
"Apa salah Ryu padamu hingga kau menggunakan ku untuk memancingnya?" tanya Aisyah lagi, dia ingin mengetahui alasan mereka menculik Aisyah.
"Tak ada, hanya saja aku iri dengannya karena dia memiliki gadis secantik dirimu dan aku ingin memilikinya. Aku ingin memiliki apa yang Ryu miliki, semuanya. Hanya satu yang tidak aku inginkan, menjadi idola menjijikan seperti si bodoh itu!" Orang itu selalu terbahak saat setelah berbicara, membuat Aisyah heran padahal apa yang orang itu ucapkan sam sekali tidak lucu.
"Sudah, kau tak boleh bertanya lagi. Sekarang makanlah! Aku akan menyuapi mu." Dia menyendokkan makanan dari piring yang tadi dia bawa dan berniat menyuapkan makanan itu ke dalam mulut Aisyah.
Tak seperti dugaannya, gadis itu justru meludahi dirinya hingga mengenai wajah, dan menolak makanan tersebut. "Bangsaaat! Ku bu*nuh kau! Menjijikkan seklai!" umpat orang itu. Dia melempar piring berisi makanan ke atas kasur.
"Makan sendiri, aku tak sudi menyuapi mu, terserah mau makan atau tidak aku tak peduli." Seseorang itu keluar dari kamar tersebut meninggalkan Aisyah seorang diri.
Aisyah mencoba meraih makanan tersebut menggunakan kedua tangannya yang terikat, dia harus makan supaya bisa mengumpulkan tenaga untuk keluar dari kamar laknat itu. Dia tak ingin Mamanya mengetahui keadaanya saat ini, karena sudah pasti wanita paruh baya itu akan sangat syok.
"Ma, aku kangen Mama. Apa aku bisa bertemu dengan Mama lagi? Mama maafkan aku. Aku belum bisa membanggakan Mama dan juga membuat Mama bahagia," guamanya sambil menelan makanan yang susah patah dia masukkan ke dalam mulut.
"Ryu, apa kamu mengkhawatirkan ku, atau kamu justru tidak tahu kalau aku di culik? Ryu, aku merindukan mu. Apakah aku bisa kembali bertemu dengan mu lagi?" Isak tangisnya makin keras saat mengingat semua orang yang dia sayangi.
"Ryu, aku tak akan marah padamu, meskipun penculik itu mengatakan kalau aku diculik karena dirimu, tapi kamu tak bersalah, sayang." Susah payah Aisyah menelan makannya, dia tak sanggup membayangkan kehidupan Ryu selanjutnya jika tanpa dirinya.
"Dasar kurang ajar! Siapa yang menculik ku? Kenapa kalian memanfaatkan orang lemah seperti ku? Dasar pecundang!" teriak Aisyah mengumpat sang penculik.
Selama makan dia terus bergumama dan terkadang mengumpat si penculik, hingga tak terasa makanan di piring tersebut habis tak tersisa. Aisyah terus memanjatkan doa, setelah puas mengumapt dan bergumam tak jelas. Dia berharap bisa keluar dari kamar yang entah milik siapa itu.
__ADS_1
Di tempat lain, di negara tetangga seorang lelaki paruh baya sedang duduk di ruang keluarganya, dia memikirkan putrinya yang berada jauh dari jangkauan. "Kenapa tiba-tiba aku mengkhawatirkan Nazwa? Apa yang terjadi dengannya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Pa, kenapa melamun?" dia terkejut saat mendapati istrinya masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa secangkir kopi.
"Entah perasaan Papa sedang tak enak saja, Bun. Tumben Bunda di rumah hari libur gini?" tanyanya pada sang istri.
"Sama Pah, perasaan ku juga tak enak, aku kepikiran Agam. Dia sendirian di negara orang, apa temannya itu sudah datang atau belum? Aku khawatir dengannya Pah. Kalau tahu begini, aku biarkan saja Bella ada di sana nemenin Agam," jawab sang istri.
"Perasaan tak enak mu bukan karena memikirkan putra mu sepertinya, Bun, tapi memikirkan putri mu," ucap lelaki itu dalam hati.
