Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Mama Winda


__ADS_3

"Maaf Tante, kalau kedatangan saya ke sini mengganggu hari Tante dengan Aisyah, tetapi saya tidak bisa lebih lama lagi untuk datang ke sini," ucap Ryu setelah mereka bertiga duduk di ruang tamu.


"Tidak masalah, Aisyah sudah bilang kalau kamu mau mampir kesini. Mama seneng karena kamu menyempatkan diri datang ke gubug Mama, padahal kamu sibuk," sahut Mama Winda.


"Terima kasih karena Tante sudah menerima saya dengan baik. Sebenarnya kedatangan saya ke sini karena ada suatu hal penting yang ingin saya bicarakan dengan Tante." Ryu tersenyum mentap wanita yang sudah mengasuh Aisyah sejak bayi itu.


Mama Winda mengangguk, "Katakan saja, Mama siap mendengarkan," ucapnya.


"Iya Tan, maaf jika nanti yang akan aku katakan membuat Tante dan Aisyah terkejut, karena saya memang belum bicara ini dengan dia." Ryu menjeda ucapannya sejenak, "Maksud kedatangan saya ke sini, untuk melamar Aisyah Tan. Kita sudah lama menjalin hubungan, dan saya ingin meresmikan hubungan kami," lanjutnya. Ryu merasa jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, hingga dia meremas kedua tangannya karena gugup.


"Saya juga minta maaf, datang ke sini seorang diri tanpa siapapun, bahkan mau datang melamar saja tanpa membawa apapun." Ryu menundukkan kepala, dia lupa tak membawa bibgkisan apapun untuk melamar kekasihnya itu.


Aisyah sejak tadi terdiam bagaikan terdakwa yang akan diadili. Dia sama sekali tak berani menatap Mama ataupun Ryu. Terus menatap kedua tangannya yang bertaut erat, gugup pun menyelimuti nya.


"Tidak masalah Ryu, Mama mengerti, Aisyah pernah bercerita sedikit tentang orang tua mu. Semoga Ibu mu lekas sembuh, ya. Mama juga bukan orang ribet, kalau melamar harus membawa sesuatu atau apa, justru itu akan memberatkanmu." Mama Winda tersenyum menatap Ryu.


"Untuk lamaran mu, Mama tidak berhak menjawab, karena kamu dan Aisyah yang akan menjalaninya. Jadi, biarkan Aisyah yang menjawab ya," lanjutnya.


"Sayang, silahkan jawab lamaran Ryu. Mama serahkan sepenuhnya pada mu." Mama Winda menatap Aisyah yang masih menunduk.


Aisyah mendongak, membalas tatapan sang Mama yang kini mengangguk, "Insyaallah aku menerima," jawabnya sambil menatap Ryu sekilas.


Ingin sekali Ryu selebrasi menutar lapangan seperti pemain bola yang berhasil mencetak gol, tetapi semua itu tak mungkin dilakukan, sebab dia saat ini berada di rumah kekasihnya. Ryu hanya tersenyum penuh kebahagiaan sambil menatap kekasih hatinya itu. Ingin sekali memeluk dan mencium Aisyah, tetapi tak mungkin.


"Terima kasih Aisyah, aku akan mempersiapkan pernikahan kita," ucapnya.


"Mama mau meminta satu permintaan boleh, kan?" Mama menatao Aisyah dan Ryu secara bergantian, dan keduanya pun mengangguk.

__ADS_1


"Mama mau kalian menikah sebelum kembali ke negara Ryu, karena dengan begitu Mama tak akan khawatir lagi." Mama kembali menatap keduanya secara bergantian, ditambah sebuah senyuman.


"Tapi Ma...." Aisyah tak melanjutkan ucapannya karena Ryu memotongnya lebih dulu.


"Baiklah Tante, aku siap. Aku juga sudah menyiapkan semuanya." Senyum di wajah Ryu terlihat makin sumringah, tak menyangka semudah itu mendapatkan restu dari Mamanya Aisyah.


"Tapi Tan, bagaimana dengan Papanya Aisyah? Apa dia setuju?" Ryu teringat jika dia sama sekali belum membicarakan hal ini dengan Papanya Aisyah.


Mama mengangguk, "Papanya Aisyah pasti setuju, karena Aisyah sudah menjadi tanggungjawab Mama, dan pendapat Papanya tak dibutuhkan lagi," jawabnya. Meskipun Aisyah bukan putri kandungnya, tetapi dia sudah mengantongi tanggungjawab itu sejak Aisyah bersamanya.


