Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Menikmati Waktu Bersama Mama


__ADS_3

Pagi menjelang, Aisyah dan sang Mama saat ini sedang berada di dapur. Ibu dan anak itu sedang asik meracik masakan untuk sarapan mereka berdua, sambil mengobrol ringan. Aisyah mengupas bawang, sedangkan sang Mama mencuci sayur dan daging.


"Ma, Ryu bilang Tuan Park akan kesini kalau kita nikah, Mama mau kenalan enggak? Meskipun sudah berumur dia masih gagah lho Ma, masih ganteng juga," celetuk Aisyah tiba-tiba.


"Kalau kenalan ya pastilah, dia kan datang sebagai orang tua Ryu. Tapi maksud kamu dia gagah dan ganteng itu apa?" Mama menatap putrinya penuh selidik.


Aisyah tersenyum tak jelas, "Siapa tahu Mama tertarik sama dia. Kalau Mama nikah sama Tuan Park, tanpa menjadi anak angkatnya secara otomatis aku udah jadi anaknya, kan?" ujarnya.


"Ngawur kamu! Mama sudah tua dan tidak pernah berfikir untuk menikah lagi. Cukup Mas Satria yang jadi suami Mama. Lagian, kamu itu mau jodoh-jodohin orang sembarangan, Tuan Park juga mana mungkin mau sama Mama," sahut Mama.


"Siapa tahu dia mau Ma. Tuan Park juga memiliki kepercayaan yang sama dengan kita. Aku baru tahu semalam, Ryu yang bilang." Aisyah menatap sang Mama yang masih berdiri di depan wastafel.


"Kesempatan langka lho Ma, nikah sama duren plus kaya raya," lanjutnya.


"Udah, enggak usah ngawur! Itu kalau sudah selesai ngupas nya, sini Mama cuci, terus kamu potong daging sama sayurnya." Mama meletakkan sayur dan daging yang sudah di cuci diatas meja depan Aisyah.


"Siap Ma, potong seperti biasa, kan?" tanpa menunggu jawaban sang Mama, Aisyah sudah mengeksekusi sayuran dan daging itu.


"Mah, aku nanti ikut ke tempat kerja yah," ucap Aisyah setelah mereka terdiam cukup lama.


"Bukannya Ryu mau ke sini?" Mama menatap putrinya menunggu jawaban.


"Ryu datangnya agak siangan, katanya mau pergi dulu, tapi enggak tahu kemana, aku enggak dikasih tahu," jawab Aisyah.


"Yaudah, nanti boleh ikut Mama. Lagian Mama juga cuma sebentar, mau lihat laporan bulanan aja," jawab Mama.


Selesai semua urusan di rumah, mereka pun berangkat ke tempat usaha Mama Winda, dengan kenaikan sepeda motor. Aisyah bertemu banyak orang yang menyapanya, karena dia sudah lama tak pulang. Dia juga bertemu dengan beberapa teman saat masih sekolah dulu. Tak lama mereka sampai di garment kecil-kecilan milik Mama Winda.


Aisyah mengobrol dengan salah satu karyawan yang sudah dia kenal, sebab beberapa dari karyawan Mama ada yang tak dikenalnya. "Mbak Nina, kenapa enggak tinggal bareng Mama lagi?" tanya Aisyah, sebab beberapa waktu lalu, perempuan yang dia tanyain itu masih tinggal di rumahnya.

__ADS_1


"Aku ngontrak sama suami, Ais. Enggak enak dong kalau tinggal di rumah ibu sama suami ku," jawab wanita bernama Nina itu.


"Loh mbak Nina sudah nikah ternyata, kok enggak kabar-kabar sih?" Aisyah menatap wanita yang sedang memasang kancing baju itu.


"Mau ngabarin paling juga kamu enggak dateng," jawab Nina.


"Iya sih, tapi setidaknya aku bisa kirim doa buat Mbak Nina dan suami," sahut Aisyah.


"Doakan sekarang aja, semoga lekas dapat momongan. Aku sudah enggak sabar gendong bayi," ujar Nina.


"Baiklah, semoga Mbak Nina lekas hamil biar aku bisa gendong anaknya." Aisyah menengadahkan kedua tangan seperti sedang berdoa.


"Amin, semoga kamu lekas nikah dan gendong anak sendiri," timpal Nina membuat mereka berdua tertawa bersama.


