
Hari kebersamaan dengan sahabatnya, akhirnya berlalu. Aisyah harus kembali ke rumah pagi menjelang siang itu, sebab Ryu sudah menjemputnya. Ryu diantar oleh orang suruhan Papanya. Sedangkan teman-temannya sudah kembali ke negara mereka.
"Nit, kita pulang dulu yah. Lo enggak sekalian ikut, juga?" Aisyah memberi tawaran pada sahabatnya.
"Enggak Ais, gue hari ini ada janji dengan dosen pembimbing. Kalian semoga selamat sampai rumah ya, jagain bumil." Nita memeluk Aisyah bergantian dengan Santi. Ya, Santi juga ikut pulang bersama Aisyah.
"Pasti dijagain. Kalau pulang kabarin yah, gue ada di rumah sampai beberapa hari ke depan." Aisyah membalas pelukan Nita dan berpamitan pada sahabatnya itu.
Lambaian tangan mengiringi kepergian Aisyah dan Santi. Mereka berdua sama-sama masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu di depan kosan Nita. Dimana ada Ryu di sana yang sudah menunggu.
"Eh," Santi terkejut saat akan masuk lewat pintu belakang, ternyata ada Ryu di sana. Dia bahkan mengerjapkan mata berulang kali karena melihat Ryu dengan tampilan berbeda, mengenakan baju kokoh lengan panjang dan peci berwarna hitam. Ryu terlihat lebih tampan saat dilihat lebih dekat seperti ini.
"Maaf San, Lo depan ya," ucap Aisyah dan Santi pun menurut.
"Kamu pakai kaya gini buat nipu media?" tanya Aisyah saat melihat penampilan Ryu yang amat sangat berbeda.
"Iya, kalau enggak seperti ini mereka akan curiga. Aku juga nyuruh seseorang buat jadi diriku untuk menambah kesempurnaan persembunyian," jawab Ryu.
Aisyah menggeleng sambil tertawa. Tak menyagka jika kekasihnya itu bisa berfikir seperti itu. Dia menatap Ryu penuh kekaguman, pemuda itu terlihat lebih tampan saat mengenakan pakaian seperti ini.
"Aku suka kamu dengan pakaian seperti ini, lebih tampan," bisiknya.
"Akhirnya kamu mengakui kalau aku tampan. Kalau sama Ye Jun tampan siapa?" selalu saja seperti itu, ingin mendapatkan pengakuan dari kekasihnya.
"Tampan Ye Jun dong, ketampanannya aja udah diakui dunia, tapi aku sukanya sama kamu karena kamu enggak kalah tampan dari dia." Aisyah mengatakan yang sesungguhnya.
"Ck, coba sekali aja bilang lebih tampan aku dari dia, bohong dikit aja enggak apa-apa, kan?" Ryu berdecak tak suka mendengar jawaban kekasihnya.
Aisyah terbahak karena Ryu telihat seperti anak kecil, "Ngambek? Baiklah, aku mau tidur kalau kamu ngambek." Dia menurunkan tempat duduknya, bersiap untuk tidur.
Santi sama sekali tak mengerti apa yang dua sejoli itu bicarakan, sebab mereka berdua berbicara menggunakan bahasa Ryu. Tetapi dia bahagia sebab bisa bertemu langsung dengan Ryu, meskipun pemuda itu terlihat cuek dengannya, berbeda saat dengan Aisyah, Ryu terlihat sangat mencintai sahabatnya itu.
__ADS_1
"San, Lo kalau mau tidur juga enggak apa-apa. Biasanya bumil di jam-jam seperti ini pengennya rebahan dan ngantuk katanya," ucap Aisyah, dia tak mau mengabaikan keberadaan Santi.
"Iya Ais, gue lagi chatan sama Adit kok, nanti deh," sahut Santi.
"Baiklah, atau mau ngemil. Ini Ryu beli banyak cemilan untuk menemani perjalanan kita, kamu mau yang apa, manis apa gurih?" Aisyah memberikan dua bungkus makanan ringan dengan rasa manis dan gurih. "ambil dua-duanya aja," ucapnya.
"Terima kasih," ucap Santi sambil menerima dua cemilan itu dari tangan Aisyah, dan gadis itu pun mengiyakannya.
"Udah siap bertemu Mama, untuk melamaerku?" tanya Aisyah pada Ryu, dia tidak jadi tidur karena ada cemilan.
"Suapin sayang." Ryu belum menjawab, dia justru membuka mulutnya untuk menerima suapan cemilan dari tangan mungil kekasihnya.
"Siap sekali. Siap nikahin kamu juga," jawab Ryu, Aisyah hany tersenyum menanggapinya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
Perjalanan lumayan panjang mereka lalui, bahkan dua gadis yang ada di dalam mobil itu sudah terlelap sejak tadi. Ryu sengaja terjaga, dia ingin menemani sopir dan mengajak sopir itu mengobrol sesekali untuk mengurangi kebosanan. Dia juga penasaran dengan negara ini, yang memiliki banyak perbedaan dari negaranya. Kini, mobil yang mereka tumpangi sudah berada di depan rumah Aisyah.
