Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Sama Sekali Tak Berlebihan


__ADS_3

Agam memanfaatkan kesempatan, dia membalas pukulan Ryu di wajahnya, dan berlalu meninggalkan pemuda. "Lo cuma di manfaatkan sama mereka," ucapnya sebelum keluar dari pintu gerbang.


Ryu mengabaikan ucapan Agam, dia mendekati Aisyah yang sejak tadi mematung menatap dirinya dan Agam adu jotos. "Kamu baik-baik saja?" tanyanya.


"Iya, aku baik kok, tapi Mama...." Aisyah tak melanjutkan ucapannya, dia langsung berlari masuk ke dalam rumah.


"Mama." Aisyah memeluk wanita itu, dia tak sanggup melihat wajah Mamanya yang dipenuhi air mata.


"Udah Ma, jangan nangis! Aku enggak sanggup liat Mama nangis." Aisyah ikut menitikan air mata.


Mama mengangguk, lalu melepaskan pelukan mereka. Menatap wajah putrinya yang juga ikut menangis lalu menghapus air mata di wajah putrinya itu. "Maafkan Mama, semua ini salah Mama. Andai saja dulu Mama tidak menukar Agam dengan mu, semua ini pasti tidak akan terjadi padamu, sayang," tuturnya.


Ucapan Agam sama sekali tak membuatnya sakit, karena dia sering mendengar cacian seperti itu sejak dulu, bahkan hingga sekarang dari orang-orang yang mengenalnya di masa lalu. Akan tetapi dia menyesali keputusannya dahulu, menukar Agam dengan Aisyah hingga gadis itu harus menderita hidup bersamanya. Jika saja, dulu dia tak menukar kedua bayi itu, saat ini Aisyah pasti hidup bahagia dengan kedua orang tua lengkap.


"Mama tidak perlu minta maaf, semuanya sudah terjadi Ma, dan mungkin memang ini jalan kita," sahut Aisyah.


"Tetap saja Mama merasa bersalah denganmu sayang. Andai saja kalian tidak tertukar, kamu pasti akan hidup bahagia dengan kedua orang tua kandungmu." Mama mengusap puncak kepala Aisyah. Dia menatap mata putrinya itu penuh penyesalan.


"Tidak Ma, aku sama sekali tak menyesal hidup dengan wanita hebat seperti Mama. Jadi, aku mohon Mama jangan melelahkan diri sendiri terus." Aisyah kembali memeluk Mamanya. Dia justru tak bisa membayangkan bagaimana jika hidup mewah dengan kedua orang tuanya. Mungkin saja, dia akan menjadi anak manja.


"Sudah, kasihan Ryu. Dia dari tadi menunggumu." Mama melepaskan pelukan mereka.


"Mama masuk dulu. Kalian silahkan bicarakan apa yang perlu di bicarakan." Mama beranjak dari duduknya, seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran Ryu, hingga dia membiarkan dia sejoli itu untuk berbicara berdua.


"Apa yang terjadi?" tanya Ryu setelah Mama pergi.


Aisyah menghela nafas panjang, "Agam buat keributan, dia nuduh Mama yang tidak-tidak. Katanya Mama penyebab Bunda masuk rumah sakit dan banyak lagi. Dan aku tidak terima Mama dihina seperti itu. Aku melawan. Aku juga mengatakan yang sebenarnya kalau dia anak Mama, tapi ya dia sepertinya tidak percaya dan nuduh aku memanfaatkannya." Aisyah mengakhiri ceritanya.


"Kenapa dia tahu rumah ini? Apa dia pernah kesini sebelumnya?" Ryu terlihat seperti seorang pencari berita yang ingin mengetahui semua hal yang terjadi.


"Aku juga enggak tahu, saat aku tanya tadi katanya banyak cara menemukan rumah ini, gitu. Entahlah, dia dapat alamat dari mana, dan dia bisa menuduh Mama seperti itu juga aku enggak tahu dia tahu dari siapa?" jawab Aisyah.

__ADS_1


"Beneran?" Ryu ternyata belum begitu percaya, dia masih teringat akan ucapan Agam tadi.


"Kamu enggak percaya? Apa aku kelihatan berbohong?" Aisyah tak menyangka jika Ryu tidak memeprcayainya, padahal sejak dulu penuda itu selalu percaya dengan dirinya.


"Aku cuma sedikit terusik dengan ucapan Agam," sahur Ryu.


"Apa? Kamu percaya dengan ucapan dia, kalau aku hamil?" Aisyah menggelengkan kepala, makin tak percaya dengan pemikiran Ryu.


"Selama ini kita selalu bersama, dan kamu lebih percaya ucapan Agam? Ryu! Dia cuma pengen mengadu domba kita, dia pengen kita hancur!" Aisyah naik pitam, dia marah dengan kekasihnya yang percaya begitu saja dengan ucapan Agam.


