Mengejar Cinta Sang Idol

Mengejar Cinta Sang Idol
Keputusan


__ADS_3

Winda baru saja sampai di tempat kerjanya, dia bahkan baru saja mendudukkan diri di kursi, ketikan ponselnya berdering cukup keras. Sebuah panggilan masuk dari seseorang yang tak tertera namanya. Meski tak memiliki nama, dia tahu siapa yang menghubunginya.


"Selamat pagi, apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya saat menerima panggilan tersebut.


"Saya rasa kamu sudah tahu apa tujuanku, Nyonya Winda," jawab seseorang diseberang sana.


"Ini masih terlalu dini untuk menanyakan jawaban saya. Bukankah saya sudah bilang, beri saya waktu paling sedikit satu bulan." Winda mencoba mengontrol diri untuk tidak kesal dengan orang di seberang sana.


"Itu terlalu lama Win," sanggah seseorang itu.


"Justru sangat singkat sekali, waktu satu bulan yang saya berikan. Harusnya Anda mengerti," sahut Winda.


"Saya mengerti Win. Saya tetap akan menunggu jawaban mu sebulan lagi, tapi saya tetap boleh menghubungi mu, kan? Siapa tahu kamu berubah pikiran." Terdengar suara kekehan dari seberang sana.


"Boleh saja, tapi saat ini saya sedang bekerja. Untuk jawaban saya tetap satu bulan ke depan, tidak bisa di tawar. Sekarang biarkan saya bekerja lebih dahulu, selamat pagi." Winda langsung menutup panggilan tersebut sebelum seseorang diseberang sana menjawab ucapannya.


Winda menghela napas panjang. "Mati satu tumbuh seribu, iya kalau itu rejeki aku pasti bahagia, lah ini." Dia menggelengkan kepala saat mengingat sesuatu yang tak diinginkannya.


"Apa aku cerita sama Aisyah, yah? Ah, enggak usahlah. Mereka sedang bahagia, aku tak mau membuat mereka khawatir." Winda pun kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia akan melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapinya saat ini, karena harus fokus meneliti pemasukan dan pengeluaran selena satu bulan.


Belum juga dia memulai pekerjaanya, ponselnya kembali berdering. Kali ini sebuah pesan masuk ke dalam ponsel miliknya. Terpaksa dia pun melihat isi pesan tersebur, bukan dari seseorang yang baru saja menelpinnya tetapi dari nomor lain tanpa na yang tak tersimpan di ponselnya.


"Tolong, jangan usik keluarga ku lagi. Kami sudah bahagia dan kembali retak saat kamu muncul. Jangan pernah tampakkan wajahmu di hadapan suami ku lagi. Kamu harusnya mengertj perasaan seorang istri seperti apa, karena kamu pun perempuan. Kamu juga enggak mau, kan kalau anak perempuanmu itu mendapatkan perlakuan yang sama seperti ku. Ingat! Karma itu ada!"


Tanpa ada nama pengirim pun Winda tahu siapa yang mengirim pesan tersebut. Dia hanya menghela napas panjang tanpa berniat membalas pesan itu, bahkan dia langsung menghapus pesan tersebut. Akan tetapi pesan itu membuatnya berfikir untuk segera memberi keputusan pada seseorang yang tadi menelponnya.

__ADS_1


"Semoga ini keputusan yang tepat. Aku tak mau disalahkan atas perbuatan yang tak pernah aku lakukan," gumamnya. Dia pun menulis pesan untuk seseorang yang tadi meneleponnya. Harapannya, keputusan kali ini adalah hal yang paling tepat.


Baru beberapa detik pesan terkirim, seseorang itu langsung menghubunginya. "Keputusan yang sangat aku harapkan. Sudah kubilang, kan jika kamu pasti akan berfikir untuk memberikan keputusan secepat mungkin. Ya, meskipun belum keputusan final." Seseorang di seberang sana terkekeh, bahagia setelah membaca pesan dari Winda.


"Saya harap, anda melakukan yang terbaik dan saya akan memberi keputusan yang terbaik pula," sahut Winda.


"Tentu saja Win, aku akan membuatmu memberi keputusan yang aku harapkan," tandas seseorang diseberang sana.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


Di tempat lain masih dalam satu benua tetapi beda pulau dan negara, seorang lelaki paruh baya sedang berada di kantor perusahaannya. Tak seperti biasa, kali ini dia sedang dalam mode marah besar terhadap karyawan yang sedang menghadapnya. Sesuatu telah terjadi, hingga merugikan perusahaan.


"Kenapa ini bisa terjadi? Kalian harus bertanggungjawab! Saya tidak peduli!" Dia menggertak tiga karyawannya yang memang memiliki posisi penting di perusahaan tersebut.


