
Ryu membuat sarapan simple untuk mereka berdua. Selama memasak senyum di wajah Ryu tak pernah pudar, dia bersyukur Aisyahnya telah kembali. Dia yakin setelah ini Aisyah tak akan berbuat nekat seperti semalam, dan mungkin akan melupakan ucapannya semalam. Semoga saja, sebab jika terus didesak Ryu juga tak bisa untuk tak menuruti gadis itu, dia lelaki normal.
"Harusnya aku yang menyiapkan makanan untukmu," ucap Aisyah, membuat Ryu terkejut sebab dia tak mendengar langkah gadis itu.
Ryu tersenyum, "Aku juga ingin membuat masakan untuk mu, biar kamu mencoba selezat apa masakanku." Ujarnya.
Aisyah membantu membawa hasil masakan Ryu ke meja makan. Menata piring dan sendok di depan dua kursi yang akan mereka berdua tempati. Sebenarnya Aisyah masih merasa canggung berdekatan dengan Ryu, karena kejadian semalam. Dia merasa malu dengan sikap agresifnya sendiri.
Aisyah mendengus mengingat sikap agresifnya semalam, "Kalau dipikir-pikir, semua itu karena perbuatan ku sendiri. Mulai dari mencium di pipinya, sampai tadi malam," ucapnya dalam hati.
"Kenapa melamun?" tanya Ryu saat kekaishnya itu tak menyahut ketika dia memanggil.
"Ah, itu. Aku hanya terpikirkan sesuatu," jawab Aisyah.
"Apa itu?" Ryu menaikkan sebelah alisnya sambil menatap kekaishnya tersebut.
Aisyah menggeleng, "Ryu, maafkan aku untuk yang semalam itu, bisakah kamu melupakannya? Aku malu kalau mengingat itu semua." Dia menundukkan wajahnya tak berani menatap Ryu.
Ryu memeluk gadis itu, "Syukurlah. Jangan lakukan itu lagi ya! Karena penawaran mu semalam sangat menggiurkan, kalau kamu melakukan untuk kedua kalinya sudah bisa dipastikan aku tak akan menolak," ucapannya terdengar sangat serius hingga membuat Aisyah mengangguk seketika.
"Aku akui kamu terlihat lebih cantik tanpa ini." Ryu menyentuh hijab Aisyah, "tapi, aku lebih suka melihatmu seperti saat ini, karena jika penampilanmu seperti semalam bisa saja aku melakukan sesuatu yang kamu tawarkan semalam itu," lanjutnya.
"Ryu! Sudah ku bilang jangan bahas yang semalam! Kenapa masih di bahas sih?" Protes Aisyah sambil memukul dada keksihnya tersebut.
"Semalam sebenarnya aku tak bisa menahan, apalagi saat kamu mencium ku dengan brutal," Ryu terus menggoda Aisyah, membuat gadis itu kembali memukul dadanya.
__ADS_1
Aisyah menenggelamkan wajahnya di dada Ryu, terlalu memalukan saat mengingat kejadian semalam. "Ryu, aku marah kalau kamu membahas itu lagi," ujarnya.
"Boleh enggak kalau minta seperti tadi malam?" Ryu ternyata belum puas menggoda kekasihnya.
"Apaan sih? Aku marah sama kamu ya." Aisyah melepaskan pelukannya dan meninggalkan ruang makan.
Ryu mengejar kekasihnya itu, dia panik saat mendapati Aisyah merajuk. Dia tak mau kekasihnya itu benar-benar marah, apalagi dia penyebab gadis itu marah. Segera Ryu menarik tangan Aisyah yang sudah menaiki satu anak tangga, tapi Aisyah terpleset hingga terjatuh tepat di atas tubuh Ryu. Dan hal yang tak terduga, bibir mereka kembali bersatu di sana, tetapi tak ada pergerakan sama sekali, hanya saling menyentuh.
Aisyah bisa mendengar detak jantung nya dan juga Ryu bersahutan di sana. Dia merasa kejadian kali ini lebih mendebarkan daripada kejadian semalam saat dirinya dikuasai emosi dan amarah. Dia pun tersadar saat ada sesuatu yang menusuk di bawah sana.
