Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 58. Tuntutan Harta.


__ADS_3

Ella dan Rosa yang sudah sampai di mall segera menuju toko yang menjual perlengkapan bayi. Mata mereka berdua berbinar-binar saat melihat begitu banyak perlengkapan bayi yang sangat imut dan juga cantik, membuat mereka merasa gemas dan ingin sekali membelinya.


"Wah, semua cantik-cantik dan menggemaskan, Bibi. Aku ingin membeli semuanya."


Rosa tergelak saat mendengar apa yang Ella ucapkan. "Tentu saja, Ella. Kau memang harus membeli semuanya, ini." Dia memberikan dua buah black card kepada Ella.


"I-ini, ini untukku?" Ella membulatkan matanya saat melihat kartu-kartu tersebut.


"Iya, Ella. Kedua kartu itu milik mendiang orang tuamu. Setelah mereka meninggal, kartu itu ada pada bibi. Sebelumnya pengacara mereka sudah mengubah semua sandinya agar bisa kau gunakan suatu saat nanti, dan sekarang itu adalah milikmu."


Ella menatap kartu itu dengan kata berkaca-kaca, tangannya bergetar membuat Rosa langsung menggenggamnya dengan erat.


"Setelah ini kita akan mengurusnya agar kartu itu diubah menjadi atas namamu, bibi tidak bisa-"


"Tidak, Bi. Itu tidak perlu." Ella menggelengkan kepalanya membuat Rosa menatap bingung. "Ini adalah salah satu peninggalan mama dan papa, aku tidak akan mengubahnya."


Rosa tersenyum saat mendengarnya. "Kau benar, Ella. Kalau begitu kita buat saja yang baru, lagipula kakek juga sudah pernah mengatakannya."


Ella menganggukkan kepalanya. Sebenarnya tanpa uang dari mereka pun, dia masih punya tabungan beberapa juta di dalam ATM karena memang sejak dulu dia suka menabung.


"Yang Ella katakan itu benar."


Ella dan Rosa langsung memalingkan wajah mereka ke arah samping saat mendengar suara seseorang, terlihat Venzo sudah tiba di tempat itu karena sebelumnya Ella sudah memberitahukan keberadaan mereka.


"Black card itu milik om dan tante, jadi selamanya tetap atas nama mereka. Ella juga tidak perlu black card dari keluarganya, karna aku yang akan memberikan itu padanya."


Venzo langsung mengambil sesuatu dari dalam dompetnya, dan memberikan sebuah black card pada Ella. "Ini untukmu, Ella. Aku mohon jangan menolaknya."


Mata Ella dan Rosa membulat sempurna saat melihat black card pemberian Venzo. "Black card ini kan hanya ada 10 buah saja di dunia?" Itulah yang ada dalam pikiran mereka saat ini, dan itu memang kenyataan.


"A-aku tidak perlu semua ini. Lagi pula aku masih punya uang di dalam ATM, walaupun tidak sebanyak uang kalian," tolak Ella. Jangankan untuk memakai kartu itu, untuk memegangnya saja dia sudah merasa gemetaran.


Venzo dan Rosa sama-sama tersenyum saat mendengar apa yang Ella katakan. "Begini saja. Jika kau tidak mau menerimanya sekarang, maka silahkan pilih apapun yang mau kau beli di toko ini. Biar aku yang membayarnya, tapi kau tidak boleh lagi menolak atau aku akan memaksamu menerima kartu ini."

__ADS_1


Ella menghela napas kasar saat mendengar ucapan Venzo, tetapi akhirnya dia menganggukkan kepala dan mulai memperhatikan barang-barang yang harus dibeli.


Akhirnya mereka bertiga mulai memilih apa-apa saja yang akan dibeli. Rosa yang melihat kedekatan antara Venzo dan juga Ella merasa senang, dia lalu memilih untuk duduk dan hanya memperhatikan mereka saja.


Bagi orang lain, Venzo mungkin laki-laki yang sangat dingin dan juga kejam. Namun, hatinya sangat hangat terlebih-lebih pada Ella.


"Tapi jika Zaydan mengetahuinya, aku pasti akan kembali menerima siksaan darinya." Rosa menyandarkan tubuhnya yang terasa remuk redam. "Aku sudah tidak kuat, Tuhan." Air mata menetes dari kedua matanya.


Sungguh Rosa sudah tidak kuat jika harus terus bersama dengan Zaydan, walaupun dia sangat mencintai laki-laki itu. Padahal sejak pacaran dan awal pernikahan, laki-laki itu sangat baik dan penuh perhatian hingga membuat semua orang iri padanya.


Tidak seperti Zean yaitu papanya Ella yang terkenal pendiam dan kaku, juga terlihat dingin dan angkuh. Zaydan adalah laki-laki yang ramah dan mempesona, itu sebabnya mudah saja bagi Rosa untuk jatuh hati pada laki-laki itu.


