
"Ryu apa yang kau pikirkan? Kenapa terlihat tidak fokus sejak tadi?" tanya pelatih dance saat mendapati Ryu selalu salah dalam gerakannya.
Ryu menghela nafas panjang, "Maafkan aku Anna, sepertinya aku tak bisa ikut latihan hari ini, terlalu banyak yang aku pikirkan," ucapnya.
Wanita bernama Anna itu berdecak, "Sudah ku bilang, kalian harus melupakan semua masalah pribadi saat berlatih, kalau kau seperti itu terus kapan selesainya? Kasihan teman mu, mereka pasti capek karena kesalahan yang kau buat sejak tadi," ucapnya sarkas.
"Baiklah, aku mundur. Silahkan kalian lanjut latihan, aku janji saat masalhku selesai akan mengikuti kalian dengan baik." Ryu meninggalkan tempat latihan, dia sadar akan kesalahannya, tapi dia tak bisa melupakan masalahnya.
"Apalagi Ryu? Kau buat masalah lagi? Karena kekasih mu itu?"
Mendengar pertanyaan yang menyudutkan Aisyah Ryu tak terima, dia pun memutar langkahnya menuju orang tersebut. "Tuan Cho, aku selalu mengikuti aturan di sini, hanya sekali ini aku melakukan kesalahan, tapi kau mengataiku seperti seorang yang selalu melakukan kesalahan, aku tak terima itu," sahutnya.
Tuan Cho tersenyum sinis, "Sudah ku katakan, kalian harus fokus dengan semua ini, tak ada yang namanya memiliki kekasih, itu akan sangat mengganggu kegiatan kalian, dan terbukti kamu melakukan kesalahan karena kekasih mu itu," tuduh nya.
Wajah Ryu memerah mendengar tuduhan Tuan Cho, dia sama sekali tak terima jika Aisyah dijadikan kambing hitam, "Apapun masalah yang aku hadapai, apakah kau perlu mengetahuinya? Dan apa alasanku tak fokus berlatih apa kau juga perlu mengetahuinya? Sepertinya kau juga melanggar peraturan yang kau buat sendiri, untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing!" Ryu menaikkan nada suaranya satu oktaf, dia masih memiliki kesabaran meski sangat tipis.
"Dan jangan lupakan konser minggu depan berlangsung juga ada aku yang ikut andi di dalamnya. Semoga kau mengerti dengan semua ini." Ryu meninggalkan Tuan Cho yang masih menatapnya kesal.
Brakk
Ryu membanting pintu mobil dengan keras, tak peduli orang disekitarnya. Emosinya harus segera disalurkan. "Sialan! Kalian semua sialan! Tak ada yang mengerti sama sekali!" Ryu terus mengumpat sambil memukul stir mobil yang tak bersalah sama sekali itu.
Setelah dirasa emosinya sedikit mereda, dia pun melajukan mobilnya meninggalkan HS. Niat awalnya dia ingin mendatangi Ayahnya di rumah, tapi urung saat teringat akan ucapan Tuan Park, akhirnya dia membelokkan mobilnya menuju apartemen Aisyah.
__ADS_1
"Aku tak bisa terus diam seperti ini. Aku harus mencari jalan keluar. Aku tak bisa membiarkan Aisyah dalam ketakutan," gumamnya.
Saat dia masuk ke area apartemen Aisyah banyak yang menatapnya bahkan tak segan menyapa dirinya, karena dia tak mengenakan penutup wajah sama sekali, hingga hampir semua orang mengenali diri nya. Tapi dia tak peduli, saat ini yang dia pikirkan hanya Aisyah bukan yang lain.
"Bisakah saya melihat CCTV tadi malam di sekitar kamar 256?" tanyanya pada bagian informasi. Dia ingin melihat seperti apa penculik itu menculik Aisyah lewat CCTV.
"Sebentar, tapi anda siapanya pemilik kamar 256? Karena jika bukan siapa-siapa kami tak bisa memberikannya, ini privasi," jawab resepsionis yang sepertinya mengenal Ryu.
"Apa perlu seperti itu disaat genting seperti ini? Pemilik kamar 256 saat ini dalam bahaya, semalam dia diculik dan kalian tidak tahu, bukan? Sangat buruk sekali keamanan di sini!' Maki Ryu, emosinya kembali memuncak saat mendengar jawaban resepsionis tersebut.
