
Zaydan tersentak kaget dengan apa yang Rosa katakan. "Kau bilang apa? Ella bersama Venzo?"
Rosa menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "I-iya, se-sebentar lagi pasti mereka pulang."
Zaydan mengepalkan tangannya dengan geram, dia lalu menarik tangan Rosa dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Le-lepaskan tanganku, Zay. Sakit,"
"Diam!" bentak Zaydan sambil terus menarik tangan Rosa membuat wanita itu mengernyit kesakitan.
Brak.
Zaydan menutup pintu kamarnya dengan kasar lalu menatap Rosa dengan tajam. "Kenapa Ella bisa pergi dengan laki-laki itu, hah? Bukankah aku sudah mengatakan kalau Ella tidak boleh dekat-dekat dengannya?"
Suara teriakan Zaydan menggema di kamar itu membuat Rosa menunduk takut. Untung kamar itu kedap suara, jika tidak mungkin orang-orang yang ada di dalam rumah itu bisa mendengar semuanya.
"Kenapa kau diam, Rosa? Cepat katakan padaku!" Zaydan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku dengan emosi, sepertinya wanita itu harus diberi pelajaran dulu baru akan buka mulut. "Kau tidak mau menjawabnya?" Dia lalu membuka ikat pinggang yang sedang dia pakai.
"Ka-karna Ella ingin pergi jalan-jalan. Kebetulan tu-tuan Venzo datang ke rumah, ja-jadi-"
"Ke sini kau!" Zaydan menarik tangan Rosa lalu menghempaskannya ke atas ranjang. "Sepertinya sudah lama aku tidak memberi pelajaran padamu."
"Ti-tidak, jangan lakukan itu." Rosa ingin beranjak turun dari ranjang tetapi Zaydan sudah menahan kakinya.
"Diam atau kau akan menyesal!"
Srek
Srek
Zaydan menarik paksa pakaian Rosa hingga menyisakan bra dan segitiga bermuda saja.
"Suamiku aku-" Rosa memejamkan matanya saat Zaydan sudah mengkat tangan dan akan kembali mencambuknya.
"Mama!"
Tok
__ADS_1
Tok
Zaydan yang sudah akan mencambuk Rosa terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar suara panggilan Zavier. "Masuk ke dalam kamar mandi!"
Rosa beranjak turun dari ranjang dan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi, sementara Zaydan membereskan pakaian wanita itu.
"Mama! Mama di mana sih?" Zavier berdecak kesal saat tidak bisa menemukan keberadaan mamanya di mana pun.
Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka dan keluarlah Zaydan dengan bersedekap dada. "Kau ini kenapa, Zavier? Kenapa terus berteriak memanggil mamamu?" Dia menatap putranya itu dengan tajam.
"Loh, papa udah pulang?" Zavier baru tahu jika papanya sudah pulang dari perjalanan dinas dan dijawab dengan anggukan kepala Zaydan. "Pantes mama di dalam kamar aja, rupanya Papa udah pulang. Hehe."
"Dasar kau anak nakal!" Zaydan mengusap puncak kepala Zavier membuat laki-laki itu mencebikkan bibirnya.
"Duuh, rambutku kan bisa rusak, Pa." Zavier merasa kesal. "Pa, bagi uang dong. Aku mau jalan-jalan dengan teman-temanku." Dia mengulurkan tangan pada sang papa.
"Kenapa kau minta uang, di mana kartumu? Zaydan menatap heran.
"Aah. Kemaren aku pulang kemalaman, jadi mama mengambil kartuku. Makanya tadi aku manggil mama karena mau minta itu," ucap Zavier dengan sendu.
Tangan Zaydan melingkar di bahu Zavier dan mengusap leher belakang putranya itu. "Mamamu sedang mandi." Dia lalu mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
Zavier tersenyum lebar lalu segera beranjak pergi dari rumah saat sudah mendapat apa yang dia inginkan.
Zaydan menatap punggung Zavier yang mulai menjauh, dia lalu tersenyum miring dan kembali masuk ke dalam kamar.
Pada saat yang sama, Ella baru saja sadar setelah beberapa jam mengalami pingsan. Dia lalu melihat ke sekeliling tempat dan sadar jika sedang berada di rumah sakit.
"Ssshh." Ella kembali mendesis sakit saat memggerakkan tubuhny membuat Venzo yang sedang fokus pada ponsel melihat ke arahnya.
"Kau sudah sadar?" Venzo beranjak dari sofa untuk mendekati Ella, sementara wanita itu menatapnya dengan tajam.
"Kau ingin minum, hem?" tawar Venzo membuat Ella menggelengkan kepalanya.
"Aku mau pulang, Venzo!" ucap Ella dengan penuh penekanan.
Venzo terdiam karena tahu jika Ella masih marah dengannya, dia lalu menghela napas kasar. "Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang, Ella. Tapi kata Dokter kau harus sering konsultasi dengan mereka agar bisa kembali memulihkan ingatanmu, aku sudah-"
__ADS_1
"Aku tidak butuh bantuanmu, terima kasih."
Venzo menatap Ella dengan sendu. "Terserah kau mau percaya atau tidak denganku, Ella. Tapi tetaplah waspada dan juga berhati-hati."
Ella membuang muka ke arah samping karena tidak ingin mendengar atau pun membicarakan tentang masalah itu lagi.
Venzo tersenyum lalu segera membantu Ella untuk turun dari ranjang, walaupun wanita itu terus menepis tangannya.
Akhirnya mereka keluar dari rumah sakit dan segera pulang menuju rumah Ella. Sepanjang perjalanan, wanita itu terus melihat ke arah jendela sambil mengusap perutnya. Dia lalu memejamkan kedua matanya untuk menenangkan hatinya yang kembali bergejolak.
"Ya Tuhan, aku mohon beri ketenangan dan kedamaian padaku. Sungguh hatiku sangat tidak tenang dengan semua ini, Tuhan. Aku mohon berikanlah petunjuk padaku." Air mata menetes dari sudut mata Ella saat memikirkan tentang semua itu.
Venzo melirik ke arah Ella dengan sedih. Sungguh dia sangat tidak tega dengan apa yang wanita itu rasakan saat ini, tetapi inilah kenyataan yang harus Ella ketahui.
"Kau tenang saja, Ella. Aku akan kembali menyelidikinya semuanya. Jika benar pamanmu tidak bersalah, maka aku akan memohon ampun padanya. Tapi jika pamanmu benar-benar terlibat, maka aku juga tidak akan tinggal diam." Venzo mencengkram erat setir kemudinya dengan tatapan tajam ke arah jalanan.
Tidak berselang lama, sampailah mereka ke tempat tujuan. Ella segera turun dari mobil bersamaan dengan Venzo yang akan membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih karena sudah mengantarku." Ella menganggukkan kepalanya.
"Istirahatlah, Ella. Aku akan menelponmu nanti."
Ella langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa membalas ucapan Venzo, sementara laki-laki itu langsung masuk ke dalam mobil dan beranjak pergi dari sana.
"Ella, kau baru pulang?"
Ella yang baru masuk ke dalam rumah langsung melihat ke arah sofa di mana paman dan kakeknya berada. "Maaf karena aku pulang terlalu sore Paman, Kakek." Dia berjalan ke arah mereka.
"Tidak apa-apa, Sayang. Bagaimana, apa jalan-jalanmu dan Venzo seru?" tanya Zaydan sambil tersenyum cerah.
"Lihatlah, Venzo. Apa laki-laki seperti ini benar-benar ada hubungannya dengan kematian kakaknya sendiri?"
•
•
•
__ADS_1
Tbc.