"Maaf Tuan, saya melakukan ini atas perintah istri Anda." Salah satu karyawan akhirnya berani membuka sebuah kebenaran, sebab dia tak mau menanggung sesuatu yang bukan kesalahannya.


"Saya tidak bercanda. Saya punya buktinya. Semua uang itu masuk ke dalam rekening istri Anda. Silahkan Anda cek sendiri." Dia memberikan sebuah file yang sejak tadi belum dia serahkan pada atasannya.


Tuan Kim membaca berkas tersebut, dia melihat beberapa kali mutasi yang masuk ke dalam rekening istrinya. Tanpa sadar, dia meremas kertas itu dan mmebuangnya ke tong sampah. Terlihat wajahnya sangat murkan melihat kenyataan yang baru saja dia terima.


"Kalian kembali ke ruangan masing-masing!" titahnya.


Tiga karyawannya itu pun keluar ruangan tersebut dengan hati lega, sebab mereka terbebas dari tuduhan berkat keberanian salah satu diantara ketiganya. Saat bersamaan sekretaris Tuan Kim datang, dia langsung masuk karena pintu masih terbuka.


"Tuan ada kabar yang harus anda dengar. Salah satu pemegang saham akan membantu perusahaan ini. Dia akan membeli beberapa saham lagi, tapi jika anda berkenan," ucap sekretaris itu memberitahu.

__ADS_1


Tuan Kim terdiam. Dia berfikir apakah akan menjual sahamnya lagi untuk kepentingan perusahaan atau tidak? Sebab dia sudah melepas banyak saham miliknya sendiri.


"Berapa persen yang menjual sahamnya saat ini?" tanya Tuan Kim.


"Ada sekitar dua puluh persen saham terjual padanya dalam waktu tiga hari ini. Para pemegang saham yang lain memilih menuyalnya pada seseorang itu, karena dia membelinya dengan harga tinggi Tuan," jawab sekretaris itu.


"Apa perlu aku juga menjual saham ku?" tanyanya.


"Maaf saya tidak tahu Tuan, semua keputusan ada di tangan Tuan Kim." Sekretaris itu menatap sekilas bosnya lalu kembali menunduk.


"Aku akan menjualnya beberapa, aku pun tak akan rugi jika nanti perushaan ini beralih pemilik, setidaknya aku sudah memanfaatkan hasilnya, bukan?" Dia tersenyum membayangkan Ryu tak mendapatkan bagian sedikit pun, sebab dia berencana menjual sahamnya dan menyisakan beberapa atas namanya sendiri.


"Baiklah Tuan, saya akan memberitahu orang tersebut, jika anda akan menjual saham padanya." Setelah mengucapkan hal itu, sekretaris tersebut langsung berpamitan. Dia masih memiliki banyak pekerjaan.


Tuan Kim segera kelaur dari ruangannya. Dia akan pulang untuk menemui istrinya, karena telah membuat rugi perusahaan milyaran itu. Untung saja perusahaan tidak sampai gulung tikar, dan untungnya lagi masih ada pemegang saham yang bertahan di perusahaan itu.


"Apa yang kau beli dengan uang sebanyak itu?" tanya Tuan Kim saat melihat istrinya sedang santai di ruang keluarga.


"Apa maksdnya? Aku tak mengerti." Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu terpaksa meletakkan majalah yang dia pegang.


"Kau Jagan pura-pura! Aku tahu kau mencuri uang perusahaan mengatas namanakan kepentingan perusahaan, padahal uang itu maduk rekeningmu sendiri! Untuk apa uang itu! Apa yang yang aku beri tak cukup!" Tuan Kim tak bisa menahan gejolak emosinya.


"Sama sekali tidak cukup! Aku butuh tas baru! Perhiasan baru dan juga mobil baru! Kamu tak pernah memberikan ku mobil selama kita bersama! Dulu waktu aku masih menjadi istri Park, dia selalu memberi apa yang aku mau, tak seperti dirimu!" Wanita itu pun tak kalah geram, dia tak terima dengan ucapan suaminya.


"Kenapa kau tak kembali saja padanya! Sialan! Pergi kau dari hadapanku!" Tuan Kim murka, dia tak menyangka wanita yang dia perjuangankan kini justru menantangnya bahkan hampir saja membuat perusahaannya hancur.

__ADS_1


"Kau akan menyesal, jika aku pergi." Wanita itu pun meninggalkan ruang keluarga menuju kamar utama. Tak mungkin dia pergi dari rumah ini, sebab dia tak memiliki tempat tinggal lain selain rumah ini.


💜❤️‍🔥💜❤️‍🔥💜


__ADS_2