"Sama saja kau menuduhku berselingkuh." Aisyah melipat kedua tangannya di depan dada, sambil melirik Ryu sekilas lalu membuang muka.


Ryu mengheka nafas, "Bukan begitu sayang, kenapa aku terusik dengan ucapannya, alasannya karena dia bisa berasa di sini, apalagi saat aku tak ada bersama mu," dia beranjak dari tempat duduknya lalu mendudukkan diri di samping Aisyah.


"Maafkan aku, sudah tidak percaya dengan mu." Tanpa ragu, Ryu memeluk Aisyah membuat gadis itu gelagapan.


"Ih jangan gini! Nanti Mama lihat, aku enggak enak." Aisyah melepaskan diri dari pelukan Ryu. "Iya aku sudah memaafkan mu," lanjutnya.


"Oke, aku enggak akan meluk kamu lagi kalau gitu." Aisyah melipat kedua tangan di depan dada, pura-pura ngambek.


"Kamu kalau lagi ngambek gini makin cantik, jadi pengen nyium." Ryu sengaja menggoda Aisyah seperti biasa.


"Ryu!" Aisyah berteriak, selalu saja dia tergoda dengan ucapan kekasihnya itu.


"Sekarang aku tanya, kamu dari mana aja sih? Jam segini baru datang?" Kali ini Aisyah yang menjadi wartawan, mengorek informasi dari kekasihnya.


"Ketemu Papa kamu. Aku meninta restu padanya, dan banyak hal lain yang kami bicarakan. Aku tak mau Papa mu memandang diriku sebelah mata, karena mau menikahi putrinya tetapi tidak meminta restu padanya," jelas Ryu.


"Kata Agam, Bunda di rumah sakit? Kok Papa bisa datang?" tanya Aisyah.


"Papa kamu bilang Bunda sudah dibawa pulang semalam, tidak ada hal yang perlu di khawatirkan katanya. Hanya kecapean. Papa cerita seperti itu, karena tadi Papa terlihat lelah sekali," jawab Ryu.

__ADS_1


"Syukurlah, lalu apa yang membuat Bunda masuk rumah sakit?" Aisyah kembali bertanya.


Ryu mengheka nafas panjang, "Ternyata selama ini Bunda tahu kalau Papa datang ke sini, dan mengira Papa selingkuh, mungkin seperti yang Agam katakan. Lalu semalam mereka bertengkar hebat dan Bunda pingsan," jawabnya.


"Apa mungkin Agam mendnegar pertengkaran mereka? Terus mencari tahu tentang Mama dan aku?" Aisyah menerka.


"Mungkin, terus dia melacak nomor kamu," sahut Ryu.


Aisyah mengangguk, membenarkan ucapan Ryu. Dia sama sekali tak berfikir sampai di situ dan melupakan jika Agam memiliki nomor ponselnya.


"Nanti Papa akan ke sini, untuk membahas semuanya bersama. Aku mohon kamu jangan bahas Agam dulu ya, aku ingin pernikahan kita berjalan lancar, meskipun tidak di rayakan dengan mewah." Ryu menggenggam tangan Aisyah, dia takut jika kekasihnya itu akan kembali murka jika bertemu dengan Papanya.


"Baiklah, semoga aku bisa menahan emosi," jawab Aisyah.


"Harus bisa sayang, demi kita. Aku tak ingin kamu hidup dalam tekanan seperti ini terus. Aku ingin mengajakmu tinggal di negaraku bersama Mama. Kamu juga coba bujuk Mama supaya mau ikut dengan kita, ya." Pinta Ryu.


Aisyah mengangguk, "Aku juga berfikir seperti itu, semoga Mama mau ikut kota hidup disana, biar enggak diganggu terus sama mereka," ucapnya.


"Bentar, aku punya sesuatu untukmu." Ryu melepaskan tautan tangan mereka, dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


"Saat kemarin aku melamar mu, aku belum memberikan apa-apa. Jadi, terimalah ini sebagai tanda jadi kita, jika aku sudah melamar mu." Ryu memberikan kotak bludru berwarna biru dengan ukuran cukup besar.


"Ini berlebihan sayang." Aisyah taknub saat membuka kotak tersebut. Seperangkat perhiasan emas bermata berlian terlihat berkilau di dalam kotak tersebut.


"Untuk gadis yang sangat aku cintai, ini sama sekali tidak berlebihan. Biar aku pakaikan." Ryu meraih sebuah kalung dan memekaiakan kalung tersebut di leher Aisyah yang tertutup hijab.


"Cantik sekali, seperti yang memakai." Dia tersenyum menatap Aisyah yang terlihat cocok mengenakan kalung tersebut.


"Aku tidak sabar melihatmu memakai kalung ini tanpa kerudung." Ryu mengedipkan sebelah matanya menggoda Aisyah.


"Ryu!" teriak Aisyah tak suka. Sedangkan Ryu terbahak mendengar teriakan kekasihnya itu.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2