Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 61. Pelaku Penyiksaan.


__ADS_3

Dokter itu menganggukkan kepalanya lalu segera pamit dari tempat itu, sementara Ella dan Venzo masih berada di dalam kamar.


"Apa kau baik-baik saja, Ella?"


Ella lalu memalingkan wajahnya ke arah Venzo dengan mata berkaca-kaca. "Aku merindukanmu, Venzo. Aku, aku sangat merindukanmu."


Venzo tersentak kaget dengan apa yang  Ella katakan, apalagi saat ini wanita itu memeluk tubuhnya dengan erat. "E-Ella, apa yang terjadi?" Dia merasa sangat bingung.


"Aku sudah mengingatnya, aku sudah mengingat semuanya, Venzo. Huhuhu." Ella terisak dalam pelukan Venzo, sementara Venzo sendiri juga ikut menangis bahagia dengan apa yang terjadi saat ini.


"Syukurlah, syukurlah kau sudah bisa mengingat semuanya, Ella." Venzo benar-benar merasa sangat bahagia.


Cukup lama mereka berpelukan dan saling melepas rindu walaupun sudah sering bertemu, tetapi Ella merasa asing karena tidak mengingat sosok laki-laki itu dalam pikirannya.


Setelah merasa tenang, Venzo mengusap air mata yang masih membekas diwajah Ella. "Sudah, jangan menangis lagi, Ella. Semuanya sudah terjadi, dan akhirnya kau kembali mendapatkan ingatanmu."


Ella menganggukkan kepalanya. "Tapi, tapi bagaimana dengan pamanku, Venzo? Kenapa, kenapa dia bisa seperti itu?" Dia benar-benar tidak habis pikir.


"Aku juga tidak tau, Ella. Bisa saja sejak kecil dia memang seperti itu, atau ada sesuatu yang membuatnya jadi seperti itu."


Ella kembali menatap Venzo dengan sedih, lalu tiba-tiba dia teringat tengang sesuatu. "Bibi. Ya, pasti paman juga yang telah menyakiti bibi."


Venzo mengernyitkan keningnya dengan bingung, lalu Ella menceritakan tentang luka lebam yang ada disekitar lengan sang bibi.


"Itu pasti perbuatannya, Venzo. Paman yang sudah menyakiti Bibi." Ella kembali terisak.


"Tidak, Ella. Jangan menangis lagi, kasihanilah anak kita."


Ella lalu mengusap air matanya saat di ingatkam tentang bayi yang ada dalam kandungannya, tetapi seperti ada yang janggal dari ucapan laki-laki itu.


"A-anak kita? Kenapa, kenapa kau mengatakan itu?" tanya Ella dengan tergagap.


"Tentu saja. Saat ini kau bersamaku, dan selamanya akan tetap bersamku. Lalu, anak itu juga akan bersamaku. Itu artinya dia anak kita."


Ella menatap Venzo dengan sendu, dia lalu menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan. "Maafkan aku, Venzo. Aku, aku telah melanggar janji kita." Suaranya lirih terdengar.


Venzo tersenyum, ternyata Ella mengingat janji yang mereka ucapkan di malam pertunangan beberapa tahum silam. Di mana mereka akan selalu setia dan bersamanya selamanya.


"Kenapa kau minta maaf? Kau melakukannya bukan karena sengaja, Ella. Dan aku sudah sangat bersyukur karena kau kembali dalam keadaan baik-baik saja, juga membawa sih kecil yang pasti sangat menggemaskan ini." Dia mengusap perut Ella yang sudah membuncit.


Sungguh sangat miris sekali, bagaimana mungkin Ella kembali setelah hamil dengan orang lain? Sungguh dia merasa sedih dan kasihan dengan Venzo, tetapi semuanya sudah di takdirkan oleh Tuhan.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan membahas masalah yang sudah lalu. Lebih baik telepon bibimu dan suruh dia ke sini, kita harus bicara dengannya."


Ella mengangukkan kepalanya lalu mengambil tas yang ada di tas meja, dia mengambil ponsel lalu segera menelepon bibi Rosa.


Venzo yang merasa sangat bahagia melingkarkan tangannya ke perut Ella membuat wajah wanita itu memerah, dia lalu meletakkan kepalanya di bahu wanita itu sambil meresapi kebahagiaan yang sedang di rasakan.


Setelah selesai menelepon Rosa, Ella dan Venzo tampak berbincang tentang kehidupan yang Ella jalani saat berada di negara sebelah. Juga tentang rumah tangganya dengan Calvin yang harus menelan pil pahit pengkhianatan.


"Kau tenang saja, Ella. Kita akan memberikan pukulan telak pada laki-laki brengs*ek itu, saat sidang putusan kalian. Kita akan muncul saat hakim sudah mengetuk palu tanda sahnya perceraian kalian, karena jika tidak. Aku yakin dia akan berlutut di kakimu saat melihat bagaimana penampilanmu saat ini, apalagi dengan perut buncit." Dia mengusap perut Ella membuat wanita itu mencebikkan bibirnya.


"Jadi maksudmu, dulu penampilanku jelek?" Dia menatap Venzo dengan sinis.


