
Kejadian sebelum Ryu datang ke apartemen Aisyah.
Ryu berpamitan dengan keempat sahabatnya untuk pulang lebih awal, karena latihan sore ini sudah cukup dan malam minggu saatnya mereka untuk libur menghabiskan waktu dengan keluarga atau kekasih mereka masing-masing.
"Kau sudah tak sabar bertemu kekasih mu itu?" tanya Sam saat Ryu berpamitan lebih dahulu.
"Tentu saja, tapi aku ada urusan lain sebelum bertemu dengannya," jawab Ryu.
Mereka hanya berdua saja karena Sam mengikuti Ryu keluar dari tempat mereka latihan.
"Yah, sebenarnya kita berempat mau pesta kecil-kecilan, harusnya kau ikut serta Ryu." Sam memang baru saja memberitahu hal ini, sebab dia mengira Ryu bisa ikut dengan mereka sebelum bertemu kekasihnya.
"Nanti aku akan menyusul, katakan kalian mau pesta dimana?" Ryu merasa tak enak jika sering tak ikut bergabung dengan keempat sahabatnya. Bertemu Aisyah masih bisa dia lakukan esok hari, bahkan seharian jika dia mau.
"Seperti biasa, kita tak punya tempat lain. Jam delapan malam kalau bisa kau harus sampai di tempat itu!" teriak Sam karena Ryu hampir masuk ke dalam mobilnya.
"Baiklah, akan aku usahakan. Aku pergi dulu!" Ryu meninggalkan area parkir HS menuju rumah Ayahnya.
Ya, dia berencana untuk menemui Ayahnya itu, karena lelaki itu tersebut terus meneror dirinya. Meski dia tahu apa yang akan lelaki tua itu lakukan padanya, tetap saja dia harus datang sebelum Ayahnya itu berbuat hal lebih.
"Dimana Tuan Kim?" tanyanya pada seorang penjaga di rumahnya.
"Maaf Tuan Muda, Tuan Kim belum kembali dari perusahaan," jawab penjaga tersebut.
Ryu tak lagi tertarik berbicara dengan penjaga tersebut, dia langsung masuk ke dalam rumah. Tatapannya menelisik seluruh isi rumah tersebut, terutama foto keluarga yang ada di ruang tamu, foto itu sudah diganti, padahal baru satu tahun dia meninggalkan rumah tersebut, tapi rumah itu sudah tak lagi sama seperti setahun lalu.
__ADS_1
"Ternyata wanita itu sudah menjadi Nyonya di sini? Baiklah, aku tak peduli." Dia kembali melanjutkan langkah menuju kamar miliknya yang sudah setahun tak dia kunjungi.
Sepertinya hanya kamar itu saja yang tidak berubah, masih sama seperti dulu. Mungkin tak ada yang berani menyentuh kamar milik Tuan Muda di rumah itu, ya meskipun ada Tuan Muda lain disana.
"Ibu, kau baik-baik di sana ya? Aku janji akan merebut semua milikmu, tapi tidak sekarang," gumamnya saat melihat foto Ibunya yang sudah lama meninggalkan negara itu dan kembali ke negara asalnya.
"Aku tidak rela wanita itu bersenang-senang diatas penderitaan mu, Bu." Tanpa terasa air matanya menetes saat mengingat bagaimana sakit hatinya sang ibu dahulu.
Cukup lama Ryu menunggu kedatangan Ayahnya, hingga malam menjelang lelaki tua itu baru kembali dari perusahaannya. Saat menyadari putranya datang, sebuah senyuman terbit dari bibirnya.
"Panggilkan putraku, suruh dia ke ruang kerja ku!" titahnya pada sang asisten.
Tak berapa lama Ryu datang, dengan santainya dia duduk di sofa yang ada di ruang kerja ayahnya itu, "Ada apa, katakan saja waktuku tidak banyak?" tanyanya dengan wajah dingin dan datar.
"Dasar anak kurang ajar! Harusnya kau memberi ayahmu pelukan rindu, bukan sikap dingin dan datar seperti itu!" hardik ayahnya yang memang tak menyukai sikap Ryu yang seperti menantangnya.
