
Sudah beberapa menit berlalu setelah kepergian ayah Ryu, akan tetapi Aisyah masih bergelatut di lengan mamanya. Dia begitu merindukan wanita itu, apalagi disaat banyak masalah seperti ini. Dia butuh petuah bijak dari sang mama, dan juga pelukan hangat dari wanita itu. Jika Aisyah masih lengket dengan sang mama, berbeda dengan Ryu yang sudah berpamitan lebih dahulu masuk ke kamar. Keadaan suami Aisyah itu tidak begitu baik setelah bertemu dengan ayahnya.
"Kamu susul Ryu ke kamar ya sayang, dia sedang membutuhkanmu. Sama Mama bisa nanti lagi," ucap mama Winda.
"Benar apa yang dikatakan Mama kamu Aisyah. Lagian, Mama kamu juga butuh istirahat, dia baru saja sampai," sahut Tuan Park.
Aisyah mengangguk, "Baiklah, aku permisi nyusul Ryu dulu ya Ma, Mama istirahatlah, nanti malam kita ketemu saat makan malam," ucapnya.
Aisyah masuk ke dalam kamarnya setelah memeluk kembali sang mama. Sebenarnya dia masih merindukan wanita itu, tetapi dia sadar suaminya lebih membutuhkan dirinya saat ini. Meskipun dia tahu tak bisa membantu banyak, tetapi beradi di samping Ryu itu sudah cukup menurutnya.
Saat dia membuka pintu kamar, Ryu tak terlihat ada di sana, tetapi suara gemericik air membuatnya yakin jika suaminya itu sedang berada di dalam kamar mandi. Sambil menunggu Ryu selesai mandi, dia pun membereskan koper milik mereka. Memisahkan pakaian yang masih bersih dan memindahkan pakaian kotor ke dalam keranjang.
"Kamu enggak capek? Itu, kan bisa dibereskan besok, sayang," ucapan Ryu membuat Aisyah terkejut.
"Ah, enggak. Cuma misahin baju aja," jawab Aisyah.
"Kalau udah selesai kamu mandi dulu ya. Selesaikan aja itu, aku bisa ambil baju sendiri." Ryu mencegah Aisyah saat istrinya itu akan beranjak untuk mengambil pakaiannya.
"Baiklah, ini hampir selesai, setelah ini aku mandi," sahur Aisyah kembali melanjutkan pekerjaanya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
"Bagaimana, kau akan tinggal disini, kan, seperti ucapanmu waktu itu?" tanya Tuan Park pada mama Winda.
__ADS_1
"Sepertinya begitu, aku tak mau dianggap pelakor oleh putraku sendiri, aku tak mau dia makin membenciku dan membuatku murka padanya, lebih baik aku pergi jauh dari kehidupan mereka," jawab Winda.
"Kau boleh tinggal disini sesuka hatimu, asal kau nyaman." Tuan Park menatap Winda tetapi wanita itu memalingkan wajah.
"Sepertinya aku akan ikut pindah saat putriku pindah, aku tak mungkin tinggal satu atap denganmu meskipun di negara ini tak ada larangan, tetapi itu tidak patut, karena kita tak memiliki hubungan apapun," sahut Winda.
"Begitu ya, aku akan kembali kesepian jika kalian pergi, apa kau tega?" Tuan Park terus menatap Winda membuat wanita itu salah tingkah.
"Aku sudah biasa hidup kesepian, dan kau pun sama, jadi ada atau tak ada aku, kehodupanmu akan tetap sama." Mama Winda beranjak dari duduknya, "aku akan ke kamar, untuk istirahat,"
Tuan Park tersenyum lalu mengangguk, "Winda," ucapnya membuat Winda menghentikan langkah dan dengan terpaksa menoleh ke arah Tuan Park, "aku akan membuat kita memiliki hubungan, menualah bersama ku. Kita lewati hari tua ini dengan kebahagiaan yang telah lama tidak kita dapatkan, kamu mau, kan?" tanyanya.
Wajah Winda bersemu, dia tak tahu harus menjawab apa. Menarik napas dalam-dalam berharap kegugupan dan rasa malu itu lenyap seketika, tetapi usahanya gagal total, sebab Tuan Park kembali berseloroh sebelum dia menjawabnya.