"Nanti Mama akan bilang, pasti dia ke sini. Kalian tenang saja ya." Mama menatap keduanya yang kini sedang menganggukan kepala.


"Karena semuanya sudah jelas, sekarang kita makan ya. Kebetulan Pak supir juga sudah datang itu. Mama tadi sengaja masak banyak." Mama beranjak lebih dahulu dan memanggil supir yang tadi mengantarkan Aisyah dan Ryu.


Sedangkan dua sejoli itu mereka saling tatap di iringi sebuah senyuman manis dari bibir keduanya. "I love you, calon istriku," ucap Ryu dengan berbisik.


"Ais, ayo ajak Ryu masuk. Dia pasti lapar." Aisyah terkejut mendengar ucapan Mamanya, ternyata wanita itu sudah berada di ruang makan entah sejak kapan.


"Ayo, Mama sudah nunggu. Kamu kenapa malu-malu kucing gitu? Biasanya aja enggak?" Ryu meraih tangan Aisyah supaya gadis itu berdiri.


"Ryu, aku malu." Aisyah melepaskan tangan kekasihnya, dia tak ingin Mama melihat mereka bergandengan tangan.


"Aku enggak sabar pengen ngajak kamu kembali ke negara ku," celetuk Ryu.


"Ryu, kuliahku gimana?" Aisyah tadi ingin mengatakan keberatannya menikah dalam waktu dekat, karena dia masih kuliah.


"Kita pikirkan nanti ya sayang. Ayo, Mama udah nunggu." Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju ruang makan.

__ADS_1


Ryu berninar melihat menu makanan yang ada di atas meja, rasanya ingin mencicipi semua menu tersebut, tetapi sepertinya tidaklah sopan. Seakan mengerti dengan tatapan mata Ryu, Mama Winda melayani calon menantunya itu dengan mengambil semua lauk yang dia masak di piring Ryu.


"Kamu harus cicipi semuanya, nasinya dikit dulu nanti bisa tambah lagi." Mama menyerahkan piring tersebut pada Ryu.


"Tante, terima kasih. Jadi, merepotkan, kan?" Ryu menerima piring tersebut sambil tersenyum.


"Jarang-jarang kan kamu makan seperti ini? Nah, kalau ini kesukaan Aisyah, kamu harus coba." Mama memberikan mangkuk kecil berisi soto daging ke hadapan Ryu.


"Pak, Taufik juga harus cicipi semuanya ya, jangan sungkan Pak," ucap Mama.


"Aisyah seringsering memasak ini untukku, Tan," sahut Ryu.


"Bagus kalau dia sudah bisa buat sendiri, kalau di rumah dia itu tidak mau masak sendiri, maunya Mama yang buat." Mama kembali menyendokkan nasi kedalam piring untuknya sendiri.


"Kalau di sana kan enggak ada Mama, ya buat sendiri. Kalau ada Mama, ya harus Mama yang buat, karena masakan Mama enggak ada tandingannya, selalu enak," sahut Aisyah yang sudah mulai memakan soto daging miliknya.


Mereka makan dengan diselingi pembicaraan ringan, seperti keluarga bahagia. Hanya saja sang sopir terus terdiam mendengarkan cerita ketiga orang itu.


"Terima kasih untuk hari ini Tan, dan maaf saya mau pamitan ke hotel dulu Tan, sudah di tunggu. Besok saya akan datang lagi ke sini." Ryu berpamitan dia tak mungkin menginao di rumah Aisyah sebelum mereka menikah.


"Padahal Mama sudah siapakan kamar untukmu. Yasudah, Hati-hati ya, kamu kan tidak tahu daerah sini." Mama Winda terlihat berat melepaskan Ryu untuk menginap di luar sana.


"Tante tidak usah khawatir, pengawal ku ada yang berpengalaman di sini. Aku pamit ya Tan, Aisyah." Ryu tersenyum menatap dua perempuan ibu dan anak itu.


"Sebentar. Jangan panggil tante lagi, panggil Mama aja ya, rasanya lebih enak. Sebentar lagi kamu juga jadi anak Mama." Mama mencegah saat Ryu akan keluar rumah.


Ryu tersenyum dan mengangguk, "Siap Mama, aku pamit Ma, Aisyah." Dia pun meninggalkan kediaman Aisyah dengan senyum penuh semangat.

__ADS_1


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2