Brakk!
Tuan Kim menggebrak meja kerjanya dengan keras, dia tak terima dengan ucapan putranya. "Kau semakin berani Jung! Apa karena tua bangka itu?!" tanyanya dengan membentak.
"Bukan karena siapapun, itu semua murni kemauan ku, kenapa?" tantang Ryu.
"Cepat katakan apa yang ingin kau katakan! Atau aku akan pergi dari sini!" Ancam Ryu sebab Ayahnya sejak tadi belum mengutarakan apa yang ingin dia katakan.
Dan hal yang sudah dia duga pun terjadi, sang Ayah menampar wajah tampannya, dan dia hanya tersenyum tersenyum miring mendapat perlakuan seperti itu.
__ADS_1
"Itu pelayanan karena kau membentak ayah mu," ucap tuan Kim dengan entengnya.
"Jung, pemegang saham ingin sekali bertemu dengan mu, hari rabu depan kau harus datang ke perusahaan, atau Ayah akan menghancurkan kegiatan yang sudah kau dan teman-teman mu susun!" ucap tuan Kim disertai ancaman.
Ryu berdecak sebal, "Aku tak peduli, aku tak menginginkan harta itu sepeser pun, jadi untuk apa aku menemui mereka? Dan untuk ancaman mu, aku tak takut." Sahutnya.
"Brengsekkk! Kau memang tak bisa diandalkan!" sebuah tamparan kembali mendarat di pipi Ryu, tapi pemuda itu hanya tersenyum miring, tak berniat membalasnya.
"Sudah tahu aku tidak bisa diandalkan masih saja kau mengharapkan ku, untuk apa?" tanya Ryu yang sebenarnya sudah mengetahui apa jawabannya.
"Bilang saja ke para pemegang saham, kalau putra kesayangan mu itulah pewaris tunggal kekayaan mu, mereka pasti percaya. Tak usah lagi libatkan aku dalam urusan ini, karena sampai kapan pun aku tak akan mau mengikuti keinginan mu," jelas Ryu.
"Baiklah jika itu mau mu, jika kau tak datang ke perusahaan rabu depan, jangan harap kau masih bisa melihat kekasih mu yang aneh itu!" tuan Kim kembali mengancam, dia akan terus melakukan hal itu sebelum Ryu menyetujui permintaannya.
"Sial! Jangan kau libatkan dia dalam masalah ini! Dia tidak tahu apapun! Kalau kau melibatkan dia, aku tak akan pernah mau datang ke perusahaan itu sampai kapan pun! Lebih baik harta itu jatuh ke tangan anak yatim dari pada ke tangan mu!" Ryu tak terima dengan ancaman Ayahnya kali ini, dia tak mau Aisyah terlibat dalam masalah keluarganya.
"Ternyata kau sangat mencintai perempuan itu ternyata." Tuan Kim tertawa puas, dia sudah menemukan senjata untuk mengancam Ryu selain karirnya di dunia entertainment.
"Jangan pernah kau menyentuhnya seujung kuku pun! Karena aku akan membalas mu!" ancam Ryu, meski khawatir dengan Aisyah dia tetap masih berani mengancam Ayahnya, berharap lelaki tua itu berhenti mengganggu Aisyah.
Tuan Kim tertawa puas, "Pengawal, bawa dia keluar dan beri dia sedikit hadiah kasih sayang dari ku, karena dia telah berani mengancam ayahnya sendiri!" titahnya pada pengawal yang sejak tadi ada di depan pintu.
Pengawal itu pun menuruti perintah atasannya, dia mulai menyerang Ryu dan kali ini Ryu tak membiarkan pengawal itu seenak jidatnya untuk memukul dirinya. Ryu membalas pukulan tersebut hingga terjadilah pertarungan itu. Keduanya sama-sama terluka, dan Ryu puas dengan hasil karyanya karena telah mengalahkan pengawal tersebut.
"Lain kali carilah pengawal yang memiliki tenaga, dia terlalu lemah!" Ucao Ryu sebelum meninggalkan rumah mewah itu.
__ADS_1
💜❤️🔥💜❤️🔥💜