Namun, siapa sangka jika laki-laki itu adalah jelmaan dari iblis? Sejak Zavier berumur 5 tahun, Zaydan mulai bertindak kasar bahkan tidak segan-segan untuk menyiksa Rosa jika wanita itu membuat kesalahan.


Rosa pernah mencoba untuk kabur dengan membawa Zavier, tapi dia tidak bisa lari dari Zaydan karena laki-laki itu sangat berkuasa. Zaydan murka, dan bersiap untuk membunuh Zavier yang merupakan darah dagingnya sendiri di hadapan Rosa. Sejak saat itu Rosa memohon keselamatan Zavier, dan tidak berani lagi untuk melawan.


"Bibi."


Rosa tersentak kaget saat tiba-tiba Ella menyentuh tangannya. "Y-ya? Apa kalian sudah selesai?" Dia mengusap air mata yang si*alnya membasahi wajah."


"Oh, benarkah?" Rosa tertawa agar mereka tidak curiga. "Bibi teringat saat mengandung Zavier dulu. Dan waktu itu bibi berbelanja perlangkapan seperti ini bersama dengan mamamu dan juga kau yang masih berumur 2 tahun." Untung saya Rosa mendapatkan alasan yang tepat.


"Kau tau, lebih banyak barang-barang yang mamamu belikan untukmu dari pada barang-barang untuk Zavier, jadi saat itu aku tertawa karena tidak tau siapa yang sebenarnya akan dilahirkan." Air mata kembali menetes membuat Rosa langsung menghapusnya.


Ella ikut sedih dengan apa yang Rosa ceritakan. "Andai saat ini mama masih ada bersama kita, tidak tau akan jadi seperti apa dia membelanjakan barang-barang cucunya."


Rosa menganggukkan kepalanya. "Kau benar, Ella. Dia sangat bersemangat sekali jika belanja barang-barang seperti ini, sama sepertimu. Lihat, banyak sekali yang kau beli." Dia tergelak saat melihat para karyawan mengemas hampir semua barang-barang yang ada ditoko itu.


"Itu bukan aku, Bibi. Tapi laki-laki itu!" Ella menunjuk ke arah Venzo yang pura-pura tidak mendengar ucapannya. "Dia yang membeli semua barang-barang di toko ini. Memangnya aku mau melahirkan 10 anak?" Dia merasa kesal.


Venzo dan Rosa langsung tergelak saat mendengar ucapan Ella. "Kalau kau melahirkan 10 anak, mungkin dia akan membeli seluruh isi di mall ini, Ella." Rosa menggelengkan kepalanya.


Setelah selesai berbelanja, mereka berlalu pergi ke restoran untuk makan siang dengan Venzo yang masih setia mengikuti.

__ADS_1


Saat sedang memesan makanan dan minuman pada pelayan, tiba-tiba ponsel Ella berbunyi dan dia segera mengangkat panggilan dari pengacaranya.


"Halo, Pak. Bagaimana?" tanya Ella membuat Venzo dan Rosa langsung melihat ke arahnya.


Pengacara itu lalu mengatakan tentang tuntutan dari Calvin yang meminta bagian atas harta rumah dan juga mobil, laki-laki itu bahkan menyertakan video yang beberapa bulan lalu Ella berikan sebagai keterangan karena telah dipermalukan.


"Mereka benar-benar tidak tahu malu, ya. Menuntut karena telah dipermalukan, seharusnya mereka sadar bahwa merekalah yang sudah diam-diam menikah di belakangku."


Rosa dan Venzo langsung paham dengan apa yang terjadi pada Ella, karena mereka berdua tahu jika saat ini Ella dan suaminya sedang dalam proses perceraian.


"Tuntut saja dia balik, dasar-" Ella tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tiba-tiba Venzo meminta ponselnya.


"Apa yang ingin kau lakukan?"


Venzo tidak menjawabnya dan terus meminta ponsel itu sampai akhirnya Ella memberikan benda pipih itu.


"Kabulkan tuntutannya, dan berikan berapa saja yang dia mau,"


"Apa?" Pengacara itu merasa terkejut. "Ma-maaf, Tuan. Anda ini siapa? Dan kenapa kita harus mengabulkan kemauan mereka?"


"Aku calon suami klienmu, dan lakukan saja perintahku. Kami akan datang dipersidangan terakhir."


Venzo lalu mematikan panggikan itu setelah pengacara Ella mengiyakan apa yang dia inginkan.


"Kenapa kau melakukan itu, Venzo?" tanya Ella dengan emosi, begitu juga Rosa yang terlihat bingung.


"Apa salahnya jika bersedekah dengan orang miskin, Ella? Dia menuntut harta karena dia pasti tidak punya apapun saat ini, hingga melakukan apapun untuk mendapatkan uang."




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2