Mengejar Cinta Semu

Mengejar Cinta Semu
Bab. 40. Lelaki Asing Bernama Venzo.


__ADS_3

"Sudah lama sekali ya, Ella."


Zanna yang masih sibuk bercerita dengan Zavier tersentak kaget saat mendengar suara seseorang, sontak mereka langsung melihat ke arah belakang.


"Kak Venzo?" Zavier membulatkan matanya saat melihat sosok lelaki yang saat ini berdiri di hadapannya, sementara Zanna hanya diam karena tidak mengenal siapa laki-laki itu.


"Hay, Zavier. Bagaimana kabarmu?"


Zavier kembali terkejut dengan apa yang laki-laki itu katakan, bahkan apa yang Venzo ucapkan lebih membuatnya kaget dari keberadaan laki-laki itu. "Dia, dia bertanya tentang kabarku?" Untuk pertama kalinya Venzo mengatakan hal seperti itu padanya.


"A-aku baik, Kak."


Venzo menganggukkan kepalanya lalu beralih melihat ke arah Zanna. "Bagaimana denganmu, Ella? Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, Tuan. Maaf, apakah saya mengenal Anda?" tanya Zanna.


"Tentu saja, Ella. Kau mengenalku dengan sangat baik."


Glek.


Zavier menelan salivenya dengan kasar. Dia ingin sekali membawa Zanna pergi dari tempat ini, tetapi kakinya terasa kaku dan tidak bisa untuk digerakkan.


Zanna terdiam untuk mengingat lelaki itu, tetapi hasilnya tetap nihil. "Maaf, saya tidak bisa mengingat Anda. Apakah kita sahabat dekat?"


Laki-laki bernama Venzo itu tergelak membuat Zanna terpukau dengan ketampanannya. "Tentu saja bukan." Dia lalu menggelengkan kepala.


"Lalu, apa?" tanya Zanna lagi dengan polosnya sambil menatap Venzo membuat laki-laki itu merasa gemas.


"Baiklah, aku akan menjawabnya nanti. Sekarang aku lapar, maukah kau menemaniku makan?" pinta Venzo sambil mengusap perutnya dan memasang wajah yang menggemaskan membuat Zavier langsung merinding.


"Si*al, ternyata apa yang kakek katakan itu benar. Bisa-bisanya laki-laki itu memasang wajah menggemaskan seperti ini, dan dia melakukannya  hanya di hadapan kak Ella saja." Zavier benar-benar tidak habis pikir.


Zanna sendiri terdiam seakan terhipnotis dengan wajah Venzo yang benar-benar sangat tampan, bahkan Calvin kalah jauh dengan ketampanan lelaki itu.


"Ayo, kita pergi." Venzo memegang tangan Zanna lalu menariknya membuat wanita itu tersentak.

__ADS_1


"Tunggu, kenapa Anda menarik tangan saya?" pekik Zanna sambil menahan tubuhnya yang sedang ditarik oleh Venzo.


"Kau kan sudah menyetujui ajakanku,"


"Apa? Ka-kapan saya mengatakannya?" Zanna mengernyitkan keningnya dengan bingung. Perasaan dia hanya diam, terus kapan dia mengiyakan ajakan laki-laki itu?


"Kau diam, dan itu tandanya iya. Jadi ayo, aku sudah sangat lapar." Venzo kembali menarik tangan Zanna membuat wanita itu melihat ke arah Zavier.


"Kak Venzo. Kak Ella, dia, dia-" Zavier tidak bisa melanjutkan ucapannya saat mendapat tatapan tajam dari Venzo, tetapi tatapan itu berubah begitu Zanna melihat ke arahnya.


"Ayo!"


Zanna tidak bisa lagi menolak dan hanya diam dengan mengikuti langkah laki-laki itu, sementara Zavier segera menghubungi keluarganya untuk memberitahukan keadaan saat ini.


Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya mereka sampai di depan sebuah vila yang sangat besar. Telihat ada beberapa orang yang berlalu lalang di bagian luar, tetapi di bagian terasnya tidak ada.


"Loh, kita mau makan di mana?" tanya Zanna sambil melihat ke semua tempat, dan tidak terlihat ada restoran atau pun rumah makan di sana.


"Di vila. Ayo!"


"Hah? Tu-tunggu dulu-" Zanna terkejut saat ditarik ke arah vila yang ada di hadapannya, sementara Zavier hanya diam sambil mengikuti mereka.


"Apa makanannya sudah siap?" tanya Venzo.


"Sudah, Tuan. Kami sudah menyiapkannya di meja makan."


Venzo lalu beralih melihat ke arah Zanna. "Apa kau suka dengan vila ini?"


Zanna mengeryitkan keningnya. "Kenapa dia bertanya padaku? Dan kenapa dia lancang sekali, sih?" Dia menghela napas kasar.


"Vilanya bagus," jawab Zanna sambil melihat ke sekeliling vila itu.


"Baguslah jika kau menyukainya, ayo!" Venzo lalu kembali mengajak Zanna untuk ke dapur di mana sudah tersaji banyak sekali makanan.


"Gila. Apa mereka mau memberi makan pada semua orang yang ada di daerah ini?" Zanna membulatkan matanya saat melihat banyaknya makanan di atas meja, begitu juga dengan Zavier.

__ADS_1


"Duduklah. Makan saja apa yang kalian inginkan," tawar Venzo.


"Maaf Tuan, kami sudah sarapan tadi," jawab Zanna membuat Venzo langsung mengkerut sedih.


"Tunggu, kenapa dia jadi sedih?"


"Ya sudah, kalau gitu temani aku makan. Dan kau boleh memakan buah atau apa pun yang kau inginkan."


Zanna lalu menganggukkan kepalanya dan duduk di samping Venzo, dia lalu mengambil segelas jus alpukat yang tampak menggoda untuk diminum.


Pada saat yang sama, di tempat lain terlihat Calvin dan Rere sedang bersiap-siap untuk keluar dari rumah sakit walaupun keadaan laki-laki itu sama sekali belum membaik.


"Kenapa tiba-tiba dia menyuruh kita ke perusahaan sekarang? Bukannya kau bilang besok, Mas?" tanya Rere sambil mendorong kursi roda yang dinaiki Calvin.


"Aku tidak tau, tiba-tiba saja dia menelepon dan menyuruh untuk datang saat ini juga." Calvin berdecak kesal. Kakinya masih terasa sangat sakit, tetapi dia harus datang ke perusahaan.


"La-lalu kita harus mengatakan apa, Mas?"


"Kenapa banyak sekali sih, pertanyaanmu?" bentak Calvin dengan kesal membuat Rere langsung diam. "Ikuti saja apa yang aku katakan dan jangan banyak pertanyaan." Dia merasa benar-benar kesar.


Rere hanya diam sambil mendorong kursi roda itu. Akhir-akhir ini Calvin selalu saja memarahinya, bahkan laki-laki itu selalu mengucapkan kata kasar dan membentaknya.


"Sebenarnya mas Calvin kenapa, sih? Dia selalu saja memarahiku, tidak seperti dulu." Rere kembali menghela napas kasar.


Kemudian mereka segera pergi dari rumah sakit menuju perusahaan tempat mereka bekerja, dan harus segera sampai di tempat itu.


"Bagaimana, apa kau sudah menyuruh mereka datang?" tanya seorang laki yang sedang duduk dikursi kebesarannya.


"Su-sudah, Tuan Zaydan. Mereka sedang dalam perjalanan." Ceo dari perusahaan itu merasa takut dan juga gelisah.


Zaydan tersenyum tipis, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka. "Kalian lihat saja apa yang akan aku lakukan."



__ADS_1



Tbc.


__ADS_2