
"Gue pengen peluk, pengen akrab sama dia. Nyesek banget cuma bisa salaman." Aisyah mengunyah makanannya tak beraturan hingga mulutnya penuh, bahkan ucapannya pun tak jelas.
"Uhuk, uhuk. Gue ini anak kandnynga tapi kenapa dia tega buang gue sih? Nyesek, kan?" Aisyah meneguk setengah gelas jus jeruk yang ada di hadapannya entah milik siapa, dia tak peduli.
Nita dan Santi hanya bisa mengusap punggung gadis itu. Sesekali membantu Aisyah menyiapkan makanan, padahal mulut gadis itu sudah penuh. Dasar teman lucknut. Mereka sudah menebak jika Aisyah akan berakhir seperti ini setelah bertemu dengan Agam dan kedua orang tuanya.
"Apa salah gue? Apa waktu bayi gue item, dekil terus orang tua gue enggak mau ngakuin?" Aisyah terus berbicara.
"Gue eneg banget lihat muka pura-pura polos Fadly, gue benci laki-laki itu, tapi kenapa darah dia harus ada di tubuh gue? Gue lebih baik jadi anak sopir dari pada jadi anak konglomerat tapi enggak di anggap!" Kali ini gadis itu berhenti memasukkan makanan di mulutnya, sebab makanan yang mereka beli sudah ludes ditelan oleh Aisyah tanpa sadar.
"Gue harus gimana Nit, San?" Kali ini gadis itu menatap Nita dan Santi bergantian.
"Lo tenangin diri dulu Ais. Gue yakin suatu saat Lo bisa melakukan apa yang Lo inginkan itu, tenang ya. Dari tadi kita jadi bahan tontonan orang-orang." Nita menatap sekeliling diikuti oleh Aisyah, dan benar saja hampir seluruh orang yang makan di cafe itu menatap ke arah mereka.
"Eeggh, perut gue kenapa penuh banget? Akh, makin nyesek rasanya?" Air mata Aisyah terus mengalir sejak tadi, mungkin juga ada yang ikut masuk ke dalam mulutnya bersama makanan yang dia makan.
"Uwek, gue pengen muntah." Aisyah berlari menuju toilet diikuti oleh kedua sahabatnya.
"Lo jagain meja aja deh San, biar gue yang temenin Aisyah." Nita menghentikan langkahnya saat menyadari Santi juga ikut mengejar Aisyah, dia tak mau meja mereka di tempati orang lain. Santi pun mengikuti permintaan sahabatnya.
"Ais, Lo oke, kan?" Nita menghampiri Aisyah yang sedang berdiri di depan cermin toilet.
"Gue oke Nit, udah lega rasanya. Semua unek-unek di kepala udah gue keluarin, termasuk semua makanan di perut juga ikut keluar." Aisyah menatap Nita lewat pantulan cermin, dia terlihat lebih baik dari sebelumnya.
"Enggak seharusnya gue kaya gini, kan? Ini udah takdir gue. Kalo aja jalan gue enggak gini, mungkin kita enggak akan bertemu, dan gue juga pasti enggak akan bertemu sama Ryu. Ah, sama Mama juga pasti enggak ketemu. Jalan ceritanya udah beda. Gue harus syukuri semuanya, kan Nit?" Aisyah tersenyum lalu membalikan badan menghadap Nita.
"Gue rasa lo kesambet malaikat toilet, deh," celetuk Nita tak percaya dengan perubahan sahabatnya yang secepat kilat.
__ADS_1
"Ihh, serem ah. Kita disini cuma berdua lho Nit, Lo malah ngomong gitu." Aisyah bergidik ngeri membayangkan di dalam toilet itu ada mahluk tak kasat mata yang memperlihatkan dirinya.
"Akhh!" terdengar suara teriakan dari dalam salah satu toilet yang tertutup.
"Nit, kabur!" Aisyah langsung menarik tangan Nita keluar dari toilet.
"Sialan tuh orang, gue teriak bukannya di tolongin malah kabur!" celetuk seseorang yang baru saja keluar dari toilet dengan tubuh yang sudah basah sebagian, dia terpleset saat akan keluar dari toilet tersebut.
Santi heran melihat kedua sahabatnya datang dengan berlari dan nafas keduanya ngos-ngosan seperti dikejar oleh maling. "Kalian kenapa? Dikejar maling? Atau copet?" tanyanya.
"Kita...itu...ada hantu di toilet," jawab Nita dengan napas terputus-putus.
