Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 20. Tujuan yang Sebenarnya.


__ADS_3

Calvin terdiam di tempatnya saat mendengar pertanyaan tentang sepasang berlian itu. "Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?" Dia harus memutar otak untuk mencari cara agar punya waktu sedikit lebih lama lagi saat ini.


Calvin mengambil kopi yang ada di hadapannya lalu meminumnya. "Jangan terlalu terburu-buru, Nona. Saya kan harus memastikan kebenaran tentang Anda dulu." Dia kembali menyeruput kopi itu lalu meletakkannya di atas meja.


"Kenapa saya harus membuktikannya?" tanya Naomi dengan bingung.


"Tentu saja, Nona. Bisa jadi Anda itu bukan asli dari klan Zander dan hanya pura-pura saja,"


"Apa?" Naomi terkejut dengan apa yang Calvin katakan.


"Saya tidak bisa menyerahkan berlian itu pada sembarang orang, apalagi benda itu milik pewaris asli klan Zander. Itu sebabnya selama ini saya harus berhati-hati dalam menjaganya."


Benar, dia harus mengulur waktu lebih lama lagi. Namun, seberapa lama lagi dia bisa menahannya?


"Hanya orang-orang tertentu dan utusan pewaris saja yang tau mengenai berlian itu, jadi Anda tidak perlu khawatir," ucap Naomi.


"Tapi sebelum itu, dari mana Anda tau kalau saya ada di sini?" tanya Calvin. Sejak dulu dia sengaja berpindah-pindah tempat supaya mereka tidak bisa mengendus keberadaannya, bahkan dia sampai rela berpisah dengan Zanna demi hal ini.


"Tentu saja karena keahlian dan pengamatan kami selama bertahun-tahun. Jadi, cepat serahkan berlian itu sebelum saya kehilangan kesabaran."


Calvin tidak tau saja kalau sejak tadi Naomi sudah menahan emosinya. Sejak tadi dia masih mencoba memahami kalau lakI-laki itu tidak percaya padanya, tetapi rasa sabarnya ternyata hanya setipis tisu saja.


"Tidak. Saya tidak akan menyerahkannya sebelum yakin kalau Anda ini adalah orang dari klan Zander, kalau pun benar Anda ini orang dari klan Zander. Belum tentu Anda baik, bisa saja Anda ingin menggunakan berlian itu untuk niat yang jahat."

__ADS_1


Naomi mengepalkan kedua tangannya dengan geram, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa pada lelaki itu tanpa perintah dari sang majikan. "Baiklah. Aku harus melaporkan semua ini dulu pada tuan, dan menunggu perintah darinya untuk mengatasi laki-laki ini."


"Baiklah. Besok saya akan menemui Anda lagi dan menunjukkan bukti-bukti bahwa saya ini utusan langsung dari pemimpin klan Zander." Naomi lalu berdiri dan menganggukkan kepalanya, setelah itu dia beranjak pergi dari tempat itu tanpa berpamitan terlebih dahulu dengan Calvin.


"Hah." Calvin menghembuskan napas lega saat melihat wanita itu pergi, tetapi dia hanya punya waktu satu hari saja untuk mengulur waktu.


"Atau aku sembunyikan saja ya, berliannya?" Calvin mulai mencari ide. "Tapi, bagaimana jika mereka murka dan malah membunuhku?" Dia sempat mendengar dari mendiang mertuanya, kalau klan Zander itu tidak akan segan untuk membunuh orang lain jika berani bermain-main dengan mereka. Terutama tentang berlian, karena berlian itu adalah simbol penguasa daratan timur.


"Lagian kenapa Zanna sampai sekarang belum hamil juga sih?" Calvin mengusap wajahnya dengan kasar. "Atau jangan-jangan dia mandul?" Jika wanita itu mandul, maka tamatlah riwayatnya untuk menguasai harta dari klan Zander.


Ya, sejak dulu Calvin sengaja berpindah-pindah tempat supaya mereka tidak bisa mengendus keberadaannya. Bahkan dia sengaja meninggalkan Zanna supaya tidak bertemu langsung dengan mereka jika sudah berhasil menemukannya, seperti saat ini.


Biar pun begitu, dia selalu rutin berhubungan badan dengan Zanna agar wanita itu cepat hamil walau dia tidak selalu tinggal bersama wanita itu. Mereka juga sudah pernah mengunjungi rumah sakit untuk program kehamilan, tetapi Zanna menolak dengan alasan kalau mereka baru saja menikah.


"Aku harus punya anak dulu dengan Zanna supaya posisiku kokoh, dan mereia tidak bisa membuangku begitu saja. Minimal Zanna sedang mengandung sekarang, maka itu akan menjadi jaminan untukku."


Tidak, itu tidak boleh terjadi. Dia sudah mencaritahu sekaya apa dan sebesar apa kekuasaan dari Klan Zander, dan dia ingin menguasai semuanya. Itu sebabnya Zanna harus mengandung darah dagingnya agar dia punya jaminan untuk menguasai semua harta itu, karena Zanna adalah pewaris tunggal dari klan Zander.


"Jika aku dan Zanna punya anak, maka kekuasaan wanita itu akan jatuh ke tangan anakku. Dan secara tidak langsung, semua itu juga akan menjadi milikku." Calvin tersenyum lebar jika semua itu benar-benar terjadi.


Namun, pada kenyataannya sampai sekarang Zanna tidak hamil juga. Membuat dia jenuh dan bermain dengan wanita lain.


"Pokoknya aku harus mencari cara agar Zanna segera kembali dari tempat ini. Akan terlalu beresiko jika dia tinggal di sini, apalagi wanita bernama Naomi itu tinggal di apartemen yang sama denganku." Calvin lalu beranjak pergi dari tempat itu untuk menemui Zanna.

__ADS_1


Sementara itu, saat ini Zanna dan Rere masih berada di apartemen. Terlihat dua wanita itu sedang duduk saling berhadapan di ruang tamu, dengan Rere yang menundukkan kepala dan Zanna yang menatap tajam ke arah wanita itu.


"Apa kau sudah merasa tenang?" tanya Zanna yang di balas dengan anggukan dari Rere.


"Jadi, sekarang katakan apa maumu?" tanya Zanna kemudian. Dia sudah sangat malas sekali berhubungan dengan Rere.


Rere terdiam saat mendengar pertanyaan Zanna. Jika ditanya seperti itu, sudah jelas hanya satu yang dia inginkan, yaitu Calvin. "Aku, aku tidak ingin apapun, Mbak. Tapi, bagaimana dengan Mbak?"


Zanna mengernyitkan keningnya karena tidak mengerti kenapa wanita itu malah baik bertanya padanya. "Memang aku kenapa, kenapa kau malah bertanya padaku?"


Glek.


Rere menelan salivenya dengan kasar. "Apa, apa Mbak tetap ingin bersama dengan Mas Calvin?" Dia mengangkat kepalanya dengan takut-takut dan melihat ke arah Zanna.


Zanna semakin menajamkan sorot matanya saat mendengar pertanyaan dari wanita itu. "Kenapa kau bertanya? Apa kau sudah tidak sabar, ingin memiliki suamiku seutuhnya?"


Rere langsung panik saat medengar suara Zanna yang berubah ketus. "Ti-tidak, Mbak. Bu-bukan seperti itu."


"Ternyata aku salah karena sudah mengasihanimu, Rere. Yang namanya pelakor tetaplah pelakor, yang sukanya merebut milik wanita lain."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2