
Tanpa sadar Ryu membalas ciuman Aisyah yang terasa kaku, bahkan melupakan ucapan kekasihnya itu sebelumnya. Seakan larut dalam kerinduan yang mendalam, keduanya saling menyambut satu sama lain. Dan tanpa disadarinya, Aisyah telah membuka beberapa kancing piyama nya.
Seakan nyawanya telah kembali karena sentuhan telapak tangan Aisyah di dadanya, Ryu pun melepaskan ciuman tersebut dan menatap lekat kekasihnya. Seperti dugaan sebelumnya, jika Aisyah melepaskan kain penutup kepala yang selama ini dia jaga. Ryu akui keksihnya terlihat lebih cantik saat tak mengenakan penutup kepala, tetapi dia tak akan rela berbagi kecantikan itu dengan orang lain.
"Kenapa kamu melakukan itu? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya, dia masih bisa mengontrol diri meski hawa panas sudah menyelimuti tubuhnya. Dia merasa Aisyah menyembunyikan sesuatu hingga membuat gadis tersebut senekat itu.
"Aku ingin tidur dengan seseorang yang ku cintai sebelum menyerahkan diriku pada lelaki itu. Setidaknya aku pernah merasa bahagia dengan mu sebelum penderitaan itu datang." Aisyah menatap Ryu dengan mata berkaca-kaca, membuat pemuda itu kembali memeluk kekasihnya.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Aku tak mau menuruti permintaan mu, jika kau tak mengatakan yang sesungguhnya." Ryu hanya ingin Aisyah berkata jujur dan tak berniat menuruti permintaan gila keksihnya itu, meskipun di negara ini hal seperti itu sudah lumrah dilakukan oleh sepasang kekasih, tetapi dia tak mau melakukan nya mengingat Aisyah gadis yang berbeda.
Terdengar suara tangis dari bibir Aisyah, dia tak sanggup mengatakan yang sesungguhnya pada Ryu, tetapi jika dia tak mengatakannya, bukankah masalah itu akan semakin rumit dan Ryu tak mau memenuhi permintaan gilanya. Ya, dia sudah putus asa dengan masalah yang menimpanya, hingga akhirnya dia menemukan ide gila seperti itu tanpa memikirkan masa depannya yang dia yakini akan segera hancur.
Ryu mengusap punggung Aisyah, berharap gadis itu lebih tenaga meski dia tak begitu yakin dengan apa yang dia lakukan. Membiarkan Aisyah melepaskan segala sesak di dadanya hingga gadis itu siap menceritakan semuanya.
"Sekarang kita duduk, ya. Aku akan mendengarkan penjelasan mu," ucap Ryu setelah Aisyah terlihat sedikit tenang. Dia menghapus jejak air mata di pipi Aisyah sebelum menuntun kekasihnya itu untuk duduk.
"Ryu, Papa menjual ku pada Tuan Park. Aku tak mau lelaki itu yang pertama kali menyentuhku. Aku ingin kamu orang pertama yang menyentuhku, aku tak sudi memberikan semua yang telah aku jaga selama ini pada lelaki itu, aku tak sudi, Ryu!" Aisyah menundukkan wajahnya tak berani menatap kedua bola mata keksihnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Aisyah, Ryu pun terkejut bukan main. Bahkan tanpa sengaja dia mengangkat wajah Aisyah supaya menatapnya. "Apa Papa mu mengatakan seperti itu pada mu?" tanyanya untuk meyakinkan apa yang diucapkan Aisyah memang tak mengada-ada.
Aisyah menggeleng, "Aku mendengar percakapan Papa dan Tuan Park," jawabnya.
Ryu menghela nafas lega, "Mungkin kamu salah paham sayang. Tuan Park tak mungkin menyukai gadis kecil seperti mu sebagai seorang wanita, dia akan mencintaimu seperti putrinya sendiri. Itu keyakinan ku," sanggahnya.
"Tapi aku mendengar jelas kalau Papa mengatakan aku akan menjadi milik Tuan Park sepenuhnya, apa itu belum cukup membuktikan jika Papa menjual ku?" Aisyah tak percaya jika Ryu membela Tuan Park.
