Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 47. Kepekaan Ella.


__ADS_3

Ella tersentak kaget dengan apa yang Venzo katakan, begitu juga dengan semua orang yang ada di tempat itu.


"A-apa maksudnya?" tanya Ella dengan tidak mengerti.


Venzo terdiam sambil menatap tajam ke arah kakek Zaron dan juga Rosa yang tampak tegang. "Banyak orang-orang diluar sana yang merupakan musuh dari keluarga ini, mereka juga pasti akan mengincarmu. Yang artinya bayi itu juga akan berada dalam bahaya."


Ella menganggukkan kepalanya dengan helaan napas lega, begitu juga dengan orang-orang yang ada di tempat itu.


"Ya, siapa saja juga bisa memusuhi orang lain. Baik yang kenal maupun yang tidak, baik dekat maupun jauh. Semua itu bisa saja terjadi, dan saya pasti akan berhati-hati," ucap Ella dengan tersenyum membuat yang lain juga ikut tersenyum.


Venzo terdiam saat mendengar apa yang wanita itu katakan. Kali ini, dia berjanji akan selalu melindungi dan berada di sisi Ella, dan tidak akan membiarkan hal buruk terjadi lagi padanya.


Kakek Zaron dan juga Rosa cukup terkejut dengan reaksi yang Venzo berikan. Mereka berpikir laki-laki itu akan mengamuk dan marah saat tahu jika Ella sedang mengandung, tetapi yang terjadi kalah sebaliknya. Venzo sangat mengkhawatirkan Ella dan juga bayi yang sedang wanita itu kandung.


Kemudian mereka kembali melanjutkan makan malam yang sempat tertunda, walaupun tidak ada lagi yang berselera.


Setelah selesai, mereka segera pindah ke ruang keluarga. Namun, Venzo langsung pamit pergi karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan.


"Saya akan mengantar Anda ke depan." Ella ikut beranjak bangun membuat Venzo kembali tersenyum.


Kemudian mereka berdua berjalan keluar dari rumah itu menuju di mana mobil Venzo berada.


"Aku permisi, Ella. Besok aku akan datang kembali,"


"Kenapa Anda berbohong?"


Venzo yang bersiap untuk masuk ke dalam mobil terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan Ella. "Apa maksudmu?" Dia mengernyitkan kening bingung.


"Tuan Venzo, sebenarnya saya sangat penasaran dengan Anda. Banyak hal yang ingin saya ketahui tentang Anda, dan juga hubungan kita. Tapi, ada satu hal yang mengganggu saya." Ella tersenyum sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku gaun yang dia pakai.


"Bolehkah saya minta nomor ponsel Anda? Ada banyak sekali yang ingin saya tanyakan, karena sepertinya Anda tahu banyak tentang keluarga saya." Ella tahu jika ucapan laki-laki itu menyimpan arti yang sangat penting, apalagi saat melihat ketegangan diwajah kakek dan juga bibinya.

__ADS_1


"Aku sudah punya nomor ponselmu, Ella. Nanti aku akan menghubungimu," ucap Venzo membuat Ella mengangguk. "Sekarang masuklah, angin malam tidak baik untuk ibu hamil."


Ella tersenyum mendengar ucapan Venzo, tidak disangka jika laki-laki itu paham dengan dunia wanita


Setelah melihat Venzo pergi, Ella segera masuk ke dalam rumah dan kembali bergabung bersama dengan mereka.


"Kenapa lama sekali, El? Apa dia mengatakan sesuatu?" tanya kakek Zaron membuat Ella menggelengkan kepalanya.


"Tidak, Kek. Dia hanya meminta nomor ponselku dan sibuk bertanya ini itu," jawab Ella dengan berbohong. Sejak mendengar ucapan Venzo, entah kenapa dia merasa tidak nyaman.


"Baguslah jika dia hanya mengatakan hal seperti itu, sejak dulu laki-laki itu memang tidak bisa diteba." Kakek Zaron menghela napas frustasi.


Ella hanya tersenyum saja untuk menanggapi apa yang kakeknya katakan, kemudian dia permisi ke kamar untuk segera istirahat.


Sementara itu, Venzo yang sedang dalam perjalanan tampak sedang menelepon seseorang.


"Iya, Tuan?" jawab seseorang yang ada disebrang telepon.


"Baik, Tuan."


Tut.


Venzo segera mematikan panggilan itu lalu kembali fokus pada jalanan, dan tidak berselang lama sampailah dia di sebuah mansion mewah miliknya.


"Selamat malam, Tuan. Anda sudah makan?" tanya Gio. Kepala pelayan yang sudah bekerja puluhan tahun bersamanya, bahkan bersama dengan kedua orang tuanya.


"Sudah." Venzo melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion itu. Hawa dingin langsung menerpanya, karena memang hanya dia dan Gio yang tinggal di tempat itu. Sementara para pelayan tinggal di rumah yang ada di belakang mansion ini.


"Apa Anda sudah bertemu dengan Nona Ella, Tuan?" tanya Gio kembali sambil mengikuti langkah Venzo menuju kamar.


"Sudah," jawab Venzo dengan singkat, padat dan tepat. Dia memang selalu saja menjawab pertanyaan orang lain seperti itu kecuali Ella tentunya.

__ADS_1


"Tuan, apa semua tidak berjalan lancar?" Gio merasa khawatir. Dia tahu betul jika saat ini tuannya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Aku senang dia kembali, Gio. Tapi aku juga takut tidak bisa menahan diri." Venzo masuk ke dalam kamar dan menghempaskan pantatnya ke atas sofa.


"Kenapa Anda harus menahan diri, Tuan? Sudah lama Anda menunggunya dan mansion ini juga sudah mulai dihui oleh makhlus halus, jika tidak ada tambahan orang yang tinggal bersama Anda."


Venzo langsung berdecak kesal saat mendengarnya. "Aku tidak bisa menikahinya, dia sedang hamil."


"Ha-hamil?" Gio terlonjak kaget. Laki-laki yang sudah berumur 50 tahunan itu benar-benar merasa terkejut. "Ba-bagaimana mungkin, Tuan?"


"Sudahlah. Lupakan tentang semua itu, dan sekarang keluarlah. Aku ingin sendiri."


Gio menganggukkan kepalanya. "Baiklah, Tuan. Saya akan keluar." Dia lalu beranjak keluar dari kamar itu.


Tinggalah Venzo seorang diri yang sedang memikirkan Ella, dia sangat khawatir dan juga gelisah dengan keadaan gadis itu.


Venzo lalu beranjak bangun dan berjalan ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya. "Selama ini aku tidak pernah ragu untuk mnghancurkan orang lain, tetapi aku tidak bisa menghancurkan mereka." Dia menghela napas frustasi.


Ya, begitulah yang selalu dilakukan oleh lelaki bernama Venzo Alterio. Seorang CEO dari perusahaan Arter group berumur 28 tahun. Venzo tidak akan segan-segan untuk menghancurkan siapa saja yang mengusiknya, bahkan tanpa mengedipkan mata.


Sejak berumur 13 tahun, Venzo sudah kehilangan sang Ibu yang terkena serangan dari musuh sang ayah, dan tiga tahun kemudian ayahnya juga ikut meninggal akibat kecelakaan pesawat.


Menjadi anak yatim piatu tanpa saudara dan keluarga, tentu saja membuat jiwa Venzo tergucang.


Namun, ada seorang gadis yang mengulurkan tangan untuknya. Kehadiran gadis itu benar-benar membuat senyuman yang sempat menghilang kini kembali lagi.




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2