Santi mengerntitkan dahi bingung, "Hantu? Mana ada hantu di siang bolong gini? Ngaco." Dia tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.
"Serius!" sahut Aisyah masih dengan nafas tidak beraturan.
"Makanya jadi orang itu jangan rakus, makanan sebanyak itu dimakan sendiri, berarti dari tadi emang ada setan yang ngikutin Lo." Santi menunjuk Aisyah, sengaja ingin mengerjai sahabatnya itu. Dia kesal karena makananya habis dilahap oleh Aisyah dan saat akan memesan lagi makanan itu sudah habis.
"Sorry." Aisyah menyengir, dia tadi sama sekali tidak sadar jika sudah melahap semua makanan di atas meja. "Nanti gue yang bayar semuanya deh," lanjutnya.
Siang itu mereka habiskan dengan berburu makanan sebelum kembali ke kosan Nita. Mereka bahkan membawa pulang beberapa makanan yang tadi di beli untuk persiapan nanti malam. Sebab, jika mereka menginap bersama sudah bisa dipastikan, kalau akan melewati malam dengan bercerita ngalor ngidul. Apalagi mereka lama tidak bertemu.
Sore hari mereka datang ke gedung tempat konser Ryu dan teman-temannya lebih awal. Dengan menaiki taksi karena tak mau terjebak kemacetan seperti kemarin lagi. Konser hari ini tak ada pertemuan dengan Agam seperti kemarin lagi, dan Aisyah bersyukur akan hal itu, karena bertemu dengan Agam sama saja mengingatkannya pada pertemuan pertamanya dengan ibu kandungnya. Tentu saja hal itu membuat dirinya makin galau.
"Sst, Nit, San, kaya Vera ya? Dia nonton juga?" Aisyah menunjuk gerombolan beberapa gadis berpakaian nyentrik tepat dihadapan mereka.
"Mana?" Nita dan Santi melihat ke arah telunjuk Aisyah.
__ADS_1
"Iya yah. Gue baru ketemu dia sekarang setelah kelulusan itu. Tapi dia enggak sama gengnya waktu SMA, ya?" Nita memperhatikan Vera yang sedang bercanda dengan temannya.
"Gue pernah ketemu sekali, tapi dia pura-pura enggak kenal gitu, gue juga ogah nyapa dong," sahut Santi.
"Udah lah enggak usah dilihatin, gue males ketemu sama dia." Nita tak mau adu mulut dengan gadis bar-bar itu, jika mereka bertemu.
"Iya gue juga males ribut," sahut Aisyah dan Santi hampir bersamaan.
Pertemuan memang kadang tak diinginkan, tetapi jika takdir sudah berbicara, maka pertemuan pun pasti terjadi. Seperti saat ini, mereka bertiga sengaja menghindari Vera, akan tetapi Vera justru melihat ketiganya dan menghampiri mereka. Dengan melipat kedua tangan di depan dada, Vera menghadang mereka.
"Udah mampu beli tiket rupanya? Atau cuma datang tapi enggak beli tiket, alias dengerin dari luar, iya kalau kedengeran, kalau enggak? Kasian deh, miskin." Dia tersenyum miring menatap ketiganya.
"Apa urusan Lo?" tantang Aisyah, dia muak melihat Vera yang selalu saja membuat masalah saat bertemu dengannya. Padahal mereka sudah lama tidak pernah bertemu lagi, tetapi gadia itu tetap saja mengganggunya.
"Urusan gue karena kalian ngehalangi pemandangan, sampah seperti kalian enggak pantes ada di sini." Vera ternyata sama sekali tak berubah, meskipun usia mereka sudah sama-sama dewasa.
"Lo yang sampah! Aisyah datang ke sini dapat undangan langsung dari Ryuga, kekasihnya." Santi tak tahan melihat Vera terus mengejek mereka, hingga dia tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang sangat dilarang oleh Aisyah.
"Ck, halu!" Vera tertawa mendengar ucapan Santi.
Aisyah bernafas lega saat Vera tak mempercayai ucapan Santi. Dia sudah takut jika Vera akan percaya, karena itu akan bisa mengusik kehidupannya dan juga Ryu tentunya.
"Udah, ayo masuk. Kita duduk paling depan, nanti susah kalo masuknya terakhir." Nita menarik kedua sahabatnya, kali ini dia tak mau berdebat dengan Vera, sudah muak dengan sikap gadis itu.
Nita sengaja menubruk tubuh Vera, "Minggir, dasar parasit!" ucapnya tanpa mau menatap wajah Vera yang terlihat kesal.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1