Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 49. Taman Bermain.


__ADS_3

Lelaki itu tersenyum saat melihat sesuatu yang sangat dia senangi, dan sudah tidak sabar untuk membedah dan mengeksekusinya.


"Tuan, bayarannya sudah diterima," lapor salah satu anak buah dari lelaki itu.


"Bagus. Kalau gitu kirimkan barangnya pada mereka, dan katakan bahwa barang itu mempunyai kualitas yang sangat bagus." Laki-laki itu tersenyum penuh arti lalu beranjak pergi dari tempat itu karena harus segera kembali ke perusahaan.


Setelah selesai bersiap, Ella turun dari kamarnya dan menunggu kedatangan Venzo di ruang tamu.


"Kau mau pergi, Ella?" tanya Rosa yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Ella menganggukkan kepalanya. "Iya, Bibi. Aku akan pergi dengan Venzo, apa boleh?" Dia lupa untuk minta izin terlebih dulu.


"Tentu saja, Sayang. Tapi jangan pulang malam ya, bibi takut kakekmu tidak suka," ucap Rosa memperingatkan tentang papa mertuanya.


"Oke." Ella menunjukkan dua jempol tangannya pada Rosa lalu kembali melihat ponsel, sementara Rosa berlalu pergi ke dapur.


Tidak berselang lama, sampailah Venzo di tempat itu. Dia segera turun dari mobil dan berlalu masuk ke dalam rumah.


"Anda sudah sampai?" Ella beranjak dari kursi saat melihat kedatangan Venzo, dan untuk kesekian kalinya dia merasa terpesona dengan ketampanan laki-laki itu.


"Apa kita bisa pergi sekarang?"


"Tentu."


Mereka beranjak keluar dari rumah dan berlalu pergi dengan menggunakan mobil sport keluaran terbaru milik Venzo, dan melaju cepat di jalanan.


"Anda ingin mengajak saya ke mana?" tanya Ella sambil memperhatikan jalanan.


"Pertama-tama, bisakah kau tidak menggunakan bahasa formal padaku? Itu terasa sangat tidak nyaman," pinta Venzo, dia merasa seperti ada jarak antara dia dan wanita itu.


"Baiklah, Venzo. Kau mau mengajakku ke mana? Begitukah?" Ella mengedipkan sebelah matanya membuat dada Venzo langsung bergemuruh.


"Si*al. Jangan lakukan itu lagi, Ella. Atau aku akan hilang kendali."


Venzo menggelengkan kepalanya untuk menenangkan diri. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang dulu sering kita datangi, bahkan di tempat itulah pertama kali kita bertemu."

__ADS_1


"Kira-kira tempat seperti apa, itu?" Ella berpikir keras untuk menebak tempat apakah yang akan mereka datangi, tetapi otaknya sama sekali tidak bisa untuk di ajak kerja sama.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Ella membulatkan matanya saat melihat tempat apakah yang mereka datangi, dan ternyata tempat wahana permainan.


"Kita dulu sering pergi ke sini?" tanya Ella sambil keluar dari mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Venzo.


"Yah, kau sangat suka sekali jika sudah datang ke tempat ini," jawab Venzo.


Ella tersenyum saat melihat ke arah orang-orang yang berbondong-bondong masuk ke dalam tempat itu, apalagi anak-anak yang saling berlarian ke sana kemari karena merasa bahagia.


"Ayo, kita masuk ke dalam," ajak Venzo dengan sangat antusias sambil menggenggam tangan Ella membuat wanita itu menatap tangannya dengan bingung.


Sejak Ella menghilang, Venzo sudah tidak pernah lagi datang ke tempat itu. Apalagi dia disibukkan dengan perebutan kekuasaan di perusahaan yang berusaha untuk diambil alih oleh pamannya yang serakah dan jahat.


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam tempat itu, dan langsung disuguhkan dengan kemeriahan yang ada di dalamnya. Ella terlihat sangat antusias mengajak Venzo untuk naik ke wahana-wahana yang ada di tempat itu, sampai lupa jika dia sedang hamil.


"Kau tidak boleh naik itu, Ella. Itu bisa membahayakan kandunganmu."


Ella tertegun dengan apa yang Venzo ucapkan. Dia yang hamil saja bisa lupa, tetapi lelaki itu malah mengingatnya.


Ella tertawa bahagia saat menaiki semua wahana, apalagi keberadaan Venzo yang semakin menambah tawa diwajahnya.


Entah kapan terakhir kali dia tertawa lepas seperti itu. Apalagi sejak pengkhianatan yang dilakukan oleh Calvin, hampir tidak terlihat senyum diwajahnya.


2 jam berlalu dengan sangat cepat membuat tubuh Ella kelelahan. Mereka lalu istirahat di sebuah food court sambil memesan makanan dan minuman untuk menu makan siang hari ini.


Venzo tersenyum saat melihat wajah Ella yang tampak berseri-seri, dan tidak berbeda dari sewaktu mereka masih berumur belasan tahun silam.


"Kenapa melihat seperti itu, apa ada sesuatu diwajahku?" Ella meraba wajahnya sendiri saat Venzo terus menatapnya membuat dia merasa canggung dan malu.


"Tidak. Aku merasa senang saat kau tertawa bahagia seperti tadi, wajahmu tampak berseri-seri."


Blush.


Wajah Ella langsung memerah karena ucapan Venzo membuat laki-laki itu tertawa lucu. "Ja-jangan mengatakan hal seperti itu." Ella mengibas-ngibaskan tangan karena wajahnya terasa panas.

__ADS_1


"Aku mengatakan yang sejujurnya, kok. Kau sangat cantik dan mempesona, apalagi saat tertawa. Maka-"


"Be-berhenti, jangan mengatakannya lagi." Ella mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan Venzo, sementara laki-laki itu menatapnya dengan bingung.


"Dasar gila. Bisa-bisanya dia mengatakan semua itu dengan santai dan tenang, apa dia tidak tau jika aku sudah merasa malu setengah mati?" Rasanya Ella ingin tenggelam ke dasar laut saja sangking malunya.


Untung saja pelayan datang dengan membawa pesanan mereka, membuat Venzo tidak lagi melanjutkan apa yang ingin dia katakan tadi.


"Se-selamat makan." Ella langsung menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja, dia masih merasa malu dan hanya fokus dengan makanan saja.


Beberapa saat kemudian, semua makanan yang dipesan tadi sudah habis tidak bersisa. Terlalu banyak bermain tentu membuat perut keroncongan, alhasil menghabiskan semua makanan membuat perut terasa ingin meledak.


"Oh ya Venzo, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Ella tiba-tiba. Dia baru ingat tentang kejadian saat makan malam waktu itu.


"Tanya saja, aku pasti akan menjawabnya," balas Venzo dengan santai.


"Aku ingin bertanya tentang apa yang kau katakan saat makan malam waktu itu, Venzo. Aku tahu jika kau sedang berbohong, apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"


Venzo terdiam saat mendengarnya, dia sedang berpikir haruskah mengatakan semuanya pada Ella atau tidak.


"Aku merasa tidak nyaman setelah mendengar ucapanmu, apa telah terjadi sesuatu?" tanya Ella kembali.


"Harusnya kau bertanya pada keluargamu, Ella. Dan bukan padaku," ucap Venzo.


"Apa maksudmu? Dan apa yang harus aku tanya pada mereka?"


"Tentang kematian orang tuamu."





Tbc.

__ADS_1


__ADS_2