
Setelah pertemuan beberapa hari yang lalu, Ryu jarang sekali menghubungi Aisyah karena dia harus benar-benar mempersiapkan konser tunggal perdana mereka setelah sekian lama. Biasanya Ryu akan menelpon Aisyah malam hari setelah selesai latihan, tapi beberapa hari ini pemuda itu tak menelponnya, hanya memberi kabar lewat pesan, itu pun jarang sekali. Aisyah tak masalah dengan hal itu, dia mengerti seperti apa kesibukan kekasihnya menjelang konser mereka.
Akhir-akhir ini Aisyah justru sering menghubungi Mamanya, dan juga kedua sahabatnya yang berada di negaranya. Dia menceritakan banyak hal, salah satunya tentang hubungan dengan Ryu, membuat kedua sahabatnya merasa iri akan keberuntungan Aisyah. Mereka bahkan ingin menyusul Aisyah, tapi sepertinya tak memungkinkan.
Siang ini Aisyah baru saja pulang dari kampus, tapi baru saja masuk ke dalam apartemen, bel berbunyi. Dia pun segera membuka pintu kembali. Dan terkejut saat mendapati siapa yang datang siang menjelang sore itu.
"Kak Bella! Kamu datang kenapa tidak bilang sih?" Aisyah langsung memeluk tubuh wanita cantik yang ada di hadapannya.
"Pasti kamu mau mesen makanan buatan Mama kamu, kan? Tapi sayangnya aku datang juga mendadak, baru diberitahu dua jam sebelum berangkat." Bella membalas pelukan Aisyah.
Merasa tak nyaman berpelukan di depan pintu, akhirnya mereka berdua masuk ke dalam apartemen Aisyah.
"Nazwa, kenapa kamu pindah apartemen? Bukannya yang waktu itu sangat nyaman ya, dan punya kamar lebih dari satu, kalau gini kan aku harus nginep di hotel kalau kesini." Omel Bella saat melihat apartemen Aisyah yang baru pertama kali dia lihat.
"Ah di sana serem Kak, apalagi setelah Kak Bella pulang ada yang bundir, aku kan takut. Selain itu sewanya juga cukup mahal, di sini nyaman kok. Kita bisa berbagi tempat tidur," jawab Aisyah.
"Sepertinya tidak bisa, aku kesini cuma mampir. Harus jadi pengawal nyonya besar dan putranya berlibur, lain kali aku akan menginap di sini," tolak Bella.
Aisyah mengangguk, "Terus mereka dimana sekarang? Enggak tahu kalau Kak Bella ke sini, kan?" tanya Aisyah khawatir.
"Tentu saja tidak dong, tahu ada kamu di negara ini aja akan sangat berbahaya, apalagi kalau tahu aku nemuin kamu. Sekarang mereka sedang istirahat dan nanti malam minta diajak keluar makan malam. Jadi, aku akan kembali sebelum mereka mencariku," jawab Bella.
"Syukurlah kalau begitu, aku tak mau memiliki masalah dengan mereka, bukan apa-apa, aku hanya kasihan sama Mama." Aisyah teringat akan kehidupannya bersama sang Mama sebelum dia berangkat ke negara ini, dia tak mau kehidupan bahagia dia dan sang Mama akan terusik.
"Kamu enggak iri gitu mereka liburan? Sedangkan kamu enggak?" tanya Bella hati-hati.
__ADS_1
Aisyah menggeleng, "Enggak sama sekali Kak, kuliah di sini dengan tenang aja aku bahagia banget, dan mereka juga liburannya ke negara yang aku tempati saat ini, untuk apa iri coba? Aku bahkan bisa pergi kapan pun semua ku," jawabnya.
"Benar juga ya." Bella terkekeh mendengar ucapan Aisyah.
Bella hanya sampai sore di apartemen Aisyah, dia berpamitan sebelum senja. Sebab tak ingin kedua majikannya itu mencari dirinya di kamar hotel.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
Sabtu malam, Aisyah ada janji dengan Ryu di sebuah resto cafe. Dia sengaja datang lebih awal karena tak mau kekasihnya itu menunggu. Apalagi Ryu mengatakan jika dirinya hanya memiliki waktu sebentar untuk bertemu dengannya, sebab harus mempersiapkan banyak hal sebelum tampil minggu depan.
Aisyah turun dari sebuah bus, dia menunggu Ryu di luar cafe tersebut yang kebetulan ada sebuah kursi dekat taman. Melihat sekeliling cukup ramai dengan banyaknya pengunjung, dia jadi khawatir jika bertemu Ryu di tempat ramai seperti ini. Saat baru saja duduk, tiba-tiba seseorang menyapanya.