"Agam akan baik-baik saja Bun, dia sudah dewasa, apalagi dia bilang temannya akan datang. Papa yakin saat ini anak nakal itu sedang bersenang-senang dengan temannya, hingga melupakan Bundanya," sang suami mencoba menenangakan perasaan istrinya, padahal dia sendiri tak bisa menenangkan perasaanya sendiri.
"Sudah ya Bun, enggak usah pikirkan hal itu. Sekarang gimana kalau Bunda temani Papa ambil ikan di rumah Heri? Papa enggak sabar kalau nunggu Heri nganterin besok. Papa sudah gatal mau ngisis aquarium yang kosong itu," Fadly sengaja mengalihkan perhatian, dia tak mau terus memikirkan putrinya itu, karena menurutnya Aisyah akan baik-baik saja di sana.
Ditempat lain, Winda pun merasa tiba-tiba khawatir dengan Aisyah, apalagi saat dia menghubungi putrinya itu, nomor Aisyah tidak aktif, membuatnya tak fokus bekerja.
"Manda, kamu urus semuanya dulu ya. Saya mau pulang lebih awal, rasanya tak enak badan. Ini kuncinya, nanti kalau pulang masuk saja, pintu depan enggak akan saya kunci." Winda menyerahkan kunci ruko pada orang kepercayaan.
"Iya Bu. Apa perlu saya antar ibu pulang, atau mau ke dokter dulu?" tanya Manda.
"Tidak usah, saya pulang naik ojek aja Man, kamu kembalilah bekerja, saya pamit ya." Winda meninggalkan ruko miliknya.
__ADS_1
"Aisyah kamu kemana sih, nak? Mama khawatir. Apa aku telepon Pak Fadly aja? Ah, tapi ini hari minggu dia pasti sedang berlibur dengan keluarganya," gumam Winda, hatinya masih saja resah hingga malam menjelang. Apalagi sampai saat ini Aisyah belum bisa dihubungi.
Akhirnya, Winda pun memutuskan untuk sholat, berharap rasa gundah dan khawatir yang sejak tadi menyerangnya segera tergantikan dengan kelegaan. Tapi ternyata dia masih saja terus terpikirkan keadaan Aisyah, bahkan setelah malam larut hingga kedua bola matanya tak bisa terpejam.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
"Tuan Park, kenapa sampai sekarang anda belum menemukan Aisyah? Anda sudah berjanji akan menemukan dia secepatnya, tapi kenapa sampai sekarang dia belum ditemukan? Saya khawatir dia kenapa-napa. Saya tak sanggup membayangkan jika terjadi sesuatu dengan dia," Ryu kembali menelepon Tuan Park, sebab selama seharian penuh dia belu mendapatkan kabar baik tentang Aisyah.
"Kamu tenang saja, Ryu. Semua itu buruh strategi, harus menggunakan pikiran yang tenang, supaya kita bisa memukul musuh dengan tepat. Jangan menggunakan emosi, karena emosi bisa saja menghancurkan semua rencana yang sudah tersusun rapi," jawab Tuan Park dari seberang sana.
"Tenang saja, mereka tak akan menyakiti kekasih mu itu, karena jika itu terjadi mereka sendiri yang akan rugi. Kamu tetap di sana, jangan ikut campur dulu, belum saatnya kamu turun tangan sendiri. Kita masih memerlukan banyak bukti untuk menghancurkan Ayah mu itu," lanjutnya.
Ryu menghela nafas panjang, dia tak sanggup jika harus berdiam diri seperti ini. "Saya tidak bisa kalau diam saja, karena saya tidak tahu bagaimana keadaan gadis yang saya cintai itu saat ini. Apakah dia sudah makan, atau belum? Apa dia baik-baik saja atau tidak? Ah, rasanya saya tak bisa membayangkan kalau dia tak baik-baik saja." Ryu frustasi memikirkan keadaan Aisyah.
"Tenanglah, saya bilang tenang. Dia baik-baik saja." Setelah mengatakan hal itu, Tuan Park pun memutus panggilannya, dia tak mau mendengarkan keluhan Ryu yang terus mengkhawatirkan Aisyah.
Untuk pertama kali Ryu memohon kepada Tuhan agar kekasihnya itu selamat dan bisa kembali padanya. "Aku berjanji akan mempelajari dan mengikuti ajaran Aisyah jika Engkau menyelamatkannya Tuhan." Janji Ryu pada Tuhan yang tak pernah dikenal sebelumnya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1