Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 43. Sesuatu yang dirahasiakan.


__ADS_3

Kakek Zaron melirik ke arah Ella dengan khawatir, sementara Venzo bersedekap dada dengan senyum sinis di wajahnya.


"Baiklah. Jika seperti itu, kami pamit dulu, Tuan Venzo," ucap kakek Zaron sambil menggandeng tangan Ella.


"Kenapa buru-buru sekali, Kakek? Bukannya sudah lama kita tidak bertemu?"


Ella melirik ke arah kakek Zaron dan juga Venzo secara bergantian. Dia bingung kenapa kakeknya seperti sedang gelisah, sementara Venzo terlihat sangat santai dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.


"Saya berencana ingin mengajak Ella ke perusahaan, Tuan. Mungkin lain kali kita bisa bertemu lagi."


Venzo mengangguk-anggukkan kepalanya. "Baiklah. Nanti malam aku akan berkunjung ke rumah kalian. Kalau gitu hati-hati dijalan, Ella. Sampai bertemu nanti malam." Dia tersenyum dengan sangat manis membuat kakek Zaron merasa merinding.


"O-oke. Kalau gitu saya permisi dulu." Ella menganggukkan kepalanya lalu segera berbalik dan pergi dari tempat itu dengan diikuti oleh Zavier, sementara kakek Zaron masih berada di sana.


"Jangan coba-coba untuk menghalangiku, kakek. Kau tau kan, kalau kesabaranku lebih tipis dari selembar tisu?"


Kakek Zaron menghela napas kasar lalu menganggukkan kepalanya. "Saya mengerti, Tuan. Tapi ini sudah beberapa tahun berlalu, mungkin Anda-"


Venzo mengangkat tangannya membuat ucapan kakek Zaron terpaksa berhenti. "Aku tidak mau mendengar apapun. Jangan lupa, dulu aku bisa membantumu. Sekarang pun aku juga bisa menghancurkanmu, maka jangan macam-macam denganku."


Kakek Zaron sadar bahwa apa yang Venzo katakan saat ini adalah semua ancaman juga peringatan, bahwa laki-laki itu bisa melakukan apapun yang diinginkan.


"Saya tahu, Tuan. Tapi, saya hanya merasa khawatir. Saya sudah kehilangan putra dan juga menantu, jika saya kehilangan cucu lagi. Maka saya tidak akan-"


Venzo langsung mencengkram kedua lengan kakek Zaron dengan erat. "Justru karena kalian lah aku kehilangan Ella sampai puluhan tahun lamanya. Karena kalian juga lah dia harus kehilangan kedua orang tuanya, apa kalian tidak sadar diri, hah?" Dia lalu menghempaskan tubuh laki-laki tua itu sampai mundur beberapa langkah ke belakang.


"Haruskah aku mengatakan semuanya pada Ella tentang apa yang sudah kalian lakukan, hah?"


Kakek Zaron langsung menangkupkan kedua tangannya di depan dada. "Tidak, Tuan. Saya mohoh jangan katakan pada Ella, nanti, nanti dia bisa salah paham."

__ADS_1


Venzo terkekeh mendengar apa yang laki-laki tua itu katakan. "Salah paham kau bilang? Bagaimana mungkin sesuatu yang sengaja dilakukan, bisa menjadi salah paham?"


"Tidak, Tuan. Semua itu hanya salah paham, dan dia sama sekali tidak berniat seperti itu,"


"Baiklah. Terserah apa yang ingin kau katakan, yang jelas jangan coba-coba untuk menghalangi hubunganku dan Ella. Aku akan membawanya keluar dari rumahmu yang busuk itu." Venzo segera berbalik dan menjauh dari tempat itu. Dia merasa benar-benar kesal jika mengingat tentang masa lalu yang menyebabkan dia hampir kehilangan Ella untuk selama-lamanya.


Kakek Zaron menatap punggung Venzo dengan sedih. Apa yang laki-laki itu katakan tidaklah benar, dan semua hanyalah kesalah pahaman.