"Tentu saja tidak, Ella. Dari dulu kau selalu cantik, hanya saja ada sedikit perbedaan dalam penampilanmu, saat ini kau tampak seperti seorang ratu dari sebuah kerajaan."


Ella langsung tergelak saat mendengarnya. "Ratu? Ada-ada saja kau ini?"


Soal kecantikan, tentu tidak ada perubahan diwajah Ella. Hanya saja saat ini dia tampak lebih cantik dan modis, apalagi dengan memakai barang-barang branded yang pasti membuat tampilannya sangat mempesona.


Rosa yang baru tiba di mansion Venzo merasa bingung karena tiba-tiba disuruh datang ke tempat itu, dan ini kedua kalinya dia datang ke mansion itu.


"Selamat datang, Nyonya Rosa. Saya akan mengantar Anda ke kamar tuan muda, mari." Gio menyambut kedatangan Rosa dan mempersilahkannya untuk masuk.


Rosa mengernyitkan kening saat mendengar kata-kata kamar. "Tunggu, apa yang sudah terjadi? Kenapa mereka berada di dalam kamar?" Dia lalu mengikuti langkah laki-laki itu untuk bertemu dengan Ella.


"Masuklah, Bibi."


Rosa lalu mengucapkan terima kasih pada Gio dan masuk ke dalam kamar itu, terlihat Ella dan Venzo sudah duduk di atas sofa.


"Ada apa, Ella? Kenapa kau menyuruh bibi ke sini?" tanyanya sambil duduk di hadapan mereka, dia sedikit bingung saa melihat Venzo bergelayut manja di lengan Ella.


"Bibi, aku sudah mendapatkan semua ingatanku,"


"Benarkah?" Rosa tersenyum lebar saat mendengarnya, sementara Ella menganggukkan kepala.


"Aku sudah ingat semuanya. Jadi, aku juga sudah ingat sesuatu tentang paman."


Deg.


Mendadak tubuh Rosa menjadi kaku saat mendengar ucapan Ella, sementara wanita itu berpindah duduk ke sampingnya.


"Jadi, bisakah Bibi jujur padaku tentang luka lebam yang ada di lengan Bibi itu?"

__ADS_1


Rosa mencoba untuk tersenyum. "Ella, bibikan sudah mengatakan bahwa ini-"


"Luka itu karena perbuatan paman 'kan, Bibi?"


Deg.


"A-apa maksudmu, Ella? Bibi tidak mengerti," ucap Rosa mencoba untuk menutupi semuanya.


"Paman sudah menyakiti Bibi dan memukul seluruh tubuh Bibi dengan ikat pinggang, apa yang aku katakan benar, bukan?"


Rosa tercengang dengan apa yang Ella katakan, tetapi dengan cepat dia bersikap biasa. "Untuk apa dia melakukan itu, Ella. Sepertinya kau sedang salah paham."


"Tidak, Bibi. Aku sedang tidak salah paham." Ella menarik paksa gaun yang sedang Rosa pakai membuat wanita itu memekik kaget, sementara Venzo langsung memalingkan wajahnya.


"Apa yang kau lakukan, Ella? Lepaskan tanganmu!"


Ella yang sudah geram dan diselimuti amarah, langsung menarik gaun itu dengan kuat hingga membuatnya robek di bagian atas sampai bawah.


"Apa itu, yang Bibi sebut dengan terbentur, hah?" teriak Ella saat tubuh Rosa yang dipehuhi lebam sudah terlihat jelas dikedua matanya, sementara Rosa mencoba untuk menutupi semua itu.


"Apa yang kau lakukan, Ella? Ini tidak seperti-"


"Diam!" teriak Ella lagi membuat Rosa dan Venzo tersentak kaget. "Bibi tetap mau berkelit setelah aku melihatnya, hah?" Dia menatap Rosa dengan mata berkaca-kaca. "Aku sudah menganggap Bibi sebagai Ibu kandungku sendiri, dan aku sangat menyayangi Bibi. Tapi kenapa, kenapa Bibi berbohong? Kenapa Bibi diam saja diperlakukan seperti ini oleh laki-laki brengs*ek itu, hah?"


Rosa terdiam dengan kepala tertunduk, air mata mengalir deras dari kedua matanya tetapi dia mencoba untuk tetap bertahan. "Tidak, Ella. Kau salah paham, ini tidak-"


"Cukup, Bibi. Aku tidak mau mendengar alasan apapun yang keluar dari mulut Bibi, dan aku tidak peduli. Aku akan mengatakan semuanya pada kakek, dan aku juga akan menyeretnya ke kantor polisi."


Rosa langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Ella. Kau, kau tidak boleh melakukan itu."


"Kenapa, hah? Apa Bibi pikir aku akan diam saja melihat semua ini? Tidak, aku tidak akan diam saja. Saat ini juga aku akan melaporkannya." Ella beranjak dari sofa dan berjalan ke arah pintu.


"Tidak, Ella. Jangan lakukan itu."


Grep.


Rosa memeluk kedua kaki Ella dengan erat membuat Ella meneteskan air mata. "Bibi mohon jangan lakukan itu. Kasihanilah adikmu, kasihanilah Zavier."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2