
Zanna sangat terkejut saat melihat Naomi juga masuk ke dalam kafe itu, dan mengikuti langkah Calvin menuju lantai 2. Dia juga segera masuk ke dalam sana agar bisa mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.
Calvin dan Naomi duduk di sudut ruangan yang ada di lantai 2, sementara Zanna sendiri masih menaiki tangga dan mencari tempat yang aman agar mereka tidak melihatnya.
"Ini yang Anda minta, Tuan Calvin." Naomi langsung saja menyerahkan sesuatu pada Calvin sebagai bukti bahwa dia adalah utusan resmi yang diperintahkan untuk mengambil berlian itu. "Dan pimpinan saya juga tidak bisa menunggu lagi. Jika Anda tidak menyerahkannya sekarang juga, maka jangan salahkan saya jika menyakiti Anda."
Glek.
Calvin menelan salivenya dengan kasar saat mendengar apa yang Naomi ucapkan. "Apa, apa kau sedang mengancamku?"
"Tentu saja tidak, Tuan. Itu bukan hanya sekedar ancaman saja, tapi sebuah kenyataan yang akan terjadi jika Anda tidak melakukan hal yang seharusnya."
Calvin menghela napas kasar saat mendengarnya. "Baiklah. Saya, saya akan memberikan berlian itu padamu. Tapi sebelum itu ada yang ingin saya katakan terlebih dahulu."
Zanna yang sejak tadi mendengarkan obrolan mereka dari balik dinding merasa sangat terkejut mendengar ucapan Naomi. "Siapa sebenarnya wanita bernama Naomi itu, kenapa dia ingin mengambil berlian milik ayah? Dan apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Dia merasa sangat bingung sekali.
"Katakan saja, Tuan," ucap Naomi dengan penuh penekanan.
Calvin menarik napas panjang sebelum mengatakan apa yang ingin dia katakan. "Si*alan. Aku harus memberitahukan pada mereka soal Zanna, jika tidak aku tidak akan memdapatkan apapun."
"Pemilik berlian itu masih hidup,"
"Apa?" Naomi merasa sangat terkejut saat mendengar apa yang Calvin katakan. "Tunggu, apa maksud Tuan pemilik berlian itu adalah nona Zanna?"
"Kau mengenalnya?" Kali ini Calvin yang gantian terkejut. Dia tidak menyangka kalau wanita itu mengenal Zanna, dan sepertinya dia sudah tertinggal jauh di belakang.
"Jadi benar, kalau nona Zanna pemilik berlian itu?" tanya Naomi kembali yang dijawab dengan anggukan kepala Calvin.
"Pantas saja wajahnya sangat mirip dengan nyonya, ternyata nona Zanna benar-benar masih hidup." Naomi sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar ini pada majikannya, dan beliau pasti akan sangat senang sekali saat mendengar kabar semua itu.
"Baiklah. Saya akan menemui nona Zanna dan mengatakan-"
__ADS_1
"Sebentar."
Naomi tidak dapat melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Calvin memotongnya. "Kau tidak bisa langsung menemuinya tanpa izinku, karena dia itu adalah istriku."
"Apa, istri?" Naomi kembali terkejut. Bukankah Zanna mengatakan kalau dia dan Calvin bersaudara? Kenapa sekarang jadi suami istri?
"Ya, dia adalah istriku. Dan ayahnya maksudku Pak Sendi sudah menitipkannya padaku," ucap Calvin kembali.
"Bukankah Anda akan menikah dengan nona Rere? Kenapa sekarang Anda mengatakan kalau nona Zanna adalah istri Anda?"
Calvin terdiam dan tidak bisa menjawab apa yang Naomi katakan. Tidak mungkin dia mengatakan kalau sudah berselingkuh dengan Rere.
"Apakah Anda berselingkuh di belakang nona Zanna?" pertanyaan Naomi sangat tepat sasaran sekali membuat Calvin langsung panik.
"Bu-bukan seperti itu. Aku hanya, hanya memenfaatkan Rere saja," ucap Calvin dengan tergagap.
Naomi menatap laki-laki itu dengan tajam. Ingin sekali dia menghajar Calvin, tetapi semua itu diluar pekerjaannya. "Baiklah. Saya tidak peduli apa yang Anda lakukan. Sekarang cepat serahkan berlian itu, karena saya ingin menemui nona Zanna."
Calvin lalu mengatakan kalau berlian itu ada di apartemennya, dan mereka beranjak pergi dari kafe itu untuk kembali ke apartemen.
Naomi yang kebetulan ingin ke toilet sebelum pergi dari tempat itu, langsung di tarik oleh Zanna untuk masuk ke salah satu toilet itu.
Sontak Naomi langsung memegang tangan Zanna dan memelintirnya membuat wanita itu memekik kesakitan.
"Sakit, sakit. Lepaskan tanganku."
Naomi membulatkan matanya saat melihat tangan siapa yang saat ini sedang dia cengkram. "No-nona Zanna?" Dia lalu melepaskan pegangan tangannya membuat Zanna bernapas lega.
"Tenagamu kuat sekali, apa kau berniat ingin mematahkan tanganku?" ucap Zanna sambil memegangi pergelangan tangannya yang berdenyut sakit.
"Maafkan saya, Nona. Saya terkejut dan tidak sengaja melakukan gerakan refleks pada Anda."
__ADS_1
Zanna hanya menganggukkan kepala sambil memijat tangannya. Dia tahu kalau Naomi melakukan itu karena terkejut, dan semua merupakan salahnya juga.
"Tapi, apa yang Anda lakukan di sini, Nona? Dan kenapa Anda menarik saya seperti ini?" tanya Naomi dengan heran.
"Aku sudah mendengar semuanya, Naomi. Aku mendengar percakapanmu dengan Calvin tadi, dan aku ingin kembali menanyakannya,"
"Apa nona membuntuti tuan Calvin?"
Zanna langsung menggelengkan kepalanya. "Semua itu tidak penting, Naomi. Sekarang ceritakan semuanya padaku tentang apa yang kau katakan pada Calvin tadi, terutama soal berlian itu. Kenapa kau mengatakan kalau itu adalah milikku?"
"Karena memang itu adalah milik Anda, Nona. Sepertinya kecelakaan itu membuat Anda kehilangan ingatan, dan kejadian itu juga sudah terjadi sangat lama,"
"Katakan, katakan semuanya padaku!"
Naomi menganggukkan kepalanya, tetapi sebelum itu. Zanna mengatakan padanya untuk mencari cara agar Calvin tidak kembali ke apartemen dulu, agar dia tidak ketahuan sedang berada di luar.
Naomi menganggukkan kepalanya dan bergegas menelepon Calvin, dan mengatakan sesuatu pada laki-laki itu agar tidak kembali ke apartemen.
"Bagaimana?" tanya Zanna saat wanita itu sudah selesai bicara pada Calvin.
"Tenang saja, Nona. Saya sudah mengurus segalanya."
Zanna menghela napas lega. Dia kemudian segera menyuruh Naomi untuk menceritakan tentang berlian itu, sekaligus tentang siapa dia yang sebenarnya.
Naomi lalu mengatakan kalau sepasang berlian itu adalah milik Tuan Zean, pemimpin dari klan Zander sekaligus ayah dari Zanna.
"A-ayah, dia ayahku?"
•
•
__ADS_1
•
Tbc.