Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 10. Sudah Cukup.


__ADS_3

Calvin langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Zanna. "Aku mencintaimu, Sayang. Aku sangat mencintaimu."


"Lalu, apa kau juga mencintai wanita itu?"


Deg.


Calvin terdiam saat mendengar pertanyaan yang kembali Zanna lontarkan. "A-aku, aku tidak mencintainya."


"Bohong, itu semua bohong, Calvin." Zanna menatap Calvin dengan senyum kecewa. "Aku tidak tau sebenarnya cintamu itu untuk siapa. Tapi yang aku tau, tidak ada cinta yang bisa dibagi dua, Calvin. Tidak ada."


"Itu sebabnya aku mencintaimu, Zanna. Kau lah yang aku cintai, dan aku tau kalau aku sudah membuat kesalahan. Untuk itu maafkanlah aku," pinta Calvin dengan wajah memelas, dia benar-benar tidak siap untuk kehilangan Zanna dalam hidupnya.


Pada saat yang sama, Rere dan Lasmi sedang menunggu di depan apartemen. Terlihat wanita itu berjalan mondar-mandir membuat sang ibu merasa kesal.


"Cepat katakan semuanya pada Ibu, Re! Apa sebenarnya Calvin itu sudah punya istri?" Lasmi menatap wajah anaknya dengan tajam.


Rere menganggukkan kepalanya lalu tertunduk. "Maafkan aku, Bu."


"Dasar kau sudah tidak waras. Bagaimana mungkin kau akan menikah dengan laki-laki yang sudah punya istri, hah?" teriak Lasmi dengan emosi. Dia benar-benar tidak menyangka kalau selama ini Calvin ternyata sudah menikah, dan laki-laki yang sudah punya istri itu malah mau menikahi putrinya.


"Maafkan aku, Bu." Rere langsung bersimpuh dikaki Lasmi dengan air mata yang sudah bercucuran. Dia terpaksa berbohong karena sangat mencintai Calvin, dan rela menjadi istri kedua laki-laki itu.


"Maaf kau bilang? Mau taruh di mana wajah ibu ini kalau sampai keluarga besar kita tau semuanya?" Lasmi juga ikut menangis. Bisa-bisanya Rere menjalin hubungan dengan suami orang, lalu, apa yang akan dia katakan pada keluarganya?


"Maafkan aku, Bu. Aku, aku tidak bermaksud untuk membohongi Ibu. Aku hanya belum bisa mengatakan semuanya."


Lasmi segera menarik tangan Rere untuk keluar dari kawasan apartemen itu, dia terus menariknya sampai berada di taman yang dia dan Zanna tempati tadi.

__ADS_1


"Pokoknya Ibu tidak mau tau. Cepat putuskan hubunganmu dengannya, dan ikut ibu pulang ke kampung."


Deg.


Rere langsung menggelengkan kepalanya mendengar apa yang ibunya katakan. "Tidak, Bu. Aku tidak bisa, aku sangat mencintai mas Calvin. Kami, kami saling mencintai."


"Jangan gila kau, Rere. Dia itu udah punya istri, bagaimana mungkin kalian saling mencintai?" teriak Lasmi lagi.


Rere terdiam dengan air mata yang semakin mengucur deras membuat hati Lasmi menjadi luluh, dia kemudian menggenggam kedua tangan putrinya itu dan membawanya duduk di atas bangku.


"Nak, ibu tau apa yang kau rasakan saat ini. Tapi semua ini tidak benar, Re. Laki-laki itu sudah punya istri, apa kau tidak kasihan pada istrinya itu?"


Rere meremmas kedua tangannya dengan erat. Dia juga merasa tidak tega dengan Zanna, tapi apalah daya saat cintanya sudah sangat dalam untuk Calvin.


"Ibu tau kalau kau sangat mencintainya, tapi kau tidak berhak untuk menyakiti istrinya. Wanita itu berhak atas Calvin, dan kau tidak boleh menjadi duri dalam rumah tangga orang lain,"


"Kenapa, Bu? Kenapa aku tidak boleh, memangnya apa salahku?" Rere menatap ibunya dengan tajam. "Apa salahku karena mencintainya, dan apa salah kami jika saling mencintai?"


"Bukan salahku jika aku jatuh cinta pada mas Calvin, dan bukan salah mas Calvin juga jika jatuh cinta denganku. Semua ini sudah takdir, Bu. Ini-"


"Tutup mulutmu, Rere. Takdir seperti apa yang sedang kau katakan ini, hah?" bentak Lasmi membuat Rere terdiam. "Cintamu memang tidak salah, Re. Tapi perbuatanmu ini yang salah, kau tida bisa menikahi laki-laki yang sudah beristri!" Untuk sekali lagi Lasmi mengingatkan bahwa apa yang Rere lakukan saat ini adalah salah.


Sementara itu, Zanna yang masih berada di apartemen Calvin memilih untuk kembali pulang saja. Sudah cukup dia berada di tempat itu, dan semuanya juga sudah terlihat jelas.


"Tolong kasi aku kesempatan satu kali lagi, Sayang. Aku janji tidak akan melakukan kesalahan seperti ini lagi, aku janji akan menjauhi Rere." Calvin terus memohon agar Zanna mau memaafkannya, dan nanti dia akan mencari cara untuk menyelesaikan hubungannya dengan Rere.


"Hah." Zanna menghembuskan napas dengan kasar. "Sudah berapa lama kau tinggal bersamanya?" Dia lalu kembali melihat ke arah Calvin.

__ADS_1


Calvin terdiam karena tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Zanna membuat wanita itu kembali tersenyum.


"Jadi, kau sudah tinggal bersamanya sejak pindah ke sini, ya. Kira-kira sudah 2 atau 3 bulan. Em ... berarti hubungan kalian sudah sangat jauh," ucap Zanna sambil mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Lelah juga rasanya jika harus terus berdiri.


"Aku memang tinggal bersamanya, tapi aku tidak-"


"Jangan mengatakan hal yang mustahil, Calvin. Seorang lelaki dewasa tinggal satu atap bersama dengan kekasihnya selama 2 bulan, mungkinkah tidak terjadi sesuatu di antara mereka?"


Calvin menundukkan kepalanya. "Maaf. Tapi aku hanya melakukannya beberapa kali saja, Sayang. Setelah itu tidak lagi."


"Hah." Kepala Zanna semakin berdenyut sakit. Sepertinya rumah tangga yang baru seumur jagung ini benar-benar tidak bisa lagi untuk dilanjutkan.


Zanna lalu beranjak bangun membuat Calvin tersentak. "Kau sudah meniduri anak orang, Calvin. Jadi bertanggung jawablah!" Dia segera berjalan ke arah pintu keluar membuat Calvin kembali mengejarnya.


"Tidak, Sayang. Maafkan aku, aku mohon." Dia mencoba untuk menghentikan langkah Zanna tetapi wanita itu tetap melangkahkan kakinya tanpa bisa dicegah.


Calvin lalu berniat untuk kembali memeluk tubuh Zanna, tetapi wanita itu langsung mendorong tubuhnya dengan kuat sampai menabrak dinding.


"Jangan pernah menginjakkan kaki di rumahku lagi, Calvin." Zanna langsung masuk ke dalam lift tanpa bisa dicegah oleh Calvin.


Bruk.


Begitu masuk ke dalam lift, tubuh Zanna langsung terjatuh ke lantai karena merasa benar-benar lemas. "Hiks, huhuhu. Kenapa, kenapa kau sejahat ini, Calvin?"



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2