"Cepat tunjukkan dimana ruang CCTV!" Desak nya.
"Tapi tak bisa tuan, anda bukan salah satu pemilik unit di sini, bahkan kami tak pernah melihat anda sebelumnya," resepsionis itu masih saja menolaknya.
"Baiklah, tapi jika anda tak bisa masuk kamar tersebut, kami terpaksa tak akan memberitahu ruang CCTV," sahut resepsionis tersebut.
Ryu mengangguk, sebab dia sangat yakin jika bisa masuk ke dalam kamar Aisyah, karena Aisyah sudah memberikan pasword kamarnya. Akhirnya dia dan salah satu resepsionis disertai petugas keamanan mendatangi kamar Aisyah.
"Apa yang aku katakan? Aku bisa masuk ke kamar ini. Kalau kalian membutuhkan bukti lagi, aku bisa memberikan identitas pemilik kamar ini, supaya kalian percaya." Ucap Ryu setelah berhasil membuka pintu apartemen Aisyah.
Dia melihat sekeliling, apartemen tersebut terlihat bersih seperti biasanya, tak ada suatu hal pun yang aneh di sana, hingga dia menemukan sebuah ponsel milik kekasihnya yang tergeletak di lantai. Sepertinya ponsel itu terjatuh saat Aisyah di culik. Dia pun memungut ponsel tersebut yang sudah kehabisan daya.
"Cepat, beritahu dimana ruang CCTV? Aku harus memastikan sesuatu." Ryu kembali keluar dari apartemen Aisyah dan menutup pintu tersebut, tak lupa membawa ponsel milik Aisyah.
__ADS_1
Seorang keamanan mengantar Ryu ke ruang CCTV yang ternyata terletak di lantai dasar tepat di belakang loby. Tanpa basa basi Ryu langsung meminta diputarkan rekaman CCTV semalam tepat di depan kamar Aisyah.
"Sialan! Bangsaaatt! Brengsekk!" entah berapa kali Ryu mengumpat hari ini, hingga umpatan itu terasa sangat ringan dia ucapkan.
Ryu melihat CCTV tersebut sangat murka, sebab orang yang menculik Aisyah benar-benar menyerupai dirinya, dan pasti Aisyah tertipu akan penampilan itu. Bahkan orang tersebut dengan santai menggendong tubuh kekasihnya menuju loby tanpa banyak orang yang curiga.
"Tolong saya minta kopiannya, kirim ke sini." Ryu menunjukkan alamat email miliknya pada petugas CCTV.
"Terimakasih atas bantuannya." Dia pun berpamitan dan mengucapkan terimakasih pada petugas itu.
Ryu kembali ke apartemen Aisyah, dia ingin beristirahat sejenak di apartemen kekasihnya itu. Selain itu dia juga akan menyusun rencana untuk mencari tahu dimana Aisyah berada saat ini, supaya lebih muda menemukan kekasihnya itu.
Di tempat lain, Aisyah sudah sadar sejak pagi tadi, dia hanya bisa menangis tanpa suara karena mulutnya terbungkus oleh lakban. Dia menyesal karena tak bisa membedakan orang lain dengan kekasihnya, jika saja dia bisa membedakannya tentu hal ini tak akan terjadi.
"Makanlah! Biar wajahmu tetap cantik, dan kamu tetap hidup, karena jika keksih bodohmu itu membuang mu akua akan mendapatkan barang bagus." Ucap seseorang yang semalam menculik Aisyah. Dia menyodorkan makanan ke mulut gadis itu.
"Ups! Lupa kalau mulut mu masih tertutup. Bentar aku buka dulu ya, tenang ini tidak sakit sama sekali." Orang itu menarik paksa lakban yang menutup mulut Aisyah membuat gadis itu menjerit.
"Apa yang kalian inginkan dari ku? Apa salah ku sama kalian? Kenapa kamu menculik ku?" teriak Aisyah saat mulutnya terbebas.
"Mau tahu? Salahmu itu menjadi pacar Ryu si bodoh itu." Orang itu pun tertawa puas setelah menjawab pertanyaan Aisyah.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1