Setelah dari pantai, Ella benar-benar dibawa ke perusahaan oleh adik sepupu dan juga kakeknya. Dia menatap takjub bangunan yang megah dan mewah itu, apalagi saat melihat orang-orang yang berlalu-lalang di tempat itu.


"Ada berapa banyak orang yang kerja di sini, Zavier? Gedungnya saja tinggi sekali." Ella menyipitkan kedua matanya saat melihat ke atas.


"Tidak tahu sih, Kak. Kayaknya ada ribuan deh," jawab Zavier yang memang tidak tahu karena dia masih duduk dibangku perkuliahan.


"Kenapa masih berdiri di sini? Ayo, kita masuk," ajak kakek Zaron sambil melangkahkan kakinya ke dalam perusahaan itu.


Ella dan juga Zavier mengikuti langkah sang kakek. Beberapa orang yang melintas langsung menyapa mereka dengan ramah dan sambil menundukkan kepala.


Kakek Zaron membawa Ella ke ruangan mendiang putra sulungnya yang sengaja dikosongkan. Dia tidak mau ada orang lain yang menempatinya, kecuali Ella.


"Masuklah, ini adalah ruangan papamu."


Ella melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan itu sambil memperhatikan sekitarnya, dia lalu tersenyum saat melihat foto yang terpampang jelas di dinding ruangan itu.


"Apa papa sangat mencintaiku dan mama, Kek? Aku bisa melihat foto kami disetiap ruangan papa," ucap Ella sambil memperhatikan fotonya yang diapit oleh kedua orang tuanya.


"Tentu saja, Ella. Dia sangat mencintai kalian," jawab kakek Zaron sambil berjalan ke arah meja kerja yang ada di dalam ruangan itu.


"Ke sinilah, Ella."

__ADS_1


Ella yang masih memperhatikan foto itu beralih pada sang kakek dan berjalan mendekat. Setelah itu kakeknya meminta dia untuk duduk dikursi kerja itu, walaupun dia merasa bingung.


"Kau lah yang akan bekerja di dalam ruangan ini, Ella. Kau yang akan menjadi pemimpin di perusahaan ini."


Ella membulatkan matanya saat mendengar apa yang kakeknya katakan, walaupun dia sudah pernah mendengarnya dari Naomi.


"Tidak, Kek. Aku tidak mau." Ella beranjak dari kursi membuat kakek Zaron mengeryitkan keningnya.


"Kenapa, Ella? Kenapa kau tidak mau?" tanyanya dengan heran.


"Kek, aku memang keturunan kalian. Tapi bukan berarti aku bisa memimpin perusahaan sama seperti kalian, aku tidak akan bisa. Aku hanya ingin kembali mengajar, itu saja." Ella mengusap lengan sang kakek dengan lembut membuat laki-laki tua itu menghela napas kasar.


"Nak, kakek tahu apa yang kau maksud. Tapi kau adalah keturunan kami, kau berhak atas perusahaan ini," ucap kakek Zaron lagi.


"Kek, tidak menjadi pemimpin bukan berarti aku tidak berhak atas perusahaan. Aku hanya akan mempelajarinya dari kejauhan dan tidak langsung bekerja dengan perusahaan, aku tidak mau kemampuan yang tidak aku miliki malah akan menghancurkan perusahaan. Lagi pula ada paman Zaydan dan juga Zavier yang akan memimpin perusahaan, mereka lebih dari mampu untuk melakukannya."


Kakek Zaron mengusap puncak kepala Ella dengan lembut. Apa yang cucunya itu katakan sama persis seperti Zean dulu sebelum menjadi CEO di perusahaan. "Kau sama persis dengan papamu, Nak."


"Benarkah?"


Kakek Zaron menganggukkan kepalanya. "Benar. Papamu dulu juga mengatakan hal yang serupa, karena cita-citanya menjadi seorang arsitek. Dialah yang sudah merancang bangunan perusahaah ini, juga rumah kita."


"Itu benar. Tapi kata mama, kakek malah memaksa paman untuk memimpin perusahaan."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2