
Beberapa bulan berlalu, kehidupan sepasang suami istri itu masih sama. Hari-hari mereka lalui dengan bekerja dan kuliah, tetap masih tinggal di rumah mewah tuan Park. Tak ada sesuatu yang mencurigakan disana, bahkan Aisyah sangat yakin, jika tak ada pelaku yang meracuni putri tuan Park di rumah itu.
"Apa kau seyakin itu, Nak?" tanya Tuan Park pada Aisyah yang saat ini sedang duduk di sofa kamar tuan Park bersama Ryu.
Aisyah mengangguk, "Iya Paman, aku sangat yakin. Mereka semua tak ada yang mencurigakan sama sekali," sahutnya.
Tuan Park mengangguk, "Paman rasa mereka ada yang mengetahui rencana kita, hingga membuatmu tak mencurigai seorang pun," ucapnya.
"Maaf Paman, tapi aku mencurigai seseorang. Maaf jika nanti Paman tak setuju dengan orang yang aku curigai itu." Ryu menimpali, sebab dia tidak sependapat dengan istrinya.
"Katakan saja siapa dia?" Tuan Park menatap Ryu, lekat.
"Asisten pribadi anda," jawab Ryu sangat yakin.
Tuan Park mengangguk, "Saya memang mencurigainya sejak dulu, tapi belum pernah memastiiannya, karena saya masih yakin kalau dia setia," menatap Aisyah dan Ryu bergantian, "baiklah, saya akan mencari tahu hal itu. Terima kasih, kalian boleh kembali ke kamar," lanjutnya.
Sepasang suami istri itu pun kembali ke kamar. Aisyah masih memikirkan ucapan Ryu dan Tuan Park, dia sama sekali tak mencurigai aspri Tuan Park itu. Dia lebih percaya jika sang aspri masih setia hingga kini.
"Kenapa kamu diam, sayang?" tanya Ryu saat mereka sudah memasuki kamar.
"Aku hanya tak percaya dengan kecurigaan kalian. Menurutku kecurigaan kalian tak beralasan." Aisyah duduk di atas rajang sambil menatap sang suami yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Aku memiliki alasan tersendiri kenapa mencurigainya." Ryu ikut duduk di samping Aisyah.
"Apa itu?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Aku pernah beberapa kali melihat dia menerima telepon dan bersembunyi, itu terjadi bukan di rumah tapi di kantor. Aku juga pernah melihat dia memesan ruang private di sebuah resto dengan seseorang yang tak aku kenal. Itulah alasanku mencurigainya," jelas Ryu.
Aisyah mengangguk, dia mengerti sekarang mengapa Ryu mencurigai aspri Tuan Park tersebut. "Semoga aja bukan dia, sebab Paman pasti tak akan memaafkannya sedikit pun, karena dia lah yang mengetahui hampir seluruh rahasian Paman Park," ucapnya.
"Iya, aku pun berdoa seperti itu," sahut Ryu.
💜💜💜💜💜
Beberapa hari berlalu setelah kejadian malam itu. Sore ini Aisyah sedang duduk santai di tepi kolam renang, dia sedang menunggu kedatangan sang suami yang katanya akan pulang lebih awal hari ini. Di tangannya memasang sebuah buku yang dia pinjam dari salah satu teman kampusnya.
"Nona sedang apa? Boleh bibi bicara sebentar?" seorang asisten rumah tangga berdiri tepat dihadapannya.
"Ah Bik In, boleh banget silahkan Bibi mau ngomong apa?" Aisyah meletakkan bukunya diatas meja dan memperhatikan asisten rumah tangga itu.
"Aku yakin Paman tak akan keberatan jika bibi pulang, Paman sudah menganggap bibi seperti saudara sendiri, kan? Karena saking lamanya bibi di sini," sahut Aisyah.
Setelah berbasa-basi cukup lama, bibi pun berpamitan untuk pulang. Aisyah mengantar bibi hingga wanita itu keluar gerbang, tetapi dia sedikit bingung dengan barang bawaan bibi yang begitu banyak, seperti tidak akan kembali ke rumah ini lagi. Merasa tak mau ikut campur, Aisyah pun hanya diam tanpa menanyakan keanehan tersebut.
