
"Sayang, kamu beneran mau kalau diangkat anak sama Tuan Park? Aku kok enggak yakin." Ryu menyatakan keberatannya, sebab sebentar lagi gadis itu akan menjadi istrinya.
"Diangkat secara resmi mungkin enggak. Aku sudah bicara langsung dengan Tuan Park, dia setuju dengan rencana ku, hanya saja dia meminta kita untuk tinggal di rumahnya setelah menikah nanti, kamu mau atau enggak?" Aisyah memang belum membicarakan hal ini dengan Ryu. Saat itu dia sedang termakan emosi karena kecewa dengan sang Papa.
Ryu berfikir sejenak, "Mungkin bisa, selama rumah kita belum jadi," jawabnya.
Aisyah menyipitkan matanya mendengar ucapan Ryu, "Kamu buat rumah? Sejak kapan? Kenapa enggak pernah cerita?" tanyanya.
"Sejak aku berencana melamarmu dan menikahi mu." Ryu tersenyum menatap calon istrinya.
Saat ini mereka berdua berada di rumah Aisyah. Fadly sudah kembali sejak setengah jam yang lalu. Sedangkan Mama Winda ada keperluan di luar mengenai masalah konsumsi untuk syukuran pernikahan Aisyah. Jadi, mereka hanya berdua di rumah. Ryu sengaja menemani gadis itu selama sang Mama pergi.
"Rumahnya juga tak jauh dari kawasan rumah Tuan Park dan juga HS. Setelah menikah nanti, aku enggak mau tinggal di apartemen lagi, terlalu sempit untuk kita berdua dan anak-anak," lanjutnya.
Aisyah tersipu mendengar penjelasan Ryu. Tak menyangka jika calon suaminya itu sudah merencanakan kehidupan masa depan mereka bersma anaknya. Anak? Ah, rasanya belum terpikirkan akan masalah itu, tetapi sepertinya akan membahagiakan jika kehidupan mereka nanti dilengkapi dengan seorang anak.
"Kenapa senyum-senyum gitu?" Ryu sejak tadi memperhatikan kekasihnya yang tersenyum entah membayangkan apa.
"Itu, aku membayangkan kalau kita punya baby yang lucu dan menggemaskan, kalau perempuan pasti akan cantik kaya aku, terus kalau laki-laki pasti akan tampan kaya kamu." Aisyah tersenyum menatap Ryu.
"Setelah menikah kita buat dua bayi sekaligus laki-laki dan perempuan, bagaimana?" Ryu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum penuh arti.
"Udah ah enggak usah bahas itu. Kamu mikirnya pasti yang enggak-enggak. Keliatan banget dari senyuman mu itu." Aisyah tahu jika Ryu hanya menggodanya, tetapi dia juga malu membahas hal seperti itu sebelum menikah. Padahal dia yang memulainya lebih awal.
Ryu terkekeh mendengar omelan kekasihnya. Gadis itu terlihat lucu dan menggemaskan saat sedang mengomel seperti saat ini, membuatnya ingin kembali menggodanya. Akan tetapi niatnya tak jadi dilakukan sebab Mama Winda sudah datang. Bahkan dia menggeser duduknya menjauh dari Aisyah, sebab sejak tadi mereka duduk bersama dalam satu sofa dengan jarak beberapa senti saja.
"Bagaimana Ma? Sudah beres?" tanya Aisyah saat Winda masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sudah semuanya, sesuai keinginan Mama." Mama ikut duduk bersama dua sejoli itu.
"Sayang, apa kamu enggak ingin bertemu ibu mu sebelum menikah?" Winda sejak kemarin terpikiran akan hal itu, bagaimanapun Aisyah memiliki ibu kandung yang mungkin lebih berhak dibandingkan dirinya.
Aisyah menggeleng, "Sudah ada Mama. Aku takut akan menambah masalah kalau bertemu Bunda Dewi. Bagiku Mama segalanya, aku hanya butuh Mama ada di sampingku," jawabnya.
"Kalau kamu mau bertemu, Mama sama sekali tidak keberatan, sayang." Winda meyakinkan Aisyah tetapi putrinya itu kembali menggeleng.
"Ya sudah kalau itu keputusanmu, Mama akan mengikuti," putus Winda pada akhirnya.
Tak lama setelah itu, Ryu berpamitan. Sebenarnya Mama menyuruh Ryu untuk makan malam di sana, tetapi Ryu menolak, dengan alasan kasihan dengan asisten dan pengawalnya yang sudah lama menunggu sejak kedatangannya tadi. Mereka juga pasti lapar, dan dia tak bisa membiarkan itu terjadi.
