Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Pulang


__ADS_3

Pagi hari Ryu membawa Aisyah pulang, karena istrinya itu yang merengek sejak semalam. Padahal, sebenarnya Aisyah belum diijinkan untuk pulang hari ini. Wanita itu masih butuh perawatan intensif di rumah sakit hingga esok hari.


"Kamu pulang, tapi enggak boleh keluar kamar. Kamu harus banyak istirahat," ujar Ryu saat mereka akan meninggalkan rumah sakit.


"Iya sayang." Aisyah menimpali tanpa menatap Ryu, dia justru melihat kearah belakang. Entah apa yang sedang dia cari.


"Jangan iya iya aja, denger enggak apa yang aku bicarakan?" Ryu menghentikan kursi roda yang dia dorong, sebab mencurigai gerak gerik Aisyah.


"Kok berhenti?" tanya Aisyah heran.


"Kamu cari apa sih? Kok lihat ke belakang terus?" Ryu tidak menjawab, dia justru memberi pertanyaan berbeda.


"Aku takut ada yang ngikutin kita, kamu keliatan mencolok banget," jawab Aisyah. Dia khawatir seseorang yang memotret dirinya dan Ryu kemarin mengikuti mereka dan mendapatkan foto mereka berdua saat bersama.


"Enggak akan, dia tidak mungkin berani. Lagian enggak akan ada yang ngenalin aku kalau pake gini. Kamu lupa aku pakai apa sekarang?" Ryu kembali mendorong kursi roda tersebut karena sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.


Aisyah tersenyum, "Iya lupa," ucapnya. Wanita itu lupa jika saat ini, Ryu suaminya mengenakan gamis koko panjang, peci hitam dikepalanya ditambah kacamata hitam dan juga masker hita yang menutup mulut dan hidungnya. Persis sesuai permintaan Aisyah sebelum mereka pulang.


Aisyah tertawa saat mengingat permintaannya tadi yang disetujui oleh sang suami. Apalagi saat melihat penampilan Ryu saat ini, dia yakin tak akan ada yang mengenali lelaki itu, meski mereka menjadi perhatian setiap orang yang mereka lewati, mungkin karena pakaian Ryu yang aneh menurut mereka. Bisa jadi orang-orang itu mengira mereka adalah turis dari negara lain.


"Jangan mengejek ku seperti itu, atau aku buka masker dan kacamatanya sekarang!" ancam Ryu. Dia sebenarnya kurang nyaman berpakaian seperti ini, apalagi di area luar rumah dan dinegaranya sendiri. Mungkin, akan terasa berbeda jika berada di negara Aisyah, karena mayoritas penduduknya beragama muslim.


Aisyah sama sekali tak menggubris ucapan Ryu, dia masih saja terbahak bahkan hingga masuk ke dalam taksi. Yah, mereka sengaja memesan taksi supaya lebih aman tidak ada yang mencurigai, tetapi tetap saja beberapa pengawal mengikuti taksi mereka.


"Sayang, Mama chat aku, nanyain kondisi kamu. Aku jawab gimana?" tanya Ryu saat mereka sudah berada di dalam taksi.

__ADS_1


"Kamu bilang aku baik-baik saja gitu. Aku enggak mau Mama khawatir, nanti kalau sudah sembuh aku akan ceritakan semuanya," jawab Aisyah. Sejak semalam dia sengaja tak menghidupkan ponselnya, selain tak mau Mama menelpon dia juga tak mau melihat berita tentang dirinya dan Ryu yang beredar semalam.


"Bohong dong sama Mama. Kalau aku ketahuan bohong bisa dipecat jadi mantu, bagaimana?" ternyata Ryu tak langsung mengiyakan ucapan istrinya, sebab dia tak bisa berbohong dengan mama mertuanya itu.


"Biar aku yang balas, ini kebohongan untuk kebaikan. Kalau enggak bohong, Mama pasti langsung ke sini, dengan keadaan khawatir dan aku enggak mau itu terjadi." Aisyah mengambil ponsel Ryu dan membalas pesan Mamanya dari ponsel tersebut.


Tak lama mereka samapai di depan rumah Tuan Park. Rumah itu terlihat sepi, meski ada satpam di depan gerbang, tapi beberapa anak buah Tuan Park yang biasanya siaga di rumah itu kini entah kemana.