"Sweetheart bangun, kita sudah sampai." Ryu mengusap pipi kekasihnya yang masih terlelap.
"Mau aku gendong?" Ryu sengaja bertanya seperti itu, supaya kekasihnya tersebut bangun.
"Bakal disuruh nikah sekarang sama Mama, kalau kamu gendong aku." Aisyah membuka matanya malas, dia melihat sekeliling ternyata mereka memang sudah sampai.
"Bagus dong, aku maunya seperti itu, biar tiap hari bisa gendong kamu. Gendong ke kamar, gendong ke kamar mandi terus...." Ryu menotong ucapannya karena Aisyah dengan sengaja memukul lengannya dengan keras.
"Sakit, sayang," ucapnya manja.
"Salah sendiri, ngomongnya ngaco! Udah ah, aku mau turun." Aisyah membuka pintu mobil lebih dahulu, meninggalkan Ryu seorang diri karena sopir dan Santi sudah lebih dulu turun.
Ryu turun dari mobil, dia berdiri dan melihat sekeliling rumah Aisyah yang sedikit tertutup dibandingkan rumah lain, sebab di belakang mobil ada sebuah gerbang yang tidak terlalu tinggi menujlang di sana. Persembunyian sementara yang sedikit lebih aman menurutnya.
__ADS_1
"Ryu, ayo masuk. Kamu mau jadi pusat perhatian, terus rumahku di datangi banyak wartawan, iya?" Aisyah menarik kekasihnya untuk segera masuk ke dalam rumah, dia tak mau ada tetangga yang melihat kedatangan kekasihnya itu.
"Assalamu'alaikum, Ma, aku pulang." Aisyah membuka pintu, tetapi tak ada jawaban dari dalam sana. Dia memang tidak memberitahu sang Mama jika akan pulang bersama Ryu hari ini.
"Kalian tunggu sebentar ya, aku cari telepon Mama. Duduk dulu." Aisyah mempersilahkan tamunya untuk duduk. Baru saja dia akan menelpon sang Mama, terdengar suara seseorang dari luar sana yang tak lain adalah Mama.
"Assalamu'alaikum, wah ada tamu." Mama menyalami Ryu dan Santi serta seorang sopir yang dia kenal, karena pernah datang sebelumnya.
"Wa'alaikumussalam, dari mana Ma?" Aisyah datang dan langsung menyalami Mamanya.
"Keluar sebentar, ada perlu sama bu Rt," jawab Mama, dia menatao Ryu dengan senyum terbaiknya. Tak menyangka kekasih putrinya itu terlihat lebih tampan dibandingkan dengan di foto. Ditambah dia mengenakan pakaian sepeti itu menambah kharismanya.
"Tan, aku kayaknya mau langsung pulang deh." Santi yang sejak tadi terdiam, kini membuka suara, dia sudah tidak tahan ingin segera merebahkan diri di kasur.
"Lhoh, kamu sakit San? Pucet banget? Istirahat di kamar Aisyah aja, nanti pulangnya." Mama mendekati Santi, menyentuh kening sahabat putrinya itu.
"Biasa Tan, mabok perjalanan," jawab Santi. "Aku pulang aja Tan, nanti di sini ganggu, enggak enak dong," lanjutnya.
"Biar saya antar Mbak," sopir tersebut menawarkan diri dan Santi pun menyetujuinya.
"Aisyah, sebelum pulang boleh enggak aku peluk Ryu?" Santi menatap Aisyah penuh permohonan, entah kenapa dia ingin sekali memeluk idol itu.
Aisyah menatap Ryu, "Dia sedang hamil, mungkin anaknya yang pengen peluk kamu. Boleh ya, sebentar aja," ucapnya menggunakan bahasa Ryu, karena takut Mama mengetahui kondisi sahabatnya. Dengan terpaksa Ryu pun menyetujuinya.
Santi memeluk Ryu erat, dia mencium aroma maskuli dari tubuh pemuda itu. "Pantes aja Aisyah betah, dia wangi banget. Tubuhnya juga keras, pasti perutnya juga kotak-kotak, ah jadi betah. Beda banget sama Adit." Santi membatin.
"Udah San, kelamaan." Aisyah bersuara, sebab Ryu terlihat sedikit keberatan saat Santi tak kunjung melepaskannya.
"Ah, maaf. Terima kasih ya Ryu, kirim salam buat Ye Jun ya. Aku mau kok jadi istri ke sekian nya." Santi melepas peluaknnya, dia menatao Ryu dengan senyuman.
Ryu mengangguk, "Ingat kamu punya kekasih," ucapnya.
__ADS_1
Santi hanya menyengir, lalu dia berpamitan dengan Tante Winda dan yang lainnya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