Cukup lama Aisyah mengobrol dengan wanita muda bernama Nina itu. Selain karena umur mereka yang hanya terpaut dua tahun, mereka juga sudah akrab sejak dulu, bahkan seringkali Nina yang menjemput Aisyah pulang sekolah.


"Nin, saya pulang dulu ya. Kuncinya kamu yang bawa, besok saya belum tentu bisa datang lebih pagi. Ada dia soalnya." Mama menatap Nina dan beralih menatap Aisyah.


"Iya Bu, hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut Ais! Ingat kamu belum kawin." Mbak Nina terbahak setelah mengatakan hal itu karena berhasil mengerjai Aisyah.


"Mbak Nina!" seru Aisyah, dia hanya mengacungkan kepalan tangan tanpa menghampiri Nina, karena Mama Winda sudah menunggu.


"Kamu ini, Mbak Nina lebih tua dari kamu lho, ingat itu. Enggak sopan kaya gitu," tegur Mama, seakan Aisyah anak kecil yang sedang melawan orang tua, padahal Aisyah hanya bercanda.


"Iya Ma," Aisyah tak ingin memeperpanjang masalah tersebut hingga dia memilih untuk mengalah saja.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


Sudah hampir tengah hari, tetapi Ryu tak kunjung muncul. Padahal pemuda itu mengatakan akan makan siang di rumah Aisyah. Mungkin Ryu sedang ada urusan lain atau dia melupakan janjinya, sebab hingga saat ini pemuda itu tak bisa dihubungi.

__ADS_1


"Mungkin itu Ryu, coba sana kamu buka. Mama yang akan melanjutkan." Mama mengambil alih pekerjaan Aisyah yang hampir selesai, dia menyuruh putrinya membuka pintu karena terdengar bel dari luar.


Aisyah berjalan tergesa menuju pintu utama. Sebelumnya dia sudah mencuci tangan dan wajahnya, sebab tak ingin kekasihnya mencium aroma dapur dari dirinya. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman terbaik untuk menyambut sang kekasih. Akan tetapi saat membuka pintu tersebut, dia justru terkejut akan siapa yang datang.


"Loh, kamu tahu rumahku? Ah, silahkan masuk. Aku kaget lihat kamu ada di sini." Aisyah membuka pintu lebar-lebar dan mempersilakan tamunya untuk masuk.


Seseorang itu pun masuk dengan wajah sulit diartikan. Aisyah tak bisa menebak pasti apa yang terjadi pada seseorang itu hingga dia berubah tak seperti biasanya, tetapi dia tak berani menanyakan hal itu.


"Mau minum apa? Biar aku buatin," tanya Aisyah saat seseorang itu sudah duduk.


"Tidak usah," jawabnya datar.


Aisyah makin bingung dengan orang tersebut, biasanya saat bertemu dengannya, orang itu langsung terlihat ramah, tetapi kenapa saat ini terlihat cuek dan seperti tak menyukainya?


"Ryu di suruh langsung ke sini aja, sayang." Suara Mama terdengar dari dalam rumah, masih mengira jika yang datang adalah Ryu.


"Sebentar ya, aku masuk dulu." Aisyah beranjak dari duduknya untuk menghampiri sang Mama.


"Bukan Ryu Ma, tapi Agam. Mama ayo temui dia. Pasti Mama penasaran, kan?" ujar Aisyah.


Winda terkejut mendengar ucapan Aisyah. Tak pernah menyangka jika putranya akan datang ke rumah ini tanpa di undang. Apakah dia siap bertemu dengan putranya? Atau dia harus bersabar lebih lama lagi untuk menemui putranya tersebu? Hatinya bimbang, hingga akhirnya dia mau tak mau memilih untuk menemui putranya.


"Kamu yang nyuruh dia datang ke sini?" tanya Mama.


Aisyah menggeleng, "Enggak sama sekali Ma, entah dia tahu dari siapa alamat rumah ini," jawabnya.


"Yaudah, ayo kita temui dia. Bismillah, semoga Mama kuat melihatnya." Keduanya pun keluar dari dapur menuju ruang tamu guna menemui Agam yang datang tanpa pemberitahuan dengan berbagai misteri yang dibawanya.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜

__ADS_1


__ADS_2