
"Terima kasih Pak sudah memberikan alamat Aisyah, sesuai janji saya ini uang tambahan buat Bapak." Agam memberikan segepok uang pada seorang berseragam warna hitam.
"Loh Den, enggak perlu. Saya memberikan alamat Nona Aisyah tidak mengharap imbalan apapun, lagian cuma alamat aja, apa susahnya? Saya juga sering ke sana nganterin Bapak." Pak Taufik menolak uang pemberian Agam.
"Ambil saja Pak, anggap itu rejeki. Kirim ke kampung, pasti istri bapak seneng." Agam meletakkan segepok uang berwarna merah itu ke dalam saku baju Pak Taufik.
Mereka saat ini sedang berada di parkiran bandara. Pak Taufik sengaja diminta untuk mengantar Agam setelah pemuda itu kembali dari rumah Aisyah. Setelah mengantar Ryu ke hotel kemarin, Pak Taufik tidak langsung kembali ke ibu kota. Dia diminta Agam untuk tinggal di kita itu sampai dia datang.
"Tapi Den...." Pak Taufik sungkan, sebab informasi yang dia berikan bukan hal yang sulit dicar.
"Sudah, saya mau keluar. Sebentar lagi pesawatnya berangkat. Bapak hati-hati di jalan. Saya tunggu di rumah." Agam membuka pintu mobil, tetapi saat akan keluar dia teringat akan sesuatu. "Oh iya Pak, kasih tahu saya kalau Papa ke rumah Aisyah lagi ya," ucapnya dan langsung pergi meninggalkan Pak Taufik tanpa mau mendengar ucapan Pak Taufik.
"Ada apa ya? Kok seperti ada yang aneh, tapi apa? Bukannya Bu Winda sama Bapak itu menjalankan bisnis bersama? Tapi kok den Agam kaya tidak percaya gitu sama Papanya?" Pak Taufik memang tidak mengetahui hal sesungguhnya. Dia hanya sopir yang baru bekerja beberapa tahun belakangan ini.
Perjalanan yang tak terlalu lama membuat Agam sudah sampai di rumah. Pemuda itu langsung menuju kamar Bundanya. Dia khawatir dengan keadaan bundanya itu, sebab dia meninggalkan rumah saat keadaan sang bunda belum begitu membaik.
"Bun, sudah baikan?" tanyanya. Dia berbaring si samping sang bunda.
"Lumayan, Bunda baru minum obat. Kamu dari mana saja? Sejak pagi enggak kelihatan?" Dewi menatap putranya yang sudah semakin dewasa.
"Memberi pelajaran pada wanita itu," jawab Agam.
"Wanita siapa? Pacar kamu?" Dewi menatap Agam penuh selidik, tetapi pemuda itu sama sekali tak menatapnya justru menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
"Selingkuhan Papa," jawab Agam singkat.
__ADS_1
Mendengar ucapan putranya, Dewi pun terkejut bukan main. Dia sama sekali tak pernah memberitahu tentang wanita itu, tetapi kenapa putranya bisa tahu? Apa mungkin Agam mendengar perdebatannya dengan sang suami semalam? Lalu dari mana Agam mengetahui rumah wanita itu? Banyak pertanyaan muncul di kepala Dewi.
"Kata siapa Papa punya selingkuhan? Kamu jangan asal Nak, nanti dikira memfitnah." Dewi menyentuh pundak putranya.
Agam membalik tubuhnya hingga menghadap ke arah sang bunda, "Bun, aku sudah dewasa dan aku berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku dengan semua perdebatan Bunda sama Papa semalam, aku juga melihat foto Papa saat bersama wanita itu. Bunda enggak usah menyembunyikan kesedihan ini sendiri, ada aku Bun. Aku tak akan membiarkan bunda disakiti oleh siapapun." Dia pun memeluk tubuh sang bunda.
"Tolong ceritakan yang sebenarnya padaku, aku ingin tahu," lanjutnya.
Dewi mengangguk, tanpa terasa air matanya menetes. Dia baru menyadari jika putranya kini sudah makin dewasa dan bisa dia jadikan sebagai sandaran, jika suaminya tak lagi menginginkan dirinya. Akan tetapi, dia tak sanggup ditinggal oleh lelaki yang amat sangat dia cintai itu.
"Bunda akan menceritakan semuanya padamu," ucap Dewi.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
"Papa akan mengurus semua surat menyurat, dalam tiga atau empat hari kedepan, Papa pastikan semuanya sudah beres dan kalian bisa menikah secara hukum dan agama," lanjutnya.
