuhkan." Ryu tersenyum menatap Aisyah yang hanya mengenakan handuk kimono, hingga menampakkan jelas dua buah harta berharga milik istrinya itu. Andai saja Aisyah sedang tak ada tamu, sudah pasti dia akan langsung menarik jubah mandi tersebut dan menggendong Aisyah ke atas kasur, tetapi sayangnya itu tak bisa dia lakukan saat ini.


"Kamu bisa saja, sudah sana mandi, aku tahu loh apa yang kamu perhatiin." Aisyah menatap Ryu yang kini terkekeh karena ketahuan.


"Baiklah aku mandi dulu, jangan lupa pakai baju. Oh iya, nantikalau ada yang datang lewat pintu penghubung buka saja pintunya, itu pasti Hansen ngantar makanan untuk kita," ucap Ryu sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Ternyata kamar hotel ini memiliki pintu penghubung dengan kamar disebelah yang ditempati oleh manager Ryu. Ya, Aisyah menyadari jika Ryu tak mungkin memasukkan orang lain ke dalam kamar ini, meskipun itu petugas hotel. Akan sangat berbahaya bagi suaminya itu.


Tak lama terdengar ketukan dari pintu penghubung, Aisyah puj segera memaksi hijabnya sebelum membuka pintu itu. Ternyata benar, Hansen yang datang dengan membawa troli berisi makanan yang Ryu pesan.


"Nona, ini pesanan makanan Ryu, tolong diterima dan saya akan kembali ke kamar. Kunci lagi pintunya." Hansen memang sosok lelaki kaki yang jarang berbicara, tetapi kerjanya cepat dan tepat, jarang sekali melakukan kesalahan, hingga Ryu tetap mempertahankan lelaki itu.

__ADS_1


"Terima kasih Hansen. Duh, main pergi aja tuh orang." Aisyah berdecak saat Hansen sudah menghilang di balik pintu, tanpa mau mendengarkan ucapannya.


"Makannya sudah datang ya?" tanya Ryu saat dia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk pendek.


Aisyah memalingkah wajah, tak pernah sekalipun dia melihat tubuh Ryu saat bertelan jang dada seperti saat ini, hingga membuatnya tersipu. Aisyah terkejut saat Ryu sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum nakal.


"Kenapa memalingkan wajah? Kamu terpesona ya?" goda Ryu.


"Ryu, sana ganti baju Aku sudah lapar. Itu baju kamu di sana." Aisyah menunjuk ke atas ranjang, dimana pakian Ryu yang sudah dia siapkan ada di sana.


"Beneran aku ganti baju sekarang nih? Kamu enggak ingin melihat lebih dalam lagi?" Ryu terus menggoda Aisyah, dia senang melihat Aisyah yang tersipu seperti saat ini, makin menggemaskan.


"Apaan sih." Aisyah berjalan menuju ranjang terlebih dahulu, lalu memberikan pakian Ryu supaya pemuda itu memakainya.


Ryu pun menerima pakian tersebut dan mengganrinya di hadapan Aisyah, bahkan dia sengaja membuang handuknya hingga menampakkan benda yang amat sangat asing di mata Aisyah. Dia menganga melihat benda itu, hingga merasa malu sendiri dan memalingkan wajahnya.


"Kamu boleh melihatnya sampai puas," celetuk Ryu. Pemuda itu tersengum penuh kemenangan karena membuat istrinya kagum dengan senjata api miliknya.


"Ryu, pakai celananya, atau aku ngambek!" Aisyah mengancam, karena Ryu hanya memakai kaosnya saja tanpa berniat memakai celananya, bahkan kaos itu sengaja dia singkap hingga memperlihatkan senjata tersebut.


"Baiklah, aku akan memakainya, sayang. Tapi kasihan banget dia, dianggurin selama seminggu, huh." Ryu pun memakai celanya dan menutup aser berharga miliknya itu.


Aisyah bernafas lega, karena sejak tadi jantungnya berdebar sangat kuat akibat senjata api milik Ryu. Dia membayangkan hal yang tidak seharusnya. Bahkan merasa ngeri saat membayangkan hal itu.


.💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜

__ADS_1


__ADS_2