"Winda, aku serius. Kau wanita hebat, bisa membesarkan putrimu dengan baik padahal keluarga gadis itu selalu menyakitimu. Aku kagum denganmu dan kekaguman itu menjadi butiran cinta saat pertama kali aku melihatmu." Tuan Park mendekat ke arah Winda, dia berusaha meraih tangan wanita itu, tetapi Winda menolak.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi biarkan aku kembali ke kamar terlebih dahulu," sahut Winda yang memang tak tahu harus meniawab, sebab dia terlalu terkejut mendengar pengakuan Tuan Park.
"Aku akan menunggu jawabanmu. Tetaplah bersikap biasa saja padaku, meskipun kamu sudah mengetahui perasaanku. Sekarang istirahatlah, aku juga akan naik ke kamar." Tuan Park mempersilahkan Winda untuk ke kamarnya, dia tak mau membuat wanita itu tidak nyaman dengan situasi ini.
Tuan Park tersenyum saat menatap Winda yang sedang berjalan menjauhinya. Dia sendiri pun tak menyangka bisa jatuh cinta dengan wanita itu, padahal Winda bukan wanita cantik seperti wanita-wanita di negaranya. Winda adalah wanita sederhana, yang memiliki aura kecantikan luar biasa meskipun wajahnya tak secantik auranya.
"Aku merasa kembali menjadi ABG. Jatuh cinta membuat seseorang merasa kembali menjadi muda." Dia terkekeh karena ucapannya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Winda, dia tak tahu harus berbuat apa. Dia memikirkan ucapan Tuan Park, dia merasa ucapan lelaki itu tak hanya sekedar gombalan saja, sebab saat lelaki itu berbicara dia menatap kedua bola matanya. Di sana tak ada kebohongan atau tipu daya, yang ada hanya sebuah kejujuran dari perasaan yang tulus.
"Apa bisa aku menerima laki-laki lain selain kamu Mas?" tanyanya entah pada siapa. Dia memikirkan almarhum suaminya yang telah lama meninggalkannya.
"Sudah lama aku tidak bertemu denganmu di dalam mimpi Mas, aku merindukanmu," gumamnya.
Winda pun membacakan doa untuk almarhum suaminya yang telah tiada, berharap dia lebih tenang dan tak kembali memikirkan sang suami yang sudah tenang di alam sana. Selama ini, dia tak pernah berpikir untuk menikah lagi, buatnya Aisyah ada di dalam hidupnya itu sudah cukup. Dia tak mau lelaki mana pun masuk dalam kehidupan mereka karena status Aisyah dan juga karena dia menjaga cintanya untuk sang suami. Tetapi lamaran Tuan Park itu apakan akan dia tolak? Atau dia justru menerimanya? Entahlah, itu hanya Winda yang bisa menjawabnya.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
"Sayang, aku mau bicara sesuatu sama kamu." Ryu menghampiri Aisyah yang sedang duduk di depan cermin setelah wanita itu mandi.
"Mau bicara apa? Aku siap mendengarkan." Aisyah menoleh ke arah Ryu, lalu dia beranjak dari duduknya dan mengajak Ryu kembali duduk di ranjang, tempat yang nyaman untuk berkisah.
"Aku baru saja mendapatkan telepon dari Tuan Cho, dia bilang aku harus klarifikasi tetang hubungan kita. Dia memintaku untuk kembali berbohong jika kamu bukan siapa-siapa ku, tapi aku sangat menolak." Ryu menatap istrinya dalam-dalam.
"Lalu?" tanya Aisyah, dia sebenarnya setuju dengan ucapan Tuan Cho, akan tetapi dia ingin mendengar ucapan Ryu selanjutnya.
"Aku akan keluar dari sana, aku tak mau lagi bekerja di dunia entertainment, karena itu sangat melelahkan dan membuatku tak bebas melakukan apapun," sahut Ryu.
Aisyah terkejut mendengar ucapan suaminya, "Kamu serius? Lalu Tuan Cho bagaimana? The Boys bagaimana? Mereka pasti akan kecewa," ujarnya.
"Aku akan bicara dengan mereka baik-baik, aku yakin mereka mengerti. Alasanku keluar dari dunia entertainment juga karena kasihan dengan mu, aku tak mau terus meninggalkanmu di rumah sendiri, aku ingin kita selalu bersama setiap waktu." Ryu mengusap puncak kepala Aisyah lalu mengecup kening istrinya itu.
__ADS_1
"Aku serahkan semua keputusan ini pada mu, aku akan mendukung semua yang kamu lakukan selama itu masih dijalan yang baik," sahut Aisyah.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