
Naomi menganggukkan kepalanya. "Benar, Nona. Berlian itu milik tuan Zean yang beliau berikan kepada nyoya Emily pada saat mereka akan menikah. Sebenarnya berlian itu milik pribadi tuan, dan bukan simbol dalam hal apapun. Namun, pada saat tuan melawan para mafia dari daratan timur. Dia menunjukkan sepasang berlian itu, dan mengatakan kalau itu adalah simbol dari pemimpin klan Zander."
Zanna menganggukkan kepalanya karena mulai mengerti dengan semua itu. "Tapi, apa mereka benar-benar orang tuaku?" Dia merasa ragu, dan tidak bisa menerima semua itu.
"Jika Anda ingin memastikannya, maka Anda harus melakukan tes DNA agar bisa lebih yakin,"
"Ka-kalau gitu aku harus melakukan tes DNA dengan mereka secepatnya."
Naomi langsung memasang wajah sendu saat mendengar apa yang Zanna katakan. "Maaf Nona. Tuan Zean dan juga nyonya Emily, sudah tiada."
"Apa?" Tubuh Zanna langsung terhuyung ke balakang dan menabrak dinding saat mendengar ucapan Naomi. "Ka-kau, kau bilang apa?" Jantungnya berdenyut sakit seperti sedang ditusuk oleh ribuan jarum secara bersamaan.
Naomi hanya bisa menundukkan kepalanya karena tidak sanggup untuk mengulang apa yang dia katakan tadi.
Tanpa sadar air mata Zanna jatuh membasahi wajah, bahkan air mata itu mengalir deras dengan rasa sesak yang menyeruak di dalam dada.
"Ke-kenapa seperti ini, sebenarnya apa yang terjadi?" Dia menjadi histeris sendiri.
Walaupun Zanna tidak bisa mengingat tentang dua orang yang disebutkan oleh Naomi tadi, tetapi rasa sakit yang ada dihatinya benar-benar sangat nyata. Bahkan air matanya saja terus mengalir deras, sampai membuat tubuh gemetaran.
Naomi lalu menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi pada keluarga Zanna, hingga menyebabkan wanita itu berpisah dari keluarganya.
Beberapa tahun yang lalu, Zean mengajak istri dan juga anaknya untuk pergi ke sebuah lembah yang sangat indah. Namun, saat dalam perjalanan. Tiba-tiba ada banyak sekali orang yang menyerang mereka, dan berusaha untuk melenyapkan tuan Zean dan keluarga kecilnya.
"Setelah itu bala bantuan datang, tetapi hanya tinggal tuan Zean saja yang waktu itu dalam keadaan kritis. Beliau mengatakan jika putrinya berhasil pergi bersama dengan tangan kanannya, yaitu tuan Sendi. Tetapi orang-orang yang menyerangnya mengejar mereka, dan tidak tau apakah bisa menyelamatkan diri atau tidak. Setelah mengatakan itu, beliau meninggal."
__ADS_1
Bruk.
"Nona!" Naomi memekik kaget saat tiba-tiba tubuh Zanna terjatuh ke lantai tanpa sempat dia tahan. "Anda baik-baik saja, Nona?"
Zanna menggelengkan kepalanya dengan terisak. "Kenapa, kenapa aku mengetahui semua ini, Naomi? Kenapa tidak kalian biarkan saja aku seperti dulu, tanpa tau apapun? Dan tidak merasakan sakit seperti ini." Dia menangis tersedu-sedu membuat Naomi ikut merasakan kesedihan yang dia alami.
"Maaf, Nona. Maafkan saya." Naomi hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa berani menatap Zanna, dia merasa menyesal karena sudah mengatakan semuanya pada wanita itu.
"Tidak, kau tidak salah. Hanya saja aku, aku-" Zanna tidak dapat lagi mengeluarkan suaranya karena dadanya terasa sangat sakit dan juga sesak, bahkan kini perutnya juga mulai bereaksi.
Zanna mencoba untuk mengendalikam diri saat mengingat bahwa ada sebuah jainan di dalam kandungannya, dan dia tidak mau kalau sampai terjadi sesuatu pada janinnya itu.
"Ayo kita kembali, Nona! Tuan besar, maksud saya Kakek Anda sudah lama menantikan kedatangan Anda, dia terus berdo'a agar Anda selamat dari tragedi itu,"
"Sa-saya tidak tau, Nona. Ka-kata tuan Zaydan, mereka adalah sisa dari mafia daratan timur yang ingin membalas dendam."
Zanna terdiam dengan tangan terkepal erat. Darahnya terasa mendidih, membuat urat-urat yang ada disekitar leher menonjol ke permukaan.
Naomi menundukkan kepalanya karena tidak berani menatap ke arah Zanna. "Darah memang sangatlah kental. Tanpa melakukan tes DNA pun, semua orang bisa langsung tau bahwa Anda adalah putri dari tuan Zean. Wajah Anda memang sangat mirip dengan nyonya Emily, tetapi tatapan mata dan ketegasan ucapan Anda persis sama dengan tuan Zean."
"Baiklah. Aku harus segera kembali ke apartemen, Naomi." Zanna segera berbalik dan hendak keluar dari toilet, tetapi tangannya ditahan oleh Naomi membuat dia melihat ke arah wanita itu.
"Pulanglah bersama saya, Nona," ajak Naomi. Tuan besar pasti akan sangat senang jika mengetahui bahwa cucunya masih hidup.
Zanna tersenyum tipis sambil menepuk punggung tangan Naomi. "Aku pasti akan kembali ke rumah jika memang mereka adalah keluarga, tetapi saat ini ada sesuatu yang harus aku selesaikan dulu dengan Calvin. Aku tidak bisa pergi meninggalkan laki-laki itu begitu saja, jadi aku harus mengucapkan selamat tinggal yang berkesan untuknya."
__ADS_1
Naomi paham betul apa yang akan Zanna lakukan pada Calvin, dia lalu mengganggukkan kepalanya. "Saya mengerti, Nona. Saya akan menunggu sampai Anda bersedia untuk ikut bersama saya."
"Terima kasih karena kau sudah mengerti, Naomi. Dan tolong rahasiakan semua ini dari Calvin, juga dari semua orang. Termasuk mereka yang mungkin adalah keluargaku, aku ingin merahasiakan semuanya sampai urusanku selesai. Dan untuk berlian, benda itu sudah ada ditanganku. Jadi kau tidak perlu menekan Calvin lagi untuk memberikannya padamu, buat alasan agar laki-laki itu tidak curiga," perintah Zanna. Dia sudah seperti seorang pemimpin saja saat ini.
"Baik, Nona." Naomi menganggukkan kepalanya untuk menjalankan semua perintah dari Zanna.
Mereka berdua lalu pergi meninggalkan kafe itu dengan mobil masing-masing, dan sebelumnya mereka sudah bertukar nomor ponsel.
Pada saat yang sama, Calvin sedang berada di salah satu penginapan tempat di mana Rere berada. Wanita itu memintanya untuk datang, dan mengancam akan kembali menemui Zanna jika dia tidak datang.
"Aku masih banyak urusan, Re. Bisakah kau tidak menggangguku?" ucap Calvin.
"Maaf, Mas. Aku hanya ingin mengingatkan tentang pernikahan kita saja, ini sudah tinggal beberapa hari lagi loh."
Calvin mengusap wajahnya dengan kasar. "Bagaimana kalau pernikahan itu kita tunda?"
"Apa? Aku tidak mau!"
•
•
•
Tbc.
__ADS_1