Aisyah kembali masuk ke dalam rumah, dia masih menunggu kedatangan Ryu. Akan tetapi hingga waktu makan malam tiba, suaminya itu belum juga terlihat batang hidungnya, padahal dia sudah sangat lapar. Akhirnya dia pun memutuskan untuk makan malam lebih dahulu.
Aisyah menatap isi meja makan yang sudah tersaji beberapa makanan, entah kenapa selera makannya mendadak hilang melihat semua makanan itu. Meski begitu dia terpaksa memakan makanan tersebut meski hanya sedikit, karena perutnya sangat lapar. Baru saja dia akan menyuapkan sendok ke dua ke dalam mulutnya, teriakan seseorang dari arah depan membuatnya mengurungkan niat.
"Stop! Nona hentikan!" Bibi Cha baru saja tiba, entah dari mana wanita paruh baya itu. Penampilannya yang cukup berantakan membuat Aisyah langsung menghampiri wanita itu.
"Bibi kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada bibi tak penting Non, sekarang yang penting keselamatan Nona. Bibik tanya apa Nona sudah makan makanan itu atau belum?" wajah bibi terlihat penuh kekhawatiran.
"Baru satu suapan Bi, memangnya kenapa ya?" tanya Aisyah.
Bibi Cha tak menjawab, "Sekarang kita ke rumah sakit, Nona harus segera diselamatkan." Tanpa berpikir panjang, Bibi Cha menarik Aisyah keluar dan langsung menyuruh sopir untuk mengatur mereka ke rumah sakit.
"Ada apa ini Bik? Kenapa aku harus ke rumah sa...aduh kepalaku sakit Bik!" Aisyah memegang kepalanya yang terasa begitu berat, dia tak mengerti dengan keadaanya saat ini.
"Cepatlah kita harus segera sampai di rumah sakit! Jangan sampai terjadi sesuatu dengan Nona!" Bibi Cha berteriak tepat di belakang kepala sopir.
Kepanikan melanda Bibi Cha dan juga sopir tersebut ketika Aisyah tak sadarkan diri. Meski begitu, Bibi tak lupa menghubungi Tuan Park dan juga Ryu. Membuat dia lelaki itu terkejut bukan main.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit. Aisyah pun langsung dibawa ke IGD untuk diperiksa lebih lanjut. Bibi Cha berharap tak terjadi apapun pada Aisyah, dia tak mau Aisyah mengalami hal yang sama seperti putri Tuan Park beberapa tahun lalu.
"Bi apa yang terjadi pada Aisyah, dan kenapa penampilanmu seperti itu?" Tuan Park yang datang lebih dahulu langsung memberondong pertanyaan pada asisten rumah tangganya itu.
"Tuan, maafkan saya. Saya terlambat, saya hanya berharap Nona Aisyah selamat, jika tidak Tuan bisa menghukum saya." Bibi Cha merasa sangat bersalah, dia tak akan sanggup jika terjadi sesuatu pada Aisyah.
"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Tuan Park.
"Tuan harusnya saya memberi tahu hal ini beberapa waktu yang lalu, tapi saya belum punya bukti kuat, jika Ah-In terlibat dalam insiden kematian putri anda. Dia sepertinya juga akan melakukan hal yang sama pada Nona Aisyah dengan memasukkan racun di dalam makanan yang dia masak." Bibi Cha menunduk tak berani menatap Tuan Park.
"Sudah satu minggu lebih dia mengurung saya di sebuah rumah tua yang tak berpenghuni, tapi saya berhasil kabur tadi siang dan saat saya sampai rumah, ternyata Ah-In sudah kabur dengan membawa semua barang miliknya. Saya menyesal karena terlambat, ditambah saya melihat Nona Aisyah sedang makan hasil masakan dia, dan sekarang berakhir di rumah sakit," tanpa terasa air mata mengalir dari kedua bola mata bibi Cha.
💜💜💜💜
__ADS_1