"Hai, apa kamu sama seperti ku yang berkunjung ke negara ini untuk berlibur?" tanya seorang pemuda yang langsung duduk di samping Aisyah.
"Kenapa kamu bisa tahu jika kita dari negara yang sama?" tanya balik Aisyah, sebab pemuda itu berbicara menggunakan bahasanya.
"Ah begitu ya? Tapi aku tidak sedang berlibur di sini, aku memang tinggal di sini," Aisyah menjawab pertanyaan pemuda itu yang belum dia jawab.
"Oh begitu ya? Kuliah atau bekerja? Tapi sepertinya terlalu muda jika sudah bekerja," sok tahu sekali pemuda yang belum mengenalkan dirinya itu.
Aisyah mengangguk, "Aku kuliah," jawabnya singkat.
"Wah, seru pasti kuliah di negri ini." ujar pemuda itu.
"Ehm, kenalin aku Agam, sedang berlibur di sini, tapi tak memiliki teman untuk berkeliling, kapan-kapan boleh lah kamu mengajak ku untuk jalan-jalan." Agam menyodorkan tangannya di hadapan Aisyah.
__ADS_1
Aisyah terdiam, dia tidak mencerna semua ucapan pemuda bernama Agam itu, dia hanya terus berfikir setelah mendengar nama Agam, apakah dia Agam yang sama? Tapi Bella bilang dia sudah pulang, apa mungkin Agam masih berada di negara ini seorang diri? Banyak pertanyaan yang muncul di kepala Aisyah.
"Hei, kamu melamun? Boleh kenalan kan? Siapa nama mu?" Agam masih berusaha ingin mengetahui nama gadis yang duduk di sebelahnya itu, sebab dia ingin memiliki teman dari negara yang sama di negara orang ini.
"Kamu tidak boleh seperti itu? Kalau dia tak mau jangan memaksa." Suara seseorang menggunakan bahasa asing yang berasal dari arah belakang Agam membuat pemuda itu menolah.
"Babe kau sudah datang?" Aisyah langsung menghampiri seseorang itu yang tak lain adalah Ryu.
"Maaf Agam, kami duluan ya." Aisyah berpamitan pada Agam dengan menarik tangan Ryu. Tapi Ryu langsung meneluk pingangnya, ingin menunjukkan pada Agam jika Aisyah adalah miliknya.
Sedangkan Agam hanya menatap kesal pada kekasih gadis yang dia temuin tadi, "Mengganggu saja. Menyebalkan sekali orang itu. Gua tahu Lo tampan, tapi enggak gitu juga kali! Ck," Agam terlihat kesal sekali, sebab baru saja mendapatkan teman yang berasal dari negara nya tapi sudah harus berpisah gara-gara kekasih gadis itu.
"Kenapa kamu buka maskernya?" protes Aisyah, sebab sejak berbicara dengan Agam tadi, Ryu telah membuka maskernya. Dia ingin menutup wajah Ryu dengan masker, tapi pemuda itu lebih dulu membenarkan lerak maskernya.
"Dia siapa? Kalian sepertinya akrab, dan kalian juga berasal dari negara yang sama, bukan?" Ryu tak tertarik menjawab pertanyaan Aisyah, dia lebih tertarik dengan hubungan Aisyah dan pemuda itu.
"Kami kebetulan bertemu di sini, dia bilang namanya Agam dan aku merasa dialah anak lain Papa ku, tapi aku masih ragu sih? Untung saja aku tidak mengenalkan diri tadi," jawab Aisyah panjang lebar.
"Baiklah, aku percaya pada mu. Tapi kenapa kamu tidak masuk dulu saja? Aku sudah memesan meja di ruang private,"
Aisyah menggeleng, "Aku sengaja menunggu mu di luar, biar kita masuk sama-sama," jawabnya.
"Lain kali jangan bicara dengan orang asing, apalagi pria! Aku tak suka, aku tidak suka kamu tersenyum dengan pria lain, kamu hanya boleh tersenyum pada ku,"
Aisyah menganga mendengar ucapan Ryu yang seperti ancama baginya. Tapi dia hanya bisa mengiyakan saja permintaan kekasih tampannya itu.
__ADS_1
"Untung saja kamu tampan, kalau enggak udah tendang! Eh, jangan, enak saja di tendang, kasian kalau di tendang." Ucap Aisyah dalam hati.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