Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 39. Menikmati Sekeliling Tempat.


__ADS_3

Matahari mulai merangkak naik untuk memanaskan bumi membuat cahayanya mengenai mata Zanna yang masih terlelap di atas ranjang.


Zanna menggeliatkan tubuhnya karena terganggu dengan cahaya mentari pagi yang menerobos masuk ke dalam kamar. Lambat laun kedua matanya mulai mengerjap dengan mulut yang menguap.


"Astaga." Zanna langsung terduduk saat matanya melihat ke arah jendela yang menampakkan kalau hari sudah siang. "Jam berapa ini?" Dia lalu sibuk mencari ponsel, padahal ada jam yang tergantung di hadapannya.


Mata Zanna membulat sempurna saat melihat sudah pukul 9 pagi, sontak dia melompat turun dari ranjang dan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, Zanna segera keluar dari kamar dan berjalan menuruni anak tangga. Terlihat keluarganya sedang duduk di ruang keluarga.


"Se-selamat pagi," sapa Zanna membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya.


"Selamat pagi juga, Ella. Bagaimana tidurmu?" balas kakek Zaron.


Zanna berjalan ke arah mereka dan duduk di sampung Zavier yang menatapnya dengan senyum lebar. "Sangat nyenyak, Kek. Sampai bangun kesiangan."


Semua orang tergelak saat mendengarnya. "Itu wajar saja karena semalam kau habis melakukan perjalanan panjang, El. Ayo, biar bibi temani sarapan, sih kecil pasti sudah lapar." Rosa mengusap perut Zanna membuat wanita itu tersenyum.


"Jika orang tuaku masih hidup, apa mereka juga akan memperlakukanku seperti ini? Kenapa, kenapa aku tidak bisa mengingat mereka, Tuhan?"


"Ella, kau baik-baik saja?"


Zanna tersentak kaget membuat semua orang memandang dengan bingung. "A-aku baik-baik saja, Bibi." Dia mencoba untuk tersenyum.


"Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, hem?" tanya Rosa kembali dengan khawatir.


Zanna menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bibi. Aku hanya sedang berpikir kenapa aku belum bisa mengingat tentang kedua orang tuaku."


Rosa, kakek Zaron dan juga Zavier menatap Zanna dengan sendu, mereka tahu jika wanita itu pasti sangat ingin sekali mengingat bagaimana kedua orangtuanya.


"Sabarlah, cucuku. Cepat atau lambat kau pasti akan bisa mengingatnya, dan kau tidak perlu khawatir. Kakek sudah menyiapkam Dokter yang akan membantumu untuk berlatih agar bisa mengingat semuanya,"


"Benarkah?" Zanna menatap sang kakek dengan mata berbinar.


"Tentu saja, apapun pasti akan kakek lakukan untukmu."

__ADS_1


Zanna langsung beranjak bangun dan memeluk tubuh sang kakek dengan erat. "Terima kasih, Kakek."


Kakek Zaron menganggukkan kepalanya, kemudian dia menyuruh Zanna untuk segera sarapan karena hari sudah semakin siang.


Dengan di temani oleh Rosa, Zanna segera beranjak ke dapur untuk menikmati saparan. Pelayan segera menyajikan makanan untuknya saat melihat kedatangan mereka.


"Terima kasih, Bik."


Pelayan itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, lalu kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.


"Apa Bibi bisa menceritakan tentang apa saja yang dulu biasa aku lakukan?" pinta Zanna sambil menikmati makanannya.


"Tentu saja, Sayang."


Rosa segera menceritakan jika dulu Zanna sangat suka sekali berkuda dan memanah, sama seperti sang ayah. Setiap akhir pekan, ayahnya pasti akan mengajak Zanna untuk berjalan-jalan ke hutan dengan membawa panah.


Selain itu, Zanna juga suka membuat kue bersama dengan sang ibu karena dia sangat suka sekali memakan kue. Itu sebabnya ibu Zanna selalu mengajaknya untuk memasak kue sendiri, lalu membagikannya dengan semua orang.


Zanna juga sering bermain catur dengan sang kakek, walaupun belum terlalu mahir dan selalu kalah tidak lebih dari 10 menit.


"Setiap orang pasti berubah, El. Jadi jangan terlalu memikirkan hal itu, semua pasti akan baik-baik saja."


Zanna berusaha untuk tersenyum.agar tidak membuat orang lain khawatir, kemudian dia kembali menyantap makanannya.


"Tapi Bi, sebenarnya siapa nama asliku. Kenapa kalian semua memanggilku Ella?" Semalam dia belum sempat memeriksa semua yang ada di dalam kamarnya.


"Sayang, namamu itu Zarella Geraldino. Kami memanggilmu dengan sebutan Ella."


Zanna mengangguk-anggukkan kepalanya. Ayah Sendi pasti sengaja mengubah namanya agar tidak ada yang tahu.


"Oh iya, setelah ini Zavier akan mengajakmu untuk jalan-jalan. Apa kau tidak apa-apa, jika bibi tidak ikut? Soalnya ada pekerjaan yang harus bibi kerjakan,"


"Tentu saja, Bibi. Aku akan pergi bersama dengan Zavier," jawab Zanna dengan cepat.


"Baiklah. Naomi juga tidak bisa menemanimu, jadi berhati-hatilah."

__ADS_1


Zanna kembali menganggukkan kepalanya sambil mengambil tisu untuk membersihkan bibirnya.


Setelah selesai, Zanna segera menemui Zavier yang sedang memanaskan mobil sportnya yang berwarna merah menyala.


"Kakak sudah siap?" tanya Zavier saat Zanna berjalan ke arahnya.


"Tentu saja. Tapi, jangan terlalu ngebut ya Zavier," pinta Zanna. Dia merasa khawatir dengan keadaan kandungannya.


"Kakak tenang saja, aku pasti akan berhati-hati," ucap Zavier sambil membuka kan pintu untuk Zanna, lalu wanita itu masuk ke dalam mobilnya.


Zavier lalu melajukan mobilnya untuk membawa Zanna berkeliling ke tempat-tempat indah yang ada di sana, sekaligus mencoba untuk membuat ingatan wanita itu kembali.


"Apa sebelumnya aku suka jalan-jalan, Zavier?" tanya Zanna sambil memperhatikan ke sekitar tempat.


Zavier melihat sekilas ke arah Zanna, lalu kembali melihat ke jalanan. "Tentu saja. Dulu kita sering jalan-jalan bersama dengan Paman dan juga bibi, orang tua kakak."


Zanna menganggukkan kepalanya. "Begitu ya, pasti saat itu aku sangat bahagia sekali." Tiba-tiba matanya terasa panas.


Zavier melirik ke arah sang kakak dengan lirikan sendu, untuk kesekian kalinya wanita itu kembali bersedih.


Akhirnya mobil Zavier sampai di sebuah pantai yang sangat indah membuat Zanna terkagum-kagum.


"Ya Tuhan, tempat ini indah sekali."


Zavier tertawa saat melihat wajah Zanna yang tampak berbinar. "Tempat ini memang indah, Kak. Itu sebabnya kakak dulu sering sekali ke sini."


Zanna membuka sepatunya dan bertelanjang kaki di atas pasir putih dan bersih yang ada di tempat itu. "Aah, anginnya segar sekali." Rambut yang tergerai indah tampak berantakan disapu angin pantai.


Dari kejauhan, ada seseorang yang terus menatap Zanna dengan tajam. Sesekali bibirnya akan tersenyum saat melihat wanita itu tersenyum. Dia lalu melangkahkan kakinya untuk mendekati mereka.




__ADS_1


Tbc.


__ADS_2