"Terima kasih Pa, karena sudah mau membantu kami. Saya juga sudah menyiapkan semuanya jauh-jauh hari sebelum ke sini, karena rencananya saya memang akan meresmikan hubungan kami saat saya berasa di sini," sahut Ryu.
Aisyah menatap Ryu. Dia tak percaya jika kekasihnya ternyata sudah menyiapkan semuanya sebelum mereka ke sini, tetapi kenapa Ryu tak pernah bercerita akan hal itu? Meski begitu dia sangat bahagia karena Ryu benar-benar serius dengannya.
"Aku mau menikah di rumah saja, hanya akad dan tidak mengundang banyak orang. Mungkin beberapa untuk me jadi saksi saja dan satu lagi tak boleh ada kamera yang memotret kecuali manager Ryu." Aisyah mengeluarkan pendapatnya. Bukan tanpa alasan dia mengajukan syarat seperti itu, karena pernikahannya dengan Ryu tak ingin sampai di dengar oleh media.
"Papa akan usahakan itu. Tapi boleh Papa tambahin, kita tetap mengadakan syukuran dengan membagikan makanan untuk warga sekitar, bagaimana?" Fadly menatap Aisyah dan Ryu secara bergantian dan mereka berdua pun setuju.
"Mama yang akan membiayai semuanya, Pak Fadly hanya perlu menjadi wali untuk Aisyah." Mama menyahut, dia sengaja datang terakhir karena tak ingin berlama-lama melihat Fadly yang selalu memberi luka pada putrinya.
__ADS_1
"Loh kok kamu begitu Win, tidak bisa, saya Papanya jadi saya yang akan membiayai semuanya." Ternyata Fadly tak menolak permintaan Winda.
"Saya Mamanya, dan saya yang sudah membesarkannya sejak kecil, jadi semua tanggung jawab saya. Anda tidak perlu repot-repot mengeluarkan biaya untuk pernikahan anak ku." Winda menatap tak suka pada Fadly.
"Aku setuju kalau Mama yang mengurus konsumsi dan semua keperluannya. Papa sudah mengurus semua surat menyurat, jadi kalian berdua ikut andil dalam pernikahan ku. Papa juga perlu biaya, kan untuk mengurus surat menyurat? Yaudah, gitu aja." Aisyah mengeluarkan pendapatnya.
Akhirnya kedua orang tua itu setuju dengan usulan Aisyah. Meskipun Fadly merasa berat, tetapi dia tak mau keadaan kembali memburuk saat putri semata wayangnya akan menikah. Dia juga ingin melihat putrinya bahagia, karena dia sadar selama ini telah membuat sang putri menderita.
"Yaudah, kalian lanjutkan. Mama mau masuk dulu." Winda menatap Aisyah dan Ryu secara bergantian, dia enggan menatap Fadly.
"Pa, aku minta tolong setelah kita menikah, Papa tidak usah ke sini lagi menemui Mama. Aku tak mau Bunda Dewi mengetahui salah paham dengan Mama." Aisyah sebenarnya ingin mengatakan apa yang Agam lakukan tadi, tetapi dia teringat akan ucapan Ryu hingga akhirnya mengurungkannya.
"Baiklah jika itu permintaanmu." Fadly setuju, karena dia memang sudah tidak memiliki urusan apapun dengan Winda setelah Aisyah menikah, mungkin dia akan sering mengunjungi Aisyah nantinya.
"Untuk permintaan Papa aku setuju. Aku siap menjadi anak angkat Tuan Park, dia sosok ayah yang baik juga, jadi Papa tak perlu memaksa Mama untuk tanda tangan, karena aku sendiri sudah setuju," ucap Aisyah.
Papa terkejut mendengar ucapan putrinya. Tak menyangka jika Aisyah mengajukan dirinya menjadi putri angkat Tuan Park, padahal dia sudah melupakan itu mengingat penolakan Winda berulang kali.
"Aku juga sudah bilang sama Tuan Park, akan hal itu," lanjut Aisyah.
"Tetapi Papa sudah melupakannya, tidak perlu kamu melakukan itu." Fadly merasa tak rela jika Aisyah menajdi putri angkat lelaki itu. Padahal dulu dia yang bersikeras.
"Tidak masalah," sahut Aisyah.
💜❤️🔥💜❤️🔥💜
__ADS_1