"Tenanglah, aku akan mencari tahu hal itu. Jika benar seperti yang kamu katakan, aku akan menuruti permintaan mu, bahkan kapanpun kamu mau aku akan melakukannya. Tapi, jika tak seperti yang kau katakan, aku tak akan mengotori cinta kita dengan hal yang dilarang oleh agama mu." Ryu menatap lekat Aisyah, dia hanya ingin meyakinkan kekasihnya itu jika semuanya akan baik-baik saja.
Aisyah menundukkan wajahnya kembali, dia terlalu malu menatap Ryu, karena baru saja mencetuskan ide gila yang untung saja tak disambut baik oleh Ryu. Jika Ryu menyambut baik idenya, mungkin dia akan sedikit menyesal karena telah mencetuskan ide itu, apalagi jika apa yang didengarnya tak seperti yang dia bayangkan.
"Sekarang kamu tidur ya, aku akan menunggu mu disini sampai kau tertidur," pintanya.
Aisyah merespon ucapan Ryu dengan anggukan kepala. Dia pun melepaskan pelukan Ryu dan mulai memposisikan dirinya untuk tidur. Terlalu malu untuk menatap wajah lelaki yang dia cintai itu.
"Lain kali jika ada sesuatu, katakan saja pada ku. Jangan disimpan sendiri! Aku akan selalu ada untukmu," pesan Ryu. Meski tak mendapatkan tanggapan dari Aisyah, tetapi dia tahu jika kekasihnya itu mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Satu lagi, aku tak suka kau membuka penutup kepala mu, kamu memang terlihat lebih cantik, tapi aku tak sanggup jika orang lain melihatnya, please jangan lakukan itu lagi ya sayangku." Ryu mengusap puncak kepala Aisyah yang kini tak tertutup oleh kain seperti biasanya. Rambut panjang dan hitam lebat milik gadis itu begitu indah, menambah kecantikan gadis itu.
Kali ini Aisyah mengangguk, tetapi belum sanggup untuk menatap Ryu, "Maafkan aku," lirihnya.
Cukup lama Ryu menunggu gadis itu hingga tertidur. Setelah memastikan Aisyah benar-benar tertidur, dia pun beranjak dari duduknya. Tetapi sebelum benar-benar meninggalkan kamar Aisyah, dia menatap lekat wajah kekasihnya yang terlelap dalam kedamaian itu.
"Aku tak akan membiarkan orang lain memiliki mu. Kau hanya untukku dan hanya milikku, tidak peduli jik aku harus berhadapan dengan Tuan Park sekali pun. Aku janji kita akan selalu bersama sayang." Ryu mengecup kening gadis itu cukup lama, setelah itu dia pun meninggalkan kamar Aisyah menuju kamarnya.
Pagi sekali, Ryu sudah terbangun. Dia langsung berkutat di dapur, bermaksud membuatkan sarapan untuk Aisyah. Akan tetapi langkahnya justru menaiki anak tangga menuju kamar Aisyah, bukan ke dapur.
"Kok jadi ke sini, sih? Aku takut ada kejadian seperti semalam lagi, dia tidak tahu saja jika senjata kesayanganku tak mau tidur semalam," gumamnya mengingat kejadian semalam, tapi tak urung dia punengetuk pintu kamar gadis itu.
Pintu terbuka dan menampakkan Aisyah yang masih mengenakan mukena putih yang selalu tersimpan dalam kamar itu. Gadis itu menundukkan wajah, seakan tak memiliki muka di hadapan Ryu, terlalu malu menatap wajah lelaki itu.
Ryu tersenyum melihat gadis itu menyembunyikan wajahnya, "Lanjutkan saja kegiatan mu, aku akan kembali nanti," ucapnya dan berlalu meninggalkan Aisyah. Dia bersyukur Aisyah sepertinya sudah kembali menjadi Aisyah yang dia kenal, bukan Aisyah yang nekat melakukan apapun seperti semalam.
"Kau membuatku makin jatuh cinta padamu," gumam Ryu.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