
Nita dan Santi memenuhi undangan Aisyah, tetapi keduanya terlihat bingung dengan beberapa mobil yang terparkir di depan rumah Aisyah. Ada satu mobil yang terparkir di luar pagar dan dua mobil lainnya terparkir di dalam pagar. Mereka sama sekali tak mengerti dengan keadaan ini.
"Ada apa sih Nit? Lo kan yang tetangganya," tanya Santi.
Nita menggeleng, "Emak gue enggak bilang apa-apa. Daripada penasaran ayo kita masuk aja." Dia menarik tangan Santi untuk masuk ke dalam rumah Aisyah.
Keduanya terkejut saat melihat ruang tamu rumah itu dipenuhi oleh beberapa orang, bahkan sofa yang biasa ada di sana kini tak terlihat, entah dimana. Orang-orang itu sepertinya bukan orang biasa, terlihat dari cara berpakaian dan wajah glowing mereka. Tatapan semua orang tertuju pada mereka berdua yang memanjang di depan pintu. Sadar jika diperhatikan keduanya pun tak jadi masuk.
"Telepon Aisyah dulu aja kali ya," ucap Nita. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Aisyah.
"Ais, gue sama Santi udah di depan rumah Lo. Tapi kenapa rame banget, Lo dimana?" tanya Nita saat panggilan sudah di terima oleh Aisyah.
"Bentar, tunggu di luar dulu kalau kalian malu." Setelah mengatakan hal itu, Aisyah pun langsung memutus panggilannya.
"Gimana?" tanya Santi.
"Suruh nunggu di sini. Kita tunggu aja." Nita duduk di lantai menunggu Aisyah datang.
Tak lama berselang, Winda datang menghampiri dua gadis yang notabene sahabat putrinua tersebut. "Ayo masuk, Aisyah sudah nunggu di dalam. Kita lewat pintu belakang aja ya." Dia mengajak dua gadis itu untuk masuk melalui pintu belakang yang berada tepat di depan sebuah mobil mewah yang terparkir di sana.
"Ada acara apa sih Tan? Kok rame banget. Mana isinya orang berjas semua," tanya Nita saat mereka mulai memasuki area dapur.
"Nanti kalian juga bakalan tahu. Itu beberapa teman Papanya Aisyah. Ada juga pak RT dan Pak Re, emang kamu enggak ngenalin mereka?" Winda berjalan lebih dahulu masuk ke ruang keluarga.
"Enggak sempet menelitin Tan. Eh ... kok ada Ryu?" Nita terkejut melihat Ryu duduk di sofa bersama seorang berseragam hitam dan satu orang lelaki memakai kemeja warna biru.
"Ayo masuk kamar Aisyah aja. Sekalian temuan dia." Winda tak menjawab pertanyaan Nita, dia langsung menyuruh kedua gadis itu untuk masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Lo?" Nita dan Santi terkejut melihat Aisyah yang sedang duduk di depan cermin dengan kebaya berwarna putih serta wajah yang dipenuhi dengan makeup. Tak lupa balutan hijab berwarna putih, dikelilingi oleh hiasan singer indah.
"Lo mau nikah? Kenapa enggak ngomong sih?" protes Nita.
"Iya, kita jadi salah kostum deh," sahut Santi.
Aisyah tersenyum, "Sengaja buat surprise kalian berdua. Ini juga mendadak kok. Tapi kalian tenang udah aku siapkan baju untuk kalian bedua," jawabnya.
"In, mana tadi baju pesanan ku?" tanyanya pada sang perias.
"Ada di dalam koper ku. Ambil aja Nit, itu." Ina menunjuk sebuah tas koper berwarna hijau yang terletak tepat di samping ranjang.
"Ini Ina? Beneran Lo Ina? Gue pangling, Lo makin cantik dan langsing. Apa kabar In?" Nita justru gagal fokus dengan sang perias yang ternyata temannya waktu SMP dulu, karena Ina yang dulu adalah gadis yang memiliki tubuh sedikit gemuk dan tinggi badan yang pas pasan, tapi kini gadis itu terlihat memiliki tubuh proporsional dengan tinggi badan di atas rata-rata wanita dinegaranya.