"Ryu! Kamu pasti sengaja, 'kan?" Aisyah berdiri dari atas tubuh Ryu, dia terlalu malu berdekatan hingga seintim itu dengan kekasihnya tersebut hingga menyalahkan Ryu.
"Duh, kamu berat juga ternyata. Kenapa lama sekali turunnya? Pasti berharap lebih, kan?" Ryu sebenarnya merasa malu, sebab Aisyah menyadari jika inti tubuhnya bereaksi hanya karena kejadian tak sengaja itu.
"Ish, aku marah kalau kamu terus menggoda ku." Aisyah melipat kedua tangannya dan mencibikkan bibirnya kesal.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
"Sepertinya dia mendengar sedikit percakapan anda dengan Tuan Fadly. Dia terlihat tidak baik-baik saja, Tuan." Jae melaporkan keadaan Aisyah beberapa hari terakhir ini.
"Aku tak suka salah paham, tapi aku juga tak bisa menjelaskan semuanya saat ini. Kita tunggu saja, Ryu pasti akan datang sebentar lagi kalau sudah mengetahui alasan kenapa kekasihnya itu bersedih," sahur Tuan Park.
"Baiklah Tuan. Dan satu lagi, Nona belum tinggal di apartemennya sendiri, dia selalu menginao di rumah Ryu," Jae kembali melaporkan kegiatan Aisyah.
"Ck, anak itu. Aisyah itu pemikirannya masih labil, aku takut dia terjebak dalam permainan Ryu. Aku tak akan diam jika Ryu berani melakukan sesuatu yang merugikan Aisyah." Tuan Park terlihat geram setelah mendengar keterangan Jae, dia tahu persis pergaulan muda mudi di negara ini, apalagi jika sudah tinggal dalam satu atap yang sama.
__ADS_1
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Tuan Park pun menyuruh orang di luar sana untuk masuk. "Masuk," titahnya.
"Maaf Tuan, ada Tuan Ryu dia bilang ingin bertemu dengan anda," beritahu Bibi Cha.
"Suruh dia masuk,"
Bibi Cha pun berpamitan. Dia memanggil Ryu yang sedang menunggu di depan tangga menuju ruang kerja Tuan Park. Setelah dipersilahkan, Ryu pun masuk ke dalam ruang kerja Tuan Park.
"Ada apa anak muda hingga membuatmu datang ke rumahku?" tanya Tuan Park pura-pura tak mengetahui apa yang membuat Ryu datang ke kediamannya.
"Aku hanya ingin menanyakan sesuatu, dan tolong jawab jujur, Tuan," jawab Ryu.
"Katakanlah,"
Ryu menceritakan apa yang Aisyah dengar dari pembicaraan Tuan Park dan Papa gadis itu. Dia sama sekali tak melewatkan sepatah katapun yang diucapkan oleh Aisyah padanya. Dia ingin memastikan apakah yang Aisyah katakan itu benar atau hanya salah paham.
"Aku yakin anda bukan lelaki yang seperti Aisyah duga, tapi aku butuh kejelasan akan hal itu," Ryu mengakhiri pembicaraannya, dia menunggu tanggapan yang diberikan oleh Tuan Park.
Tuan Park menghela nafas panjang, dia sudah menduga jika Aisyah benar-benar salah paham. Gadis itu hanya mendengar sepatah kata dari yang dia bicarakan dengan Fadly. "Dia hanya salah paham, aku bukan lelaki tua yang haus akan belaian seorang gadis kecil seperti dia, jika aku ingin wanita pasti aku akan mencari yang sudah lebih berpengalaman tentunya," jawabnya.
"Lalu apa yang sebenarnya kalian bicarakan?" Ryu hanya ingin tahu supaya bisa menjelaskan lebih rinci pada keksihnya nanti.
"Sepertinya aku tak bisa mengatakan yang sejujurnya sekarang," jawab Tuan Park.
"Jika anda tidak memberi jawaban, Aisyah tak akan percaya begitu saja, aku tidak ingin dia melakukan hal di luar nalar, terutama jika menyakiti dirinya sendiri." Ryu teringat akan kenekatan Aisyah tadi malam, bisa saja gadis itu melakukan hal yang lebih parah lagi dari semalam.
__ADS_1
"Ajaklah dia menemui ku, akan aku jelaskan padanya," putus Tuan Park akhirnya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