Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 7. Kejutan yang Tidak Terduga.


__ADS_3

"Ibuk!"


Ucapan Zanna terpaksa terhenti karena teriakan seorang wanita, dan wanita tersebut langsung berlari masuk ke dalam apartemen untuk memeluk ibu tercintanya.


"Aku sangat merindukan Ibuk, Ibuk baik-baik saja, kan?" tanya wanita itu sambil memeluk tubuh ibunya dengan erat.


"Ibuk baik-baik saja, Nak. Bagaimana kabarmu dan sih Vin?"


Wanita itu tergelak mendengar ucapan sang ibu, dia lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah ibunya dengan senyum cerah. "Kok Vin sih, Buk? Memangnya calon suamiku itu vinokio?" Dia terkekeh pelan.


"Namanya Ibuk gak ingat, abisnya kau selalu manggul dia mas Vin mas Vin gitu," wanita paruh baya itu membela diri.


"Ya ampun, Ibuk. Namanya itu Calvin, mas Calvin. Awas ya, kalau sampek Ibuk lupa lagi. Hahaha."


Deg.


Zanna yang masih berada di tempat itu benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Jangankan saat mendengar nama dari calon menantu wanita paruh baya itu, bahkan saat dia melihat anak dari wanita itu saja sudah membuat jantungnya terasa seperti ditusuk oleh ribuan anak panah secara bersamaan. "Tidak, ini tidak mungkin."


"Tapi, dimana Calvin?" tanya wanita paruh baya itu. Sepertinya dia lupa kalau saat ini ada orang lain di tempat itu, bahkan anaknya juga tidak menyadari keberadaan Zanna.


"Mas Calvin sedang menelpon temannya, Buk. Kami kan sudah mulai menyiapkan pernikahan, jadi ada banyak hal yang harus di urus."


Dada Zanna semakin membara saat mendengar ucapan wanita itu, tetapi dia mencoba untuk tetap tenang sebelum melihat dengan mata kepalanya sendiri siapa sosok laki-laki yang menjadi calon suami Rere.


"Wah, berarti kau harus mengundangku juga dong, Rere."


Rere tersentak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak dia langsung membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah orang tersebut.


Deg.


"Mbak, mbak Zanna?" Mata Rere membulat seketika saat melihat sosok wanita yang ada di apartemennya saat ini. Wajahnya langsung pucat dengan mulut terbuka dan keringat yang mengalir di keningnya.

__ADS_1


"Loh, kau sudah kenal dengannya?" tanya wanita paruh baya itu pada sang anak.


Zanna tersenyum tipis. "Tentu saja kenal, Buk. Rere ini rekan kerja suami saya." Dia menatap Rere dengan tajam membuat wanita itu menelan salivenya dengan kasar.


"Benar-benar kebetulan yang sangat bagus sekali." Wanita paruh baya itu tersenyum senang, dan sangat berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Rere saat ini.


Untuk beberapa saat, suasana menjadi sangat hening. Baik Zanna dan juga Rere tidak mengeluarkan suara mereka, membuat wanita paruh baya bernama Lasmi itu menjadi bingung.


"Loh, kenapa kalian-"


"Re, tolong bantu aku sebentar!"


Tiba-tiba terdengar suara baritone seorang pria yang berasal dari luar apartemen, membuat semua orang langsung melihat ke arah pintu.


Hati Zanna terasa sangat sakit saat mendengar suara yang sangat dia kenal, sementara Rere semakin menegang dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun.


"Itu loh, Re. Dipanggil sama calon suamimu, kok malah diam aja." Lasmi menyenggol lengan sang anak agar segera membantu lelaki tersebut.


Zanna lalu beralih menatap ke arah Rere membuat tubuh wanita itu tersentak. "Bukannya calon suamimu sedang memanggil, kenapa kau tidak keluar?" Dia mengulas senyum yang tampak sangat menyeramkan dimata Rere.


"I-itu, aku, aku-" Rere benar-benar tidak tau harus melakukan apa saat ini. Jangankan untuk bergerak, untuk bicara saja dia tidak bisa.


"Ya ampun, dari tadi ditungguin kok malah gak nongol-nongol."


Semua mata menatap ke arah pintu saat kembali mendengar suara seorang lelaki, dan tidak berselang lama masuklah lelaki itu ke dalam apartemen dengan menentang beberapa paper bag di tangannya.


"Kau lagi apa sih, Re? Kok-" Calvin yang saat itu baru mendongakkan kepalanya sangat terkejut saat melihat seorang wanita yang saat ini sedang berdiri di belakang Rere.


"Sa-sayang?"


Bruk.

__ADS_1


Barang-barang yang ada di tangan Calvin langsung berjatuhan ke atas lantai. Dia benar-benar sangat terkejut saat melihat keberadaan sang istri, sampai seluruh tubuhnya menjadi kaku.


Zanna tersenyum melihat reaksi yang diberikan oleh suaminya. Sekarang dia yakin kalau sejak tadi pikirannya tidak salah, dan semua yang terjadi ini benar-benar sangat menusuk hatinya.


"Kejutan," teriak Zanna sambil berjalan untuk menghampiri sang suami membuat semua orang langsung menatap dengan bingung, terutama Lasmi.


"Maaf karna aku tidak memberitahumu kalau akan datang ke sini, karna aku berniat ingin memberi kejutan untukmu."


Jantung Calvin berdegup kencang saat melihat senyum yang terpancar di wajah sang istri, dia tahu benar kalau saat ini Zanna pasti sangat marah padanya.


"Sa-sayang, aku-"


"Tapi ternyata, kau dan Rere sedang membuat kejutan untukku, ya." Zanna mengangguk-anggukkan kepalanya dengan air mata yang mulai berjatuhan membasahi pipi, bahkan suaranya tadi juga sudah bergetar.


Calvin yang melihat semua itu langsung menarik tubuh Zanna dan memeluknya dengan sangat erat, membuat Rere dan ibunya melotot dengan tidak percaya.


"Sayang, aku, aku bisa menjelaskan semua ini. Ini, ini tidak seperti yang kau pikirkan," ucap Calvin dengan terputus-putus. Dia memeluk tubuh Zanna dengan erat, dan berusaha untuk menenangkan wanita itu.


Zanna yang berada dalam pelukan Calvin tidak bisa berkata apa-apa lagi, sungguh semua ini sangat mengguncang jiwa dan raganya. Bagaimana mungkin suami yang selama ini dia cintai tega melakukan hal seperti ini? Laki-laki itu bahkan berniat untuk menikah lagi.


"Sayang, aku mohon dengarkan aku dulu. Aku-"


"Baik, aku akan mendengarkan apa yang sebenarnya sedang kau dan wanita itu lakukan."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2