
Makan malam tiba, Aisyah lebih dahulu turun ke dapur untuk membantu art di rumah itu. Sudah menjadi hal biasa buat Aisyah, jika dia membantu urusan dapur. Ternyata sang Mama sudah berada di dapur bersama satu art dan satu koki, mama sedang membantu menyiapkan makanan di meja makan.
"Ma, kenapa mesti ikutan di dapur sih? Mama, kan baru aja sampai, pasti masih cape, biar aku aja yang bantu," ujar Aisyah.
"Mama sudah cukup istirahatnya, daripada bingung mau ngapain, kan?" sahut mama. Mereka berdua berbicara menggunakan bahasa asal membuat koki dan salah satu art itu tak mengerti.
"Yaudah deh terserah Mama, sini aku bantu juga, mana yang harus aku bawa?" Aisyah menyerah, dia tahu seperti apa mamanya, wanita yang tak pernah mengenal lelah.
Ibu dan anak itu silih berganti membawa makanan yang sudah jadi ke meja makan dan menatanya. Sesekali mereka bercanda dan saling melepas rindu, sebab sudah lama tak melakukan aktivasi bersama. Hingga, akhirnya Ryu dan Tuan Park datang ke ruang makan.
"Setelah makan, kalau kamu tidak sibuk Mama, mau bicara," ujar Mama saat mereka berdua kembali ke dapur.
"Iya Ma, aku sudah bilang sama Ryu kalau setelah ini mau menemani mama sebentar, dia juga mau pergi ke studio," timpal Aisyah menyetujui.
Mereka berempat makan di meja yang sama, dengan posisi Tuan Park duduk di kursi utama. Sedangkan tiga orang yang lain duduk di sisi kanan, Ryu yang duduk paling dekat dengan Tuan Park, disebelah Ryu ada Aisyah dan disebelahnya ada mama Winda.
"Winda, kamu pindah di sebelah sini saja, kenapa harus berjauhan seperti itu?" Tuan Park menyuruh Winda untuk pindah tempat, mau tak mau akhirnya Winda pun pindah, meskipun dia merasa tak enak.
Selama menyantap makanan tak ada satupun yang bersuara, mereka semua menikmati makan malam dengan hikmat. Akan tetapi, Aisyah merasa ada yang berbeda dengan namanya, dia memperhatikan sang mama yang sejak tadi selalu menunduk dan seperti enggan menoleh ke arah Tuan Park. Berbeda dengan mama, Tuan Park justru terlihat beberapa kali melirik sang mama dengan senyum manisnya. Aisyah sama sekali tak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.
Usai makan malam, Tuan Park berpamitan lebih dahulu ke kamarnya disusul oleh Ryu yang sebentar lagi akan pergi ke luar, dia sudah ditunggu oleh sahabat-sahabatnya. Sedangkan Aisyah dan mama membantu membereskan meja makan terlebih dahulu.
"Mama kenapa sih, kok kelihatan enggak nyaman gitu, tadi waktu makan malam?" tanya Aisyah saat mereka sudah berada di kamar mama.
Terlihat mama menghela napas panjang, lalu menatap putrinya ragu, "Itu yang ingin Mama katakan pada mu sekarang," ucapnya.
__ADS_1
"Maksud Mama?" Aisyah tak sabar mendengar apa yang akan mamanya bicarakan.
"Menurut kamu, apa Mama pantas menikah lagi di umur yang sudah tidak muda ini?" tanya Mama sambil menatap Aisyah.
Aisyah tersenyum, seakan dia bisa menebak kemana arah pembicaraan sang mama, "Pantas banget Ma, Mama harus bahagia di hari tua. Kalau ada seseorang yang bisa membahagiakan Mama, kenapa tidak? Bukannya menikah itu juga ibadah ya? Kalau gitu artinya ibadah Mama akan makin bertambah juga." Dia tersenyum menatap sang Mama. "Aku juga setuju jika Mama menikah."
"Mama takut mengecewakan almarhum suami Mama, apa dia setuju kalau Mama nikah lagi ya? Mama merasa kurang yakin aja," ujar Mama. Membayangkan wajah almarhum suaminya yang sudah pergi puluhan tahun lalu.