Malam hari setelah makan malam. Aisyah menghubungi kedua sahabatnya. Dia berencana mengundang mereka berdua dihari bahagianya dengan Ryu, tetapi dengan alasan lain, dia ingin membuat kejutan pada Nita dan Santi saat mereka datang nanti.
"Nit, Lo hari jumat harus si rumah. Kalian berdua gue tunggu di rumah, harus datang pagi pokoknya," pinta Aisyah pada dua sahabatnya saat mereka melakukan video call bersama.
"Iya, minggu gue berangkat. Kalian hari jumat harus ke rumah gue pokonya, datang pagi, tidak ada penolakan ya." Aisyah sengaja berbohong, dia hanya ingin kedua sahabatnya menyaksikan acara sakral yang akan dia lakukan sekali seumur hidup.
"Oke gue usahain. Santi juga harus datang, kita kumpul bertiga sebelum Lo nikah." Nita akhirnya menyetujui, setelah Aisyah memaparkan alasannya.
"Gue sih oke, Lo itu yang harus pulang." Santi menyahut dari seberang sana, perempuan itu sejak tadi diam karena sedang menikmati mie instan buatannya.
Aisyah mengakhiri panggilan tersebur saat melihat sang Mama masuk ke dalam kamarnya. "Sini Ma, aku baru saja ngobrol sama Nita dan Santi. Mereka insyaallah datang saat aku nikah nanti," ucapnya.
Mama duduk di sisi tempat tidur menghadap ke arah putrinya. Dia memperhatikan putrinya itu dengan saksama, lalu tersenyum saat Aisyah merasa ada sesuatu yang terjadi. Bahkan gadis itu melihat seluruh tubuhnya yang tadi di perhatian oleh sang Mama.
"Mama baru tahu tadi, katanya Santi mau menikah awal bulan depan, apa benar?" tanya Mama.
__ADS_1
"Iya Ma, bener. Emang Santi enggak bilang sama Mama?" Aisyah tak tahu jika Mamanya belum mengetahui akan hal ini.
Mama menggeleng, "Orang bilang, dia mau nikah karena sudah kecelakaan, tapi bukan itu yang akan Mama tanyakan," lanjutnya sambil menatap lekat sang putri.
"Mama mau tanya apa sih, jangan buat aku penasaran dong," Aisyah merasa gugup melihat tatapan mata sang Mama, tetapi dia mencoba untuk bersikap biasa saja, karena dia memang tak melakukan kesalahan apapun.
"Kamu sama Ryu...." Winda bingung untuk menanyakan hal itu, dia takut jika putrinya salah paham dengan pertanyaannya nanti.
Aisyah menggeleng, dia paham akan kekhawatiran sang Mama. Apalagi mereka hidup berjauhan, dan hanya ada Ryu yang selalu ada untuknya. Tentu Mama khawatir dia salah dalam bergaul.
"Aku tahu apa yang ingin Mama tanyakan. Jawabannya enggak Ma, aku sama Ryu pacaran wajar kok, enggak sampai yang berlebihan, bahkan kita jarang ketemu karena Ryu tinggal di HS bersama yang lainnya, dia jarang pulang ke apartemen," jawabnya.
"Syukurlah, Mama khawatir, karena kalian jauh dari pantauan orang tua," timpal Mama.
"Tapi Mama denger ucapan Agam tadi, soal kalian menginap bersama, itu benar?" ternyata Mama belum selesai.
Kali ini Aisyah mengangguk, dia melihat wajah sang Mama yang menjadi suram. "Waktu awak-awak dulu kami memang sering menginap di apartemen yang sama, tetapi tidak dalam satu kamar yang sama. Kami masih punya batasan Ma," jelasnya.
Mama menghela nafas panjang, "Keputusan Mama supaya kalian menikah lebih awal sepertinya sangatlah tepat. Setelah itu kalian berdua bebas mau menginap di mana pun berdua, Mama juga sudah tidak khawatir lagi," ucapnya.
"Iya Ma, maaf aku salah." Aisyah menatap sang Mama penuh penyesalan, karena dia melihat raut kekecewaan di wajah wanita yang sangat dia cintai dan sayangi itu.
Mama mengangguk, "Semuanya sudah terjadi, Mama tak bisa melakukan apapun. Yang terpenting kalian tak pernah melakukan hal yang di larang," ucapnya.
Aisyah memeluk tubuh sang Mama. Dia bersyukur memiliki Mama seperti Mama Winda yang begitu menyayanginya, meski dirinya bukan anak kandung wanita itu. Dia tak yakin jika hidup dengan Bunda Dewi akan seperti ini.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1