
Rere langsung menolak ucapan Calvin mentah-mentah. "Aku sudah lama menunggumu, Mas. Mau sampai kapan lagi kau memberi harapan palsu padaku?" Dia berteriak dengan air mata yang berhamburan keluar. "Apa tunggu sampai aku hamil, baru kau akan menikahiku?" Dia mulai terisak dengan pilu.
Calvin semakin frustasi saja sekarang. "Aku masih belum bisa menenangkan Zanna, Re."
"Kenapa kau tidak menceraikan dia saja, Sih? Persetan dengan berlian itu, bukankah aku lebih penting dari semuanya?" ucapnya dengan lirih bermandikan air mata.
"Tutup mulutmu, Rere! Kau tidak tau seberharga apa berlian itu untukku, aku bisa menguasai semuanya dengan berlian itu," bentak Calvin membuat Rere langsung menunduk takut.
Calvin menghela napas kasar lalu menarik tangan Rere dan memeluk tubuhnya dengan erat. "Aku memintamu untuk bersabar jika ingin bersama denganku, karena aku harus menenangkan Zanna dan berlian itu dulu. Apa kau paham?" Dia lalu memegang kedua bahu Rere membuat wanita itu mengangguk.
"Baiklah. Aku harus segera kembali ke apartemen." Dia lalu melepaskan tangannya dari bahu Rere dan segera menyambar kunci mobilnya yang ada di atas meja.
Pada saat akan keluar, tiba-tiba Rere memeluk tubuh Calvin dari belakang membuat langkah laki-laki itu terhenti.
"Aku merindukanmu, Mas. Tidakkah kau juga merindukanku," lirihnya sambil mengusap dada bidang Calvin.
"Aku harus pulang, Re. Zanna pasti sudah menungguku,"
"Tapi aku juga membutuhkanmu, Mas. Apa kau tidak rindu dengan kepuasan yang ku berikan untukmu? Aku akan memberikan kepuasan yang lebih nikmati dari sebelumnya, jika kau menginap bersama ku malam ini."
Calvin mulai terpancing dengan ucapan Rere. Jakunnya bergerak naik turun saat bayangan kepuasan yang wanita itu katakan melintas dalam kepalanya.
"Ya, Mas. Aku mohon," bujuk Rere lagi. Dia sudah sangat merindukan belaian dan hujaman dari laki-laki itu. Dan jujur saja, setiap malam dia selalu bermain seorang diri karena tidak bisa menahan napsunya.
Calvin kembali menghela napas kasar lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Rere. "Kalau aku di sini, bagaimana dengan Zanna, hem?" Dia mulai mengusap bibir Rere dengan ibu jarinya walaupun bibir itu tidak semanis milik Zanna.
"Mbak Zanna 'kan sudah biasa tidur sendiri, Mas. Lagi pula kau bilang besok kau akan kembali bersamanya, 'kan? Kapan lagi aku akan memberi kepuasan padamu." Rere mengecup bibir Calvin sekilas untuk menggodanya, bahkan kini kakinya sudah menempel dan menggesek sesuatu di bawah sana.
__ADS_1
"Ssshh, kau nakal sekali, Rere." Calvin menahan kaki Rere yang sedang mempermainkan miliknya yang sudah mulai tegak menantang.
"Kau juga menginginkannya, Mas. Ayolah!" Rere menarik dasi Calvin yang masih bertengger di kerah kemeja, dan berniat untuk melepaskannya.
"Jangan sekarang, Re. Aku benar-benar harus pulang." Calvin menahan tangan Rere membuat wanita itu langsung berwajah masam. "Jangan marah, Re. Aku akan datang lagi nanti malam."
"Benarkah?" Rere menatap Calvin dengan mata berbinar-binar.
"Tentu saja. Tidak mungkin aku membuang kenikmatan yang ingin kau berikan, 'kan?" Calvin meletakkan tangannya tepat di dada Rere dan mulai meremmasnya.
"Aah, aku pasti akan benar-benar memuaskanmu, Mas." Rere mendessah penuh nikmat dengan apa yang Calvin lakukan.
Tidak mau semakin terbawa gairah, Calvin segera menghentikan apa yang dia lakukan membuat Rere berdecak kesal. "Tunggu aku nanti malam."
Cup.
"Sh*it. Gara-gara Rere dia jadi tegak menantang seperti ini." Calvin mencoba untuk menenangkan adik kecilnya yang sudah tegak menantang akibat perbuatan Rere tadi. Setelah tenang, dia baru melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Rere tersenyum penuh kemenangan saat Calvin mengiyakan apa yang dia inginkan. "Kau memang tidak akan pernah bisa menolak pesonaku, Mas." Dia mengibaskan rambutnya dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Zanna yang saat itu sudah berada di apartemen terlihat sedang duduk di ruang tamu. Dia mulai memikirkan apa yang Naomi katakan padanya tadi, dan semua itu masih benar-benar sangat mengejutkannya.
"Jika mereka memang benar-benar keluargaku, kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?" Zanna lalu ingat kalau Naomi sempat mengatakan jika mungkin dia mengalami hilang ingatan.
"Bisa jadi aku memang kehilangan ingatanku, karena aku juga tidak ingat bagaimana masa kecilku dulu."
Ya, Zanna memang tidak bisa mengingat saat-saat dia kecil dulu, lebih tepatnya sebelum berusia sekitar 12 tahun. Ingatan terakhirnya yaitu saat berada di rumah sakit, dan ayahnya mengatakan kalau ada seseorang yang tidak sengaja menabraknya.
__ADS_1
"Tapi dari mana mereka tau kalau aku dan ayah tinggal di kota itu? Apa ayah sempat menghubungi mereka?" Zanna jadi merasa penasaran. "Baiklah. Setelah aku pulang, aku akan membongkar seisi rumah untuk mencari apapun yang berkaitan dengan hal itu. Mungkin saja ayah masih menyimpannya."
Beberapa saat kemudian, sampailah Calvin di apartemen. Dia segera membersihkan diri dan kembali pergi bersama Zanna untuk berbelanja.
"Apa kau sudah meminta izin pada perusahaan pusat, Calvin?" tanya Zanna.
Calvin yang sedang mengemudikan mobilnya melihat ke arah Zanna sekilas. "Sudah, Sayang. Tapi ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini juga, supaya besok bisa langsung pergi bersamamu."
"Benarkah?" tanya Zanna yang langsung di balas dengan anggukan kepala Calvin.
"Baiklah, nanti malam aku akan membawakan bekal supaya kau bisa menikmatinya saat berada di kantor. jika banyak bekerja, kau pasti akan mudah lapar."
Calvin tersenyum mendengar ucapan Zanna. "Kau tidak perlu repot-repot seperti itu, Sayang. Aku bisa beli diluar nanti."
"Tidak apa-apa, aku akan memasak makanan kesukaanmu," ucap Zanna dengan senyum lebar membuat hati Calvin terasa hangat dan juga tenang.
"Terima kasih, Sayang. Kau benar-benar yang terbaik." Calvin mengusap wajah Zanna dengan lembut membuat hati wanita itu terasa seperti teriris sembilu.
"Baiklah, Calvin. Aku akan membawakanmu makanan yang banyak, agar wanita itu juga bisa menikmatinya setelah kalian selesai bercinta." Zanna melihat ke arah luar jendela dengan nanar.
Apa Calvin masih berpikir dia tidak tau apa-apa, sehingga mengatakan jika ada pekerjaan kantor? Sangat tidak masuk akal sekali.
•
•
•
__ADS_1
Tbc.