Aisyah memeluk sang mama. "Kalau Mama tidak yakin, jangan dipaksakan ya." Menatap sang mama yang juga sedang menatapnya. "Tapi, menurutku ayah pasti setuju, beliau pasti akan bahagia melihat Mama bahagia."
"Kamu yakin sekali, seperti sudah tahu saja siapa yang akan menikahi Mama." Winda mencubit hidung putrinya gemas.
"Tau dong, aku udah feeling dari tadi. Boleh aku tebak, enggak?" Aisyah meminta persetujuan mamanya.
"Duda keren dan tajir, plus baik hati yang sekarang menampung kita di rumahnya. Iya, kan? Aku setuju kalau Mama menikah dengan Paman Park, sepertinya dia menyukai Mama," ucap Aisyah penuh keyakinan.
Mama mengangguk, "Iya kamu bener, tapi Mama merasa insecure kalau misalnya jadi istrinya. Mama itu wanita kampung yang tidak bisa dandan...." Mama menghentikan ucapannya, karena Aisyah menyela.
"Jaman sekarang ada MUA Ma, jadi Mama tenang aja," sahut Aisyah.
"Selain itu, di sini banyak wanita cantik tapi kenapa Tuan Park milih Mama?" tanya Mama.
"Cinta tidak bisa di tebak Ma, dia mau berlabuh pada siapa dan seperti apa orangnya. Cinta tidak berpikir bagaimana paras seseorang yang dicintai," jawab Aisyah, seolah dia seorang pujangga cinta.
"Apa Tuan Park enggak malu kalau ngajakin Mama keluar?"
__ADS_1
"Ya, enggak lah Ma! Dia tidak akan peduli apa kata orang, yang terpenting dia nyaman bersama Mama," Lagi-lagi Aisyah menyahuti dengan asal ucapan sang mama.
"Kamu ini, jawab mulu," protes mama pada putrinya.
"Lah, Mama kan tanya?" Aisyah tak merasa bersalah sedikitpun.
"Iya, tapi kan jawabannya belum tentu seperti yang kamu katakan? Mama hanya berandai-andai," jawab mamanya.
"Aku yakin sebenarnya Mama juga suka, kan sama Paman Park? Kenapa Mama masih ragu sih?" Aisyah menatap kedua bola mata mamanya yang masih di penuhi keraguan, meskipun dia yakin jika sang mama juga memiliki rasa yang sama dengan Tuan Park. Dia teringat beberapa kali mama memuji Tuan Park saat dia menceritakan lelaki itu di telepon.
Mama menghela napas, "Entahlah, Mama sudah lama tidak jatuh cinta, jadi tidak tahu bagaimana rasanya," jawabnya.
"Memangnya apa yang dikatakan Paman Park, Ma?" Aisyah penasaran, apakah Tuan Park sudah melamar mama nya atau hanya ungkapan biasa saja?
Mama pun menceritakan kejadian tadi siang di ruang tamu. Dia tak melewatkan sedikitpun percakapannya dengan Tuan Park, tak ingin putrinya itu salah paham. Aisyah pun menyimak tanpa menyela sedikitpun.
"Itu artinya Paman Park serius Ma. Benar kata Paman, Mama harus tunjukkan pada keluarga Papa kalau Mama itu bukan pelakor. Mama wanita baik-baik yang menajdi kambing hitam perbuatan Papa," ucap Aisyah setelah mendengar cerita mamanya.
"Mama akan berpikir sebentar, Mama mau minta petunjuk dulu, sayang. Mama enggak mau salah mengambil langkah. Kamu juga harus mendoakan Mama, ya?" Mama mengusap punggung Aisyah.
"Itu pasti Ma. Begini aja, rencananya aku sama Ryu mau pindah seminggu lagi, nah Mama ikut dengan kita. Mama jangan berhubungan dengan Paman selama beberapa hari, untuk mencari petunjuk. Karena menurutku jika Mama masih berhubungan dengan Paman saat ikhtiar, rasanya Mama akan kepikiran terus sama Paman." Aisyah memberi sebuah solusi untuk mamanya.
"Rencana Mama juga seperti itu," sahut mamanya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1