"Aku baik, seperti yang kalian lihat. Udah sana ambil bajunya, nanti gantian kalian yang aku rias," titah Ina, sebab dia hampir selesai memoles wajah Aisyah.
Nita pun bergegas mengambil dua buah pakaian dengan warna senada dari dalam koper milik Ina. Dia tersenyum saat melihat warna baju tersebut, warna yang dia inginkan saat ini. Dia pun menyerahkan salah satu baju tersebut pada Santi.
"MasyaAllah, Aisyah Lo cantik banget." Nita menatap wajah Aisyah yang terlibat begitu cantik dengan balutan kebaya putih.
"Gue malah geli liat wajah gue sendiri," sahut Aisyah.
"Gimana rasanya mau jadi istri? Ah, gue bakalan sendirian dong kalau Santi juga nikah." Nita menatap sendu sahabatnya itu, dia belum percaya sepenuhnya jika Aisyah akan segera menikah bahkan mendahului Santi.
"Lo enggak bakalan sendirian, gue pasti masih sering hubungin Lo, kok. Nanti gue titip Mama ya Nit, dia belum mau diajak ikut kami." Aisyah menatap sahabatnya penuh permohonan, sebab Nita rumahnya paling dekat dengan Aisyah.
"Kalau gue di rumah, bakalan main ke sini. Lo tenang aja. Mama juga sering ke sini kok," jawab Nita.
__ADS_1
"Ais, Lo jahat enggak bilang sama emak gue kalau mau nikah, dia pasti marah enggak diberi tahu," Nita teringat akan ibunya yang sangat dekat dengan Mama Winda.
"Emak Lo tahu kok Nit, cuma gue bilang enggak boleh ngomong sama Lo. Emak Lo yang bantuin Mama pesen makanan buat syukuran, beliau seksi konsumsi," jawab Aisyah.
"Tega banget ngerjain kita berdua," Santi yang sedang di rias oleh Ina pun menyahut.
"Maaf, sengaja biar kalian terkejut." Aisyah tersenyum menatap Nita dan Santi bergantian.
"Ais, Lo udah persiapan baju dinas malam yang seperti milik Santi itu apa belum?" bisik Nita.
"Lo kok mikirnya sampai situ sih Nit? Gue aja enggak kepikiran sampai di sana." Aisyah memukul lengan Nita.
"Duh, sakit Ais. Harusnya Lo nyiapin itu, buat bahagiain suami Lo dong," protes Nita.
"Udah ah ganti pembahasan." Aisyah malu mendengar ucapan sahabatnya itu, apalagi dia memang sudah menyiapkan itu semua tanpa sepengetahuan sahabatnya itu tentunya. Terlalu malu jika mereka berdua tahu, sudah pasti dua gadis itu akan membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Hayo kalian bahas apa? Bahas malam pertama pasti," sahur Santi.
"Enggak, tapi bahas gebetan Nita, katanya dia lagi deket sama cowok," timpal Aisyah asal.
"Jangan percaya San, kita emang lagi bahas MP, katanya Aisyah mau pakai baju yang kaya Lo beli itu." Nita tak terima dengan jawaban asal Aisyah, sebab selama ini dia belum pernah dekat dengan lelaki manapun.
"Emang harus pakai yang kaya gitu. Kalau bisa yang bentuknya tali aja, pasti Ryu terpesona," sahut Santi.
"Daripada pakai yang kaya gitu mending naked sekalian, lebih hot." Tanpa disangka Ina ikut masuk dalam pembicaraan absurd mereka.
"Gue keluar dulu aja lah, kalian berdua bahasnya kaya gitu." Aisyah sebenarnya mali mendengar ucapan tiga orang itu, apalagi di sini dia pengantinnya dan sudah dipastikan apa yang mereka katakan mungkin akan aj di sebuah kenyataan nantinya. Dia bergidik ngeri membayangkan yang tak seharusnya dibayangkan.
__ADS_1
"Sini aja, belum dipanggil untuk keluar. Kita bahas yang lain deh." Nita menahan sahabatnya itu, lebih baik diadia mengalah daripada membuat sahabatnya merajuk.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