"Langsung ke kamar aja ya, nanti biar Bibi Cha yang nganter makanan," ajak Ryu. Dia menuntun istrinya hingga ke dalam kamar. Dia juga lelah ingin segera istirahat.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


Di tempat lain, di sebuah gedung yang terlihat terbengkalai tapi isi di dalamnya terlihat sangat mewah, seseorang sedang diinterogasi di dalam ruang peradilan. Seorang wanita paruh baya dan seorang lelaki yang umurnya hampir sama dengan wanita itu, terduduk lesu di lantai. Mereka berdua belum mau membuka suara.


"Kalian berdua memang cerdik, tapi saya lebih cerdik dari kalian." Tuan Park terbahak setelah menerima pesan dari seseorang.


"Lihatlah! Ini anakmu, dan ini cucu kecilmu." Tuan Park menunjukkan sebuah foto pada seorang lelaki yang sedang dia sandra.


"Tuan tolong jangan apa-apa kan mereka, aku akan mengatakan yang sejujurnya," lelaki itu mengiba, memohon supaya tak menyakiti keluarganya.


"Jangan sekali-kali kamu berbicara, atau istrimu akan celaka!" wanita paruh baya itu iku mengancam lelaki yang duduk disampingnya.


"Kamu mengancam dia? Kau teranyata memiliki keberanian yang luar biasa ya? Baiklah, aku tak akan bertanya lagi pada kalian berdua." Tuan Park berdiri dari sofa yang dia duduki tadi. Dia akan menyusun rencana, bagaimana bisa mendapatkan jawaban dari semua hal yang menjadi pertanyaannya sampai saat ini.


"Tuan, saya mendapatkan sebuah fakta kembali dan sepertinya fakta kali ini akan membuat Tuan bahagia." Seseorang itu menunjukkan ponselnya pada Tuan Park.

__ADS_1


"Kerja keras yang bagus! Saya memang sudah menduga sebelumnya, tapi belum terlalu yakin. Saya kira dia tak setega itu, ternyata dugaan saya salah selama ini," ucap Tuan Park.


"Jaga mereka berdua, jangan sampai mereka lepas. Saya akan kembali lagi nanti." Tuan Park meninggalkan gedung tersebut, dengan membawa kunci ruangan dimana kedua tahanan itu berada.


Tuan Park pergi meninggalkan gedung tersebut dengan pengawasan ketat. "Susun rencana untuk menangkap wanita itu, saya tidak percaya dengan polisi negara!" titah Tuan Park pada asisten pribadinya.


"Siap Tuan! Saya akan menyusun rencana yang akan membuat wanita itu terkejut dan tak menyangka jika, dia bisa kita dapatkan dengan mudah kali ini," sahut asisten itu.


Perjalanan mereka tak memakan waktu lama, karena beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan rumah Tuan Park. Lelaki itu langsung masuk ke dalam rumah, dia ingin memastikan bagaimana keadaan Aisyah karena Ryu baru sama memberitahu jika Aisyah sudah pulang. Baru saja dia akan menaiki anak tangga menuju kamar Aisyah, dia berpapasan dengan artnya.


"Bskerjalah dengan baik, maka aku akan memperlakikanmu dengan baik pula," ucap Tuan Park.


Art-nya itu menundukkan kepala tanpa menatap wajah Tuan Park. Tentu saja dia tak akan mungkin berani menatap wajah majikannya tersebut. "Baiklah Tuan, terima kasih atas kemuliaan hati Tuan, kalau begitu saya permisi." Wanita itu pun berlalu setelah Tuan Park menganggukkan kepala.


Tuan Park melanjutkan langkahnya menuju ke kamar Aisyah. Dia ingin memastikan keadaan perempuan muda itu. Setelah melihat Aisyah baik-baik saja, dia pun berpamitan kembali ke kamar.


"Syukurlah kalau kau sudah membaik, tapi tetap di kamar ya, sampai tubuhmu sehat," pesannya sebelum meninggalkan kamar Aisyah.


"Jangan lupa makanannya dimakan, tadi Ah In sudah mengantarkan makanan mu, itu ada di depan kamar." Setelah mengucapkan hal itu, Tuan Park benar-benar meninggalkan kamar Aisyah tanpa menyadari jika dia orang yang ada di dalam kamar itu terlihat terkejut mendengar perkataannya.


"Bibik In kembali ke sini lagi?" tanya Aisyah dan Ryu hampir bersamaan.


"Mungkin Paman salah ucap, sayang. Atau aku periksa dulu ke dapur." Ryu penasaran dia pun segera turun ke dapur untuk memastikan hal itu.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜

__ADS_1


__ADS_2