
Tepat pukul 3 pagi, Calvin kembali ke apartemen dengan langkah gontai. Tubuhnya terasa sangat lengket dan juga pegal, karena memang dia tidak sempat untuk mandi dan buru-buru kembali untuk menemani Zanna.
"Uuh, Rere benar-benar gila." Calvin menggelengkan kepalanya saat mengingat kegiatan panasnya dengan Rere beberapa waktu lalu yang berhasil menguras seluruh tenaganya.
Calvin lalu masuk ke dalam kamar dan tersenyum saat melihat Zanna tertidur pulas di atas ranjang. Dia lalu mengelus puncak kepala wanita itu membuat Zanna menggeliat.
"Bagaimana ya, jika Zanna juga seperti Rere saat diranjang?" Uuh, Calvin tidak bisa membayangkan betapa nikmat dan menggairahkan saat-saat itu.
Tidak mau membuat Zanna terbangun, dia lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
****
Suara alarm yang menggema di kamar itu membuat Zanna mengerjapkan kedua matanya. Dia lalu mengambil ponsel yang ada di atas meja dan mematikan suara alarm itu.
"Hoam." Zanna menguap sambil melihat ke arah samping di mana Calvin masih tertidur pulas. "Jam berapa dia pulang?" Dia tidak sadar saat laki-laki itu kembali ke apartemen.
Tidak mau ambil pusing, Zanna segera beranjak turun dari ranjang untuk menyiapkan sarapan dan juga kepulangannya hari ini karena jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi.
Setelah semuanya siap, dia segera membangunkan Calvin karena hari sudah semakin siang. Mereka lalu segera bersiap-siap dan tidak lupa menikmati sarapan sebelum berangkat pulang.
"Apa tidak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Calvin pada Zanna, yang dibalas dengan gelengan kepala wanita itu.
Kemudian mereka segera masuk ke dalam mobil Zanna dan segera pergi meninggalkan tempat itu. Zanna tersenyum tipis sambil menatap apartemen yang menjadi saksi rasa sakitnya, juga pengkhianatan yang sudah suaminya lakukan.
"Keberadaanku di tempat ini sangatlah singkat, tetapi apa yang aku dapatkan di sini mungkin tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup."
Begitu Zanna dan Calvin pergi, Naomi juga langsung masuk ke dalam mobil dan mengejar mereka. Dia harus selalu mengawasi Zanna agar tidak terjadi sesuatu dengan wanita itu, apalagi saat ini Zanna sedang mengandung.
Sepanjang perjalanan, Calvin terus bercerita panjang lebar pada Zanna. Namun, Zanna sama sekali tidak tertarik dan hanya menjawab dengan singkat-singkat saja jika laki-laki itu bertanya.
__ADS_1
"Ada apa denganmu, Sayang?" tanya Calvin dengan bingung.
"Aku hanya merasa lelah," jawab Zanna asal. Tidak mungkin dia mengatakan kalau tidak ingin bicara dengan laki-laki itu.
Beberapa jam kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan yaitu rumah mereka. Calvin segera membangunkan Zanna yang sedang tertidur, lalu mereka segera turun dari mobil dan membawa semua barang-barang masuk ke dalam rumah.
"Hah." Calvin langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa, sementara Zanna beralih masuk ke dalam kamar sambil membawa barang-barangnya.
"Sudah lama aku tidak pulang, ternyata rindu juga ya." Calvin tersenyum simpul sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa sangat kaku.
Zanna yang sudah berada di dalam kamar langsung berjalan ke kamar mandi. Dia merasa sangat mual dan ingin memuntahkan isi di dalam perutnya.
"Hoek, hoek." Zanna langsung muntah saat baru masuk ke dalam kamar mandi, dengan cepat dia mengunci pintunya agar Calvin tidak bisa masuk.
"Ada apa denganmu, Sayang? Apa kau mabuk perjalanan?" Zanna mengusap perutnya dengan tersenyum tipis. "Mama mohon tenanglah, jangan sampai papamu tau kalau mama muntah-muntah. Atau dia akan merasa curiga." Dia kembali mengusap perutnya. Jangan sampai Calvin tahu kalau dia sedang hamil, atau laki-laki itu tidak akan melepaskannya.
"Kau sedang apa, Sayang?" tanya Calvin sambil mendudukkan tubuhnya di atas ranjang.
"Tidak sedang apa-apa, Calvin. Apa ada yang kau inginkan?" Zanna terus menyusun barang-barangnya tanpa melihat ke arah laki-laki itu.
"Aku, aku cuma mau bilang kalau hanya diberi libur 2 hari saja, Sayang. Jadi lusa aku sudah harus kembali ke sana."
Zanna tersenyum sinis. "Padahal kau baru datang loh, tapi sudah bicara tentang pulang?" Dia benar-benar merasa bangga sekali dengan Calvin.
"Maaf, Sayang. Bukannya aku tidak mau menemanimu, hanya saja-" Calvin tidak bisa melanjutkan ucapannya saat Zanna mengangkat tangan seolah-olah sedang menyuruhnya untuk berhenti bicara.
"Aku mengerti, Calvin." Zanna sudah merasa muak mendengar ucapan Calvin, itu sebabnya dia menghentikan apa yang ingin laki-laki itu katakan.
Setelah beberapa saat berada di rumah, Calvin lalu izin untuk pergi menemui atasannya karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.
__ADS_1
Zanna baru bisa berhapas lega saat Calvin keluar dari rumah. Dadanya terus merasa sesak dan tidak nyaman saat bersama dengan laki-laki itu.
Tring.
Dia lalu melirik ke arah ponselnya saat mendengar ada suara notifikasi, dan mengambil benda pipih itu.
"Ini aku Amy, Kak. Aku ingin memberitahukan bahwa nona Rere datang ke sini untuk memeriksa semua persiapan pernikahannya."
Zanna tersenyum saat membaca pesan dari Amy, dia lalu membalas pesan itu dengan ucapan terima kasih dan juga emot love di akhir pesannya.
"Bagus. Aku harus segera menyiapkan hadiah untuk pesta pernikahan mereka, dan memberikan kejutan terbaik untuk sepasang calon pengantin baru itu."
Zanna lalu mengambil latopnya yang ada di atas meja dan mulai mengotak-ngatik benda tersebut. Dia juga menyambungkan ponselnya dengan laptop itu melalui bluetooth, karena ada sesuatu yang harus segera dikerjakan.
Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat seorang lelaki sedang duduk di kursi kebesarannya. Terlihat ada seorang lelaki berpakaian serba hitam yang berdiri di depannya.
"Apa kau sudah memastikan semuanya?" tanya lelaki itu pada anak buahnya yang berpakaian serba hitam.
"Sudah, Tuan. Anak buah Tuan Zaydan juga sudah bergerak mengawasi wanita itu, dan besar kemungkinan kalau wanita itu adalah putri dari mendiang tuan Zean," ucapnya.
Laki-laki itu tersenyum simpul sambil mengusap dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. "Akhirnya kita bisa bertemu kembali, Ella."
•
•
•
Tbc.
__ADS_1